Jangan meremehkan mimpi, walau setinggi apapun. Sungguh, Tuhan Maha Mendengar” [N5M]
Itu adalah status [atau note ya?] yang ditulis mas Fuadi di akun fesbuknya, Agustus lalu -kalo tidak salah. Banyak yang berkomentar, salah satunya saya. Komentar yang juga pengakuan kalo saya menangis setelah membaca kalimat itu. Swear ewer-ewer boom-boom, saya memang benar-benar menangis, sesenggukan, terharu, merasa tertampar, termotivasi, wes poko’e campur aduk dech.
Aneh ya?
Well, bagi sebagian [banyak] orang mungkin memang aneh. Tapi saya yang menurut beberapa teman termasuk sosok tegar [hallah!], memang gampang banget meneteskan air mata untuk hal-hal yang menyentuh. Termasuk kalimat itu.
Menyentuh?
Absolutely yupz!
bagi saya. Ketika membacanya, saya sedang merasa hampa dan bosan dengan rutinitas *pernahkah kau merasa hatimu hampa…pernahkah kau merasa hatimu kosong…eh! lha kok jadi nyanyiin Hampa-nya Ungu
. Kalimat itu terasa seperti baterai dan energi luar biasa yang mencoba me-recharge semangat saya untuk bangkit, kembali berani bermimpi, dan mewujudkannya.
Kalimat itu pula yang membuat saya memutuskan untuk sesegera mungkin membeli Negeri 5 Menara [N5M], meski harus menunggu beberapa minggu sejak peluncuran perdananya. Worth it, penantian itu nggak sia-sia kok. Saya langsung membacanya usai tarawih dan tadarus. Menjadi teman sembari menunggu waktu sahur *dengan yakult dan sup merah, hwehehe. Dan selesai dalam dua hari.
Membacanya, membawa kembali kenangan ketika di pondok, meski setting cerita di Gontor Putra, tapi sedikit mirip lah *tentu saja tanpa ada kenangan minum kopi di ember, atau salathah rohahnya yang digambarkan sangat mak nyus itu. Kita, santriwati di Gontor Putri bisa dikatakan “lebih beradab” hahahaha
[sori, sori, kalo ada pembaca yang kebetulan alumni pondok putra]. tapi memang demikian lah adanya
.
Selain kenangan yang membuat saya tersenyum dan tertawa, terus terang saya mencari kalimat motivatif yang ditulis mas Fuadi di fesbuknya itu. Halaman demi halaman saya cari, belum ketemu . Malah menemukan kalimat motivasi lainnya. Seperti ucapan Ustadz Salman, ”Pilihlah suasana hati kalian dalam situasi paling kacau sekalipun. Karena kalianlah master dan penguasa hati kalian. Dan hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya adalah hati orang sukses.”
Ho…ho…ho…bagaimana dengan saya dan Anda? sudahkah menjadi penguasa hati, atau masih terlalu gampang dimanipulasi?.
Atau, kalimat motivasi lain “Saajtahidu fauqa mustawa al-akhar, aku akan berjuang di atas rata-rata yang dilakukan orang lain”, yang diucapkan oleh Said, santri asal Surabaya. Dia juga mengatakan, yang membedakan orang sukses dan tidak adalah usaha. Perbedaan antara juara satu lari 100 meter dunia hanya 0,00 detik. Jarak juara renang dengan saingannya mungkin hanya satu ruas jari. Jadi, untuk menjadi juara dan sukses, kita hanya butuh usaha sedikit lebih baik dari orang kebanyakan”.
Oh, berarti saya hanya perlu bekerja lebih keras sedikiiiit saja untuk bisa melebihi hasil orang lain. Lebih satu menit, lebih satu centi, lebih satu kilo *ups!! yang terakhir tentu saja tidak!!!! lha wong sekarang lagi berjuang untuk menurunkan berat badan-e… !
) .
Setelah membaca semua bab, akhirnya saya menemukan kalimat motivatif yang saya cari di lembar paling akhir. Dan sekali lagi, berhasil membuat saya menangis. Oh, meski mata sembab, semangat saya semakin terbangkitkan, energi terkumpul dan merasa sangat sayang kalo hanya saya sendiri yang merasakan inspirasi luar biasa itu.
Usai membaca, iseng saya menulis resensi N5M. Jujur kacang ijo, itu adalah resensi pertama yang saya tulis sejak dilahirkan, hwehehe, dan saya niatkan untuk dikirim ke satu harian saja, Kompas. baca di sini
Satu setengah bulan [atau lebih] sejak saya mengirimkan tulisan via email, saya dikejutkan oleh SMS dari Dede, teman Gontor Putri di Jakarta. Berisi ucapan selamat karena tulisan saya dimuat di harian itu. Di fesbuk, puluhan ucapan disampaikan lewat inbox dan komen. Belum lagi banyak teman baru yang masuk karena melihat tulisan itu, atau teman lama yang kemudian mengajak berdiskusi tentang pendidikan dan pondok usai membaca resensi tersebut.
Whew!, saya hanya menulis resensinya dan mendapat respon luar biasa *gimana mas Fuadi yach?.
Satu lagi, karena pemuatan resensi dan saya dengan sengaja menuliskan sebagai Direktur Nyiru Savira (NS), saya akan tetap mempertahankan NS sebagai sebuah mimpi yang terealisasi untuk terus dikembangkan, lebih besar, dan lebih bermanfaat. Untuk sekali lagi berterima kasih kepada pemberi nama NS, dari lubuk hati terdalam. Terima kasih pernah menjadi bagian dari mimpi, dan tokoh utama dalam beberapa scene cerita hidup saya. Hiks, tuh kan? saya mewek lagi…. so mellow…






pengalaman yang amat berharga, mengirimkan tulisan langsung dimuat, jarang-jarang lho!
Jangan meremehkan mimpi, walau setinggi apapun…
Mungkin semua berawal dari mimpi ya mba..! salam kenal
Hebat, sip…
mimpi pada saat mata terpejam,terlelap tidur adalah nyata dalam keadaan mimpi
mimpi dalam keadaan mata terbelalak adalah sebuah harapan or cita-cita
salam kenal
semoga terwujud
Mantap….
Keren…..
Hebat….
aih… ternyata resensimu mantap benar Dew…
aku sudah baca yang di Kompas itu. dua jempol buatmu…
aku mau koppas dari Hery:
Mantap…,
Keren…,
Hebat…,