Bahagia dengan Satu Istri


Terus terang, saya belum membaca buku yang berjudul ‘Bahagiakan Diri dengan Satu Istri’ karya Cahyadi Takariawan, anggota Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang membuat heboh kalangan akhwat atau kader wanita di parpol itu. Tapi membaca judulnya saja, mungkin isi buku ini memang akan membuat panas hati para kaum pria yang sudah berpoligami atau yang ingin berpoligami.

Poligami, sebuah hal yang tidak dilarang agama Islam, namun menjadi kontroversi di kalangan umat Islam sendiri. Ada yang pro, namun tak sedikit yang kontra, Terus terang, meskipun salut dengan para wanita yang mampu menjalani poligami, saya bukan termasuk golongan kaum hawa yang mampu menerima konsep ini. Pacaran diduain saja, sudah sakit hati setengah mati, apalagi harus berbagi suami. Ah, out of my mind dan tidak akan pernah mau membayangkannya. Memimpikannya pun saya, ndak mau loh…

Dalam berita infotainment beberapa hari terakhir, Maia Ahmad mengungkapkan bahwa semua pria adalah ‘lelaki buaya darat’, tak ada pengecualian sedikitpun. Hanya kadarnya saja yang berbeda, ada yang kecil, ada yang besar. Jadi, kalo memang ada cowok yang sering ngelirik cewek lain padahal dia sedang berjalan dengan sang kekasih, bukan sesuatu yang luar biasa. Amat sangat wajar terjadi.

Nah, dari berita di Jawa Pos, alasan Cahyadi menulis buku yang kontroversial di internal PKS ini berawal dari banyaknya curahan hati kaum istri yang suaminya menikah lagi, atau berniat untuk berpoligami. Bahkan, ada pria yang berpoligami hanya karena panas telinga dikomporin oleh rekan di lingkungannya yang sudah berpoligami semua.

Akibatnya, dia berpoligami bukan didasari oleh kesiapan mental dan kesiapan diri untuk berbuat adil, tapi hanya karena ikut-ikutan lingkungan. (mungkin, dalam pikiran para pria yang ‘terjebak’ poligami, mereka sudah berbuat sesuatu yang mendatangkan pahala). Padahal, jika poligami terjadi karena keterpaksaan, maka bisa ditebak, keluarganya lah yang kemudian menjadi korban. Terbengkalai dan tak terurus. Anak-anak yang harusnya mendapat perhatian lebih, harus rela ‘dicueki’ dan hidup dalam kondisi merana. Tentu juga diiringi rasa sakit hati karena orang tua -khususnya ayah- menduakan cintanya dengan wanita lain

47 responses to “Bahagia dengan Satu Istri

  1. saya juga belum baca buku itu mbak. tapi menurut saya memang kudu arif, kalo tidak poligami tidak perlu menyudutkan yang berpoligami. semua kudu tahu diri. Tahu posisi. Tidak berlebihan.

    kudu tau diri ya…. 🙂

  2. Saya setuju dengan mas burhanshadiq. Tidak perlu saling menyalahkan dan menyudutkan. Masing-masing saja dengan amalnya. Yang jelas memang tidak menyalahi syari’at Islam. Lagi pula masih banyak persoalan umat yang perlu mendapat perhatian kita semua. Poligami itu kan hanya masalah kecil saja. Tidak usah diributkan.

    he3…. tidak usah diributkan
    tp terkadang bikin ribut loh mbak 🙂

  3. Mbak dewi, kalau bukan termasuk kaum hawa yang mampu menerima poligami ya nggak apa-apa. Toh itu sudah menjadi hak mbak sendiri. Tapi jangan anti ya! Apalagi sampai mencela. Ingat lho, ini hukum Tuhan. Bukan buatan manusia. Poligami bukan hal yang tercela. Kalau mbak Dewi mencela, saya ingatkan hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa barang siapa yang mencela seseorang dengan suatu celaan, maka yang mencela itu tidak akan mati hingga dia berbuat hal yang dia cela itu. Maksudnya bukan nggak mungkin jodoh mbak Dewi adalah pria beristri, bukan cuma satu mungkin dua atau tiga istri. Sehingga mbak Dewi jadi istri ketiga atau keempat. Tapi sekali lagi poligami itu bukan perkara yang pantas dicela.

    Salam untuk mbak Samidah di manapun berada. Sebelumnya, makasih dah mampir di blog ini.
    Waduuuh, gak perlu panas githu donk mbak… 🙂
    coba deh baca sekali lagi tulisan saya… yang sebenarnya hanya mengadopsi dari beberapa berita di media cetak dan infotainment. Apakah ada celaan saya di situ?

    Mencela, bagi saya, adalah ketika saya menulis bahwa poligami itu tidak boleh dilakukan, poligami perbuatan yang merusak keluarga, merugikan perempuan, merusak masa depan anak-anak, de el el.

    Kalau mbaknya kelewatan membaca, di alinea kedua, bahkan saya menulis kalo saya salut dengan wanita yang mau dipoligami.

    Bahwa, saya menulis terus terang tidak bisa membayangkan dan memimpikan jika saya dipoligami, saya pikir itu adalah hak saya atas diri saya sendiri, bukan sebuah celaan.
    Terima kasih….

