Guru Bandar Narkoba


Sabtu, 29 September 2007

 Hari ini di halaman Nusantara Jawa Pos ada sebuah berita berujudul ‘Guru Rangkap Bandar Ganja’. Saya yang sebenarnya hanya ingin melihat-lihat setiap halaman secara sekilas dari judul-judul beritanya langsung tertegun dan meluangkan waktu untuk membaca berita kecil yang tak lebih dari 30 lines itu.

Cukup ironis memang, seorang guru SDN di kecamatan Ciwandan Serang (Sofyan), yang masih sangat muda karena baru berusia 27 tahun (seusia saya akhir Oktober mendatang) ternyata merangkap menjadi seorang Bandar narkoba. Saya tidak bisa membayangkan, jika barang haram itu ditawarkan pria yang juga penjaga perpustakaan ini kepada anak didiknya di sekolah. Huh, bagaimana kabar generasi bangsa kita ke depan??.  

Yang patut untuk disayangkan lagi, tujuh kaki tangan si guru Bandar ini semuanya adalah anak-anak muda usia produktif. Saya menyebutnya produktif, karena menurut saya, usia 24-28 merupakan usia dimana kita sebagai anak muda (uh, ini karena saya juga seusia dengan mereka, dan saya selalu menganggap diri saya sangat muda!), masih dan sedang memiliki ide-ide cemerlang serta hebat untuk diwujudkan. Menjadi memprihatinkan bin mengkhawatirkan, bila pikiran hebat itu dialokasikan dan diwujudkan dalam bentuk penyebaran narkoba.

Berbicara tentang guru, posisi guru (saya dan teman-teman dulu menyebutnya ustadz dan ustadzah) merupakan sosok yang sangat penting, harus dihormati dan didengarkan perkataannya. Bahkan, saking kerasnya doktrin bahwa guru itu adalah sang maha, kita sering diperdengarkan ucapan Umar (kalo enggak salah) yang mengatakan bahwa ‘man ‘alamani harfan akuunu lahu ‘abdan’, aku akan menjadi hamba bagi siapapun yang mengajariku, meski itu hanya satu huruf.

Mengajarkan satu huruf saja layak menjadi majikan, bagaimana kalo beberapa huruf? satu halaman pelajaran, satu buku, dan dilakukan terus menerus selama bertahun-tahun? Wah, bisa-bisa kita menjadi ‘budak’ sampai akhir hayat. *itu hanya perumpamaan yang menunjukkan betapa mulianya profesi seorang guru*.

Nah, jika guru yang seharusnya kita jadikan panutan itu ternyata berprofesi ganda menjadi seorang penjagal generasi bangsa, layakkah kita masih memberikan penghormatan kepada mereka?. Tentu tak semua guru berperilaku seperti Sofyan, masih ada banyak guru yang tulus mengaja, mendidik siswa-siswinya dengan tulus ikhlas, di tengah minimnya fasilitas dan gaji yang diperolehnya.

Mungkin anda pernah melihat tayangan iklan Djarum di TV yang memperlihatkan perasaan dilematis seorang kepala sekolah. Si kepsek ini merupakan sosok guru favorit yang disenangi murid (dari tayangan sepersekian detik yang menunjukkan gelak tawa murid saat dia mengajar). Setelah semangat mengajar, paras sang kepsek langsung berubah bingung dan sedih saat teringat harus membayar persalinan sang istri sementara dia tak memiliki dana cukup.

Dalam kebingungan itu, si kepsek sempat menimbang akan mempergunakan dana murid untuk digunakan menebus uang rumah sakit. Tapi ternyata, hati nurani-nya lah yang menang. Pak Kepsek memilih menjual satu-satunya motor butut yang dimiliki, dari pada harus mengkorupsi dana anak didiknya yang mungkin juga tak seberapa.

Duh, meski sudah berkali-kali melihat tayangan itu, saya selalu menangis. Saya jadi ingat bapak saya yang juga seorang guru (sebelum pensiun), betapa susahnya dia menghidupi empat anaknya dengan gaji yang minim. Dalam ke-apriorian kita terhadap para guru, akan selalu saja ada para guru yang ikhlas mengajar, ikhlas berkorban dan bekerja untuk memajukan Indonesia.     

