Tiga kelas porak poranda. Kursi terbalik, rusak. Buku-buku hancur lebur dengan lembaran yang sobek, terkoyak. Piala-piala yang sebelumnya tampak gagah berdiri di lemari pajang, bergeletakan di lantai dengan kondisi tak kalah mengenaskan, patah menjadi dua, tiga, tak mampu menampakkan kecantikan dan prestasi membanggakan di balik perolehannya.
Visual dari kelas hancur itu sebenarnya tak langsung menarik perhatian saya. Maklum, sudah terbiasa melihat perusakan aset, ruangan, gedung, atau apapun sejenisnya yang dilakukan orang-orang tak bertanggung jawab di tanah air yang lebih parah dari itu. Narasi selanjutnya lah yang kemudian membuat saya kaget. Suara narator perempuan yang terdengar telinga itu langsung diolah otak dalam sepersekian detik kecepatan, yang kemudian mengintruksikan mata untuk langsung melihat layar TV, mengalihkan dari keasikan saya sebelumnya, membaca.
Jika bisa berbicara dan mengungkapkan perasaan, TV yang sebelumnya saya cueki dan hanya menjadi background suara itu mungkin akan berteriak girang. “Horrrrrreeeeeeee, I finally get ur attention!”.
Kalimat narator inilah yang membuat saya terbengong-bengong: “Perusakan kelas di MI Raudhatul Hikmah Mojokerto itu dilakukan oleh BL dan S, siswi kelas 3 SDN II Desa Wotanmas Jedong Mojokerto. Dua anak perempuan yang masih berusia 9 tahun itu mengaku cemburu karena gedung MI tersebut lebih bagus dari sekolah mereka yang jelek”. Hallah dalah!! oalah nduk, nduk. . . kasian bener kalian, menjadi korban pelaku anarkis yang jumlahnya tak jua berkurang.
Korban orang dewasa yang terlalu cuek dengan kualitas tontotan TV yang layak ditonton anak kecil. Korban kondisi masyarakat yang semakin mudah terbakar isu dan cemburu. Korban sebagian besar dari kita yang lebih sering mengedepankan keakuan dan selalu merasa benar sendiri. Korban mereka, orang-orang dewasa yang kerap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuan pribadi.
Ya, dengan tegas saya mengatakan mereka sebagai korban. Anak sekecil itu loh, sampai punya pikiran untuk merusak, memporak porandakan kelas, menghancurkan apapun yang ada di dalamnya, pasti karena mendapat input informasi salah terus menerus. Otak mereka dijejali dengan berita anarkis di TV, mata mereka melihat peristiwa anarkis di lingkungannya, telinga keduanya perkataan dan kalimat anarkis dari orang-orang yang ada di sekitar. Mereka, orang-orang dewasa yang seharusnya menjadi teladan telah memberikan contoh sikap tak pantas, namun menarik untuk ditiru.
Saya teringat cerita masa kecil seperti dituturkan bapak. Kala itu beliau dan ibu terkaget-kaget ketika saya pulang ke rumah dengan kosa kata baru yang berisi makian dan cercaan, janxxx, mataxx, dan kawan-kawannya. Usut punya usut, saya baru saja mendengar pertengkaran tetangga. Untuk ‘menyembuhkan’ dan menghilangkan perbendaharaan kata yang menurut pendengaran saya kecil, begitu seksi, membutuhkan waktu lama. Seberapa lama, tidak diceritakan dengan detil. Tapi lihat, akibat mendengarkan pertengkaran yang cukup singkat tapi efeknya panjang.
Otak anak kecil saya yang belum banyak diisi dengan informasi, memberikan jatah memory cukup besar untuk hal-hal baru yang dinilai orang tua saya kurang pantas. Nah, bagaimana dengan kondisi anak-anak kecil sekarang, generasi muda, yang setiap saat dijejali dengan informasi anarkis, kasar, [terkadang] porno dan penuh manipulasi dalam jangka waktu cukup lama?. Contoh nyatanya adalah BL dan S itu, dua anak perempuan yang seharusnya masih senang bermain boneka, naik sepeda, sesekali main mobil-mobilan
, tapi malah merusak aset pendidikan dengan begitu kasarnya.
Saya tidak sedang mencoba menuliskan sebuah solusi, karena sebenarnya, siapapun yang sadar dan punya perhatian untuk masa depan lebih baik akan menjaga sikap terbaiknya. Bukan berpura-pura baik, tapi benar-benar memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat. Tak terlalu muluk sih, dimulai dari diri sendiri. Hayuuuuuk, kita berikan yang terrrbaik untuk Indonesia lebih baik lagi ![]()






“qaulun marufun wa magfiratun khairum min shadaqatin yatbauha adzan, wa Allah ganiyyun halim” (Q.S. 2:263)
“qawlun ma’rufun wa magfiratun khairum min shadaqatin yatba’uha adzan, wa Allah ganiyyun halim” (Q.S. 2:263)
MasyaALLAH
Apakah benar berita itu ?
Jika benar …
ah miris sangat hati saya …
Betul kata Dewi … ini sepertinya ada pengaruh (entah seberapa besar) tayangan TV yang terlalu mengekspose kekerasan anarkis … untuk membuat rating beritanya tinggi …
and BTW … kekerasan anarkis ini juga sedikit banyak di demonstrasikan dengan “manisnya” oleh kakak-kakak siswa yang maha itu …
Salam saya
Ikut prihatin …
Mari kita mulai dari diri kita sendiri …
Berikan yang terbaik untuk negeri ini …
dengan cara yang santun tentu …
Terima kasih ya Wi …
Salam saya
(sampe dua kali saya komennya …)
mungkin itu dampak dari banyaknya tayangan tentang anarkisme di tv, mungkin lho, gak tau juga, lha saya gak punya datanya je….
memang faktanya seperti itu. jalan fikiran seseorang apalagi anak kecil itu dipengaruhi apa yang mereka dengar dan rasakan. Apalagi media film sangat berpengaruh terhadap anak2 ,tontonan kekerasan akan mesave didalam otaknya sehinga kecendrungan apa yang ditonton suatu ketika akan keluar dan bisa jadi sampai anarkis untuk itu peranan orang2 terdekat untuk memfilternya. Selamat malam