  4. Poligami merusak keluarga?? Poligami merugikan perempuan? Tapi kenapa ya, kok itu diizinkan dalam Al-Qur’an? Memang sih tidak semua orang sanggup poligami. Poligami itu semacam obat dalam syari’at Islam. Kalau tidak sakit memang tidak perlu mengkonsumsi obat. Tetapi orang itu tidak berhak membuang obat dari tempat penyimpanannya. Ya, mbak 100% berhak atas diri mbak sendiri. Siapapun tidak bisa memaksa mbak. Mbak juga tidak bisa memaksa orang lain. Lebih baik kita bertoleransi pada pandangan kita masing-masing. Semua akan bertanggung jawab kepada Tuhan. Maaf ya kalau saya sudah membuat mbak tersinggung. Sekali lagi mohon maaf. Terima kasih.

    bismillah….
    salam sejahtera utk mba Samidah…
    Smile up dulu ya… sbelom baca jawaban saya, biar gak salah tangkap maksud dari apa yang saya tulis. Bisa kacau dech.
    Maksud saya dalam jawaban untuk komen anda sebelumnya adalah, saya mencela jika saya (sekali lagi, JIKA SAYA) menulis bahwa poligami merusak perempuan dan keluarga.
    Itu yang saya maksud sebagai contoh perbuatan mencela poligami, bukan sebagai pernyataan pribadi, karena pada kenyataannya dalam tulisan saya tentang Bahagia dengan Satu Istri, tidak ada pernyataan seperti itu.
    Tolong dibaca sekali lagi ya…

  5. Wah seru juga nih menyaksikan mbak Dewi dan mbak Samidah “berkelahi”. Mbok ya sudah, nggak usah ribut-ribut. Gitu aja kok repot! Yang setuju dan tidak setuju dengan poligami punya alasan sendiri-sendiri. Mbak Samidah kalau mau dan bersedia jadi istri ke 2, 3, atau 4 itu hak mbak dan tidak ada yang dapat memaksa. Begitu juga mbak Dewi berhak menolak untuk dijadikan istri ke 2, 3 atau 4. Bahkan untuk jadi istri pertama pun mbak Dewi berhak menolak, kalau mbak Dewi tidak suka dengan pria yang melamar. Dan seandainya mbak-mbak berdua ingin terus melajang alias tidak mau menikah seumur hidup, itu juga hak mbak-mbak. Yo wis, mlaku wae nang dhalane dewe-dewe. Saya ucapkan terima kasih sebab komentra-komentar mbak berdua dapat memberi pencerahan kepada orang banyak. Seperti kata mbak Samidah kita semua akan bertanggung jawab kepada Tuhan, dan manusia tidak berhak menentukan surga-nerakanya seseorang. Maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan.

    huehehehe… wadyuuuh, jangan pake kata ‘berkelahi’ dunk… kesannya kok sangar githu.
    Berbeda pendapat dan mengungkapkan pendapat yang berbeda, malah bagus kan. Yang berarti kita punya prinsip, nggak asal ngikut apa kata orang atau hal yang lagi ngetren.

    Soal melajang seumur hidup, walah si mbak iki yo (bener mbak kan?), ya jangan to… masih normal aku 😉
    makasih juga, sudah meramaikan blog ini dengan komentarnya dan menambah pencerahan buat yang laen.
    btw, alamat blognya?

  6. Alhamdulillah setelah membaca buku tulisan pak cahyadi berulang-ulang memang untuk mendapat cinta itu dengan satu istri karena apa yang ada diistri kita sama dengan yang dipunya wanita-wanita lain. cukup bahagiakan istri kita karena dia sudah memberikan yang terbaik buat kita (suami)semua yang dia punya dan dijaga diberikan ke suaminya. Apa belum puas juga satu aja tidak akan habis. Jangan mengikuti ulama-ulama beken yang poligami agar tidak berbuat maksiat, (pada dia sendiri berbuat maksiat dengan tidak bisa menjaga padangan dan birahinya terhadap wanita) makanya ulama itu harus berpuasa, jangan menikah(poligami), menikah buat yang masih bujang.

    dari sekian banyak rekan-rekan yang memberi komentar (termasuk saya), mungkin cuma mas Subakat saja yang benar-benar sudah membaca buku itu.
    Terima kasih sudah mampir di sini, salam untuk keluarga… 🙂

  7. bapak/mas subakat punya prinsip yang layak dihargai dan salut atas prinsipnya. Satu aja tidak akan habis, begitulah prinsipnya. Yang penting konsekuen memegang prinsip. Ada sebagian orang berprinsip begitu, tidak mau menikah lagi, tapi tidak konsekuen memegang prinsip.
    Kalau poligami untuk mencegah maksiat apa salahnya. Tidak mau nikah lagi juga baik. Jangan lupa pegang prinsip yang kita tetapkan. Sama-sama kita renungkan. Apakah kita sudah konsekuen alias istiqomah memegang prinsip yang kita tetapkan sendiri? Jawabnya ada pada diri kita masing-masing.

    intinya, memegang prinsip masing2 pak…

  8. SAMIDAH: “Mbak dewi, kalau bukan termasuk kaum hawa yang mampu menerima poligami ya nggak apa-apa. Toh itu sudah menjadi hak mbak sendiri. Tapi jangan anti ya! Apalagi sampai mencela. Ingat lho, ini hukum Tuhan. Bukan buatan manusia”

    >>>>harus dibedakan antara orang yang berpoligami atas nama/mengamalkan hukum Tuhan dan hukum Tuhan itu sendiri. Jika masalah terjadi pada praktek poligami…apakah ada masalah pada hukum Tuhan-nya? Jika orang yang berpoligami tidak beres, menindas, nelantarin keluarga, lakukan kekerasan atas istri…lalu kita cela…apakah kita juga mencela hukum Tuhan?<<<

    .:Om Fikri..makasih utk semua comment-Na:.

