Belajar ke SBY-Zaenal


 

Melihat tingkah polah politikus kita saat ini rasanya semakin aneh saja. Pergantian antar waktu (PAW) Zaenal Maarif dari posisi wakil ketua DPR RI yang ditandatangani oleh Presiden membuatnya berang dan bertindak impulsif dengan mengumbar pernyataan di media massa tentang kemungkinan bahwa SBY pernah menikah sebelum masuk Akmil 37 tahun lalu.

Terlepas dari benar tidaknya isu itu, langkah Zaenal yang langsung gembar-gembor di media massa mengungkap gosip tentang orang nomor satu di Indonesia itu terlihat sebagai sebuah langkah orang sakit hati yang kalah. Saya yakin, sebagian besar orang di Indonesia memandang perilaku Zaenal sebagai sikap kekanak-kanakan. Sebuah langkah balas dendam karena kehilangan posisi ‘basah’ yang sudah dinikmati selama ini. Nggak smooth banget. Terkadang, sesuatu yang benar tapi jika disampaikan dengan tidak tepat, akan menjadi hal yang salah.

Yang lebih childish lagi adalah pernyataan Zaenal tentang kekecewaannya karena tidak disambut oleh Kapolda dan staf ketika dia membuat surat laporan di kepolisian. Kondisi ini, menurutnya, berbeda ketika SBY melaporkan dirinya di Polda Metro Jaya Minggu lalu. Kehadiran SBY disambut langsung oleh Kapolda dan jajarannya.

Saya menulis ini bukan berarti sebagai sikap pro atas langkah yang dilakukan SBY. Menurut saya, presiden kita yang satu ini juga terlalu reaktif dalam menanggapi  berbagai isu atau pernyataan orang tentang dirinya. Bukan sekali ini saja, SBY mereaksi pernyataan, isu, atau komentar orang dengan berlebihan. Masih jelas di ingatan kita, ‘perseteruannya’ dengan Amin Rais beberapa waktu lalu. SBY bereaksi berlebihan, bahkan sempat membuat pernyataan akan memolisikan Amin. Dengan Zaenal, pernyataan itu tak sekadar janji, tapi sudah direalisasikan.

Ah, ternyata menjadi presiden itu tak sekadar menduduki jabatan tertinggi di sebuah negara, memperoleh fasilitas dan ‘gaji’ tinggi. Tapi juga sebuah posisi yang menuntut kerelaan siapapun yang sedang berada di posisi itu untuk digosipkan, dicerca, dikritik, dan lain sebagainya. Gosip dan isu merupakan konsekuensi logis yang harus diterima saat seseorang berada di posisi puncak dan menjadi perhatian banyak orang.

Perilaku kedua politisi kita ini tentu menjadi perhatian semua masyarakat di Indonesia dan menjadi pelajaran buruk bagi generasi muda kita (yang mungkin nantinya juga akan menjadi politisi). Saya tidak bisa membayangkan, politisi-politisi 10 atau 20 tahun ke depan, hasil didikan para politisi kita sekarang ini. mmm, lebih parah kah? smoga tidak…

Atmosfer di dunia politik memang dapat berubah dalam sekejap, seorang kawan dapat menjadi lawan dalam hitungan detik. Begitu juga sebaliknya, lawan belum tentu harus dimusuhi. Tidak menutup kemungkinan anda harus berkawan dengan lawan untuk mencapai tujuan yang anda inginkan. Itulah politik, semuanya serba ambigu.

Zaenal Maarif, contohnya, yang sebelumnya menjadi Wakil Ketua DPR RI. Dalam waktu sekejap, posisi terhormatnya  itu langsung berubah karena keputusannya untuk mengumumkan pernikahan keduanya. (mungkin) maksudnya waktu itu, Zaenal ingin menunjukkan sisi gentlemannya yang mau mengakui keputusannya berpoligami kepada masyarakat umum. Sayangnya, dia kurang peka terhadap perasaan masyarakat -khususnya kaum hawa- yang kala itu sedang ‘neg’ dengan konsep poligami setelah pernikahan kedua Aa Gym. Niat awal yang maunya transparan akhirnya menjadi petaka. Kolega yang selama ini mendukung dan mengawalnya hingga menjadi Wakil Ketua DPR memutuskan untuk melakukan PAW. Kawan, berubah menjadi lawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s