Mission Accomplished


Ada sebuah rumah makan yang jadi langganan saya dan teman-teman saat kuliah dulu. Rasanya enak dan yang pasti porsinya banyak. Warung ini selalu ramai pembeli, sejak buka hingga tutup lapak. Motor-motor pelanggan berjajar, bahkan hingga ada yang parkir di seberang jalan, supaya tidak menghalangi kendaraan yang lewat. Sampai sekarang, saat saya lewat di depan warung itu, masih saja ramai pembeli.

Tak hanya di hari biasa. Saat bulan puasa, warung ini pasti diserbu pelanggan yang berburu menu buka puasa dan bahkan dipenuhi orang lagi di waktu sahur. Pindah jam buka dengan jumlah pelanggan yang tetap ramai.  Maka, ketika saya berkunjung ke rumah teman yang lokasinya melewati rumah makan itu, saya ingin bernostalgia dengan masa lalu. Saya mampir ke sana untuk membeli menu dengan lauk yang biasa saya beli dulu.

Saya tidak makan di tempat karena hampir semua meja dipenuhi pelanggan yang sedang makan. Membuat ruangan tak nyaman dan terasa panas. Ketika mahasiswa dulu pun, saya juga jarang makan di tempat. Saya lebih sering membawa pulang dan makan di kos bersama teman-teman yang lain.

Di rumah teman, dengan hati bahagia saya mulai makan. Aneh. Rasa masakannya terasa lain, berbeda dengan yang ada dalam kenangan saya. Melihat saya mengernyitkan kening, teman saya bertanya. “Ada apa?”.

“Masakannya sudah berubah, kok nggak seenak dulu ya,” jawab saya.

“Ah, masak berubah?. Pelanggannya masih banyak banget lho,”.

Kami meneruskan makan sambil masih membicarakan soal cita rasa masakan. Makanan enak, seharusnya tidak lekang oleh zaman. Dari 15 tahun lalu sampai sekarang, harusnya ya tetap enak. Lalu saya teringat sebuah tulisan yang pernah dishare via WhatsApp. Saya lupa tentang tokoh siapa, tapi pengalamannya sama dengan apa yang saya rasakan.

Ia merasa soto paling enak di dekat kampusnya berubah hambar. Tak selezat dulu. Namun ia lalu menyadari, bukan karena bumbu soto itu yang berubah dan dikurangi sehingga tidak lagi lezat, tapi ia sendirilah yang berubah. Semenjak lulus kuliah, ia sudah mengecap banyak makanan bervariasi, termasuk mungkin soto yang lebih enak dari soto dekat kampusnya. Standar enak di lidahnya pun berubah. Warung soto itu tetap menyajikan soto enak dan lezat menurut pelanggannya sekarang, buktinya warung tetap ramai. Warung langganan saya juga masih sangat ramai pembeli, hehehe.

Seiring berjalannya waktu, standar yang kita tetapkan berubah. Perubahan ini bukan sesuatu yang negatif. Karena setiap orang pasti akan melewati proses ini. Saya, Anda, atau mahasiswa-mahasiswa pelanggan warung itu sekarang. Kita, tidak hanya mengalami perubahan soal rasa makanan, tapi bisa juga tentang hal lain.  Style pakaian, tempat nongkrong, tempat belanja, dan lainnya.

Saya lalu teringat dengan gelaran Malang Post School Competition (MSC) 2017 yang berakhir pada 15 November lalu. Event dengan 12 kompetisi ini diikuti 3.000-an pelajar, melibatkan ratusan guru pendamping dari sekitar 100an sekolah di Malang Raya, dengan pengunjung lebih dari 20 ribu orang dalam tiga hari. Saya, atas persetujuan direksi Malang Post mengawali event ini 2010 lalu, berbekal nekat dan sebuah keyakinan “If there is a will there is a way”, kalau ada kemauan ya pasti ada jalan.