  9. Perlu klarifikasi rasanya. Buat mbak Dewi juga bpk/mas Fikri. Hukum Tuhan memang begitu adanya. Soal orang menyalah gunakan poligami demi kesenangan sendiri, itu juga tidak sedikit. Tapi dalam hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya, terutama pada jaman sekarang, berapa bagian yang benar-benar dipatuhi? Bukankah tidak sedikit larangan agama yang justru dikerjakan, dan bukankah tidak sedikit perintah agama yang justru ditinggalkan dan dilanggar? Jadi masalahnya bukan pada poligami saja. Bapak/mas katakan >>>> Jika orang yang berpoligami tidak beres, menindas, nelantarin keluarga, lakukan kekerasan atas istri…lalu kita cela…apakah kita juga mencela hukum Tuhan? Skup bahasan dipersempit, sehingga orang poligami saja yang dicela. Saya mau balik bertanya, jika hal-hal yang Bapak/mas sebutkan dan tanyakan tadi dilakukan oleh orang yang tidak berpoligami, dan itu banyak beritanya di koran-koran, lalu apakah itu tidak boleh dicela? Saya tidak membela orang berpoligami lalu orang itu berbuat seenaknya seperti yang dikatakan tadi. Perbuatan-perbuatan yang Bapak/mas katakan tadi pantas dicela tidak peduli apakah pelakunya poligami atau tidak poligami atau bujangan sekalipun. Setuju atau tidak?

  10. Menurut saya jangan kita memperdebatkan orang yang berpoligami atau yang monogami,saya yakin mereka punya pertimbangan-pertimbangan yang kita tidak tau.

    lah, saya sebenernya nggak bikin perdebatan loh…
    just wanna say w I feel ajah

  11. Yang netral saja deh. Baru dalam blogspot ini saya melihat adanya sikap netral. Pada kebanyakan blogspot, sikapnya terlalu berlebihan. Kalau yang anti, kebangetan! Yang pro juga, kebangetan. Teruskan sikap netral. Jangan berat sebelah. Oh ya, maaf nih tanya masalah pribadi. Apa mbak dewi sudah ada calon suami? Maaf ya kalau pertanyaan ini kurang sopan.

    maz Haikal, salam kenal n’ tenkyu dah mampir di my blog…
    untuk pertanyaan terakhirnya, dah akyu jawab via imel.. 🙂
    tauk tuh, alamat imelna bener apa engga

  12. Wah, kok cuma mas Haikal yang dibalas. Saya juga punya pertanyaan yang sama. Saya harap mbak Dewi tidak keberatan memberikan info yang sudah dikirim ke mas Haikal. Saya pingin tau banget deh. Terima kasih.

    Loh, yg kasih pertanyaan cuma dia-e mba… mosok, ga ada angin ga ada hujan, saya langsung kirim imel ke mbaknya, he3… 🙂

  13. Ohya. Rupanya belum ada lagi komentar-komentar dari para pengunjung blog ini. Apa mbak Dewi juga suka mengunjungi blog yang lainnya?

    pertanyaanku sebelumnya jg blom dijawab ama si mbaknya… alamat blogNa mana?

  14. Mbak Dewi, kok jawaban buat pertanyaan saya belum dikirim. Apa mbak Dewi keberatan ngasih jawaban? Kalau keberatan ya terserah mbak aja deh. Saya tunggu tanggapan mbak selanjutnya.

    huehehe3… sori2 kelupaan ngirim…. *ato malu ngirim ya?…..*
    sekarang sih dah aku kirim ke ur imel… 🙂

  15. Makasih mabak Dewi atas infonya. SAya nggak punya alamat blog nih! Yah, nggak mudah sih buat blog. Selain itu ide-ide yang mau kita tampilkan juga harus benar. Sebab pendapat kita ini akan mempengaruhi orang lain. Kalau salah kan kita juga ikut tanggungg dosanya. SAya lebih senang mengunjungi berbagai blog. Antara lain, www. dunia-maharani.blogspot.com, rahmatalibt.blogspot.com, http://www.gusdur.net, isamujahidislam, islamiyah.wordpress.com dan banyak lagi. Apa mbak Dewi juga sering mengunjungi blog-blog lain, di samping posting sendiri? Makasih sekali lagi buat infonya.

  16. Apa orang yang beristri satu lebih bahagia dari pada orang yang punya lebih dari satu istri? Kalau benar, syukurlah! Tapi Nabi Muhammad SAW, punya beberapa istri. Apakah ada orang yang mengaku Muslim dan beristri satu yang berani menyatakan bahwa dia lebih berbahagia dari Nabi Muhammad SAW? Ukuran kebahagiaan bukan pada jumlah istri, melainkan hubungan yang baik dengan Allah, Sang Pencipta segala sesuatu. Dalam hal ini, jangan menjadikan satu istri atau beberapa istri sebagai standar kebahagiaan. Orang akan bahagia jika dia dekat dengan Allah, dan yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.

    Jika mas Sajali bertanya demikian, saya juga akan bertanya apakah orang yang punya istri lebih dari satu lebih berbahagia dari mereka yang hanya beristri satu?.
    Nabi Muhammad SAW beristri lebih dari satu karena ada alasan, ada sejarahnya, tak semata-mata ikut2an lelaki lain yang sudah beristri lebih dari satu. Sekali lagi, soal berapa banyaknya istri, saya sich menyerahkan kepada Anda semua, kaum lelaki untuk mengambil keputusan, setelah tentu saja memusyawarahkannya dengan sang istri 🙂

    Soal ukuran kebahagiaan bukan pada jumlah istri, saya setuju dengan Anda.
    Terima kasih sudah urun pendapat di sini…
    salam kenal yach..

  17. Wah seruh baca komentar2 tentang pro & kontra poligami, banyak yang sensi rupanya..(hehe) yang jelas saya ingin baca buku itu yang menurut informasi katanya buku karya cahyadi takariawan itu sudah susah diperoleh di toko buku ( jadi semakin penasarn neeh…..)

    ehmm…..klo dah dapet bukunya, kasih pinjem ya…. huehehehehe…..

