Jadi Tante (Lagi…)


Pagi tadi, aku dibangunkan oleh SMS dari one of my best pren Ai, yang isinya: “ Jeng, ponakanmu dah lahir, 14 agst, cewek, caesar. Tp aku skrg msh di Solo, balik k Mlg bln 10 “. Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung telpon Ai dan mendengar suara khasnya.

“Ya ampun Ai…. lahirnya 14 Agustus kok baru kasih kabar sekarang seh?,” cerocosku sebelum dia sempet bilang Halo.

“He3…ini juga baru sembuh, makanya baru sempet kasih kabar,” jawab temenku yang bertubuh mungil itu (gile bo! doi dah jadi Ibu!).

“Congratulation deh, duh gimana rasanya jadi ibu Jeng,” tanyaku.

“mmmmm, gimana ya. I couldnt say in words,” jawabnya.

“Walaaah, sebegitunya to..,” ucapku lagi.

Setelah itu, kita pun ngegosipin beberapa temen lama yang juga sudah lama tak bersua. Ah, jadi kangen ama mereka….

Ok deh, ponakan baru… selamat menikmati indahnya dunia. semoga menjadi anak yang solehah, berbakti kepada orang tua, berguna bagi bangsa dan negara, dan yang nggak kalah penting, sayang sama tante Dewi Yuhana, huehehe….

Oia, judul sengaja aku tulis menjadi tante lagi karena kenyataannya aku memang sudah memiliki keponakan sendiri, kandung, Hilmi, that I luv him so much..

Karena belum Berkeluarga? Duh kah….


 

1 September ntar, seluruh karyawan di kantorku akan diajak refreshing bersama ke Bali. Agar aktivitas kantor tetap berjalan seperti biasanya, maka pemberangkatan refreshing ini dibagi menjadi dua kloter, aku kebagian di kloter yang kedua. Seneng sih, ada rekreasi bersama, tapi menyebalkan juga aturan yang dibuat. Maklum nih, setiap karyawan yang dah berkeluarga bebas membawa istri/suami beserta anak-anaknya, sementara kita yang belon kawin cuma boleh bawa badan sendiri-sendiri. Gila aja, aku bakal jadi orang asing di Bali, lha semua karyawan pasti asik dengan keluarga masing-masing kan?….

Karena itulah, sempet seneng juga waktu denger isu kalo kuota ‘keluarga’ yang dibawa disesuaikan dengan masa kerja karyawan. Tapi pas aku tanyain itu ke big bos, dia cuma ngejawab singkat. “Keluarga yang boleh dibawa hanya yang memiliki hubungan darah,” katanya.

“lho, kalo saya bawa adik kan bisa. Lha dia kan punya hubungan darah sama saya to pak,” jawabku.

“NGGAK, maksudnya suami ato istri, ato anak,” tegasnya.

Duh, sebegitunya. Masa gara2 belon kawin, musti didiskriminasi kayak githu. Aku bener2 kalah sama karyawan yang baru masuk sebulan ini. Karena dia sudah berkeluarga, dia bisa membawa semua keluarganya untuk seneng2 bersama. Duh om bos, tinjau ulang donk kebijakannya….

 

Hal Paling Memalukan


Kalo saat ini aku ditanya hal paling memalukan apa yang terjadi sama aku dalam beberapa bulan terakhir ini, maka jawabannya ada tiga.

Pertama, saat aku salah kirim SMS. SMS itu berisi keluhan tentang keharusan membayar pajak. Waktu itu, seorang mitra -sebut saja Mr X- yang aku ajak kerjasama meminta aku untuk membayar pajak dari dana yang sudah diberikan. Tentu saja aku kaget mendengarnya, karena dari perjanjian awal dia lah yang seharusnya membayar pajak tersebut. Akhirnya aku mengirim SMS kepada bos-ku dengan menyebut nama Mr X yang inkonsistensi dengan keputusannya. Sintingnya, SMS itu aku kirim ke hapenya!!. Lebih sinting dan gila lagi, posisi Mr X itu lagi duduk di depanku.

Jadi, pas dia buka hape dan baca SMS itu, dia langsung konfirmasi ke aku. “Mbak, ini maksudnya apa?,” katanya.