Event pertama terselenggara di Aula SMAN Tugu Malang dari rencana di Gedung Kartini Malang. Lokasi berubah last minute, sehari sebelum pelaksanaan pameran!. Apa sebabnya?. Harga sewa tiba-tiba naik berkali dari kesepakatan awal. Jika diteruskan, budget tidak mencukupi. Maka, saya harus berterima kasih kepada Kepala SMAN 1 saat itu, Pak HM Sulthon. Ketika membutuhkan lokasi untuk pameran Mading 3D dalam waktu singkat, beliau menawarkan aula yang menjadi hak bersama tiga SMAN di sana, SMAN 1, SMAN 3 dan SMAN 4.

Event dapat berjalan dengan lancar dalam segala keterbatasannya. Ratusan pelajar senang karena mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya di luar akademis.

Sejak event perdana itu, lokasi MSC di tahun-tahun berikutnya selalu berubah. Mencari lokasi yang  lebih luas dan representatif. Pernah dibuat outdoor, di mall dan Aula Skodam Brawijaya. Kala event ini berjalan tiga atau empat tahun, dengan jumlah peserta lebih dari seribu dan digelar di mall, saya pernah mengatakan kepada kru M-Teens (sekarang nama rubriknya berubah menjadi GenZi, Red) bahwa “mission accomplished”, misi berhasil diselesaikan. Kami berhasil menyajikan sebuah gelaran pesta pelajar terakbar di Malang Raya. Kerja keras mereka terbayar dengan meriahnya event dan ribuan potongan kenangan manis yang disisipkan dalam kotak nostalgia para pelajar, yang akan dikenang hingga mereka dewasa nanti.

Lalu, apakah misi telah benar-benar selesai?. Ternyata belum.

Ketika sebuah misi berhasil diselesaikan dan target dicapai, secara otomatis kita membuat target baru yang lebih besar. Misi lebih sulit. Sama seperti ketika kita berhasil memainkan game pada level tertentu, kita tidak akan berhenti. Tapi tetap memainkannya terus. Begitu juga dengan MSC. Event ini lalu menargertkan jumlah pelajar lebih banyak, lokasi lebih luas, waktu pelaksanaan lebih panjang.

Mission accomplished tepat disampaikan empat tahun lalu, tapi tidak untuk sekarang. Sebab kita berubah, standar rasa kita berbeda. Sama seperti perubahan selera makanan tadi, perubahan ini bukan sesuatu yang negatif, malah positif. Perubahan menunjukkan bahwa kita terus bergerak, tidak diam. Bahwa kita merespon tuntutan zaman. (*)

Tamu Palestina, Coban Rondo dan Perempuan…


“I love Malang and I’ll be back to Malang if I have a chance to visit Indonesia next time,” said Syekh Iyad Abu Rabi’ when visited my office this afternoon (Sunday, June 12, 2016).

 

DISKUSI: Suasana obrolan dengan Syekh Iyad Abu Rabi'

DISKUSI: Suasana obrolan dengan Syekh Iyad Abu Rabi’

Malang memang selalu membuat tamu-tamu dari Timur Tengah senang dan betah. Kotanya kecil, ramai tapi tidak terlalu crowded, udaranya memang sudah tidak sedingin dulu tapi juga tidak sepanas Surabaya atau daerah lain di Jawa Timur. Menyenangkan.

Biasanya, tamu dari negara-negara Timur Tengah ini selalu diajak oleh host mereka (entah dari perguruan tinggi atau institusi lain) untuk refreshing ke Batu. Salah satu tujuan favorit adalah Coban Rondo. Ya, air terjun  setinggi 84 meter dari sumber mata air Cemoro Dudo ini selalu membuat wong Arab berdecak kagum. Memandang dengan mata berbinar sembari memuji-muji tidak henti.