  18. Tentu saja belum tentu orang beristri lebih dari satu itu lebih bahagia. Saya mengajukan pertanyaan saya tersebut, karena judul itu seolah-olah mau memutuskan bahwa dengan seorang istri itu lebih bahagia.
    Kembali lagi pada soal, apakah Nabi Muhammad yang punya banyak istri itu kurang bahagia dari pada orang-orang yang punya satu istri? Terlepas dari sejarah dan alasan atau dalilnya, nyatanya Nabi Muhammad SAW menikahi beberapa wanita. Jadi yang saya pertanyakan, apakah judul itu memang bermaksud demikian? Bahwa dengan satu istri itu dijamin bahagia? Sama-samalah kita renungkan. Makasih atas dimuatnya pendapat saya ini.

    Bahwa dengan satu istri itu dijamin bahagia?

    bukan masalah guarantee pak,
    tapi, jika sudah bahagia dengan satu istri, kenapa harus “nambah”?
    ayo, sama2 kita renungkan juga….

  19. Begitu ya? Judul buku itu “Bahagiakan diri dengan satu istri”, bukan? Menurut saya judul buku itu justru mengajak kita menjadi bahagia cukup dengan satu istri. Artinya, banyak orang beranggapan bahwa memiliki istri lebih dari satu itu lebih bahagia, maka cobalah berbahagia cukup hanya dengan satu istri. Bukan begitu?? binun ya? sama doung… *tuing…tuing…*
    sori ya, ikutan nimbrung…
    Poligami itu memang hukum Allah, jadi saya bukan orang yang antipoligami. Berbicara tentang poligami memang tidak bisa ujug-ujug.. artinya kita tidak boleh memukul rata hukum poligami atas setiap kasus. diperlukan pemahaman yang mendalam akan sebab-musabab diperbolehkannya poligami dalam Islam. Tentu saja Rasulullah merupakan pengecualian. Artinya, kita tidak boleh menyamakan posisi kita dengan Rasulullah. Rasulullah memiliki banyak istri adalah untuk kepentingan dakwahnya, karena memang fiqhunnisa’ atau hukum2 yang berhubungan dengan kewanitaan itu sangat luas. Coba bayangkan seandainya Rasul hanya memiliki 1 orang istri, dari mana kita dapat mengetahui hukum2 yang berhubungan dengan wanita itu? Fiqhunnisa’ tentu saja bersumber dari riwayat yang disampaikan para istri Rasul tersebut. Itu salah satu sebabnya. Tetapi kemudian banyak orang yang menjadikannya sebagai pembenaran untuk memiliki istri lebih dari 1. Padahal tidak semudah itu. Saya pernah membaca riwayat tentang keinginan Ali bin Abi Thalib untuk menikah lagi. Ketika Ali menyampaikannya kepada Rasul, beliau melarangnya karena takut hal ini dapat menyakiti hati putrinya, Fatimah. Dari sini saja kita dapat mengetahui bahwa poligami itu memang tidak mudah.

    Dek, waktu amaliyah tadris dulu dapet Fiqh ya?…..
    Aq dapt Usul Fiqh, tpi dah lupa…..xixixixi…
    Duh, musti buka-buka buku lagi nich…. 🙂 😉

  20. De ngajar usulfiqh kok dew.. tapi sebelumnya privat dulu sama coim! heheh.. tapi dek masih inget, judulnya “tasarruful imam ‘alal ra’iyyati manutun bil maslahah”. Pertama kali baca judulna… asli dek ga ngerti!! pas dijelasin sama coim, wah… ternyata so simple!! itu loh tentang Kullukum ra’in wa kullukum mas-ulun ‘an ra’iyyatihi… thanks 4 coim dah…

    ya ampun, ente msh inget judulNa?… weleh, weleh…
    aq dah ga inget, cuma yg aq inget wkt itu ksh contoh dengN menggunakan nama Dodi ama Diana *maklum, keduanya baru meninggal*, so biar anak2 mudah paham pluz ga ngantux. trus gara2 itu, aq kena naqd, soalnya mo ngomong na’am jadi yes, huehehehe… sebellll….

  21. iye, dek inget tuh dew… elu emang keinggris- inggrisan dari dulu tuh!! hahaha…

    huehehehe, keinggris2an soalNa dulu mupeng ama tampang imutNa William…
    keinggris2an, tp ga mahir bahasa bule itu, kesian deh gw…
    keinggris2an, tp belon bisa kesono… (I wrote blon bisa, sapa tau ntar gw dpt kesempatan berkunjung ke sana… sapa tau ya Dek… Amiiiin….99999x 😉

  22. PASTI!! pikiran itu menjadi sesuatu lho.. memang gak ada yang mustahil di dunia ini… kalo ada keinginan, semua mungkin dew!! soalna dek juga punya cita-cita melancong ke sana! hehehe..

    Amiiin….. 😉

  23. Maaf saya akan sedikit berbagi ilmu yang saya ketahui dan mudah2 an benar dan akan mendinginkan suasana (jalan tengah). Apabila komentar saya ini dapat di fahami dan menjadi titik terang harap sebarkan ke yang lainnya. Menururt yang saya tahu dari berbagai sumber yang telah saya pelajari (ushul fikih dan ilmu mantik diantaranya). Mungkin yang jadi masalah dan selalu diperdebatkan disini adalah.

    1. Apakah Poligami itu sunnah dan apakah harus di ikuti?
    2. Apakah yang tertera dalam al-quran tentang ayat yang berarti “Nikahilah wahai kaum laki2 dari perempuan 2, 3, atau 4. TAPI…….. kalo kalian takut untuk tidak adil maka cukup 1.” adalah merupakan perintah karena di dalamnya ada kalimat fiil amar (perintah) yaitu kata “Fankihu” yang mana “al amru tuidul ijab” setiap fiil amar adalah wajib. Nah yang jadi masalah apakah POLIGAMI itu wajib / mendapat pahala kalau dilaksanakan?? jadi bagaimana hukumnya??

