(jika) Anda CEO, Direktur Utama, atau General Manager sebuah perusahaan. Kira-kira, apa yang Anda rasakan saat mendapati anak buah Anda menghadap dan mengajukan beberapa permohonan seperti di bawah ini.
“Tuan, saya mohon Engkau menaikkan gaji kami, karena harga-harga bahan pokok meningkat, semakin mahal, sedangkan kebutuhan tetap sama. Jauhkan kami dari kesengsaraan karena tak mampu membeli makan, bantu keluarga kami dengan kekuasaan yang Engkau miliki. Bantu kami Ya Tuanku”.
Bila Anda termasuk pribadi yang dermawan, ramah, dan suka menolong, pasti akan menanggapi permohonan itu dengan tenang sembari berempati dengan apa yang mereka rasakan. Mungkin Anda tidak langsung menaikkan gaji karena kondisi internal dan eksternal tidak memungkinkan untuk membuat kebijakan tersebut. Tapi paling tidak, Anda akan mengulurkan bantuan kepada anak buah yang sangat membutuhkan bantuan itu.
Sebaliknya, Anda akan naik darah, marah, dan menanggapi permohonan itu sebagai hal yang tak masuk akal. Hari gini minta naik gaji? Gila!!. Sudah bagus jika karyawan yang nekat menghadap itu tak dipecat, dia masih menerima gaji utuh pun, merupakan berkah dari ‘kebijaksanaan’ Anda. Sebab tak menutup kemungkinan, Anda malah memberi sanksi karyawan yang menurut Anda kurang ajar, walaupun apa yang dilakukan mereka benar adanya. Meminta bantuan dan pertolongan kepada atasan.
Apakah ada yang salah dari sikap kedua pemimpin di atas? saya tak memiliki hak menyalahkan. Lha wong saya ndak punya hubungan dan kewenangan atas perusahaan tersebut. Hak sepenuhnya ya berada di tangan Anda terlepas dari apakah Anda si pemimpin dermawan atau pemimpin emosional. Mau menaikkan gaji, tidak bersikap, atau memberi sanksi, semuanya sah-sah saja.
Hanya kemudian saya bertanya dalam hati, bukankah mengajukan permohonan ala karyawan terhadap atasan tadi mirip sekali (untuk tidak mengatakan sama) dengan doa yang seringkali kita panjatkan kepada Yang Esa, sang Pemilik Cinta tanpa batas?. Kita selalu meminta kepada-Nya dengan menyebutkan apa-apa yang kita butuhkan dengan detil. Meminta Tuhan, sang Pencipta skenario hidup, untuk memberikan sesuatu yang kita sukai, menghilangkan yang kita benci, menghapus rasa sakit, untuk kemudian menghadirkan bahagia, selamanya. Seakan kita, si manusia tanpa daya ini, tahu yang terbaik.
Hari ini, di tengah ratusan undangan acara sebuah bank di salah satu hotel di Batu, saya menundukkan kepala bersama mereka. Khusyuk mengikuti dan mendengarkan kalimat per kalimat doa yang ia baca dari secarik kertas, sembari tanpa sadar terlantun doa untuk bertanya kepadaNya, apakah hari ini nyata, kemarin bukan mimpi, dan rasa itu benar adanya. Atau, halusinasi akibat pengharapan yang terlalu besar dan mengada-ada.
Ups!, sebelum terlalu jauh masuk dalam kesunyian di tengah keramaian manusia, suara petugas doa berkopyah hitam kembali terdengar. Kalimat di bawah ini adalah sebagian dari doa panjang yang ia bawakan dan yang saya ingat.
“Ya Tuhan, jauhkan kami dari segala musibah, marabahaya, dan kesulitan-kesulitan. Berilah kami kesehatan dan kekuatan sehingga dapat mengerjakan tugas dan beribadah kepada-Mu dengan sempurna”.
Tak ada yang aneh dari doa itu, kecuali permintaan yang disampaikan dengan kata perintah (jauhkan, berikanlah). Nah, jika Anda sebagai pemimpin dan pemilik perusahaan marah dan kesal karena permohonan karyawan yang kurang sopan, apakah Tuhan akan bersimpati atas ribuan doa yang terucap dengan sedikit ‘paksaan’ untuk dikabulkan?. wallahu a’lam bishawab.
“Ya Rabb, sehari terasa berat tak tertanggungkan. Bagaimana harus melewati ribuan malam tanpa rembulan, dan siang tanpa matahari”


Al-Mujiib, Ya…. Dia Yang Maha Pemenuh doa,
Lain dengan seorang CEO, dia hanya manusia biasa yang masih butuh gemerlapnya dunia, masih sangat melihat dan membedakan, siapa dan dari mana?
Dengan-Nya kita bisa langsung berdialog tanpa ada batas ruang dan waktu, berbeda dengan seorang manager, apakah kita langsung bisa bertemu dengannya hanya untuk meminta dan memohon harapan kita? Apalagi jabatan kita jauh di bawah seorang manager.
Ya Rabb - Al Ghoniyy.
perusahaan saya memakai sistem pengupahan berbasis kompetensi..
alias..
Competence Base Performance Management System
selain ada faktor pengali berdasarkan performa kerja, di dalam sana sudah ada faktor pengali berdasarkan kurs dollar dan harga kebutuhan pokok
jadi, tanpa dimintapun, gaji karyawan otomatis naik sendiri tiap periode
jadi, ndak ada karyawan yang sampe maju memohon kenaikan gaji seperti itu
Hmmm …
Yang jelas … perusahaan yang baik … adalah perusahaan yang mencoba untuk mencegah pernyataan tersebut muncul …
Uang bukan segalanya … namun tanpa uang itu juga sulit …
(lho ya … tambah bingung saya ..)