Poligami


Seminggu lalu, saat Om Hendro (sori ya om….namanya dicatut di blog) menanyakan Flexter Malang akan memesan menu buka puasa di mana, saya menawarkan beberapa alternatif rumah makan beserta harganya. Contohnya RM Kertasari dan Ayam Bakar Wong Solo (ABWS). Eh, secara spontan si om langsung nyeletuk “Wah, berarti Hana setuju dengan poligami donk. Kok nawarin Wong Solo?!”. Sebagai catatan, pemilik ABWS memang beristri empat.

“Waduuuh, ya nggak githu donk om. Mosok gara-gara pengin makan di ABWS berarti saya setuju dengan poligami. Eh, maksud saya, saya nggak antipati dengan orang yang poligami tapi saya nggak mau dipoligami!,” kata saya.

Berbicara soal poligami memang nggak mudah. Sedikit sensitif, dan gampang mengundang pro kontra. Saya tidak mau menulis dan membahas poligami dari segi agama atau peraturan perundang-undangan, karena saya memang kurang memahaminya. Saya hanya akan menuliskan poligami berdasarkan apa yang saya lihat dan saya rasakan.

Dulu, ketika saya masih kecil, pakde saya menakut-nakuti saya dengan mengatakan bahwa bapak saya akan melakukan poligami. Tapi tentu saja istilah yang dipakai pakde bukan poligami, tapi nikah lagi alias beristri lebih dari satu. “Hayo nduk, bapakmu nanti mau nikah lagi lho. Kamu yo opo?,” katanya.

Dengan muka cemberut khas saya, saya langsung menjawab ya nggak mungkin donk, wong bapak saya termasuk suami yang sangat sayang istri dan anak. Lagian, beliau pasti ndak mau menyakiti putri satu-satunya yang cantik ini, huehehe (narsisnya keluar nich!). Mendengar itu, si pakde nggak mau kalah. “Wah, ndak mungkin Kiai cuma punya istri satu. Biasanya kan pasti lebih dari satu, minimal dua lah,” jawabnya lagi.

“POKOKNYA saya ndak mau! TITIK,” kata saya dengan ketus.

Oia, sekadar menjelaskan, sebutan Kiai yang dilontarkan pakde untuk bapak saya -menurut saya- tidak sepenuhnya benar. Lha wong, bapak saya nggak punya pondok. Padahal, sebutan Kiai diberikan kepada tokoh agama yang memiliki pondok pesantren. Ada Kiai, ada santri. Tapi ya itu, sebutan dan embel-embel Kiai memang sudah cukup lama melekat di depan nama bapak saya. Mungkin karena beliau enggan melakukan klarifikasi, atau mungkin karena terlanjur seneng disebut Kiai (Duh, maaf nggih pak…untung bapakku gak pernah buka internet!, jadi ndak bakal liat blog ini), sehingga beliau ya diem-diem aja kalo dipanggil Kiai.

Kembali ke masalah poligami. Agama memang memperbolehkannya (loh, padahal saya tadi mau menulis tidak berdasarkan agama kan?). Tapi bagaimanapun juga, soal agama memang susah untuk dihilangkan. Sebab sejak kecil, saya memang dididik berdasarkan ajaran agama. Jadi meskipun pemahaman saya tentang ajaran agama sedikit kurang, paling tidak masih ada sebagian yang mempengaruhi pola pikir saya. Jadi ya, wajar jika seorang Dewi Yuhana melontarkan sebuah ide dan pernyataan yang sebenarnya sudah tertulis di dalam ajaran agama.

Meskipun Islam memperbolehkan seorang pria, seorang suami untuk berpoligami, namun bukan berarti mereka bisa seenaknya saja untuk menikah kedua kalinya. Ada persyaratan yang tidak ringan yang harus dipenuhi, salah satunya bersikap adil. Bagaimanapun, keadilan sejati hanya milik Tuhan, sang pencipta dan penguasa alam semesta ini. Manusia hanya mampu untuk berusaha bersikap adil. Apakah itu sudah mencapai 70 persen keadilan (jika sikap adil kita analogikan dengan 100 persen), ya tergantung masing-masing individu dan para istri serta anak yang merasakan. Bisa saja, si suami mengaku dan merasa sudah bersikap adil, padahal sebenarnya dia belum mampu mencapai 40 persen keadilan itu.

to be continue…

SAmBal nAN EKsotik


Sambal, satu kata yang dapat menggambarkan perpaduan antara cabe dengan ‘kawan-kawan’nya, sehingga menghasilkan satu menu eksotik yang amat sangat susah untuk ditolak.

