Kerja Tim


  Kerja Tim

 

Team (tim) yang berarti sebuah kelompok atau organisasi yang terdiri dari beberapa orang ternyata bukan sebuah kata asal-asalan. Dari sebuah artikel yang pernah saya baca, team merupakan akronim dari Together Everyone Achieve More, sebuah kalimat yang luar biasa. Karena itulah, dalam kerja tim tidak ada seorang anggota yang mendominasi atau bekerja lebih banyak, sementara anggota tim yang lain hanya bekerja asal-asalan, atau bahkan tidak sama sekali. Bila hal itu yang terjadi, dapat dipastikan hasil akhir dari apa yang mereka kerjakan tidak lah optimal dan sesuai harapan.

Sebuah tim, bekerja sesuai dengan visi dan misi yang sudah ditentukan, sehingga tak ada celah bagi anggota tim untuk melenceng dari visi tersebut. Meski demikian, bukan berarti visi dan misi tersebut menjadi belenggu yang membatasi setiap anggota untuk berekspresi dan mengeksplorasi kemampuan. Malah sebaliknya, eksplorasi sangat dibutuhkan untuk mengartikan poin-poin mentah dari visi dan misi yang ingin dicapai.

Tim, biasanya terdiri dari berbagai orang dengan kemampuan, kecakapan, dan keahlian berbeda. Dengan perbedaan tersebut, mereka bekerja bersama-sama untuk sebuah goal yang akan dinikmati bersama-sama pula. Oleh sebab itulah, untuk menjaga kesolidan sebuah tim, tidak boleh ada seorang anggota yang merasa lebih pintar, lebih cerdas, lebih ahli, atau lebih bekerja keras dibanding teman-temannya. Jikalaupun ada anggota dengan kemampuan di atas rata-rata dan dijadikan sebagai team leader, maka dia harus dapat menyemangati teman-temannya untuk bekerja lebih optimal. Sepintar apapun seseorang, dia tetap tidak akan bisa bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain.

Kesuksesan sebuah tim tidak terletak pada perseorangan atau individu tertentu, tapi merupakan hasil dari sinergi yang terbangun dari semua anggota tim. Karenanya, agar terjadi sebuah sinergi dalam tim, dibutuhkan komunikasi intensif sesama anggota. Komunikasi dalam tim sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pola komunikasi yang kita lakukan sehari-hari, dengan teman, orang tua, kekasih, relasi, atau dengan orang baru sekalipun. Inti dari sebuah komunikasi adalah dapat diterimanya pesan yang ingin kita sampaikan (yang ingin dikomunikasikan). Nah, agar pesan tersebut dapat diterima sesuai dengan keinginan, tidak disalah artikan oleh si penerima pesan, maka sebuah pesan harus disampaikan dengan baik.

Diawali dengan rasa saling menghormati, anggota tim yang ingin menyampaikan pesan harus menghindari sifat arogan dan sok benar. Karena bagaimanapun, jika sebuah pesan disampaikan dengan sikap congkak -meski pesan itu benar adanya dan bertujuan baik-, tentu akan diterima dengan salah.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah sikap mengedepankan empati dari setiap anggota tim. Empati di sini, berarti upaya untuk dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bila tidak ingin diperlakukan tidak adil, maka berlaku adillah. Jika tidak ingin dijadikan obyek gosip oleh anggota tim lainnya, maka jangan sekali-kali suka menggosip atau membicarakan orang lain di belakangnya. Segala sesuatu, semua permasalahan, kritik, atau saran yang terkait dengan anggota tim harus dibicarakan bersama-sama. Hindari membuat keputusan tanpa melibatkan semua anggota. Apalagi bila keputusan tersebut merupakan kebijakan penting yang berkaitan dengan anggota tim yang absen.

Pelanggan adalah Raja


Tak Ada Pelanggan Kelas Dua   

 

Ada satu idiom yang menyebutkan bahwa pelanggan adalah raja.  Karena itu, siapapun orang yang menjadi pelanggan  harus dilayani dengan sebaik-baiknya, tanpa membedakan apakah  pelanggan tersebut memiliki jabatan tertentu ataupun berasal dari trah keluarga tertentu. Satu contoh, jika ada orang yang masuk ke rumah makan, maka dia adalah pelanggan yang berhak mendapatkan pelayanan yang sama baik, sama berkualitasnya, dengan pelanggan lain yang juga masuk ke rumah makan itu.

