PMS


Pra Menstruasi Syndrom

Sebagian kaum adam, khususnya yang belum menikah, mungkin belum begitu memahami tentang kondisi pra menstruasi syndrom (PMS) yang seringkali dialami oleh kaum hawa. Perubahan hormon yang kemudian mempengaruhi kondisi emosi terkadang dianggap remeh. Karena itulah, tak jarang muncul pertengkaran ‘yang seharusnya’  tidak perlu terjadi hanya karena si pria tidak dapat memahami kondisi emosi rekan wanitanya.

Sebagai perempuan, terkadang saya menyangkal perubahan emosi sebelum menstruasi. Ah, masak sih, saya jadi gampang marah menjelang atau selama haid? (wong gak mens aja sering marah kok, huehehehe…just kidding…).  Wajar kalau saya dan juga perempuan lain berapologi terhadap kondisi emosi yang sedikit labil menjelang atau selama haid. Yach, siapa sich yang mau dicap sebagai orang yang gampang emosional. Eits, emosional di sini tak melulu berarti marah loh. Sebab emosi juga berarti senang dan sedih. Hanya kita seringkali mengartikan emosional sebagai bentuk kemarahan.

Nah, kembali ke PMS. Ternyata saya memang mengalami perubahan emosi yang cukup cepat pada hari-hari menjelang tamu bulanan itu datang. Saraf sensitif saya langsung ON! (upzz, jangan berpikir yang enggak-enggak). Yang saya maksud adalah saya menjadi terlalu sensitif terhadap perilaku dan perkataan orang. Bila dalam kondisi normal, saya tidak akan marah karena seseorang berkata menyakitkan atau berperilaku menjengkelkan, maka saat PMS ‘menyerang’, saya bisa langsung mencak-mencak. Atau, bila saya tidak gampang bersedih dan menangis ketika menghadapi sebuah kejadian, maka saya akan berubah menjadi sangat cengeng saat PMS, hanya karena hal-hal kecil.  

Dulu, ketika masih di pondok, ada aturan tidak tertulis bagi setiap santriwati yang sedang haid untuk tidak nongkrong di depan gedung Kuwait. Karena di sana banyak ustadz-ustadz yang stand by menerima kedatangan santriwati yang hendak bertanya soal pelajaran, dll.

Kata kakak-kakak kelas, perempuan yang sedang haid tak hanya mengalami perubahan emosi tapi juga psikis. Beberapa bagian tubuh *gak perlu disebut di sini* memang sedikit berubah. Karena itulah, membicarakan atau mengaku bahwa kita sedang tidak salat karena haid di depan ustadz  menjadi hal yang tabu.

Ehm, malam ini, aku menulis soal PMS bukannya tanpa sebab sich. SoalNa, masih banyak para pria yang nggak percaya dan meremehkan perubahan emosi menjelang tamu rutin itu datang. So, buat kamu-kamu, yang masih bujang dan kebetulan memiliki pasangan yang sangat sensi menjelang menstruasi, jangan langsung ditanggapi dengan kemarahan juga. Bisa berabe tuh.

 

 

Tuhan, jangan Luluskan Kami…


Episode Ujian Masuk

“Ya Allah, Engkau Maha Pengasih dan Penyayang. Jika Engkau menyayangi kami, tolong jangan luluskan kami. Izinkan kami memilih pondok yang lebih baik dari ini”.

Aku dan Lutfiah, saudara sepupuku menunduk dengan khidmat di bangku kayu di depan gedung Kuwait. Kami berpegangan tangan, berdoa, berdizikir dan terus menyebut asma Allah. Memohon kepada-Nya agar kami tidak lulus dalam ujian masuk ke Gontor Putri. Doa yang tentu sangat aneh, karena ratusan calon murid lain berharap-harap cemas mendamba nama mereka masuk dalam santriwati terpilih. Tak hanya calon murid, orang tua  tak kalah khusyuknya berdoa, bermunajat kepada Allah SWT agar buah hati tercinta bisa mengeyam pendidikan di pondok yang terletak di daerah Ngawi Jawa Timur itu.