Yup, gw emang demen banget sama yang namanya sambal. Sampai-sampai, rasanya makan kurang lengkap tanpa adanya sambal. Sampai-sampai, saat masih kuliah dulu gw diwarning dokter untuk mengurangi sambal agar mag tidak kambuh. Maklum aja, menu makan siang gw pasti masakan Padang yang memang penuh dengan sambal.

Di rumah makan Padang deket kampus n’ kos gw dulu, biasanya gw pesen ikan bakar plus sambel khasnya yang penuh dengan irisan cabe n’ bawang merah…mmmm… gila banget! gw bener-bener terpesona abis! sama sambal model githu. Karena itulah, gw selalu minta sambal tambahan sampe om penjualnya hapal *susahnya kalo cabe pas mahal, biasanya si om cuek aja. Kalo udah githu gw juga cuek dalam meminta sambal sambil ngomong ‘Om, gw nambah duit deh asal sambalnya diperbanyak!’, huehehe3*.

MEmang sih, tidak di setiap makan gw doyan pake sambal. Ada masa-masa ketika gw gila sambal atau malah ga doyan sambal, itu biasanya sebelum atau sesudah jadwalnya ‘tamu bulanan’ datang. Kalo pas hormon gw teriak doyan sambal, maka sambal sepedes apapun pasti gw lahap. Sebaliknya, klo hormon gw pas nolak sambal, maka jangan pernah nawarin gw sambal, pasti bakal gw tolak abis2an.

Aneh kan? itu lah masa-masa perubahan hormon bulanan wanita yang memang cukup aneh dan sulit untuk ditebak.

Saat buka puasa, sambal juga menjadi satu menu yang gw cari. Setiap akan memulai makan, gw pasti teriak ke semua temen-temen kantor dan mencari ‘donatur’ sambal. Sampai sekarang sih, Alhamdulillah ada satu donatur tetap yang menyuplai sambal ke gw, mas Slatem yang memang gak doyan sambal. Ada juga mas Indra yang ngebela-belain bawa sambal bikinan istri tercinta untuk ditawarkan ke gw. Duuuh, senengnya…. Rasanya, makan jadi sempurna dengan keberadaan aneka sambal itu.

Dulu, ada satu rumah makan di jalan apaa githu -gw lupa nama jalannya, tapi tau tempatnya yang di dekat Klinik Bromo-, yang menawarkan delapan sambal gratis untuk setiap menu yang dihidangkan. Gw pernah ke sana sama Ai, mantan temen kos, hanya untuk mencicipi delapan sambal berbeda yang disediakan. Meskipun ikan bakarnya waktu itu sangat kecil dan kurang oke, terobati dengan sambal gratis yang bisa gw ambil sesuka hati.

Pernah juga di Melati Restaurant Hotel Tugu ada program Pesta Sate saat Agustus lalu. Gw ambil aneka sambal yang ditawarkan, gw cicipi satu per satu. mmmm rasanya…. bener-bener nendang, mak nyuuusss banget!.

Sambal, oh sambal… pesonamu memang tiada tara…

(Heran juga, kenapa gw nulis soal sambal ya? mungkin karena di menu dari Wong Solo hari ini gw dapet sambal dobel… mungkin…)

Introvert Vs Ekstrovert


Mencurahkan permasalahan atau isi hati (curhat) kepada seseorang yang kita percayai merupakan salah satu cara mujarab untuk meringankan masalah tersebut. Jika setelah curhat kita menemukan solusi, akan menjadi lebih baik. Namun bila tidak, maka curhat itu adalah solusi awal

Ya, paling tidak itulah yang saya rasakan sekarang ini (duh, kayak yang punya masalah besar aja!). Memang sich, its not big problem, tapi mampu menyita ‘jatah’ pikiran saya yang sudah terbatas. Otak saya yang semestinya dapat difungsikan untuk hal lain yang lebih positif dan bermanfaat harus merelakan waktu dan energi untuk ikut memikirkan masalah ini (Loh, kok ngomong masalah lagi ya? Padahal katanya bkn masalah besar?!).

Sebenarnya saya sudah ingin menuliskan detil masalah yang tidak besar ini di sini, di blog ini, berharap bisa meringankan beban pikiran saya. Tapi apa daya, sisi pribadi introvert saya meraung-raung dengan keras, melarang dan memohon dengan sangat untuk tidak membuat ‘masalah yang tidak besar’ itu menjadi konsumsi publik. Pribadi introvert saya tidak akan pernah bisa membayangkan rasa malu jika orang lain membaca dan mengetahui detil ‘masalah yang tidak besar’ itu.

