beberapa waktu lalu, aku menulis keinginanku untuk sekali berkunjung dan menetap di antara dua kota, Pekanbaru dan Makassar. “Makassar? nggak salah Wi. Wong isine tawuran terus githu loh. Masak kamu mau tinggal di sana,” kata Nadia, setelah mendengar ceritaku.
lah, tiga hari terakhir ini kok yoo berita dari Makassar emang soal tawuran dan kekerasan. hiks, sorry to say deh, keknya harus dianulir.
berkunjung, yes, menetap… I dunno






wah…jadi pengen komen nih..hehehe…
makassar emang kota yang panas…
panas udaranya dan “panas” orang nya…high temper kalo kata orang bule…
tapi banyak hal menarik yang bisa kita dapet waktu kita udah jadi citizen di kota ini..
pertama :
anti macet
makanannya enak2
pantainya bagus2 lho..hehehe…
dll
saya juga kebetulan baru tahun ke-2 ini jadi warga makassar..
eniwey…salam kenal yah…
monggo mampir di “warkop” saya mbak, barangkali ada info menarik yang bisa sampeyan ambil disitu..
suwon
bonar
http://sihotang407.wordpress.com
Mending di Malang D, enak, hawanya masih segar, kalo ke surabaya juga deket, pulang kampung tinggal mak-whes udah nyampe (apa hubungannya ya?, waduh kacau, error)
wekekeke makassar emang tidak pernah damai. selalu ada saja kerusuhan di sana. heran. mahasiswa sana kok hobinya tawuran. gimana kalo sudah jadi pemimpin?