“Ini bagaikan wujud nyata dari Jannatu ‘adnin tajri min tahtiha al-anharu, bagaikan surga dengan sungai yang mengalir di bawahnya” kata mereka saat melihat air yang sesudah terjun itu, mengalir ke sungai kecil yang kanan kirinya penuh dengan hijaunya tanaman. Terdengar lebay? ya, dari  kaca mata kita yang menganggap air terjun adalah hal biasa. Memang bagus, tapi ya nggak segitunya memberikan pujian. Namun bagi mereka yang sehari-hari hidup di tanah gersang berbatu, melihat air ruah mengalir dengan pohon-pohon hijau di sekelilingnya, adalah pemandangan luar biasa mahal. “A million dollar view!.

Begitu juga dengan Syekh Iyad Abu Rabi’ yang dibawa ke Coban Rondo dan seperti pendahulunya, menyukai tempat wisata itu. Tidak banyak sebenarnya yang sempat kami bicarakan selama kunjungan yang singkat itu. Imam dan Khatib berusia 34 tahun ini menceritakan bagaimana kondisi terkini Palestina, sebagian besar ya hampir sama dengan yang kita baca dan dengar di media massa. Konflik yang tak kunjung usai di jalur Gaza.

Tapi, pria yang juga hafidz 30 juz itu tidak hanya menceritakan kondisi Palestina dengan masyarakat miskinnya, tapi juga hal positif dan menyenangkan lainnya. “Memang banyak yang menderita dan hidup kekurangan, tapi di sana juga ada warga kaya. Di kota, di daerah yang lebih aman, para wanitanya juga mendapatkan kesempatan untuk bekerja dan berkarier,” urainya.

Di Jalur Gaza, lanjut Syekh Iyad, sebagian besar perempuan memakai niqab, tapi di daerah Palestina lain, mereka ya hampir sama dengan perempuan di Indonesia. Ada yang berjilbab, ada yang tidak. Ada yang kadang-kadang berjilbab, lalu di lepas.  “Ya sama saja seperti di sini, paling yang membedakan warna mata saja,” ujarnya sembari tertawa.

“Kalau sudah begitu ya lakum diinukum waliya diin,” tambahnya. Memaknai bahwa keputusan untuk berjilbab yaa berada di masing-masing perempuan. Di manapun ia berada.

Well, sebenarnya Syekh yang lumayan asik diajak ngobrol ini, lumayan bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Tapi ketatnya jadwal yang harus dijalani selama di Malang (dan saya pun harus bekerja hahaha), kami pun menyudahi obrolan. Meski nih, masih banyak hal yang ingin saya tanyakan.

Oia, he prefers to speak English than Arabic, takut pendengrnya gak paham. Yang ini sungguh menyindir sayaahhh, wkwkwkwk.

Tamu palestina_Dewi Yuhana

 

SMEAMU Indie Movie Award 2015


Kepanjen, 7 PM-11 PM

Aaaaah, demi ngemsi ini I had to face a very loooong traffic at Gadang, whereas I choosed that route to avoid the very popular traffic jam in town, itu tuh daerah Sukun. Kaki dan paha sampek kemeng musti ngerem mulu, walhasil Malang-Kepanjen harus ditempuh around one hour pas berangkat untuk rehearsal, lalu 1,5 jam when I back home in the noon dan 1,5 jam lagi pas berangkat ke sana sore, what a day! T_T. Pulangnya baru wussss….not more than 30 minutes karena tengah malam, hihihi.

Make up & hijab by me 😉

Dewi Yuhana_MC_Malang  Dewi Yuhana_MC_Malang_1

Dewi Yuhana_MC_Dancing_Malang

My Writing Influencer


writingIt’s a shame for me when I wrote “I’ll paint my words regulerly after a very long hiatus and then I did nothing”, it happened when I open my blog, always. I felt same theme, same spirit and ended with no new article. I thank God, alhamdulillah I remember my pasword, still, hahaha.

I open the blog commonly after reading something or having chit chat with friend who showed me his/her articles, like what happening now. My friend sent me the news link of him through BBM and something unseen stabs downward my mind “why dont you post ur daily activities on your blog to substitute your laziness of writing”.

“Im not celebrity, why should I post my daily activities?” I asked to my inner goddes. Ups! pardon me to use this Anastasia’s word -you know who if you watch the movie that Indonesia banned already-.