Jangan pernah membedakan pelayanan yang  anda berikan hanya karena melihat tampang atau gaya berpakaian orang yang anda layani. Apalagi, jika sampai melakukan justifikasi yang salah kaprah. Seperti sebuah peristiwa yang terjadi di salah satu rumah makan yang baru saja berdiri di Kota Malang. Dari ragam menu yang ditawarkan, rumah makan yang dekat dengan stasiun Kota Baru ini membidik pelanggan/konsumen dari kalangan menengah ke atas. Nah, beberapa waktu lalu ada seorang pejabat pemerintahan yang datang ke rumah makan tersebut dan memilih menu kepiting. Sayangnya, waiter yang mendapat pesanan tidak langsung menuliskan menu yang diminta, tapi malah mengatakan bahwa menu itu mahal (yang berarti  pelayan bersangkutan tidak percaya bahwa pelanggannya mampu membayar menu yang dipesan).

Ironisnya, pelanggan tersebut sebelumnya sudah mendapat perlakuan tidak mengenakkan sejak dia memasuki rumah makan. Ketika datang, dia dipersilakan masuk dan duduk di meja dalam ruangan, namun tidak berapa lama dia diminta untuk duduk di luar ruangan karena meja yang dia pilih dipesan oleh seorang pejabat (para waiter tidak tahu bahwa pelanggan yang mereka ‘usir’ itu adalah pejabat yang posisinya lebih tinggi dibandingkan dengan pejabat kedua yang memesan tempat di dalam). Mereka baru ‘ngeh’, bahwa pelanggan yang  tidak dipercaya dapat membayar kepiting adalah pejabat penting setelah pejabat kedua datang dan sungkem kepadanya. Mereka pun akhirnya meminta maaf.

Cerita kedua dialami oleh seorang Wali Kota yang ‘ditolak’ saat memesan menu lobster  di sebuah restoran di Surabaya. Wali Kota bertubuh mungil ini memang bertampang biasa, tidak terlalu terlihat perlente atau wah dengan gaya busana mewah pula. Karena itulah, saat dia meminta lobster besar, waiter secara spontan menyarankan agar dia memilih lobster ukuran kecil saja. “Sebab yang besar harganya mahal pak!,” katanya.

Mendengar jawaban tersebut, sang wali kota hanya tercengang dan terdiam. Tapi para ajudan dan bawahannya lah (beberapa kepala dinas) yang ‘murka’ mendapati perlakuan tersebut. Mereka langsung memarahi waiter dan mengatakan bahwa pelanggan yang ‘dinasehati’nya itu adalah seorang wali kota. Giliran waiter yang kaget dan memohon maaf (bahkan sampai manager dan pemilik resto), tapi meskipun rombongan menerima maaf tersebut, mereka memilih untuk makan di tempat lain.

Ada lagi pengalaman seorang dosen (alm) yang alhamdulillah sempat mengajar saya mata kuliah Antropologi, tentang penolakan di restoran.  Yang membedakan dengan kedua cerita di atas adalah apa yang dialami dosen saya ini memang sudah disengaja karena merupakan bagian dari penelitian yang dilakukannya. Dosen saya ini sengaja berpakaian agak lusuh, memakai sarung, dan sandal jepit, lalu pergi ke McD. Baru saja melangkahkan kaki untuk masuk ke ruangan, dia sudah dihadang satpam dan diminta keluar. Sang dosen ngotot masuk, bahkan dengan menunjukkan beberapa lembaran uang puluhan ribu (yang juga lusuh karena digenggam dan dilipat-lipat) kepada satpam. “Hargane piro to, aku iso mbayar. Iki duitku (kira2 mungkin begitu ungkapannya dalam bahasa Jawa, saya agak lupa),” katanya kepada satpam.

