Guru Bandar Narkoba


Sabtu, 29 September 2007

 Hari ini di halaman Nusantara Jawa Pos ada sebuah berita berujudul ‘Guru Rangkap Bandar Ganja’. Saya yang sebenarnya hanya ingin melihat-lihat setiap halaman secara sekilas dari judul-judul beritanya langsung tertegun dan meluangkan waktu untuk membaca berita kecil yang tak lebih dari 30 lines itu.

Cukup ironis memang, seorang guru SDN di kecamatan Ciwandan Serang (Sofyan), yang masih sangat muda karena baru berusia 27 tahun (seusia saya akhir Oktober mendatang) ternyata merangkap menjadi seorang Bandar narkoba. Saya tidak bisa membayangkan, jika barang haram itu ditawarkan pria yang juga penjaga perpustakaan ini kepada anak didiknya di sekolah. Huh, bagaimana kabar generasi bangsa kita ke depan??.  

Yang patut untuk disayangkan lagi, tujuh kaki tangan si guru Bandar ini semuanya adalah anak-anak muda usia produktif. Saya menyebutnya produktif, karena menurut saya, usia 24-28 merupakan usia dimana kita sebagai anak muda (uh, ini karena saya juga seusia dengan mereka, dan saya selalu menganggap diri saya sangat muda!), masih dan sedang memiliki ide-ide cemerlang serta hebat untuk diwujudkan. Menjadi memprihatinkan bin mengkhawatirkan, bila pikiran hebat itu dialokasikan dan diwujudkan dalam bentuk penyebaran narkoba.

Berbicara tentang guru, posisi guru (saya dan teman-teman dulu menyebutnya ustadz dan ustadzah) merupakan sosok yang sangat penting, harus dihormati dan didengarkan perkataannya. Bahkan, saking kerasnya doktrin bahwa guru itu adalah sang maha, kita sering diperdengarkan ucapan Umar (kalo enggak salah) yang mengatakan bahwa ‘man ‘alamani harfan akuunu lahu ‘abdan’, aku akan menjadi hamba bagi siapapun yang mengajariku, meski itu hanya satu huruf.

Mengajarkan satu huruf saja layak menjadi majikan, bagaimana kalo beberapa huruf? satu halaman pelajaran, satu buku, dan dilakukan terus menerus selama bertahun-tahun? Wah, bisa-bisa kita menjadi ‘budak’ sampai akhir hayat. *itu hanya perumpamaan yang menunjukkan betapa mulianya profesi seorang guru*.

Nah, jika guru yang seharusnya kita jadikan panutan itu ternyata berprofesi ganda menjadi seorang penjagal generasi bangsa, layakkah kita masih memberikan penghormatan kepada mereka?. Tentu tak semua guru berperilaku seperti Sofyan, masih ada banyak guru yang tulus mengaja, mendidik siswa-siswinya dengan tulus ikhlas, di tengah minimnya fasilitas dan gaji yang diperolehnya.

Mungkin anda pernah melihat tayangan iklan Djarum di TV yang memperlihatkan perasaan dilematis seorang kepala sekolah. Si kepsek ini merupakan sosok guru favorit yang disenangi murid (dari tayangan sepersekian detik yang menunjukkan gelak tawa murid saat dia mengajar). Setelah semangat mengajar, paras sang kepsek langsung berubah bingung dan sedih saat teringat harus membayar persalinan sang istri sementara dia tak memiliki dana cukup.

Dalam kebingungan itu, si kepsek sempat menimbang akan mempergunakan dana murid untuk digunakan menebus uang rumah sakit. Tapi ternyata, hati nurani-nya lah yang menang. Pak Kepsek memilih menjual satu-satunya motor butut yang dimiliki, dari pada harus mengkorupsi dana anak didiknya yang mungkin juga tak seberapa.

Duh, meski sudah berkali-kali melihat tayangan itu, saya selalu menangis. Saya jadi ingat bapak saya yang juga seorang guru (sebelum pensiun), betapa susahnya dia menghidupi empat anaknya dengan gaji yang minim. Dalam ke-apriorian kita terhadap para guru, akan selalu saja ada para guru yang ikhlas mengajar, ikhlas berkorban dan bekerja untuk memajukan Indonesia.     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s