Pagi itu, kami semua, calon santriwati Gontor Putri memang dikumpulkan di jalan depan Gedung Kuwait. Kami duduk di bangku-bangku kayu panjang di bawah sinar matahari pagi yang hangat,  menunggu nama kami beserta nomor ujian dipanggil oleh panitia melalui pengeras suara. Mereka yang namanya terpanggil, secara otomatis termasuk peserta yang lulus dan berhak menjadi santriwati. Nomor ujian yang terlewati, harus rela dan tabah dengan kenyataan bahwa dirinya gagal masuk Gontor Putri dan jika mau, bisa mencoba peruntungan tahun depan, atau mendaftar  ke pondok cabang.

Satu per satu nomor dan nama peserta dipanggil, nomor 2010, 2050, 3140, 3154, lalu 3162 dan seterusnya. Peserta  yang nama dan nomornya disebut spontan berteriak senang sembari berucap Alhamdulillah.  Mereka duduk tegak dengan wajah bahagia dan berseri-seri. Sinar matahari pagi pun kalah dengan kilauan cahaya di wajah sumringah para santriwati baru ini.  Bak calon pahlawan, mereka langsung tegap berdiri dan berjalan ‘gagah’ menaiki tangga Gedung Kuwait menuju hall tempat para santriwati yang lulus dikumpulkan.

Suasana ini tentu berbeda dengan peserta yang namanya tak disebut. Wajah tegang mereka langsung lesu, layu, bak tanaman tak pernah disiram seribu hari. Isakan tangis tak terbendung. Air mata meleleh bercucuran. Para orang tua langsung mempererat pelukan kepada buah hatinya yang sedang sedih. Mencoba menenangkan dan menghibur, mengucapkan kata dan kalimat penyemangat yang sebenarnya juga ditujukan kepada diri mereka sendiri, sebab hati  orang tua ini pun tak kalah pedihnya. Harapan melihat anak mereka menjadi santriwati harus kandas. Sungguh pemandangan yang mengharu biru bagi yang melihatnya.

Karena itulah, jika mereka mendengar doa kami *aku dan Lutfi* tentu akan murka dan memaki kami. Mengatai kami sebagai anak yang tak tahu rasa bersyukur. Melihat kami sebagai dua orang saudara sinting karena melawan arus. Ah, tapi kami kan memang belum tentu diterima karena nama dan nomor kami belum terdengar dipanggil dari pengeras suara.

Meski demikian, semakin mendekati nomor ujian kami, jantungku berdetak kian kencang, dug, dug, dug, laksana genderang yang ditabuh berkali-kali, seperti bedug yang dipukul dengan semangat sebelum azan dikumandangkan. Lalu, bagaikan suara bom, nomor itupun terdengar memekakkan telinga. Nomor 3172 atas nama Lutifah dan 3173 atas nama Dewi Yuhana.

“Ya Allah, kenapa Engkau luluskan aku?. Kenapa ya Allah?” teriakku dalam hati.

Melihat wajahku yang sedih, Lutfi menenangkan. Dia menggenggam tanganku dan memelukku. Tak seperti santriwati lain yang bergegas naik ke hall, kami masih duduk beberapa lama di bangku yang semakin terasa keras itu. Kaget dengan kenyataan  kami lulus dalam ujian masuk Gontor Putri. Kecewa karena Tuhan ternyata tak mengabulkan doa yang berpuluh dan beratus kali terucap dari mulut dan hati kami.

Orang tua murid dan peserta lain memandang kami yang tetap duduk dengan heran. Mungkin mereka mengira kami sebegitu senangnya sampai terkaget-kaget dengan kenyataan kelulusan itu. Dari pancaran mata mereka tersirat ucapan selamat, bahkan tak sedikit yang kemudian mendekat, menyalami dan memberikan ucapan secara langsung.

“Selamat ya, sudah lulus dan diterima jadi santriwati.”

“Terima kasih,” jawab kami lemah.

Ah, mereka kan tak tau yang sebenarnya. Mereka tak bisa membaca kepedihan di hatiku dan kesedihan yang dirasakan Lutfi. Kami duduk kaget bukan karena gembira telah lulus. Sebaliknya, kami duduk lesu karena menyesali kelulusan itu dan menyalahkan Tuhan  yang telah memberi jalan kelulusan. Ah, Ya Robb, maafkan hamba yang kurang bersyukur ini.