Duh, swear ewer-ewer boom-boom deh, aku waktu itu speechless banget!!. Tapi dari pada lebih malu lagi, akhirnya dengan membuang rasa malu yang tersisa dan tetap mempertahankan harga diriku yang terjengkal ke level terbawah, aku menanyakan keputusannya yang memintaku untuk membayar pajak.

Mendengar pertanyaanku, Mr X tetap ngotot bahwa membayar pajak adalah kewajibanku, bukan dirinya. Untung saja, ada pegawai lain yang mendengar perdebatan kita dan langsung nimbrung. “Loh pak, bukannya dana untuk bayar pajak itu sudah diambil dan ada di kita? kita tinggal setorin aja ke bank. Jadi bukan mbak Hana yang harus bayar,” kata si pegawai perempuan itu.

“Oh, gitu ya. Waduh, saya lupa,” jawabnya -gak tau nih, sekarang yang malu giliran siapa-.

Cuma, salah kirim SMS kali itu emang yang paling memalukan, karena orang yang aku omongi dalam SMS ada di depanku. Kebiasaan salah kirim SMS ini, sepertinya emang agak2 menjadi penyakit githu. Biasanya, aku salah ketik nama di hape klo ada beberapa nama yang hampir sama, ato aku lagi mikiran orang itu, jadi tanpa sadar terpencetlah namanya.

Momen memalukan kedua adalah stupid desicion yang spontan aku ambil ketika akan rafting di Kasembon. Karena waktu itu pake jins, pengelola rafting menyarankanku untuk ganti celana dari bahan parasut, aku pun manut aja dan mengenakan celana pendek!!. Duh, bener2 stupid!!!!! sampe sekarang pun, kalo ingat kejadian itu, aku bener2 gak bisa ngebayangin setan apa sih yang mampir di otakku waktu itu ya?

Kejadian memalukan ketiga terjadi baru-baru ini saat ada acara Agustusan di Kebun Teh. Waktu itu, aku ngemsi dan menyampaikan apa kata panitia Agustusan di kantorku. Ternyata, ada perubahan jadwal acara. Nah, temen2 yang lain, langsung protes dengan perubahan itu dan secara spontan ngelempar aku dengan daun-daun kering yang berjatuhan. Akhirnya, kita pun larut dalam suasana penuh canda, hingga akhirnya dari antara dedaunan yang dilempar itu muncul sandal dan mengenai kepalaku.

Aku kaget, shock, dan melihat si pelempar dengan mata nanar. Tanpa ba bi bu lagi, aku lempar balik ntu sandal dan aku samperin dia (temen kantor laki-laki) dan memarahinya habis2an, gak peduli waktu itu dia bawa istrinya. Tapi memang, penyesalan selalu datang terakhir. Duh gusti, kok bisa ya aku lepas kendali kayak githu… gak bisa nahan emosi, meski emang sebenarnya dia pantas dan layak untuk diperlakukan seperti itu. Swear, kejadian itu juga amat sangat memalukan, tapi memberikan pelajaran berharga.

>>>Hana, kamu harus dapat mengendalikan emosimu.

Perempuan Pemimpin


 

Ketika menghadiri seminar, diskusi, atau sekadar obrolan tentang hak, kewajiban dan emansipasi wanita, ataupun persamaan gender, biasanya kaum pria dengan suara lantang menyuarakan dukungan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan mereka. Para lelaki itu beranggapan bahwa saat ini sudah bukan zamannya lagi memasung kebebasan dan kemerdekaan kaum perempuan. Bukan masanya lagi budaya patriarkhi yang memposisikan perempuan sebagai entitas di level terendah, dipertahankan.

Itu, pernyataan normatif yang dilontarkan dalam sebuah forum. Itu, omongan keras yang akhirnya hanya menjadi sebuah kalimat tanpa makna. Karena pada kenyataannya, masih sangat banyak kaum pria yang tak dapat (baca: tidak mampu dan tidak mau) mengakui keunggulan dan kelebihan perempuan. Tak sedikit kelompok pria yang enggan berdiri berdampingan dan sejajar dengan wanita dalam sebuah persaingan. Parahnya lagi, jika keengganan itu membuat Islam dijadikan justifikasi untuk membenarkan apa yang mereka lakukan.

