Hal Paling Memalukan


Kalo saat ini aku ditanya hal paling memalukan apa yang terjadi sama aku dalam beberapa bulan terakhir ini, maka jawabannya ada tiga.

Pertama, saat aku salah kirim SMS. SMS itu berisi keluhan tentang keharusan membayar pajak. Waktu itu, seorang mitra -sebut saja Mr X- yang aku ajak kerjasama meminta aku untuk membayar pajak dari dana yang sudah diberikan. Tentu saja aku kaget mendengarnya, karena dari perjanjian awal dia lah yang seharusnya membayar pajak tersebut. Akhirnya aku mengirim SMS kepada bos-ku dengan menyebut nama Mr X yang inkonsistensi dengan keputusannya. Sintingnya, SMS itu aku kirim ke hapenya!!. Lebih sinting dan gila lagi, posisi Mr X itu lagi duduk di depanku.

Jadi, pas dia buka hape dan baca SMS itu, dia langsung konfirmasi ke aku. “Mbak, ini maksudnya apa?,” katanya.

Duh, swear ewer-ewer boom-boom deh, aku waktu itu speechless banget!!. Tapi dari pada lebih malu lagi, akhirnya dengan membuang rasa malu yang tersisa dan tetap mempertahankan harga diriku yang terjengkal ke level terbawah, aku menanyakan keputusannya yang memintaku untuk membayar pajak.

Mendengar pertanyaanku, Mr X tetap ngotot bahwa membayar pajak adalah kewajibanku, bukan dirinya. Untung saja, ada pegawai lain yang mendengar perdebatan kita dan langsung nimbrung. “Loh pak, bukannya dana untuk bayar pajak itu sudah diambil dan ada di kita? kita tinggal setorin aja ke bank. Jadi bukan mbak Hana yang harus bayar,” kata si pegawai perempuan itu.

“Oh, gitu ya. Waduh, saya lupa,” jawabnya -gak tau nih, sekarang yang malu giliran siapa-.

Cuma, salah kirim SMS kali itu emang yang paling memalukan, karena orang yang aku omongi dalam SMS ada di depanku. Kebiasaan salah kirim SMS ini, sepertinya emang agak2 menjadi penyakit githu. Biasanya, aku salah ketik nama di hape klo ada beberapa nama yang hampir sama, ato aku lagi mikiran orang itu, jadi tanpa sadar terpencetlah namanya.

Momen memalukan kedua adalah stupid desicion yang spontan aku ambil ketika akan rafting di Kasembon. Karena waktu itu pake jins, pengelola rafting menyarankanku untuk ganti celana dari bahan parasut, aku pun manut aja dan mengenakan celana pendek!!. Duh, bener2 stupid!!!!! sampe sekarang pun, kalo ingat kejadian itu, aku bener2 gak bisa ngebayangin setan apa sih yang mampir di otakku waktu itu ya?

Kejadian memalukan ketiga terjadi baru-baru ini saat ada acara Agustusan di Kebun Teh. Waktu itu, aku ngemsi dan menyampaikan apa kata panitia Agustusan di kantorku. Ternyata, ada perubahan jadwal acara. Nah, temen2 yang lain, langsung protes dengan perubahan itu dan secara spontan ngelempar aku dengan daun-daun kering yang berjatuhan. Akhirnya, kita pun larut dalam suasana penuh canda, hingga akhirnya dari antara dedaunan yang dilempar itu muncul sandal dan mengenai kepalaku.

Aku kaget, shock, dan melihat si pelempar dengan mata nanar. Tanpa ba bi bu lagi, aku lempar balik ntu sandal dan aku samperin dia (temen kantor laki-laki) dan memarahinya habis2an, gak peduli waktu itu dia bawa istrinya. Tapi memang, penyesalan selalu datang terakhir. Duh gusti, kok bisa ya aku lepas kendali kayak githu… gak bisa nahan emosi, meski emang sebenarnya dia pantas dan layak untuk diperlakukan seperti itu. Swear, kejadian itu juga amat sangat memalukan, tapi memberikan pelajaran berharga.

>>>Hana, kamu harus dapat mengendalikan emosimu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s