    Jawaban nya ini:

    1. Ya poligami itu sunnah Rasul (di sini posisinya sunnah fi’li) tapi ingat tidak semua sunnah harus di ikuti (wajib/sunat). sebab kalo memang harus di ikuti kenapa Rasul punya istri 9 sedankan dalam al-quran hanya dibatasi sampai 4?? nah itu bukti bahwa tidak semua syariat yang di bebankan kepada rasul dari Alloh sama persis dengan ummatnya.

    2. Tentang ayat yang memerintahkan poligami.. disini banyak laki2 ato para suami yang salah kaprah menyikapinya ato sembarangan menanggapinya dan merasa diri di anak emaskan sehingga se enaknya melakukan poligammi. terus sebaliknya sang perempuan ato sang istri merasa di anak tirikan oleh syariat islam ato merasa bahwa islam ituh kejam dan tak jarang muncul berbagai gerakan ANTI POLIGAMI padahal orang2 yang bergerak di dalamnya adalah notabene pemeluk islam sejati. lantas klo begitu apa dong hukumnya poligami??

    jadi begini klo di lihat dari ayat “fankihu maaa taabalakum…. dst” ya disitu adalah ayat yang mengandung perintah (fiil amar = lil ijab/mewajibkan) tapiiiiii…. jangan memahami secara sepotong2 sebab di ujungnya ada kalimat “fain khiftum……. fa wahidatu ” nah di situ artinya “jika kalian takut……. maka cukup satu”. klo di lihat dari segi tata bahasa dalam ilmu alat ada dfinisi “Alamru ba’da syarti tuidul ibahah” artinya “setiap kata perintah yang diikuti dengan kalimat syarat maka menunjukan kepada boleh”. Nahhhhhhh sebab dalam ayat itu di awali dengan kata perintah tapi di ujung kalimat ada kata syarat yaitu dalam kalimat “Jika kalian takut…maka satu” jadi hukumnya poligami itu adalah BOLEH jadi bukan SUNAT apalagi WAJIB jaid intinya perintah itu tidak harus di ikuti. Tapiii sesuatu yang berhukum BOLEH (MUBAH) bisa berubah hukumnya tergantung niat… jadi bisa menjadi berpahala atau malah sebaliknya malah menjadi dosa… tergantung niat dan kondisi. Tapi… kalau hanya sebatas niatnya karena malu oleh orang lain karena tetangga telah poligami… apalagi karena semata sebagai mengumbar BIrahi.. itu mungkin alangkah bijaksananya kalau tidak belpoligami. kalau malah menimbulkan perpecahan?? jadi haram sebab “aniyatu la tuatsiru bil ma’siat artinya niat tidak akan mengalahkan/berbekas pada sesautu yang haram”

    kesimpulannya. Poligami adalah sunnah tetapi tidak harus untuk di ikuti sebab Hukumnya hanyalah boleh. bagi kaum pria.. jangan merasa di anak emaskan oleh syariat sebab ayat itu bukan sebagai perintah untuk poligami apalagi mengumbar nafsu tapi untuk melindungi kaum perempuan.
    dan bagi kaum perempuan. jangan merasa di anak tirikan sebab Islam itu adalah adil… semua syariat yang terkandung di dalamnya adalah yang terbaik bagi umatnya kecuali jika anda bukan penganut islam.

    akhirnya yaaa keputusan di tangan semuanya… coba pertimbangkan mana jalan yang lebih baik. klo semuannya sepakat untuk poligami dan di anggap lebih maslahat ya ga apa2 poligammi tapi kalo sebaliknya.. lebih baik jangan.

    sekian dari saya yang tidak sengaja membuka Link ini. mohon maaf kalau apa yang saya utarakan salah.

    wasalam.

    wass…makazziiih….

  24. guuuuuuuudd… guuuuuud… guuuuuuuuudddd….
    makaseh mas! sebagai pere akyu senang membacanya, soalnya kebanyakan laki2 itu memang cenderung ingin berpoligami dan menjadikan ayat tersebut sebagai pembenaran dia berpoligami… padahal kan gak mudah…
    eh, ngomong ngoming bole kenalan gak? teteup… *namanya juga usaha…* kekekekek…. canda mas… canda…

    bujubunEng…. Dede gi kambyuuuh nech… 😀 😛 😉 😆

  25. Pandangan Mas Tatang cukup netral. Memang, orang-orang Islam jangan ikut-ikutan anti poligami. Terlepas apakah kita mau berpoligami atau tidak. Ohya, pertanyaan saya pada komentar no 19. Kayaknya susah ya dijawab? Sekali lagi, renungkan saja.

    bukan soal susah ngejawab mas, soalNa, jawabannya sebenarnya sudah ada dalam tulisan di dalamnya. Lagian, klo saya jawab, bakal jadi tanya jawab dan perdebatan panjang lagi….
    btw eniwe baswe, jgn bosen kasih komen di sini yakz… 🙂

  26. Jika orang2 yang baru sekedar tahu islam untuk kontra masalah ini masih di maklumi…namun sangat disayangkan bagi rekan2 yang sudah lama berkecimpung dan lebih banyak mendalami masalah2 agama masih kesulitan untuk mencerna dan menerima persoalan ini ke arah yang lebih hakiki.
    Saya setuju dengan tulusan Mas Tatang dan untuk tulisan “Pacaran diduain saja, sudah sakit hati setengah mati, apalagi harus berbagi suami” … ini terjadi karena mendahului cinta dunia dalam hal ini kepada manusia (ngomong2 pacaran ngak boleh loh!), cobaklah lebih dalami walau dia suamimu tapi bukan milikmu sepenuhnya.. sesungguhnya ada yg lebih berhak memilikinya, ajakan mana yg lebih baik kecuali ajakan di jalan Allah.

