Kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT) banyak diprotes masyarakat, tokoh, politisi, ulama, hingga kepala daerah (terlepas karena memang benar-benar tidak setuju karena BLT yang kurang mendidik, atau tidak setuju karena bersebarangan partai dengan SBY-JK). Saya termasuk yang kurang setuju dengan program bagi-bagi duit yang mirip suap agar masyarakat tak memprotes kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM.
Sayangnya lagi, kepala daerah yang sebelumnya koar-koar dan dengan lantang menolak BLT dan berencana menggelar program khusus yang bermanfaat untuk rakyat, akhirnya yaa..luluh juga. Hanya Provinsi Kalimantan Tengah yang hingga saat ini konsisten, hingga dana penerima BLT masih ‘mengendap’ di PT POS setempat.
Untuk yang terakhir, saya kok ya kurang setuju. Akan lebih baik jika dana tersebut tetap diambil lalu dialokasikan untuk program pemberdayaan masyarakat yang hasilnya lebih nyata, tak sekadar memanjakan dan membodohi masyarakat. Kembali pada pemerintah. Saat jutaan protes terlontar, pemerintah bergeming. BLT tetap dikucurkan, bahkan diselingi dengan ancaman sanksi kepada kepala daerah yang mbalelo, dan tidak ikut “mensukseskan BLT” (ancaman ini juga yang membuat kepala daerah lain inkonsisten).
Saat ini miliaran rupiah sudah pindah tangan ke masyarakat kurang mampu berdasarkan data statistik lama yang tak di-up date, dan pemerintah baru mengakui terjadi salah sasaran penerima BLT. Bukan hanya karena kesalahan administrasi yang kurang lengkap hingga keluarga yang berkecukupan, bahkan keluarga kaya menerima BLT, namun ternyata lima persen kepala keluarga penerima BLT tidak memanfaatkan uang yang diperoleh untuk mencukupi konsumsi produktif (kecukupan pangan dan pendidikan).
Mereka membelanjakannya untuk rokok!!!.
Untuk itu, penerimaan BLT 2009 akan diserahkan langsung kepada ibu rumah tangga yang dinilai lebih tepat dalam membelanjakan uang yang diterima. Nah loh, ternyata BLT masih ada, yang pemerintah tetap berasumsi dan memprediksi masyarakat Indonesia masih akan miskin dan kekurangan di tahun depan hingga membutuhkan alokasi ’sedekah’, yang menurut Deputi Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Adang Setiyana, disediakan sebesar Rp 23 triliun untuk 19,1 rumah tangga.
Ehmm, coba bayangkan…, jika uang tersebut digunakan untuk membantu pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dimanfaatkan untuk membuka lowongan pekerjaan baru, atau dipakai sebagai dana dalam melaksanakan pendidikan & latihan (diklat), hingga masyarakat menguasai keterampilan tertentu yang mampu menghasilkan produk bernilai ekonomis tinggi. Keluarga miskin pasti akan berkurang. Masyarakat semakin sejahtera, mandiri, dan tak perlu menengadahkan tangan demi nominal BLT yang segera habis saat dibelanjakan.






Tetanggku BLT tuk bayar SPP anaknya, tetangganya lagi buat beli bensin…lha jadi tukang ojek, tukang ojek ternyata gak dapat subsidi, yang disubsidi istrinya hehehe…
Lha aku sendiri gak dapat, mungkin si mbok di desa…yang dapat… BLT (bantuan langsung telas, aritnya bantuan langsung abis), waduh boro2 buat pelatihan…buat makan aja susah….
artikel anda bagus dan menarik, artikel anda:
politik terhangat
“Artikel anda di infogue”
anda bisa promosikan artikel anda di http://www.infogue.com yang akan berguna untuk semua pembaca. Telah tersedia plugin/ widget vote & kirim berita yang ter-integrasi dengan sekali instalasi mudah bagi pengguna. Salam!
setelah dicermati ternyata banyak BLT yang salah sasaran. kasihan negara kita, udah banyak uangnya yang dikorupsi, ngasih BLT salah sasaran lagi
TELAH TERBUKTI!!!BAHWA BLT MENGURANGI ANGKA KEMISKINAN SECARA DRASTIS DI NEGARA REPUBLIK INDONESIA,DENGAN KENAIKAN HARGA BBM, TERNYATA MENGAKIBATKAN RAKYAT MISKIN MATI KELAPARAN KARENA TIDAK SANGGUP MEMENUHI KEBUTUHANNYA AKIBAT HARGA KEBUTUHAN YANG “MENCEKIK LEHER” SEHINGGA JUMLAH ANGKA KEMISKINANPUN BERKURANG… INDONESIA JAYA!
iya heran, org2 kita dah hidupnya sedang serba irit malah bakar duit dengan beli roko, kenapa gak dipake buat beli beras gitu .. aneh ..