Perempuan Pemimpin


 

Ketika menghadiri seminar, diskusi, atau sekadar obrolan tentang hak, kewajiban dan emansipasi wanita, ataupun persamaan gender, biasanya kaum pria dengan suara lantang menyuarakan dukungan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan mereka. Para lelaki itu beranggapan bahwa saat ini sudah bukan zamannya lagi memasung kebebasan dan kemerdekaan kaum perempuan. Bukan masanya lagi budaya patriarkhi yang memposisikan perempuan sebagai entitas di level terendah, dipertahankan.

Itu, pernyataan normatif yang dilontarkan dalam sebuah forum. Itu, omongan keras yang akhirnya hanya menjadi sebuah kalimat tanpa makna. Karena pada kenyataannya, masih sangat banyak kaum pria yang tak dapat (baca: tidak mampu dan tidak mau) mengakui keunggulan dan kelebihan perempuan. Tak sedikit kelompok pria yang enggan berdiri berdampingan dan sejajar dengan wanita dalam sebuah persaingan. Parahnya lagi, jika keengganan itu membuat Islam dijadikan justifikasi untuk membenarkan apa yang mereka lakukan.

Saya menulis ini bukan karena ada masalah dengan kaum pria, atau merasa dijegal oleh mereka. Tapi lebih karena perasaan trenyuh saya melihat kondisi perpolitikan di internal sebuah perguruan tinggi di Malang yang akan menggelar pemilihan rektor sebentar lagi. Sebagai informasi, salah satu kandidat rektor itu adalah perempuan, yang menurut saya, memiliki dedikasi tinggi dan kualifikasi yang cukup untuk menjadi pemimpin. Rivalnya, -tentu saja- para lelaki yang sayangnya, dalam masa kampanye menggulirkan isu  bahwa Islam melarang seorang pemimpin perempuan, jadi jangan memilihnya sebagai rektor. Nah loh?!

Islam dijadikan sebagai dalih untuk menjegal langkah si calon rektor perempuan. Padahal, bukankah Islam datang untuk memerdekakan dan membebaskan manusia, laki-laki dan perempuan? (dari kegelapan menuju cahaya). Membebaskan manusia dari sistem perbudakan atau dari sifat yang suka memperbudak orang lain.

Kemerdekaan manusia dalam Islam telah diperoleh dan menjadi haknya sejak dia dilahirkan oleh ibundanya, sejak Allah SWT memberikan ruh dan kesempatan hidup kepadanya, sehingga tak seorang pun -apakah dia laki-laki atau perempuan- dibenarkan memperbudak orang lain atas dasar apapun. (Menggulirkan isu bahwa perempuan tak layak menjadi pemimpin, menurut saya, adalah salah satu dari praktik perbudakan).

Perempuan sebagaimana laki-laki adalah manusia yang dianugerahi potensi akal, naluri, dan tubuh. Dan bahwa Allah tidak membedakan semua hamba-Nya kecuali dari ketakwaan, adalah benar adanya. Karena itu, sesuatu yang ‘aneh bin ajaib’ jika para pria masih membutuhkan dalih untuk mendukung ego superior mereka atas nama aturan Islam bahwa wanita diharamkan menjadi seorang pemimpin.

Perempuan, seperti juga laki-laki memiliki hak-hak sosial, ekonomi, dan politik yang sama tanpa ada pembatasan yang disebabkan oleh jenis kelaminnya.

2 responses to “Perempuan Pemimpin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s