Usaha kerasnua tidak membuat sang satpam berubah pikiran. Kenyataan bahwa dia memiliki uang untuk membeli aneka menu di McD juga tak meluluhkan hati satpam tersebut (karena mungkin dia berpikiran, fastfood resto itu tidak cocok untuk orang udik dan kampungan seperti tampangnya).  Akhirnya dosen Antropologi saya ini memilih untuk keluar McD. Namun karena penasaran, 10 menit kemudian, (alm) dosen saya  kembali ke McD. Hanya saja, kali ini dia mendapat perlakuan berbeda. Dia dapat melenggang masuk, bahkan disambut dengan senyuman dan kalimat selamat datang. Tapi sebelum memesan makanan, dia kembali ke pintu dan mendekati sang satpam.

“Tadi kamu mengusir saya, kenapa sekarang kok tidak?,” katanya.

“Lho, mohon maaf bapak, saya tidak mengusir siapapun,” kata si satpam.

“Tadi, orang berpakaian lusuh yang kamu larang masuk ke sini itu siapa, saya!. Apa itu namanya bukan mengusir, sekarang saya ganti pakaian bagus kok ndak kamu usir?. Apa sebenarnya yang kamu lihat dari pelanggan, dia sebagai  manusia atau pakaian yang dikenakannya saja,” katanya.

Untuk kasus terakhir, mungkin gaya pakaian yang dikenakan dosen saya sangat keterlaluan (maklum, untuk penelitian), apalagi ada beberapa restoran yang menetapkan gaya pakaian tertentu kepada pelanggannya. Tapi untuk kedua kasus sebelumnya, sebenarnya tidak perlu terjadi jika seorang pelanggan -siapapun dia-diperlakukan sebagai pelanggan, bukan yang lain. Saya yakin, tidak akan ada orang yang masuk ke sebuah restoran besar jika dia tidak memiliki uang. Dia pasti bisa mengukur kemampuan keuangannya sebelum memutuskan untuk makan di restoran mana.

Bukan sebuah langkah bijaksana jika anda memperlakukan seseorang sebagai pelanggan kelas dua, hanya karena melihat tampangnya yang ‘kurang meng-kota’, stelan baju biasa dan tak terlihat chic, atau tongkrongan mobil yang tak terlihat mewah. Sebab, ada banyak orang kaya yang memang lebih suka berpenampilan biasa. Dan kalaupun pelanggan yang anda hadapi memang orang biasa dengan kantong yang biasa pula, anda tetap tidak dapat memperlakukannya dengan semena-mena. Karena pada dasarnya, menurut saya tak ada istilah pelanggan kelas dua. Kalaupun ada beberapa instansi yang mengelompokkan sebagian pelanggan sebagai prime customer, bukan berarti mereka menjadikan pelanggan lain sebagai kategori yang diduakan. Prime customer, mendapat beberapa tambahan layanan dan memperoleh perhatian eksklusif karena mereka membayar lebih mahal, namun demikian instansi/perusahaan tersebut biasanya juga tetap ‘merawat’  dan memperhatikan  ‘para pelanggan biasa’ itu.

Saya menulis ini, hari ini, setelah makan siang di Mie Jogya di Jalan Arjuno Malang, bersama temen-temen kantor. Rumah makan ini cukup ramai, maklum saja, termasuk pemain baru di Malang. Jadi, kami pun sebenarnya sangat memaklumi jika waiters harus kerepotan melayani ramainya pelanggan  dan bila pesanan kami akan ‘sedikit lama’. Sebagai catatan, kami berdelapan, enam dari kami memesan mie goreng, satu orang mie rebus, dan satu lagi nasi goreng.  Yang di luar perkiraan adalah, satu pesanan mie rebus tak kunjung datang, meski tujuh orang lainnya sudah selesai makan. Ketika ditanyakan kepada waiter, mereka hanya berkata akan segera mengusahakan supaya pesanan tersebut cepat selesai (yang  ternyata baru disajikan satu jam kemudian!. Huh!, ndak bakal lagi balik ke rumah makan tersebut!). 

 

Keluarga Sakinah


alfu mabruk

hana-bareng2.jpg

hana-novia.jpghana-nadia-1.jpghana-nadia-kiki-lina-copy.jpg

 

Sabtu, 07-07-07, salah satu temen baikku, Nadia Afidati melangsungkan pernikahannya dengan suami tercinta Zaini. Alhamdulillah, segala puji ke hadirat Allah SWT yang telah memperlancar jalannya acara akad nikah dan resepsi yang digelar di kediaman bapak Fuad Effendy, di Perumahan Landungsari Asri, Malang.