“Apa kata dunia kalo kamu sudah disibukkan dengan ‘masalah yang tidak besar’ itu?. Sudah lah disimpen aja, cukup temen-temen dekatmu yang tahu. Tak perlu mengumbar permasalahan sepele yang nggak jelas jluntrungnya di blog ini. Jaga gengsi donk!,” kata pribadi introvert saya dalam hati.

Namun ternyata sisi pribadi ekstrovert saya tidak menerima alasan tersebut. Dia membantah, menyangkal habis-habisan keinginan si introvert. “Waduh, kenapa musti mikir dua kali untuk menuliskan ‘masalah yang tidak besar’ itu di sini. Itung-itung sebagai refreshing diri, mau orang ngebaca kek, terserah. Lagian, bukannya hal itu memang ‘masalah yang tidak besar’? jadi nggak bakal ngejatuhin gengsi?. Wong hal sepele kok dibesar-besarin,” ucap pribadi ekstrovert saya.

Nah loh, saya jadi bingung sendiri. Kira2 harus menuliskan ‘masalah yang tidak besar’ itu di sini nggak ya?. Bingung, karena apa yang dikatakan introvert dan ekstrovert sama-sama benarnya. Anyone help me donk…   

Nyesel dech..


9 September 2007  Meski lelah seharian mengunjungi beberapa tempat wisata di Bali, setelah mendarat di Bandara Ngurah Rai, pagi harinya, saya masih bersemangat untuk menjelajah beberapa pelosok Pulau Dewata pada malam hari. Rasanya sayang sekali, jika harus menghabiskan malam dengan hanya tidur di kamar hotel, meski kalau boleh jujur, badan sudah berteriak meminta istirahat karena terlalu capek terforsir dengan berbagai kegiatan yang sudah harus saya lalui sebelum berangkat ke Bali.

Malam itu, saya dan Ovie, temen sekamar, akhirnya memutuskan untuk berjalan ke sekeliling monumen ground zero sambil berharap ada seorang teman yang pernah tinggal di Bali untuk menjadi guide. Setelah menunggu sekitar 20 menit, datang lah Mr Slatem, cowok asal Malang yang sudah tujuh tahun berdomisili di pulau nan eksotik itu. Dia lah yang kemudian menjadi penunjuk jalan kami, menjelaskan setiap pojok jalan dan tempat yang kita lewati, sekaligus mendorong saya untuk berbelanja beberapa produk branded yang dijual di deretan toko di sepanjang jalan di Kuta.

Salah satu toko yang saya masuki adalah  D & G (Dolce & Gabbana). Ada dua bule pria yang sedang mencoba kemeja dan jins di toko yang tidak terlalu besar itu. Saya sendiri melihat-lihat tas dan koleksi pakaian yang dipajang. Untuk pakaian, selain modelnya yang nggak cocok dengan gaya berbusana saya, harganya juga lumayan mahal. Begitu juga dengan aneka tas koleksi D & G, masih terlalu tinggi untuk ukuran kocek saya. Sampai akhirnya saya melihat kacamata dan jam tangan di etalase kecil. Saya cukup kaget karena bandrol harga di aneka merek jam tangan dan kacamata itu cukup murah –untuk ukuran produk yang dikeluarkan oleh Gucci, Guess, Fendi, de el el-, sehingga tidak heran jika saya pun berasumsi bahwa beberapa produk yang dijual itu adalah produk aspal alias asli tapi palsu.

Karena itu, meskipun saya tertarik dengan salah satu jam tangan warna pink dan putih, saya memutuskan untuk keluar dari toko tersebut. “Ah, kalo mo beli produk tembakan, saya kan nggak perlu ke Bali. Di Malang juga banyak banget,” piker saya kala itu. Kami pun meneruskan perjalanan dan keluar masuk toko, sembari saya ceritakan tentang beberapa produk yang menurut saya aspal kepada Mr Slatem, yang secara mengejutkan membantahnya.

 “Wah, itu asli mbak. Ndak mungkin ada toko di sini yang berani menjual produk palsu, apalagi sebagian besar konsumennya adalah turis bule. Bisa-bisa mereka digugat oleh pemegang merek yang asli. Klo harganya murah, ini memang pas diskon besar-besaran,” terangnya.

Mendengar penjelasannya, saya masih ragu. Masak iya, kacamata Fendi cuma dijual Rp 100 ribu lebih dikit, ato jam tangan Guess yang dibandrol Rp 125 ribu, hingga dia menegaskan bahwa istrinya yang seorang wartawan pernah menulis bahwa produk-produk yang dijual di sana memang bener-bener asli, tak ada yang aspal.