Setelah beberapa menit duduk, akhirnya Lutfi dan aku pun beranjak menaiki tangga dan ikut berkumpul dengan santriwati lain yang sudah dipanggil sebelumnya. Di sana, wajah kami masih saja berbalut kesedihan dan rasa tidak percaya bahwa sebentar lagi kami harus terikat dengan pondok itu. Harus mengikuti semua peraturannya yang ketat, tidur beralas kasur tanpa dipan, antre dengan puluhan santriwati lain saat makan dan mandi. Dan tentu saja, tak bisa berlama-lama memanjakan diri di dalam kamar mandi seperti kebiasaan saat di rumah dulu.

****

Sehari sebelum pengumuman kelulusan, Lutfi menceritakan hal yang membuatku kaget. “Dewi, di Pondok X di Ponorogo, suasana di sana lebih enak dari di sini. Makanannya juga lezat-lezat, lauknya seringkali daging, ikan, dan ayam. Nggak kayak di sini, tempe, tahu, kerupuk, dan cuma sekali atau dua kali kita makan lauk ayam,” katanya.

Glekk!!!. “Waduh, kalo githu, kita salah mendaftar donk. Kita salah pilih pondok!!, kenapa kita dulu ndak milih masuk ke sana saja. Eh, tapi kamu tau dari mana kalo suasana di sana lebih enak?,” tanyaku.

“Dari temen MTsku, dia sekarang kan mondok di sana. Aku lupa, sebelum kita berangkat ke sini, dia cerita tentang pondoknya. Wis, poko’e enaaak tenan! beda banget sama di sini”

“Ya udah, kalo githu, kita doa aja. Semoga besok kita ndak lulus, trus habis itu kita langsung pergi ke Ponorogo untuk mendaftar di sana.”

Keinginan kami untuk tidak lulus memang disebabkan oleh hal sepele, namun penting bagi calon santriwati baru. Sejak datang dan menginap di Gontor Putri menjelang ujian masuk, kami memang disuguhi dengan menu masakan yang hambar. Sayuran yang dimasak terasa kurang sedap karena diperuntukkan bagi ribuan santriwati. Jenis lauknya juga bisa dihitung dengan lima jari. Tempe, tahu, kerupuk, sesekali ikan, sesekali daging yang diiris tipis, dan tentu saja sambal.

Kami memang tak berasal dari keluarga berada. Kami juga tak selalu makan dengan menu lezat setiap saat. Tapi paling tidak, masakan ibu-ibu kami masih bisa dirasakan dengan nikmat, lezat.  Karena itulah, informasi dari teman Lutfi benar-benar membuat rencana kami untuk masuk ke Gontor Putri berubah.

****

Kenyataannya, kami berdua lulus dan terdaftar sebagai santriwati baru. Kenyataannya, kami tak bisa melaksanakan plan B, pergi ke Ponorogo dan mendaftar ke pondok yang disebut teman sepupuku itu. Alasan itulah yang membuat kami lunglai dan lemas. Kami tak bisa membayangkan akan terus makan dengan lauk seadanya dan cita rasa hambar  selama enam tahun (untukku) dan empat tahun untuk saudaraku.

Saat itu, aku benar-benar kembali bertanya kepada sang pemberi nyawa, kenapa Dia tetap meluluskanku dan Lutfi, padahal kami sudah memohon dan berdoa dengan sepenuh hati. Aku bahkan bertanya “Ya Allah, tak sayang kah Engkau kepada hamba-Mu ini?”, berkali-kali, berhari-hari, berbulan-bulan.

***

Allah memang paling tahu apapun yang terbaik untuk hambaNya. Saat aku dan Lutfi kecewa dengan kelulusan di Gontor Putri, Dia sebenarnya sedang membuat skenario terbaik untuk perjalanan hidup kami ke depan. Dan kenyataannya, aku bisa menjalani enam tahun kehidupan di dalam pondok. Ternyata, aku juga cukup bisa beradaptasi dengan segala peraturan ketat dan ritme aktivitas yang tiada henti itu. Dan ya, ternyata aku sangat menikmatinya.

Bahkan enam tahun sejak kelulusan itu diumumkan, akhirnya aku mengetahui jawaban dari rencana Allah yang kala itu memutuskan untuk meluluskan kami berdua. Kenapa Dia menempatkan kami di Gontor Putri dan bukan di pondok X. Dalam sebuah kunjungan studi, yang salah satunya ke pondok X, aku melalui pandangan mataku sendiri, melihat kondisi nyata dari pondok yang dulu diagung-agungkan oleh teman sepupuku.

