Introvert Vs Ekstrovert


Mencurahkan permasalahan atau isi hati (curhat) kepada seseorang yang kita percayai merupakan salah satu cara mujarab untuk meringankan masalah tersebut. Jika setelah curhat kita menemukan solusi, akan menjadi lebih baik. Namun bila tidak, maka curhat itu adalah solusi awal

Ya, paling tidak itulah yang saya rasakan sekarang ini (duh, kayak yang punya masalah besar aja!). Memang sich, its not big problem, tapi mampu menyita ‘jatah’ pikiran saya yang sudah terbatas. Otak saya yang semestinya dapat difungsikan untuk hal lain yang lebih positif dan bermanfaat harus merelakan waktu dan energi untuk ikut memikirkan masalah ini (Loh, kok ngomong masalah lagi ya? Padahal katanya bkn masalah besar?!).

Sebenarnya saya sudah ingin menuliskan detil masalah yang tidak besar ini di sini, di blog ini, berharap bisa meringankan beban pikiran saya. Tapi apa daya, sisi pribadi introvert saya meraung-raung dengan keras, melarang dan memohon dengan sangat untuk tidak membuat ‘masalah yang tidak besar’ itu menjadi konsumsi publik. Pribadi introvert saya tidak akan pernah bisa membayangkan rasa malu jika orang lain membaca dan mengetahui detil ‘masalah yang tidak besar’ itu.

“Apa kata dunia kalo kamu sudah disibukkan dengan ‘masalah yang tidak besar’ itu?. Sudah lah disimpen aja, cukup temen-temen dekatmu yang tahu. Tak perlu mengumbar permasalahan sepele yang nggak jelas jluntrungnya di blog ini. Jaga gengsi donk!,” kata pribadi introvert saya dalam hati.

Namun ternyata sisi pribadi ekstrovert saya tidak menerima alasan tersebut. Dia membantah, menyangkal habis-habisan keinginan si introvert. “Waduh, kenapa musti mikir dua kali untuk menuliskan ‘masalah yang tidak besar’ itu di sini. Itung-itung sebagai refreshing diri, mau orang ngebaca kek, terserah. Lagian, bukannya hal itu memang ‘masalah yang tidak besar’? jadi nggak bakal ngejatuhin gengsi?. Wong hal sepele kok dibesar-besarin,” ucap pribadi ekstrovert saya.

Nah loh, saya jadi bingung sendiri. Kira2 harus menuliskan ‘masalah yang tidak besar’ itu di sini nggak ya?. Bingung, karena apa yang dikatakan introvert dan ekstrovert sama-sama benarnya. Anyone help me donk…   

2 responses to “Introvert Vs Ekstrovert

  1. What’s wrong? Siapa sih yang di dunia ini tidak dihadapkan masalah? Apalagi mereka yang dikasihi Allah, melakukan sedikit saja kesalahan Allah langsung menegurnya. Dan itu bukan masalah. Jika dengan mengungkapkannya dengan seseorang akan membantu Anda keluar dari masalah, maka keputusan Anda menjadi tepat. Namun bukan tidak mungkin yang Anda butuhkan adalah simpati dan perhatian, maka ungkapkan saja selama itu tidak menjadikan pipimu memerah. Baik merah karena marah, ataupun malu. He..he.. Afwan.. klo asal ngomong..

  2. Risalah Hati> hehehe3…itu dia masalahnya, pipiku gampang banget memerah. Merah pas marah, ato merah pas malu.
    Klo lagi marah, langsung deh keliatan marah. gak bisa ditutup-tutupi..
    Githu juga klo pas malu…..langsung malu2in..xixixixi…
    Ok dech, syukron bwt atensinya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s