    thx utk ikut berbagi di sini…
    huehehehe…..pacaran yach….. 🙂

  27. Dewi, kaulah hidupku. Aku cinta padamu sampai mati. Dewi belahlah dadaku!

    huehehe, laguNa Dewa…
    salam kEnal Adit…
    kok ga ada alamat blogNa?
    oia, swooori ga bisa belah dadah u…
    takyut dipolisikan ntar…. 😀

  28. Bagus Mas Tatang. Semoga kita semua sadar akan hakikat ajaran Islam dalam segala hal, khususnya mengenai poligami ini. Saya rasa mbak Dewi juga cukup netral orangnya.

    makaziiih dah mampir… 😉

  29. Nenek buyutku merasa diperlakukan secara tidak adil oleh kakek buyut, karena kakek buyutku mempunyai istri konon 40 an istri, dan nenek buyutku adalah istri nomer 3. karena kakekku sangat sayang pada nenek buyut maka kakekku berjanji bahwa anak keturunannya tidak akan melakukan poligami.

    kakekku memang tidak poligami namun hobinya marah-marah sama nenekku sampai nenekku tidak tahan rasanya. namun nenekku mengatakan padaku bahwa masih sayang sama kakekku karena kakkekku hanya menyayangi satu wanita didunia ini yaitu nenekku.

    Temankku punya dua istri, istri yang pertama sakit keputihan dan tidak lama kemudian istri keduanya juga keputihan, istri pertamanya menderita infeksi pada kemaluaannya tidak lama kemudian istri keduanya juga menderita infeksi yang sama.. menurut dokter ini karena terjadi penularan.. dari istri pertama ke istri kedua.

    nanya nih.. supaya tidak menular apa ya pakai kondom ya..?

    Temanku yang lain hobinya mbalon (main sama wts).. pakai kondom.. dan selalu membandingbandingkan kehebatan dari “rasa” wts wts itu. dan untuk yang memberikan ‘rasa’ yang luar biasa temanku selalu memberikan tips (uang) yang banyak pada wts tersebut.

    nanya nih.. apa mungkin ya antar istri terjadi lomba-lombaan service untuk mendapatkan ‘tips’ yang besar..??

    istriku terus terang mau dipoligami, aku sebenarnya juga mau poligami.. tapi kog gimana gitu ya.. rasa-rasanya hati ini tidak bisa dibagi dua gitu lho.. tapi kalo urusan tempat tidur rasanya lebih legalah he2…

    aku gak brani omong dari sisi agama.. , namun aku salut sama mas tatang..

    Mohon maaf kalo ada yang kesinggung.. yang saya beberkan adalah fakta….

  30. di Mekah ato dinegara2 islam,laki2 boleh berkawin semau hati,karena negara2 Islam tidak punya hukum, di Indonesia misalnya, wanita itu tidak dihargai hak martabatnya,karena mereka membuat aturan dg hati mereka sendiri,lihat Indonesia semua sangat miskin,karena apa rakyat indonesia miskin?karena sistim pemerintahan tidak bagus,bg para pemimpin hanya suka koropsi,suka banyak istri

    ehmmm…rasanya nggak seekstrim ini mbak
    di tengah kondisi hukum dan penegakan hukum tanah air yang kurang optimal, masih ada orang yang punya hati nurani dan rasa keadilan
    tetap optimis 🙂

  31. Ass Wr Wb.
    Mas Tatang Trmkash pendapatnya, Smoga Allah SWT merahmati ilmunya

    Ada 3 yang dapat pahala terus “pensiunan” ketika kita telah meninggal dunia.
    1. Ilmu yang bermanfaat (semoga mas tatang dapat nih)
    2. Shodaqah Jariyah
    3. Anak sholeh yang mendoakan ibu bapaknya (mari banyak-banyak berdoa untuk ibu bapak kita baik yang masih hidup, lebih2 kepada yang telah meninggal dunia.

    untuk mbak Dewi (dan terutama juga untuk saya sendiri) semoga semakin bertambah pemahaman kita ttg Islam yang hanif/lurus.

    boleh juga klu mbak dewi bagi biodatanya kepada saya (fasthabiqul khairat). tk

    Yang rindu dengan Indonesia
    Abu faidh from mlysia

  32. pada doyannya ngebahas masa di mana Nabi Muhammad punya banyak istri. gak inget apa kalo beliau itu setia pada satu istri saja sampe meninggal (khadijah). nah abis itu baru deh masa di mana ada alasan2 lain (bukan nafsu) untuk menikahi sampai 9 orang.
    kalo emang mau nyontoh rasul ya cobain till death do us apart dulu dong.. ini mah ambil yang ‘enak-enaknya’ doang..

    he3…. hari gini semoga masih banyak yg punya prinsip setia sampek mati 😉

  33. DAri smua komentar yang saya baca di atas, yang paling sesuai kebenaran tuh:
    – Subakat Kartono
    – Tatang
    – Rianty

    yang lain cuma bilang, “sudahlah mbak Dewi, jangan hakimi orang lain, hanya Tuhan yang tahu itikad manusia”

    amiin, saya percaya hanya DIA yang tahu tiap motivasi manusia..Amin..
    Tiap perbuatan dan perkataan kita, akan dipertanggungjawabkan di pengadilanNya yang akhir…amin

    yang menyangka kalau mbak dewi menghakimi orang poligami begitu pasti kurang profesional dalam membaca karena sebenarnya kalo dibaca dengan teliti, tidak satupun pernyataan mbak dewi yang menghakimi orang yang berpoligami, dia hanya secara jujur mencurahkan isi hatinya sebagai wanita di blog ini.
    Saya percaya kejujuran hati wanita sangat Allah hargai..
    Apakah berdosa mencurahkan isi hati yang sejujurnya?
    Allah mengerti hati tiap manusia, baik pria maupun wanita.

