Kasembon Rafting


Penasaran, Tegang, Ketagihan…

rafting1.jpg

Saya bukan pecinta olahraga, apalagi olahraga outdoor yang menguras tenaga. Karena itu saat Flexter Malang (komunitas pengguna Flexi, dimana saya menjadi sekretarisnya) akan menggelar acara rafting, perasaan saya campur aduk. Antara penasaran, senang, sampai perasaan ngeri membayangkan apa yang akan terjadi kepada saya di tengah arus deras sungai, karena saya bukan perenang ulung, dan rafting ini adalah olahraga outdoor pertama yang saya ikuti.

Bagi pecinta olahraga yang terbiasa berarung jeram, apa yang saya rasakan bisa jadi terdengar sangat lucu. Namun bagi anda yang awam akan arung jeram, mungkin anda pun akan merasakan seperti yang saya alami. Sebab bayangan menakutkan akan tenggelam tak sekali dua kali hinggap di benak saya. Akan tetapi, bukankah selalu ada ‘yang pertama’ untuk setiap hal yang kita lakukan? Karena itu pula, saya mantap untuk mengikuti tantangan ini.

Rombongan kami berangkat dari Malang sekitar pukul 07.30 WIB melewati ratusan tikungan di daerah Pujon, hamparan sawah, dan hijaunya pepohonan. Rasa penat karena beban pekerjaan terasa hilang setelah melihat indahnya pemandangan alam yang ada di kanan dan kiri jalan.
Mencari Desa Sumberdandang tidaklah terlalu sulit. Karena ada tanda Kasembon Rafting di pinggir jalan yang akan memandu pengunjung, meskipun menurut saya, seharusnya tanda tersebut dibuat lebih eye catching (menarik) dengan ukuran lebih besar lagi.

Semakin mendekati lokasi, rasa dag dig dug bercampur dengan penasaran terasa semakin kencang. Belum lagi saya mampu meredakan debaran di hati, salah satu anggota rombongan, Misto, mengumumkan bahwa kami sudah sampai di arena rafting. Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. “Parkirnya di halaman rumah penduduk,” kata Misto lagi.

Bagi anda yang belum pernah ke Kasembon Rafting, jangan pernah membayangkan basecamp wisata arung jeram andalan Kabupaten Malang ini adalah sebuah kantor mewah ala resepsionis hotel. Maklum saja, lokasinya tepat di pinggir sawah dan rumah penduduk. Ruang tunggunya berupa gazebo berukuran besar berlantaikan bebatuan. Kantornya juga dibangun dari kayu dan beratapkan rumbai. Meski sederhana, konsep bangunan tersebut semakin membawa kita kembali ke alam.

Sesampai di ruang tunggu, dengan ramah seorang petugas operator Kasembon Rafting langsung menawari kami aneka welcome drink. Saya memilih teh, sementara beberapa teman yang lain mengambil soft drink. Welcome drink merupakan salah satu fasilitas yang diberikan pengelola kepada setiap peserta rafting yang baru saja datang. Dengan biaya Rp 125 ribu, peserta rafting tidak hanya dapat berarung jeram dengan segala peralatannya, tapi juga mendapatkan menu makan siang secara prasmanan.

“Biaya ini cukup terjangkau dengan fasilitas yang kami tawarkan. Setelah selesai rafting, para peserta akan dijemput kembali ke lokasi ini dengan mobil yang kami siapkan,” kata Heru Sukarno, Operator Kasembon Rafting.

Setelah menikmati minum yang disediakan, kami langsung mengenakan alat-alat pengaman rafting seperti jaket pelampung dan helm. Tak lupa, kami mengambil dayung masing-masing. Saat mengenakan peralatan pengamanan ini, saya mendapat teguran dari Heru karena masih mengenakan celana jins.

“Kalau pakai jins nanti akan sangat menyerap air dan berat, pasti akan membuat mbak kerepotan. Jadi lebih baik ganti celana saja,” ucapnya.

Terus terang, meskipun membawa pakaian ganti, dua celana yang saya bawa semuanya jins, karena itu saya pun membeli celana berbahan parasut yang disediakan operator Kasembon Rafting seharga Rp 25 ribu. Selain celana, bagi anda yang berwisata ke sana, bisa juga membeli cinderamata berupa kaos bertuliskan Kasembon Rafting seharga Rp 50 ribu.

Sementara itu, sebelum ‘terjun’ ke sungai, semua peserta mendapat briefing dan latihan singkat dari instruktur tentang tata cara arung jeram. Mulai dari cara memegang dayung yang benar, cara mendayung maju dan mendayung mundur, sampai dengan tips agar tidak jatuh ke sungai. Instruktur juga menjelaskan beberapa istilah yang nantinya akan digunakan oleh pemandu di masing-masing perahu yang harus dipatuhi peserta.

Misalnya saja, saat pemandu berkata kanan maju, kiri mundur, berarti peserta yang duduk di posisi kanan harus mendayung maju, sebaliknya yang berada di sisi kiri harus mendayung mundur. Atau, ketika pemandu berkata stop, maka semua peserta harus berhenti mendayung. Begitu juga saat dia memberikan aba-aba boom sebagai isyarat perahu akan segera melewati jeram yang cukup besar, peserta rafting dapat bersiap-siap berpegangan pada tali yang ada di perahu agar tidak jatuh ke sungai, namun bagi peserta yang sengaja ingin menjatuhkan diri dan merasakan sensasi jatuh dia bisa memilih untuk tidak berpegangan.

Mendengar penjelasan instruktur, terus terang saya masih agak bingung karena tidak bisa membayangkan kondisi yang diucapkannya. Tapi, setelah berarung jeram langsung di sungai, secara otomatis saya dan teman-teman dapat melakukan semua instruksi yang diberikan dengan gamblang. (*)