Saya menulis ini bukan karena ada masalah dengan kaum pria, atau merasa dijegal oleh mereka. Tapi lebih karena perasaan trenyuh saya melihat kondisi perpolitikan di internal sebuah perguruan tinggi di Malang yang akan menggelar pemilihan rektor sebentar lagi. Sebagai informasi, salah satu kandidat rektor itu adalah perempuan, yang menurut saya, memiliki dedikasi tinggi dan kualifikasi yang cukup untuk menjadi pemimpin. Rivalnya, -tentu saja- para lelaki yang sayangnya, dalam masa kampanye menggulirkan isu  bahwa Islam melarang seorang pemimpin perempuan, jadi jangan memilihnya sebagai rektor. Nah loh?!

Islam dijadikan sebagai dalih untuk menjegal langkah si calon rektor perempuan. Padahal, bukankah Islam datang untuk memerdekakan dan membebaskan manusia, laki-laki dan perempuan? (dari kegelapan menuju cahaya). Membebaskan manusia dari sistem perbudakan atau dari sifat yang suka memperbudak orang lain.

Kemerdekaan manusia dalam Islam telah diperoleh dan menjadi haknya sejak dia dilahirkan oleh ibundanya, sejak Allah SWT memberikan ruh dan kesempatan hidup kepadanya, sehingga tak seorang pun -apakah dia laki-laki atau perempuan- dibenarkan memperbudak orang lain atas dasar apapun. (Menggulirkan isu bahwa perempuan tak layak menjadi pemimpin, menurut saya, adalah salah satu dari praktik perbudakan).

Perempuan sebagaimana laki-laki adalah manusia yang dianugerahi potensi akal, naluri, dan tubuh. Dan bahwa Allah tidak membedakan semua hamba-Nya kecuali dari ketakwaan, adalah benar adanya. Karena itu, sesuatu yang ‘aneh bin ajaib’ jika para pria masih membutuhkan dalih untuk mendukung ego superior mereka atas nama aturan Islam bahwa wanita diharamkan menjadi seorang pemimpin.

Perempuan, seperti juga laki-laki memiliki hak-hak sosial, ekonomi, dan politik yang sama tanpa ada pembatasan yang disebabkan oleh jenis kelaminnya.

Mimpi


Setiap orang memiliki mimpi
ada yang berusaha dan mewujudkan mimpinya itu…
ada yang mundur dan melepaskan mimpinya
ada juga yang hanya diam dan memendamnya seumur hidup..

Kalimat ini diucapkan Alya, tokoh utama dalam film Cinta Pertama yang dibintangi Bunga Citra Lestari. Ehm, dari kalimat itu, dalam kategori yang manakah anda?

Aku sendiri, mungkin termasuk dua yang pertama. Ada satu saat, ketika aku mempunyai mimpi dan keinginan, akan membuat bekerja sepenuh hati untuk segera mewujudkannya. Langkah apapun, selama masih dalam koridor ‘etika menurutku dan menurut batasan keyakinanku’ pasti akan aku jalani. Jika sudah demikian, maka mimpi dan keinginan yang sepertinya mustahil untuk dicapai seorang dewi yuhana, ada kalanya dapat terwujud.

Meski demikian, tak sekali dua kali juga aku memutuskan untuk mundur dan melepaskan mimpiku. Ini, jika aku menyadari dengan sepenuh hati apa yang aku inginkan tersebut sulit dan tak mungkin aku penuhi. Ada seorang motivator yang mengatakan, jangan pernah berkata tidak bisa, selalu ucapkan ‘AKU BISA’, agar dua kata tersebut dapat menjadi sebuah motivasi. Aku berusaha untuk melakukan itu, tapi ada kalanya ‘Aku Bisa’ tak dapat terucap dengan lantang. Hingga sebuah keyakinan besar yang sebelumnya ada dalam benak dan pikiranku pun menguap, lalu… aku mundur…

Jalan Kebenaran


Congratulation untuk Prof Dr Agus Sholahuddin yang Rabu (8/8) besok dikukuhkan sebagai Guru Besar FISIP Universitas Merdeka (Unmer) Malang. Di dalam buku pidato yang aku baca, ada sebuah kalimat dan pertanyaan yang mengusikku, maklum…agak susah untuk dijawab. Ini dia…

If God had all truth in his right hand

and the lifelong search for truth in his left,

which hand would you choose?