“Everyone knows you’re not artist nor actor, you even not a famous person”. Said my inner goddes. Oh right! it touch my heart qucikly T_T.

“But you’re celebrity in ur own community”. She continued. Aha! I’m blushing.

Since I trust my inner goddes, I then decided to post all of my daily activities, not to feel as I’m celebrity, but as I believed since long time that blog is a longterm diary, my proof history of life. I promise I’ll punish my self if it will end with no posting as before :).

Locari, 10:35 AM

Judging Putri Hijab 2014


dewi_yuhana_hijabPemilihan putri-putrian sudah sering dilakukan, meski brain dan behavior menjadi penilaian, tidak bisa dipungkiri jika faktor beauty pun merupakan poin yang tidak bisa disepelekan. Tak perlu mencari alasan detil dan macem-macem sih ya, image pemenang putri-putrian ya memang harus cantik dengan tinggi paling tidak harus di atas 160 cm -malah rata-rata harus di atas 170 cm- dengan berat tubuh proporsional.

Ramadan lalu, saya harus menjuri pemilihan Putri Hijab yang digelar Malang Post. Saya mengikuti proses penjurian dari awal, mulai wawancara peserta, tes mengaji, karantina finalis sampai grand final yang digelar di Hotel Atria Malang. Ya benar, memang ada tes mengaji yang harus dilewati peserta. Akibat tes satu ini, ada beberapa peserta yang secara fisik amat sangat memenuhi kriteria harus tidak diloloskan karena tak bisa mengaji. Kami memberikan waktu kepada mereka yang tidak lolos tes mengaji untuk kembali belajar dan bisa mendaftar di tahun mendatang.

dewi_yuhana_hijab1

MC-ing


Ok, saya sekarang lagi dibuat puyeng karena diminta bikin budgeting buat event yang rencana digelar November mendatang dalam waktu dua hari, semoga jadi ya. Plus, I have to design the competitions, talkshows, presentations & entertainments during the exhibition. Jadi, bikin budgeting sekaligus acaranya nih. *gimana kalo saya bikin EO sendiri saja?* you should contact me and trust ur events in my hand! seriously! hahahaha.

Nah, pas puyeng2 gitu ada teman yang mengingatkan untuk mengirimkan foto-foto pas acara di peringatan HUT RI & HUT BI beberapa waktu lalu, OK jadi semacam break a while dari pikiran serius nih. Sembari mengirim email, saya posting di sini aja deh. Oia, saya ngemsi-in acara tersebut. Pesan dalam kalimat ini: kalau Anda menggelar acara dan membutuhkan MC, bisa kontak saya juga, hahahaha.

Saya nggak tau sejak kapan mulai menyukai dunia cuap-cuap, mungkin sejak di pondok atau bahkan jauh sebelum itu? tak taulah. Yang saya ingat, saat kuliah saya sempat mendaftar menjadi penyiar Radio Kampus dan alhamdulillah tidak diterima :D. Saya juga sempat mengirimkan contoh suara dalam proses rekrutmen di radio Makobu yang saat itu menjadi radio paling populer di Malang -di zaman saya-. Berhari-hari dan berminggu-minggu kemudian saya harap-harap cemas menunggu pengumuman kelolosan saya sebagai penyiar radio, dan hasilnya, tak ada kabar apapun dari Makobu. Yang artinya, yaaaaa gudbye lah penyiar radio.

Bertahun kemudian sesudah menjadi wartawan, saya berkesempatan masuk ke ruang siaran radio, tidak sebagai penyiar tapi menjadi narasumber, terkait berita-berita yang sedang happening dan menjadi headline di tempat saya bekerja, hingga sebagai narasumber sesi Psikologi. Tapiiii…..keinginan untuk menjadi host tetap saja ada, jadi akhirnya saya sering memutuskan diri sendiri sebagai MC untuk semua event yang digelar Malang Post, hahahaha. Lalu beberapa kali ada teman yang merekomendasikan saya untuk menjadi MC wedding di Hotel Santika dan beberapa tempat lain. Eh, akhirnya ngemsi menjadi salah satu hobi menyenangkan, sebagai pelepas penat dari rutinitas kantor, sekaligus menjadi momen untuk bertemu dengan orang-orang dan relasi baru.   

Bank_Indonesia_Malang

BI_8Dewi_Yuhana_BI

 

PHP itu Bernama CPNS Online


Saat membaca listing berita wartawan tentang CPNS Online yang akan diselenggarakan serentak pada tahun ini, ada satu pertanyaan besar yang langsung terlontar “Apa server siap?”, “Apa sinyal wifi atau jaringan internet mampu melayani kebutuhan akses pelamar yang membutuhkan kecepatan tinggi?”, “Apa penyelenggara dalam hal ini pemerintah daerah dan semua instansi bisa menyiapkan set komputer ataupun laptop dalam jumlah banyak dalam satu waktu?”. 

Maklum saja, konsep CPNS Online kali ini bukan hanya pendaftarannya saja yang online, tapi pelamar juga harus menjawab pertanyaan dalam tes secara online, bersama-sama, serentak. Meskipun online, pengerjaan tes CPNS Online harus dilakukan di tempat yang sama, tidak boleh di rumah masing-masing. Tahun lalu, ada sekitar 2600 lebih pelamar CPNS di Kota Malang. Nah, kalau tahun ini juga sejumlah itu, maka harus menyiapkan 2600 komputer. Jelas tidak mungkin. Jika ada 100 komputer tersedia, maka tes harus dilakukan paling tidak ya 26 hari, mendekati sebulan!. 

Semua pertanyaan saya tadi pasti tercetus di benak siapapun yang membaca tentang CPNS Online. Kenapa? karena pengalaman sehari-hari kita dalam mengakses jaringan internet, wifi, atau saat masuk dalam website tertentu sudah memberikan pelajaran. Jaringan inet bakalan lemot saat digunakan oleh banyak orang, mendapatkan bonus mati-hidup-mati agak lama-lalu hidup lagi, adalah hal yang amat sangat biasa. Kita diminta (baca: dipaksa) untuk menolerir kekuatan sinyal dan jaringan internet di tanah air yang masih rendah.  

Pengalaman saya dengan wifi di rumah bisa menjadi contoh. Saat awal-awal menjadi pelanggan,  senang banget karena kecepatannya membuat betah untuk tetap berselancar di dunia maya. Tapi lama kelamaan, kecepatan semakin berkurang dan mulai sedikit-sedikit mati, jaringan limitted lah, atau bahkan tidak ada sinyal sama sekali. Mangkel? banget!. Tapi apa yang bisa saya lakukan? *saking apatisnya dengan layanannya, saya enggan melapor ke 147 tentang gangguan tersebut. (eh, sudah tau dong saya memakai wifi apa kalo melapornya harus ke 147, hehehe). Tapi dua minggu lalu, karena sama sekali nggak bisa diakses seharian setelah berhari-hari on-off-on-off, saya akhirnya memaksakan diri menelpon 147 dan alhamdulillah lho, setelah ditangani si mbak CS yang meminta untuk meng-OFF-kan modem sementara waktu sembari melaporkan keluhan tersebut ke teknisi, akses bisa kembali lancar.

PELAJARAN: jangan gampang apatis, kalo jaringan wifi dan internet di rumah ngadat, jangan sungkan-sungkan menelpon 147!! hehehe. 

Masih terkait kecepatan jaringan dan server. Saat pendaftaran sekolah online di Kota Malang saja, selalu diwarnai dengan server yang ngadat berjam-jam. Kejadian ini terulang setiap tahun. Setidaknya sampai tahun ini, ketika orang tua siswa harus menunggu sampai siang hanya untuk bisa log in. Semoga 2015 sudah bisa lebih baik ya? hopefully.