Seandainya kami tidak lulus dan melaksanakan Plan B, maka bisa dipastikan, kami akan langsung menyesal karena mendapati kenyataan yang berbeda dari cerita teman Lutfi.  Pondok yang dibanggakan itu ternyata sangat kotor, jorok, dengan kondisi jauh berbeda dari gedung-gedung yang ada di Gontor Putri. Ya, gedung di Gontor Putri memang bukan gedung megah, tapi bersih dan terawat. Kami diwajibkan untuk selalu membersihkan kamar setiap hari, menyapu halaman setiap pagi, mengepel dan menguras kamar mandi setiap minggu.

Ah, manusia memang terkadang kurang bersyukur dengan apa yang sudah diperolehnya. Terlalu berburuk sangka atas rencana-rencana Allah, padahal pasti ada hikmah yang indah di setiap peristiwa yang sudah digariskan-Nya.
Sampai hari ini, saat menulis di sini dan sampai nanti, aku tak akan pernah berhenti mensyukuri nikmat kelulusan yang dianugerahkan Dia Yang Esa, saat itu. Alhamdulillah.


hilMi *edisi KeluArGA*


dewi-dan-hilmi-ponakan-tersayang.jpg

Beberapa hari ini sepertinya aku akan banyak menulis profil sodara dan keluargaku dech *jadi kayak tulisan edisi keluarga githu*. Ehm, alasan kenapa menulis mereka, mungkin sebenernya aku bener-bener merindukan keluargaku. Ingin bertemu dan bercengkerama dengan mereka, setiap saat, setiap detik, setiap waktu.

Kali ini, aku ingin memperkenalkan Hilmi. Lebih tepatnya sih, namanya Hilmi Taufikul Muthohar, usianya sekarang lima tahun enam bulan, karena dia dilahirkan 25 April 2002. Merupakan anak pertama dari kakakku Prim Masrokan Muthohar dan Hikmah Eva Trisnantari. Tentu saja, dia adalah cucu pertama kedua orang tuaku HM Hadi Samiran dan Hj Muslimah, dan ponakan ‘perdana’ kami.

Bisa Anda bayangkan, Hilmi pun menjadi idola kami semua. Keberadaannya menceriakan dan membuat suasana rumah menjadi lebih hidup, berwarna, dan penuh kebahagiaan. Sifat polos, jujur, dan spontan ala anak kecil membuat kami begitu mencintai dan menyayanginya. Tak hanya dicintai oleh kami, Hilmi juga menjadi primadona baru bagi anak-anak di lingkungan rumah. Maklum saja, meski Hilmi (dulu) kurang mengerti bahasa Jawa karena terbiasa berbahasa Indonesia saat masih tinggal di Malang menemani kedua orang tuanya yang menyelesaikan S3, dia bisa membaur akrab dengan anak-anak yang baru pertama dia kenal. Hilmi memanggil mereka dengan sebutan ‘teman’.

“Tante Hana, teman itu untuk disayang, nggak boleh dimusuhi” katanya.

Karena itulah, setiap kali ibu mengajak Hilmi belanja ke Bik Ripih *pemilik toko kelontong ala desa*, dia akan dengan royalnya membelikan teman-temannya aneka macam snack dan makanan di sana. Ibuku, tentu mengabulkan. Bahkan senang memiliki cucu yang loman, tak pelit, dan memiliki keinginan untuk berbagi dengan sesama.

Jika ada Hilmi, maka buah atau makanan apapun dalam kulkas, permen, air mineral ukuran gelas, akan dia bagikan kepada teman-temannya. Rumah kami pun menjadi tempat berkumpul dan bermain anak-anak. Bapakku -yang biasanya selalu istirahat tanpa ingin diganggu dengan suara ramai, hanya bisa diam dan manut dengan tingkah polah Hilmi, bahkan senang-. Hilmi, menjadi tuan rumah yang memberikan pelayanan ekstra lux kepada para tamu kecilnya. Padahal, jika Anda tahu, TV di rumah kami bukanlah TV besar keluaran terbaru. TV itu adalah TV 21 inch yang diproduksi tahun 80-an, gambarnya sudah jelek dan terkadang kabur. Seingat saya, TV itu sudah ada ketika saya masih kecil. Jadi bisa dikatakan bener-bener produk baheula!!. Cuma ya itu, bapak saya enggan membeli TV baru. Katanya, “Wong TV ini masih bisa dilihat kok. Kenapa harus beli yang baru?”. