Poligami


Seminggu lalu, saat Om Hendro (sori ya om….namanya dicatut di blog) menanyakan Flexter Malang akan memesan menu buka puasa di mana, saya menawarkan beberapa alternatif rumah makan beserta harganya. Contohnya RM Kertasari dan Ayam Bakar Wong Solo (ABWS). Eh, secara spontan si om langsung nyeletuk “Wah, berarti Hana setuju dengan poligami donk. Kok nawarin Wong Solo?!”. Sebagai catatan, pemilik ABWS memang beristri empat.

“Waduuuh, ya nggak githu donk om. Mosok gara-gara pengin makan di ABWS berarti saya setuju dengan poligami. Eh, maksud saya, saya nggak antipati dengan orang yang poligami tapi saya nggak mau dipoligami!,” kata saya.

Berbicara soal poligami memang nggak mudah. Sedikit sensitif, dan gampang mengundang pro kontra. Saya tidak mau menulis dan membahas poligami dari segi agama atau peraturan perundang-undangan, karena saya memang kurang memahaminya. Saya hanya akan menuliskan poligami berdasarkan apa yang saya lihat dan saya rasakan.

Dulu, ketika saya masih kecil, pakde saya menakut-nakuti saya dengan mengatakan bahwa bapak saya akan melakukan poligami. Tapi tentu saja istilah yang dipakai pakde bukan poligami, tapi nikah lagi alias beristri lebih dari satu. “Hayo nduk, bapakmu nanti mau nikah lagi lho. Kamu yo opo?,” katanya.

Dengan muka cemberut khas saya, saya langsung menjawab ya nggak mungkin donk, wong bapak saya termasuk suami yang sangat sayang istri dan anak. Lagian, beliau pasti ndak mau menyakiti putri satu-satunya yang cantik ini, huehehe (narsisnya keluar nich!). Mendengar itu, si pakde nggak mau kalah. “Wah, ndak mungkin Kiai cuma punya istri satu. Biasanya kan pasti lebih dari satu, minimal dua lah,” jawabnya lagi.

“POKOKNYA saya ndak mau! TITIK,” kata saya dengan ketus.

Oia, sekadar menjelaskan, sebutan Kiai yang dilontarkan pakde untuk bapak saya -menurut saya- tidak sepenuhnya benar. Lha wong, bapak saya nggak punya pondok. Padahal, sebutan Kiai diberikan kepada tokoh agama yang memiliki pondok pesantren. Ada Kiai, ada santri. Tapi ya itu, sebutan dan embel-embel Kiai memang sudah cukup lama melekat di depan nama bapak saya. Mungkin karena beliau enggan melakukan klarifikasi, atau mungkin karena terlanjur seneng disebut Kiai (Duh, maaf nggih pak…untung bapakku gak pernah buka internet!, jadi ndak bakal liat blog ini), sehingga beliau ya diem-diem aja kalo dipanggil Kiai.

Kembali ke masalah poligami. Agama memang memperbolehkannya (loh, padahal saya tadi mau menulis tidak berdasarkan agama kan?). Tapi bagaimanapun juga, soal agama memang susah untuk dihilangkan. Sebab sejak kecil, saya memang dididik berdasarkan ajaran agama. Jadi meskipun pemahaman saya tentang ajaran agama sedikit kurang, paling tidak masih ada sebagian yang mempengaruhi pola pikir saya. Jadi ya, wajar jika seorang Dewi Yuhana melontarkan sebuah ide dan pernyataan yang sebenarnya sudah tertulis di dalam ajaran agama.

Meskipun Islam memperbolehkan seorang pria, seorang suami untuk berpoligami, namun bukan berarti mereka bisa seenaknya saja untuk menikah kedua kalinya. Ada persyaratan yang tidak ringan yang harus dipenuhi, salah satunya bersikap adil. Bagaimanapun, keadilan sejati hanya milik Tuhan, sang pencipta dan penguasa alam semesta ini. Manusia hanya mampu untuk berusaha bersikap adil. Apakah itu sudah mencapai 70 persen keadilan (jika sikap adil kita analogikan dengan 100 persen), ya tergantung masing-masing individu dan para istri serta anak yang merasakan. Bisa saja, si suami mengaku dan merasa sudah bersikap adil, padahal sebenarnya dia belum mampu mencapai 40 persen keadilan itu.

to be continue…

3 responses to “Poligami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s