Nah, apalagi membayangkan pendaftaran CPNS Online yang digelar secara serentak untuk nasional!. Wah, wah bisa dibayangkan berapa orang yang akan mengakses website dalam waktu bersamaan? wong pendaftar untuk CPNS di daerah saja mencapai ribuan padahal formasi yang ditawarkan hanya belasan atau puluhan. Tapi ya itulah pejabat kita, apakah mereka terlalu percaya diri, terlalu patuh pada skedul, mengerjakan sesuatu dengan kajian minim, takut pada atasan, terlanjur ngomong ke publik atau apalah -saya tak tau bagaimana mendeskripsikannya dengan jelas-, akhirnya meluncurlah website pendaftaran untuk CPNS online pada 24 Agustus lalu, yang berita lanjutannya Anda mungkin sudah tahu. Tak ada satu pun warga yang berhasil log in setelah beberapa hari web dilaunching. Formasi lowongan juga tidak ditulis dengan jelas (yang ternyata karena belum semua instansi menyerahkan formasi lowongan, atau bahkan ada formasi dari Pemda yang belum disetujui oleh Kemenpan).Gimana mau di-upload kalau formasinya belum disetujui?.

Ehm, meminjam istilah remaja sekarang, saya bisa mengatakan kondisi ini enggak banget deh, gileeee benner!!. Kok bisa ya, mereka melaunching website dan mengumumkan pendaftaran padahal pada waktu bersamaan mengetahui belasan instansi dan pemda belum memberikan formasi untuk di-upload. Kok bisa mereka mengumumkan sesuatu yang sebenarnya diketahui belum layak untuk dilaunch. Ini benar-benar di luar nalar dan logika saya. KOK BISA?. wes emboh wes….it’s Ok wae mas….it’s Ok wae…. #singing

Para pejabat itu menjadi PHP ulung untuk jutaan masyarakat Indonesia yang memang terkenal sebagai pemburu PNS. Berita di jpnn.com mengungkapkan, ada 100 juta orang yang mengakses portal Panselnas tersebut dalam sehari sehingga membuat server down. Prediksi saya, 100 juta orang itu bukanlah orang yang berbeda-beda. Bisa jadi, hanya 1 juta hingga 5 juta orang yang mencoba untuk mengakses sampai 20 kali sampai 100 kali dalam sehari dan ternyata tetap tidak bisa log in.

Setelah berhari-hari server down. Akhirnya, pendaftaran CPNS online diundur hingga 7 September, yang kemudian dianulir lagi dan diundur hingga 12 September karena pendaftaran dibuka ulang mulai 1 September. Apakah Senin lusa akan lancar seperti harapan? ya semoga saja…… 

*******

Ok, tulisan ini saya terusin hari ini -hari dimana pemerintah menjadwal ulang pendaftaran CPNS Online. Bagaimana kabarnya? sudah adakah calon pelamar yang sukses?. Ternyata, website http://panselnas.menpan.go.id juga belum bisa diakses. OMG, bener2 PHP kelas wahid ya!

Buat teman-teman yang saat ini sedang berjuang ingin mendaftar CPNS Online, yang sabar ya. Kumpulkan stok kesabaran sebanyak mungkin, jadi saat ada yang habis, masih ada penggantinya. Ingat aja kalo Allah itu selalu bersama orang yang sabar, cheeeeeers ^^

 

Pintu Rezeki Allah SWT


dewi_yuhana_chocolateRezeki menjadi salah satu topik diskusi kami malam itu di Melati Restaurant, Tugu Hotel Malang yang cukup dekat dengan tempat kerja. Saya datang telat karena masih harus melihat lay out halaman, memastikan halaman lain selesai dan tidak ada kesalahan. a night routine activity. Saya bisa berjalan kaki ke resto itu dan sampai di sana tak lebih dari 5 menit, tapi membayangkan harus balik lagi ke kantor setelah acara obrolan  selesai, yang tidak tahu jam berapa, saya melaju dengan motor kesayangan.