    BAnyak orang mengaku diri baik namun yang setia, siapakah yang dapat menemukannya?

    BAnyak orang mengaku diri baik namun yang setia, siapakah yang dapat menemukannya?

    huehehehehe, emang pak..yg baik blon tentu setia
    nah, bapaknya termasuk yg setiap kan? 🙂

  34. Buktikan semuanya dengan perbuatan jangan ngomong doang. Ya, memang manusia tidak berhak menghakimi orang lain. Mencurahkan isi hati sih sah-sah saja. Cuma kalau secara halus mem”provokasi” orang, gimana itu?

    ngebuktiin yg mana ya?

    btw, Anda mengatakan manusia tidak berhak menghakimi orang lain. padahal komentar ini sudah menghakimi saya, bahwa saya sedang melakukan provokasi. ehmmm…. gimana itu?

    soal apakah ada orang terprovokasi atau tidak setelah membaca tulisan di sini dan semua komentarnya, tergantung masing-masing individu. apakah dia mudah diprovokasi, ataukah memiliki pendirian dan keyakinan teguh.

    salaam, makasih dah mampir (tersesat) di sini

  35. Maaf mbak Dewi. Saya dianggap sudah menghakimi, sekali lagi mohon maaf. Maksud saya bukan demikian. Saya hanya melihat kenyataan dari tanggapan-tanggapan yang masuk, baik yang pro atau yang kontra. Ya, memang sih tergantung masing-masing. Tapi tulisan ini memang sudah mbak akui sendiri bahwa ada sebagian yang terprovokasi. Jadi saya memang tidak menghakimi, bukan?
    Sebenarnya masih banyak lagi masalah dalam umat Islam ini yang perlu dibahas. Bukan membahas poligami yang bagi saya hanya masalah yang kecil dan sepele saja jika dibandingkan dengan masalah-masalah lain. Misalnya saja tentang masalah-masalah yang melanda umat Islam akhir-akhir ini di Palestina, kemiskinan, kemerosotan akhlak dan lain-lain. Dengan dianjurkannya poligami di kalangan umat Islam bukan jaminan bahwa Islam akan maju, begitu pula dengan dilarangnya poligami dalam Islam juga bukan jaminan bahwa Islam akan maju. Maju-mundurnya umat Islam bukan tergantung pada boleh atau tidaknya poligami. Toh, sudah jelas bagi yang mau poligami itu sudah ada izinnya dalam syariat Islam, yang anti poligami juga kebanyakan mengatakan, “ya memang boleh sih, tapi…..”. Artinya memang masing-masing punya dalilnya. Kalau sudah begitu buat apa diributkan. Terlalu sering meributkan maslah-masalah kecil akan membahayakan kerukunan umat. Nanti ada orang berbeda pendapat sedikit saja dengan kita, sudah divonis sesat. Buktinya saya, ditulis “sesat” (makasih dah mampir (tersesat) di sini). He-he-he! Jangan gitulah. Masih untung tidak dikafirkan, he,he,he. Sekian dulu ya. Maaf kalau saya sudah terlalu “menilai”.

    huehehehe….
    rasa2nya Anda memang terlalu menjustifikasi
    konotasi sesat dan tersesat, jauh sekali…
    tapi yo wis lah, saya tidak ingin berdebat soal ini, lha wong saya bukan ahli bahasa
    oia, saya sudah memaafkan Anda 🙂

  36. Mbak Dewi setuju dengan pendapat Bang Toyib itu?? Poligami kan ada izinnya dalam Islam. Nabi Muhammad SAW dan sebagian dari para sahabat mengamalkan poligami ini, tegasnya mereka punya istri lebih dari satu.
    Saya netral dalam masalah poligami ini, seperti pernyataan saya yang lalu bahwa poligami ini tidak perlu diperdebatkan. Saya gak tahu Bang Toyib orang Islam atau bukan, itu urusan dia sendiri.
    Namun menyatakan poligami sebagai aturan Barbar dan bangsa biadab merupakan tuduhan keji terhadap ajaran Islam, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau. Kalau ada orang yang menyalah gunakan poligami untuk kepentingan pribadinya, itu jadi tanggung jawab dia sendiri.
    Mungkin itulah yang biadab. Namun lebih biadab lagi kalau ada orang yang punya satu istri, lalu dia selingkuh dengan wanita lain tanpa ikatan nikah apa pun. Hati-hati membuat pernyataan! Itu bukan menghakimi poligami, tapi menghakimi ajaran Islam. Na’udzubillah min dzalik! Kami berlindung kepada Allah dari tuduhan keji semacam itu.

    saya rasa, komentar ini untuk mengomentari bang toyib [yg semoga juga membacanya]
    menjawab pertanyaan Anda, tidak bapak, saya tidak sependapat dengan bang toyib.

  37. Liat Dulu deh kenapa nabi Poligami… tanyakan bagi yg niat poligami, apakah alasan poligaminya sama gak dgn alasan nya nabi? Jangan sombong n takabur.. merasa diri mampu adil.. Yakin?