Duh, giliran saya yang kaget plus nyesel, kenapa tadi kok nggak beli jam dan kacamata yang sudah saya incar sebelumnya…    

Naik Foker, Menyenangkan Kok…


Minggu, 9 September 2007 02.00 WIB

        Kriing, dering telepon di kosku berbunyi beberapa kali. Meski mata masih mengantuk, aku memaksakan diri untuk bangun dan mengangkatnya. Maklum deh, aku sudah bisa menebak siapa yang menelepon di pagi buta itu. “Mbak Dewi, siap-siap jam 02.30 ya, travelnya nanti datang jam segitu,” ucap seorang pria di ujung telepon.

“Oh, ya pak,” jawabku lemah. Gimana enggak bersuara lemah, aku baru memejamkan mata pukul 00.30, lalu dibangunkan satu setengah jam kemudian.

Travel tadi memang bukan travel iseng, tapi memang travel yang aku pesan untuk mengantarkanku ke Juanda. Sebagai catatan, aku seharusnya sudah berangkat ke Bali bersama rombongan dari kantor sejak Jumat (7/9) sore, tapi karena harus mengikuti acara launching Flexi pada sabtu malam (8/9), aku menunda keberangkatanku dan menyusul dengan penerbangan jam 07.00.
 

Ada cerita menarik yang sekaligus bikin aku deg-degan soal penerbanganku ke Bali minggu pagi itu. Jumat malam, Mr Ir, seorang teman menanyakan maskapai apa yang aku pilih untuk ke Pulau Dewata. Dengan spontan aku jawab Merpati. “Soalnya, temen kos ada yang pernah magang di sana. Jadi maskapai itulah yang muncul pertama kali,” kataku. 

“Sudah tau pesawat apa yang bakal dipake?,” lanjutnya.

“Waduh, belum tau ya, gak sempet tanya,” jawabku sembari langsung memencet nomor telepon kantor maskapai tersebut.

“Mbak, boleh tau ndak, pesawat apa yang bakal dipake ke Bali pada minggu pagi,” tanyaku.

“Foker,” jawabnya.

Mendengar percakapanku itu, Mr Ir dengan wajah serius langsung berkata, “Oh, nggak apa2 pake Foker, kalo jatuh ndak langsung nyungsep kok. Masih bisa meliak-liuk,” katanya. Deg, jantungku berdetak lebih kencang. “Masak begitu seh pak,” tanyaku.

“Iya, tanya aja sama yang pernah naik Foker,” tegasnya. Memang sich, aku bukan seleb, pejabat, ato pengusaha yang setiap minggu bisa pulang pergi naik pesawat. Dan meskipun kepergianku naik pesawat masih bisa diitung dengan jari, semuanya pake Garuda dengan Boeingnya *huehehe, aku naik Garuda gak pake duit sendiri lagi!*. Jadi, pas Mr Ir menakut2i aku tentang Foker, sempet keder juga.

Dengan segala pertimbangan, akhirnya aku membooking satu tiket Garuda dan mencoba untuk mencancel tiketku sebelumnya. Tapi sayang, si mbak yang ada di ujung telepon mengatakan bahwa tiketku merupakan tiket dengan harga promo. So, gak bisa dibatalin ato dipindah nama. Kalopun aku ndak berangkat, tiket itu akan hangus. Duh, mubazir banget kan? Dengan duit segitu, bisa kasih makan berapa kaum dhu’afa, masak mau aku sia-siain hanya karena takut Foker. Dan bismillah, aku memutuskan untuk berangkat.

Bandara Juanda Surabaya

Travel sudah sampai di bandara pukul 04.30. Masih ada banyak waktu sembari menunggu boarding pass. Aku mencari musala sambil menelepon beberapa teman di Malang *mumpung ada tariff Rp 49 untuk telepon interlokal dari Flexi*. Usai salat, menyegarkan diri dengan berdandan, aku berkeliling bandara dan langsung masuk. Tapi karena masih ada banyak waktu sebelum pesawat diberangkatkan, aku kembali menelepon beberapa teman untuk sekadar membuang rasa bosan menunggu.

Sampai akhirnya, pengeras suara mengumumkan keberangkatan pesawatku.Ketika pertama kali melihat dan masuk ke pesawat, aku langsung mencari pintu darurat, dan langsung pake set belt sebelum disuruh.

Saat diumumkan bahwa pesawat akan take off, hatiku sudah dag, dig, dug *mungkin kalo bersuara, pasti sekeras suara bedug masjid* menunggu sesuatu yang tidak enak akan terjadi. Eh, sampe pesawat di udara, Alhamdulillah, hal-hal buruk yang aku takutkan sebelumnya nggak terjadi.

Lagian, naik Foker juga masih nyaman kok. Dari pada harus antre untuk menyebrang ke Bali, duduk di bus berjam-jam, naik pesawat berbaling-baling itu jauh lebih menyenangkan. Ah, sugesti Mr Ir seharusnya tidak membuatku lemah hati.(*)

Award


Sabtu, 08 September 2007  

Malam ini, pukul 19.30, PT Telkom Kandatel Malang melaunching All About Rp 49, alias program Ngobrol Interlokal Tarif Lokal di seluruh area di Jawa Timur. Sebelum acara, aku sudah ditelepon oleh Mr Wito, yang biasanya aku panggil Si mBah *he3… kira2 beliaunya syempet mampir n’ ngebaca blog ini nggak ya? I don’t think so, dengan kerjaan yang bejibun, kayaknya sich si mbah Bondet ini gak bakal punya waktu utk sekedar ngelirik my blog dech. So, thx God!* , yang meminta diriku untuk tidak mengenakan baju resmi Flexter (komunitas pengguna Telkom Flexi).

 

“Pake baju biasa aja. Dandan seng ayu yo..,” katanya. Walah, aku kan wis ayu yo, nggak pake dandan juga udah cantik *Ini nih, keluar narsisnya!!. Ya sapa lagi yang muji diri sendiri kalo bukan kita. Lagian bangga menjadi diri sendiri juga menambah rasa pede kok, bener gak neh?*.

 

“Oke lah mbah!,” jawabku.

 

So, jadi lah aku ke Matos dengan baju biasa alias non seragam. Usut punya usut, ternyata diriku termasuk salah satu penerima Award, –waduuh, pake istilah award! Jadi kayak seleb aja. Maklum nich, ambisi pengin jadi seleb tapi gak kesampean-, bersama dengan lima penerima penghargaan pelanggan setia Flexi lainnya yang datang dari berbagai profesi.

award-baru.jpg 

(aku -empat dari kanan- bersama penerima award lainnya)

 

 

Setelah menerima gift *yang waktu itu aku tidak tau apa isinya*, ternyata Miz MC memintaku untuk tinggal sebentar di atas panggung. She asked me kenapa kok aku pake Flexi. Dengan jujur, aku jawab kalo aku milih Flexi emang karena tarifnya yang murah. Besides, aku tergoda saat PT Telkom akan melaunching Flexi di area Malang Raya beberapa tahun lalu. Memang sich, dengan profesi yang aku jalani saat ini, memungkinkanku untuk mengetahui lebih dulu beberapa program yang akan diluncurkan sebuah perusahaan, termasuk Telkom.

 

Mmmm…, such as gud answer kan? Sampe kemudian aku ditanya ‘Apa sich kekurangan Flexi?’. Nah loh, musti jawab apa donk?!. Jujur, setengah jujur, ato boong aja?!. Bagaimanapun, aku kan penerima award? Jadi dituntut untuk berbicara bagus kan?. Selain itu, bukannya Flexi memang teman yang jujur sejak menit pertama?, so I have to answer honestly kan?. Jadi meluncurlah kalimat “Ya, sampe saat ini mungkin salah satu keluhan pelanggan Flexi yang paling banyak adalah drop call. Mungkin itu yang harus dibenahi PT Telkom”.  

award-1-baru.jpg

( ini pas lagi ngasih testimoni)

 

Yach, jawaban itu bukan untuk mendeskreditkan Flexi ato sebagai sebuah pernyataan yang kurang berterima kasih –padahal aku udah dikasih gift-. Tapi lebih sebagai sebuah jawaban ‘masukan dan kritik membangun’ agar kualitas Flexi bener-bener bisa ditingkatkan. Sekali lagi, ini bukan promosi loh. Tapi klo boleh jujur –seperti slogan Flexi- aku menerima banyak manfaat dari Flexi. Satu yang tak bisa dinilai dengan uang, adalah teman-teman baru yang memberi perubahan dan warna tersendiri dalam perjalanan hidupku –yang aku tidak tau sampai kapan akan aku jalani-.

 Oia, isi dari hadiah itu ternyata kaos Flexi –yang aku sendiri sudah punya banyak sekali setelah menjadi Flexter- dan satu handset CDMA. Thx God.