Melati resto itu one of my fav hotel resto in Malang dan saya bisa merekomendasikan ke siapapun unconditionally, padahal juga nggak dapet fee ataupun royalti, hahaha. Menu-menu di sana wow punya dengan, rasanya yummy dan disajikan dengan konsep yang juga wow. Meskipun begitu, saya harus jujur kalo harganya juga wow untuk ukuran kantong saya saat ini. Nggak tahu untuk setahun lagi -wallahu a’lam wa amin, hehehe. 

Malam itu, di weekdays loh, suasana Melati resto sangat ramai, semua kursi penuh dengan pelanggan mulai dari meja di dekat pintu masuk, meja di dekat swimming pool. Dari yang terisi 5-8 orang per meja, sampai dengan meja yang diatur panjang berisi lebih dari 20 orang di tengah resto. Saya masuk belok kanan menuju meja paling pojok di ruang yang saya lupa namanya. di sanalah meja kami dipesan sebelumnya. 

Teman-teman sudah memesan menu, they just waited the orders to come while I looked at the brown menu book ignoring  main course list and then choosed lava chocolate and bandrek -sweet, hot and spicy drink from sundanese people. Siang hari saja saya memilih minum panas, apalagi malam hari. “Mas, bandreknya yang pannnnnaaas banget ya!” kata saya menekankan order ke waiter yang mengangguk sambil tersenyum ramah. 

Saya lalu mendengarkan obrolan yang berlangsung, semacam cross chat sih, karena tak ada tema pasti. Tapi yang jelas salah satu bahasan malam itu ya tentang rezeki. Bagaimana kita harus menjemput rezeki, mempersiapkan diri dengan baik sehingga sudah benar-benar siap ketika Allah SWT membuka pintu-pintu rezekiNya untuk kita. Ya, di umur segini, yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi, saya memahami betul jika rezeki itu tak bisa ditunggu untuk datang dengan tiba-tiba, apalagi tanpa perjuangan dan kerja keras.

“Tapi ketika Allah SWT sudah membuka pintu rezekiNya untuk kita, siapapun tidak bisa menghalangi. Manusia menutup pintu rezeki kita, Allah tetap akan membukakan yang lain,” kata teman saya yang lain.

Saya langsung mengiyakan pernyataan teman saya karena  pernah merasakannya sendiri. Beberapa kali orang menghalang-halangi dan menutup pintu rezeki saya, tapi Allah membukakan pintu lain dengan lebih lebar. Dulu sekali, saya mendapatkan undangan dari mitra -yang saya bangun dari nol- untuk menghadiri sebuah even di Bali. Undangan personal via phone sudah disampaikan, saya juga meminta undangan tertulis di-fax ke kantor. Nama saya sangat jelas tertulis di sana, tapi eh tapi, ternyata keputusan berkata lain. Ada teman lain yang berminat berangkat, menghadap kepada pemegang keputusan untuk meminta undangan tersebut, dan kok ya diperbolehkan. Saya protes, tapi percuma.

Gimana rasanya disabotase? sakit hati lho. Tapi ya itu, pintu rezeki Allah itu banyak, Dia bisa membukanya dengan gampang kapan saja untuk siapa saja yang dikehendaki. Sore hari sakit hati, malamnya saya mendapat telepon dari relasi lain mengabarkan sebuah ajakan kerjasama, yang jika dinominalkan lebih besar dari apa yang saya peroleh ketika menghadiri undangan di Bali…and Allah provided for me from where I didnt expect.  

Masih ada pengalaman lain. Juga bertahun lalu. Kali ini saya harus menghadiri sebuah undangan konser besar dari mitra lain, jika saya tidak lupa, acaranya juga di Bali *aduh, ada sih dengan Bali? hahahaha. Saya sudah memberikan nama, nomor KTP dan mereka pun  menyiapkan tiket pesawat dan booking hotel sesuai nama saya. Did you know? sehari sebelum keberangkatan ada lagi yang ingin membatalkan keberangkatan saya -kali ini datang dari golongan petinggi hehehe-, meminta orang lain yang berangkat. Mau nggak mau, ya harus merelakan kesempatan itu. Tapi Allah memang benar-benar sayang sama saya kok, menggantikan kesempatan yang hilang dengan hal lain yang lebih berharga.