Sayangnya, aku yang berencana mengikuti rangkaian acara dari akad nikah sampai resepsi harus rela melewatkan kesempatan menyaksikan proses sacral akad nikah. Itu karena aku harus mengikuti acara kerja bakti yang digelar di kantor. Jadi, aku hanya dapat mendengar cerita akad nikah dari Kiki (Zakiyah Arifah), my another best fren yang bisa datang lebih pagi.

“Akad nikah itu ternyata sebentar banget loh Wi. Tapi abis ngeliat, jadi  pengin nih…” katanya.

“Emangnya mau seberapa lama to Ki, masak mo berjam-jam. Bi ayyi lughotin (pake bahasa apa?),” tanyaku.

“Ya pake bahasa Arab donk,” jawab Kiki.

Memang, selama resepsi berlangsung, suasana Arabi sangat terasa. Misalnya saja lagu-lagu Timur Tengah yang didendangkan oleh personel Kiai Kanjeng.

“Lagu Timur Tengah ini kami persembahkan kepada shohibul bait, Ustadz Fuad yang sudah mengawal Kiai Kanjeng saat tur di 6 provinsi di Mesir,” kata Cak Nun, panggilan akrabnya, sesaat sebelum menyanyikan sebuah lagu (aku gak tau judule).  

Kebahagiaan pada hari itu semakin terasa lengkap, karena hari tersebut ternyata juga merupakan hari ulang tahun Pak Fuad yang ke 60. Tepatnya, kakak sulung Cak Nun, ini lahir pada 7 Juli 1947 lalu. Ada kejutan kecil berupa kue tar yang diberikan Nadia kepada sang ayah tercinta.

Menurut pengamatanku nih, Pak Fuad terlihat terharu saat menerima kue dari Nadia, maklum beliau ndak tahu sama sekali tentang kejutan itu.

Nadia, meskipun mungkin kamu nggak bakal ngebaca tulisan di blog ini. Dari lubuk hati terdalam, teriring doa untukmu dan keluarga, semoga kalian dapat membangun keluarga sakinah, menjadi orang tua yang dapat mendidik anak-anak sesuai dengan petunjuk-Nya.

 

Arung Jeram Kasembon (2)


Arus Bisa Distel, Tawarkan 12 Jeram

rafting.jpg

 

Wisata arung jeram Sungai Sumberdandang Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang ini masih tergolong baru, maklum peresmiannya 8 Desember 2006 lalu. Namun dibandingkan wisata arung jeram lain di Indonesia, tempat ini memiliki keunggulan tersendiri karena arus airnya dapat distel sesuai keinginan peserta rafting.

Ini karena keberadaan tiga waduk penyuplai air ke sungai tersebut, yaitu Waduk Selorejo, Mendalan, dan  Waduk Siman. Dari ketiga waduk ini, Waduk Siman lah yang berperan penting dalam suplay air.

“Air dari Waduk Selorejo dialirkan ke Mendalan, lalu dialirkan ke Siman baru kemudian ke sungai Sumberdandang,” tutur Heru Sukarno, Operator Kasembon Rafting.

Ada tiga kategori arus air yang ditawarkan Kasembon Rafting, besar, sedang, dan kecil. Untuk ukuran arus besar, maka arus mencapai 4,3 meter kubik per detik, dan ukuran sedang 4,1 meter kubik per detik, di bawah itu berarti termasuk kategori kecil. Panjang sungai yang akan dilewati peserta arung jeram mencapai 7,5 kilometer, yang jika perjalanan normal dapat ditempuh dalam waktu 2 hingga 2,5 jam. 

“Perjalanan normal ini tergantung peserta rafting, apakah akan mendayung atau hanya santai saja menunggu perahu dijalankan oleh arus,” tambahnya.

Selama perjalanan tersebut, peserta akan melewati 12 jeram. Mulai dari jeram selamat datang, jeram uglik-uglik, jeram bayem, jeram Bejirejo, jeram pilar,  jeram delta, jeram Kasembon, jeram pudak, jeram Pait, jeram zigzag, jeram Bantaran, dan terakhir adalah jeram goodbye. Dari ke 12 jeram tersebut, nurut Heru, ada lima jeram yang paling besar. 