Belajar ke SBY-Zaenal


 

Melihat tingkah polah politikus kita saat ini rasanya semakin aneh saja. Pergantian antar waktu (PAW) Zaenal Maarif dari posisi wakil ketua DPR RI yang ditandatangani oleh Presiden membuatnya berang dan bertindak impulsif dengan mengumbar pernyataan di media massa tentang kemungkinan bahwa SBY pernah menikah sebelum masuk Akmil 37 tahun lalu.

Terlepas dari benar tidaknya isu itu, langkah Zaenal yang langsung gembar-gembor di media massa mengungkap gosip tentang orang nomor satu di Indonesia itu terlihat sebagai sebuah langkah orang sakit hati yang kalah. Saya yakin, sebagian besar orang di Indonesia memandang perilaku Zaenal sebagai sikap kekanak-kanakan. Sebuah langkah balas dendam karena kehilangan posisi ‘basah’ yang sudah dinikmati selama ini. Nggak smooth banget. Terkadang, sesuatu yang benar tapi jika disampaikan dengan tidak tepat, akan menjadi hal yang salah.

Yang lebih childish lagi adalah pernyataan Zaenal tentang kekecewaannya karena tidak disambut oleh Kapolda dan staf ketika dia membuat surat laporan di kepolisian. Kondisi ini, menurutnya, berbeda ketika SBY melaporkan dirinya di Polda Metro Jaya Minggu lalu. Kehadiran SBY disambut langsung oleh Kapolda dan jajarannya.

Saya menulis ini bukan berarti sebagai sikap pro atas langkah yang dilakukan SBY. Menurut saya, presiden kita yang satu ini juga terlalu reaktif dalam menanggapi  berbagai isu atau pernyataan orang tentang dirinya. Bukan sekali ini saja, SBY mereaksi pernyataan, isu, atau komentar orang dengan berlebihan. Masih jelas di ingatan kita, ‘perseteruannya’ dengan Amin Rais beberapa waktu lalu. SBY bereaksi berlebihan, bahkan sempat membuat pernyataan akan memolisikan Amin. Dengan Zaenal, pernyataan itu tak sekadar janji, tapi sudah direalisasikan.

Ah, ternyata menjadi presiden itu tak sekadar menduduki jabatan tertinggi di sebuah negara, memperoleh fasilitas dan ‘gaji’ tinggi. Tapi juga sebuah posisi yang menuntut kerelaan siapapun yang sedang berada di posisi itu untuk digosipkan, dicerca, dikritik, dan lain sebagainya. Gosip dan isu merupakan konsekuensi logis yang harus diterima saat seseorang berada di posisi puncak dan menjadi perhatian banyak orang.

Perilaku kedua politisi kita ini tentu menjadi perhatian semua masyarakat di Indonesia dan menjadi pelajaran buruk bagi generasi muda kita (yang mungkin nantinya juga akan menjadi politisi). Saya tidak bisa membayangkan, politisi-politisi 10 atau 20 tahun ke depan, hasil didikan para politisi kita sekarang ini. mmm, lebih parah kah? smoga tidak…

Atmosfer di dunia politik memang dapat berubah dalam sekejap, seorang kawan dapat menjadi lawan dalam hitungan detik. Begitu juga sebaliknya, lawan belum tentu harus dimusuhi. Tidak menutup kemungkinan anda harus berkawan dengan lawan untuk mencapai tujuan yang anda inginkan. Itulah politik, semuanya serba ambigu.

Zaenal Maarif, contohnya, yang sebelumnya menjadi Wakil Ketua DPR RI. Dalam waktu sekejap, posisi terhormatnya  itu langsung berubah karena keputusannya untuk mengumumkan pernikahan keduanya. (mungkin) maksudnya waktu itu, Zaenal ingin menunjukkan sisi gentlemannya yang mau mengakui keputusannya berpoligami kepada masyarakat umum. Sayangnya, dia kurang peka terhadap perasaan masyarakat -khususnya kaum hawa- yang kala itu sedang ‘neg’ dengan konsep poligami setelah pernikahan kedua Aa Gym. Niat awal yang maunya transparan akhirnya menjadi petaka. Kolega yang selama ini mendukung dan mengawalnya hingga menjadi Wakil Ketua DPR memutuskan untuk melakukan PAW. Kawan, berubah menjadi lawan