Bahwa, bekerja dan berbisnis itu harus bersinggungan dengan orang lain memang tak bisa dihindari. Tugas kita adalah tetap melakukan yang terbaik, menikmati proses dan meyakini hasil akhirnya pun akan menjadi yang terbaik. Remember this ayah, wa man yattaqillaha yaj’al lahu makhraja, wa yarzuqhu min haisu la yahtasib…

…and who ever fears Allah, He will make for him a way out, and will provide for him from (sources) he does not expect… 

umbrella, wine and the cookie museum


Dewi Yuhana1 (2)a copy

the story behind : I remember I was stepped to the restaurant behind when those colourful umbrellas catched my eyes, but the word wine written on that black board stopped me, aaaahh…..

The photo was taken five minutes after exploring a hundred cookies from The Cookie Museum at Esplanade Mall.  Me and Kay knew this cookies from friend we met at Singapore Design Center, he dropped us here!. Thank You!
I recommend you to taste all kinds of its flavours from Madelene Rose, English Lavander, Hainanese Chicken Rice and Nasi Lemak etc. Nasi Lemak cookies? yes, you read the right words.  You can find all Nasi Lemak ingredients in one cookie, even the hot chilli and the unique taste of tiny sea fish. The only problem is the price, hahaha. It’s too expensive for me -right now- to spend USS 45-50 for a very small glass jar of cookies which I can eat all in 15 minutes 😀 

Thank you Kay Kay for being a calm photographer , miss you buddy! ^^ 

 

Best Friend, Enemy & Love


Chocolate

“He is my very best friend for a long time ago and still. We knew each other since we’re student in the senior high school,” said my friend in the small café nearby Bras Basah Complex and Raffles Hotel.

She ordered black coffee as her favorite and I am sticked with a cup of hot chocolate. I don’t ever have any other choice than hot chocolate and hot tea to order in every café and restaurants as far back as I have money to buy my own meals, a simple option with a simple reason, I don’t want to get cough and influenza after drinking a fresh ice drink. Sometimes I even have to complain and give the drink back to waiters just because they gave me ‘a warm’ chocolate or tea instead of a VERY HOT drink as I ordered.

We found the café accidentally, after being tired of a long walking around Peninsula Plaza to look for a violin. We didn’t find the shop but learned something “when Singaporean tell you 10 minutes to describe a distance from one place to another, it means 20 minutes or even more”.

She continued her story while I sniff my hot chocolate hoping the (little) caffeine will bring back my energy from exhausting. “Two years in the same class is more than enough time for me to know his character, his kindness and loyalty to his mates, including me . We fight a lot and became enemy, but we still love each other as friend, he was really care of me. My other friends ever told me that he loves me but I didn’t believe it, besides he’s not my type”. I saw the sparkle in my friend’s eyes when she mentioned his name in the story.

Time passed by, she continued, they went to different colleges in the different cities, they made their new stories with new friends separately. She had a boyfriend while in the same time his friend introduced her his a beautiful girlfriend. Nothing wrong with this story, as episode that every of us face in our path of life.

“Everything changed when I got his wedding invitation. I want to scream but no voice out from my mouth, I want to cry but my eyes dried, my hands shake and I can not breathe when I realized for the first time that I love him, I knew my feeling in the wrong time. I don’t want to lose him”.

“DEWI, am I wrong IF I’m telling him that I love him before his marriage?”

***

 

tatap matanya


dewi yuhana

lihat selalu matanya,
untuk bertanya
dan mendapat jawaban
jujurkah ia, sedih ataukah senang

pandang lurus matanya,
untuk menegaskan pesan
membuang ragu, sampai ia paham

tatap matanya,
dengan tegak dan berani
tak perlu kata dan suara
lihat apa yang kau temukan di sana

 

#West Coast Village Residences