Saat ini Kasembon Rafting memiliki 15 pemandu dari anak daerah Kasembon dan enam atlit rafting nasional. “Kami memiliki 11 perahu, tapi jika pengunjung banyak kita berkoordinasi dengan pengelola rafting di Probolinggo untuk meminjam perahu dari sana,” ungkap Heru.(*) 

 

Yang Perlu Disiapkan  

Beberapa perlengkapan yang harus disiapkan saat arung jeram:

1. Sepatu atau sandal khusus arung jeram. Ada beberapa merek sepatu terkenal seperti Adidas yang menawarkan sepatu khusus arung jeram. Sepatu atau sandal khusus arung jeram akan melindungi anda dari bebatuan tajam sungai, jika anda terjatuh. Hindari menggunakan sandal jepit karena kemungkinan untuk hilang sangat besar

2. T-shirt dan celana berbahan ringan seperti lycra atau parasut yang mudah kering dan tidak terlalu menyerap air

3. Kacamata hitam (optional)

4. Krim pelindung matahari

5. Baju ganti

6. Air mineral untuk diminum selama perjalanan.

7. Sarung tangan agar tangan kita tidak belang (tapi nggak tau nih, boleh gak sama operatornya. Terus terang aja, tanganku belang dan sampe sekarang masih sangat terlihat perbedaan warna kulitnya)

 

Seru untuk Acara Keluarga 

Banyak alasan kenapa seseorang memilih olahraga arung jeram. Flexter Malang misalnya, sengaja mengajak anggotanya berarung jeram untuk meningkatkan kesolidan tim sekaligus sebagai refreshing di tengah kepenatan aktivitas.

“Karena saat arung jeram, semua anggota tim harus bekerja sama, mendayung bersama, tidak ada jarak yang memisahkan. Tak ada istilah atasan atau bawahan, sebab atasan dalam rafting adalah pemandu yang instruksinya harus kita dengarkan,” kata Freudenreich Haryo, Ketua Flexter Malang.

Pilihan tersebut ternyata tidak sia-sia, anggota yang selama ini hanya mengenal nama menjadi lebih kenal dan berteman dekat dengan anggota lainnya. Sedangkan mereka yang sudah dekat semakin terlihat akrab. Di samping itu, pilihan rafting juga menjadi alternatif rekreasi berbeda yang tidak dapat ditemui di Kota Malang. 

 “Kalau di kota, paling kita hanya jalan-jalan ke mall, nonton, atau wisata ke taman wisata saja. Tapi ini kan berbeda, nuansa alamnya ada, petualangannya juga tak kalah seru,” kata Mario, pemilik AM Cell di Malang Plaza yang ikut dalam acara tersebut.  Pernyataan ini juga dibenarkan oleh Citra Kurniawan, Flexter Malang yang juga pegawai PT Telkom Kandatel Malang.

“Tantangannya seru. Selain itu, rafting menjadi kegiatan positif untuk anggota komunitas ini,” tambahnya.  

Meski demikian, rafting sebenarnya tak hanya bagus untuk dijadikan pilihan aktivitas sebuah komunitas atau instansi saja, karena olahraga ini juga cocok untuk keluarga di musim liburan. Keluarga Saiful Bahri dari Lowokwaru Malang adalah satu dari sekian banyak keluarga yang memutuskan mengisi liburan dengan rafting.

Tidak tanggung-tanggung, Saiful mengajak istri dan ketiga anaknya yang masih kecil.  “Kami baru pertama kali ini ikut rafting. Saya ingin mengenalkan olahraga ini kepada anak-anak, mendidik mereka untuk tidak takut berpetualang, dan mereka menanggapinya dengan semangat,” kata pria yang sehari-hari bekerja di Surabaya ini.(*)  

Arung Jeram Kasembon


Melewati Jeram, Berteriak Kencang

rafting-1.jpg

Operator Kasembon Rafting membagi rombongan Flexter Malang bersama saya yang berjumlah 13 orang menjadi tiga tim. Satu tim terdiri dari lima orang, tapi karena kurang dua akhirnya ditambah dua peserta baru dari luar rombongan kami. Menurut Heru Sukarno, satu perahu sebenarnya dapat diisi enam orang, sehingga total dapat memuat tujuh orang plus pemandu. 

