Zakat dan Kemiskinan


Di dua ato tiga episode terakhir Para Pencari Tuhan (PPT), Bang Jack yang diperankan Dedy Mizwar kaget dengan bertambahnya jumlah warga yang berhak menerima zakat. Sebab banyaknya penerima zakat dibandingkan warga yang wajib zakat menunjukkan bahwa kemiskinan di Indonesia tak jua teratasi dan semakin banyak saja masyarakat yang berada di level itu.

Kondisi itu juga terjadi di kampungku. Jumlah pembayar zakat tahun ini tak sebanyak tahun kemarin. Ada beberapa keluarga yang tidak sanggup lagi menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk sekadar membayar 2,5 kilogram beras. Aku tahu kondisi ini, karena warga di lingkunganku membayar zakat di masjid yang tepat berada di samping rumah.

Jika kenyataan di lapangan seperti ini, lalu bagaimana bisa SBY melaporkan bahwa perekonomian di Indonesia (tetap) tumbuh 6 persen. Bagaimana pula dengan janjinya saat kampanye yang mengatakan akan menekan kemiskinan dengan mengurangi pengangguran dari angka 9 persen menjadi 6 persen dalam kurun waktu 2004-2007? Karena bukti di lapangan malah menunjukkan bahwa jumlah pengangguran semakin meningkat. Lalu, salah kah laporan tentang peningkatan perekonomian di tanah air ini?

Sebenarnya tidak. Sebab munculnya angka kenaikan ekonomi sebesar 6 persen itu merupakan olahan para pakar ekonomi di Indonesia. Yang mungkin saja sudah bergelar doktor ato bahkan profesor, yang tidak hanya mengenyam pendidikan tinggi di tanah air tapi juga di luar negeri. Yang tak cuma bekerja di satu bidang dan instansi tapi di beberapa instansi sekaligus dan membawahi beberapa bidang. Ah, mana berani saya menentang mereka? apalagi background pendidikan saya bukanlah ekonomi.

Meski riil, pertumbuhan ekonomi yang 6 persen itu hanya terjadi dalam perekonomian makro, di perkotaan, di sektor konsumtif, dan tidak menyentuh daerah pedesaan. Belum ada kebijakan pemerintah pusat maupun daerah yang secara konkrit dapat membuat pemerataan dan penyebaran perekonomian hingga ke pelosok. Begitu juga yang terjadi di desaku, dan mungkin di kampung-kampung lain di Indonesia.

Zakat, sebenarnya dapat menjadi solusi yang dapat membantu dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Ada ratusan atau bahkan ribuan ton beras dan miliaran uang yang dihasilkan dari jutaan orang yang mengeluarkan zakat fitrah dan zakat mal di Indonesia. Tentunya, ada ratusan ribu dan jutaan orang miskin juga yang terbantu dengan keberadaan zakat. (*)

One response to “Zakat dan Kemiskinan

  1. Assalamu’alaikum wr.wb

    Kita mesti sadari keadaan masyarakat kita yang semakin lama “kelihatannya” semakin merosot. Dalam segala bidang malah.
    (muamalah, muasyarah, dan ahlak) dalam keadaan “super kronis”
    Ya yang kaya, ya yang miskin (both of them)

    Yang sebenarnya harus dikuatirkan adalah merosotnya dan atau hilangnya “IMAN” masyarakat kita.

    Yang terjadi pada masyarakat kita adalah ketakutan kehilangan amwal tanpa peduli bagaimana dengan amal mereka.

    Jika saja, orang-orang berduit sadar (dengan kacamata iman) seberapa besar dari harta mereka yang harus dikeluarkan kewajibannya,
    Dan jika saja, yang papa yakin bahwa Allah itu MAHA KAYA,

    sepertinya tidak ada lagi yang mesti dikuatirkan

    Wassalam

    Wassalamualaikum…
    tenkyu bwt commentNa
    thx juga dah mampir di sini 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s