    Kalo Allah SWT mentakdirkan seorang wanita menjomlo, hidup sendirian, ikhlas saja… Yang penting jangan sampai sendirian tanpa Allah SWT… Sulit menjadi wanita lajang terhormat dimata masyarakat dan dimata Alloh SWT

    Didua’akan? atau Lebih? Yakin bisa menjaga hati? yakin lebih banyak manfaatnya daripada madharatnya? kembali lagi… jangan sombong atau takabur…

  38. Kalau kita mengakui pria dan wanita satu derajat, harkat dan martabat, tidak mkn kita berpoligami. Poligami jelas pelecehan bagi derajat, harkat dan martaat kemanusiaan.

    tapi itu dibolehkan, memang
    bagi mereka yang bisa adil
    jika belum yakin, cukup satu saja 😉
    salam kenal, makasih dah mampir… 🙂

  39. Dalam poligami titik permasalahan bagi laki-laki adalah keadilan dalam memberi, dan bagi perempuan keikhlasan dalam berbagi. Laki-laki menjadi keharusan (wajib) berbuat adil terhadap istri-istrinya apabila berpoligami. Adil dalam memberi merupakan penilaian berhasil atau tidaknya dalam perkawinan poligami bagi laki-laki. Semua pemenuhan materi berupa pangan, sandang dan papan, juga pemenuhan immateri yakni berupa kasih sayang dan kemesraan haruslah diterima sama oleh para isteri yang dipoligaminya. Untuk masalah cinta yang mungkin tidak sama yang diterima oleh para isteri dan menurut saya ini wajar. Bagi orang monogamipun kalaulah berganti-ganti isteri masalah cinta itu tidak sama perasaan cintanya, bisa jadi isteri pertama yang sudah dicerai adalah orang paling dicintainya walaupun menikah dengan wanita terkakhir sudah punya cucu dan sudah mendekati liang kubur, yang dalam hal sikap mesranya, kasih sayang, sandang, pangan dan papan telah dipenuhinya.
    Cinta dan kasih sayang, juga sikap mesra adalah suatu hal yang berbeda. Rasulullah SAW dari istri-istrinya yang paling dicintainya adalah Siti Khodijah. Apakah ini tidak adil? Menurut saya adil, percintaan antar manusia tidak sama kadarnya dan ini sunnahtullah. Apakah anda menjadi sombong dengan mengatakan tidak adil terserah anda.
    Bagi perempuan yang dinilai adalah ikhlaskah suami anda mempunyai istri selain anda. Ibarat orang mempunyai rumah, harta, warisan dibagi rata dengan orang lain dan anda menerima bagian sama dari rumah, harta tersebut. Contoh anda punya rumah seharga 1,2 milyar iklhaskah anda menjual rumah anda itu, kemudian uang hasil penjualan rumah itu Rp.600 juta anda berikan kepada orang yang tidak anda kenal secara percuma. Ikhlaskah anda memberikan separuh kepemilikan atas suami anda kepada wanita lain? Wanita yang tidak mau berbagi dalam poligami iklaskah wanita itu? Kira-kira orang yang tidak ikhlas termasuk orang solihahkah dia? Egoiskah orang yang tidak mau berbagi dalah hal apa saja termasuk suami? Semakin solihah seorang wanita adalah wanita yang ikhlas dalam berbagi dan ridha. Sudahkah kita ikhlas dan ridha?
    Orang-orang yang bahagia adalah orang ikhlas, ridha, sabar dan pandai bersyukur. Kalau anda diberi kesempatan menjadi kepala cabang pemasaran di suatu kota bahagiakah anda. Bagaimana kalau anda diberi kesempatan menjadi presiden RI bahagikah anda? Kira-kira bahagia mana menjadi kepala cabang pemasaran dengan menjadi presiden RI? Mengapa orang yang sudah punya uang milyaran bahkan trilyunan mau menjadi presiden RI. Hal ini masalah tanggungjawab, semakin besar tanggungjawab seseorang semakin dikejar dan diraih. Semakin besar tanggugjawab semakin komplek permasalahan. Semakin mampu seseorang meyelesaikan tanggung-jawab besar semakin bahagia seseorang. Kira-kira tanggungjawab seorang laki-laki mempunyai satu isteri mana lebih besar dengan mempunyai isteri lebih dari satu? Apabila seorang laki-laki mampu menjalankan tanggung jawab kepada isteri-isteri yang dipoligaminya, kira-kira yang manakah yang lebih besar tingkat kebahagiaannya antara monogami atau poligami? Paling bahagia manakah orang yang ikhlas berbagi dengan orang tidak mau berbagi?

  40. pembahasan masalah poligamy bukan hanya dari satu kacamata sja, namun dari berbagai sisi.

    intinya begini kalau ingin poligamy:
    1. sudahkah keluarga anda sejahtera, artinya anak istri terurus dengan baik, tercukupi harta benda, termasuk keluarga sendiri artinya orangtua suami dan orang tua istri.

    2. kalau nomor 1 sudah terpenuhi, buatlah keluarga kedua [poligamy] dan keluarga kedua pun harus akur dengan keluarga pertama saling asah, saling asih, saling asuh, agar terjalin kekerabatan yang besar.

    3. sebagai seorang ayah, suami haruslah adil dan transparan, artinya adil dalam pembagian harta untuk keperluan sehari-hari dan keluarga yang lain juga mendukung pelaksanaan keadilan tersebut, jangan arogan, mau menang sendiri, dll

    4.transparan, artinya semua transparan, baik laporan keuangan pribadi maupun perusahaan yang dikelola [kalau ada]

    5. nah dengan begitu akan tercipta 2 buah keluarga dengan 1 ayah, 2 istri, jadi biarpun sampai mempunyai keturunan berapapun akan tampil harmonis.

    6. masing2 personal harus menyadari akan pentingnya poligamy dan tujuan serta manfaat poligamy, baik dari kalangan orang tua, anak dan keluarga yang lain…

    selamat mencoba

    mas, pak agus…
    terima kasih sudah mampir dan ikut berdiskusi di sini ya… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s