“Tapi minimal penumpang harus empat orang, belum dihitung pemandunya. Ini untuk keseimbangan perahu,” ucap alumnus STIBA Malang ini.  

Saya berada di tim ketiga bersama Rendra Galih Setyawan, Eny Kurniawati, Andi, dan Tri, dengan pemandu bernama Agus. Saat duduk di atas perahu inilah, perasaan khawatir dan takut yang sebelumnya ada langsung hilang tergantikan dengan semangat dan keinginan untuk segera merasakan langsung tantangan dalam arung jeram.  

Sekitar 50 meter dari lokasi start, sang instruktur langsung memberikan aba-aba boom karena kami akan melewati jeram pertama yang dinamakan jeram welcome atau jeram selamat datang. Sebagai jeram selamat datang, jeram ini tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat kami berteriak kencang dan dapat merasakan sensasi asyiknya berarung jeram serta mulai memiliki bayangan tentang tantangan jeram-jeram selanjutnya.  

Saat melewati jeram, posisi dayung tidak boleh melintang tapi harus dipegang di samping atau di bagian pinggir perahu, agar tidak melukai sesama peserta rafting dalam perahu. Tapi bukan arung jeram kalau tidak ada insiden kecil. Ketika melewati jeram pertama, Eny yang duduk di belakang saya terantuk badan Andi yang duduk paling depan.

“Lumayan, kena kepala. Tapi nggak apa-apa, kenang-kenangan berarung jeram,” katanya.  

Bagi peserta rafting pemula, selama berarung jeram harus benar-benar mendengarkan dan mematuhi arahan instruktur. Karena dia lah yang paling tahu kondisi dan karakter sungai. Di samping itu, kekompakan tim dalam mendayung juga sangat dibutuhkan, agar perahu dapat berjalan lancar di tengah arus deras sungai dan bebatuan yang ada.  

Sayangnya, saat berarung jeram kemarin, arus sungai Sumberdandang kurang deras, padahal dengan keberadaan waduk yang mengalirkan air ke sungai, arus tersebut bisa diperbesar atau diperkecil sesuai keinginan. Karena itulah, perahu kami sering ‘menyangkut’ di bebatuan sehingga membutuhkan tenaga ekstra untuk menggoyang perahu agar dapat kembali ke alur jalan yang benar.

“Penyelamatan perahunya terlalu banyak,” kata Andi bercanda.  

Sementara itu, sepanjang arung jeram, kami disuguhi pemandangan hijau dan hamparan sawah yang membuat perjalanan terasa semakin menyenangkan. Apalagi, di tengah perjalanan ada kesempatan untuk beristirahat sekitar 10 menit untuk menikmati suguhan kelapa muda dan aneka gorengan yang sudah disiapkan oleh Operator Kasembon Rafting.

“Air kelapa mudanya menyegarkan dan boleh lah untuk mengganjal perut,” kata Nikmah, peserta rafting yang berasal dari Sidoarjo.  

Usai istirahat, perjalanan arung jeram pun diteruskan kembali dengan semangat dan charge tenaga baru hingga akhirnya kami mencapai finish dan kembali ke Desa Sumberdandang dengan mobil yang disiapkan oleh pengelola. Pengalaman mengasyikkan yang membuat saya tidak akan menolak kesempatan berarung jeram untuk kedua kalinya.(*)  

Jasa Foto Rp 200 Ribu

Momen berarung jeram akan sangat apik untuk diabadikan. Foto akan menjadi kenangan dan bukti ekspresi anda ketika melewati jeram atau bahkan ketika anda jatuh ke sungai. Karena itu, pastikan untuk membawa fotografer, apakah fotografer profesional atau teman anda yang mendadak menjadi tukang foto untuk mengabadikan perjalanan anda selama berarung jeram.

Tapi, jika anda tidak memiliki fotografer, jangan khawatir sebab Operator Kasembon Rafting menyediakan jasa fotografer yang akan ‘menguntit’ dan membidik anda dan tim di titik-titik atau angle foto yang menawan, misalnya momen saat anda berteriak melewati jeram. “Jasa fotografer ini Rp 100 ribu per jam, karena perjalanan arung jeram memakan waktu sekitar 2 jam, jadi biayanya Rp 200 ribu,” kata Heru Sukarno.(*)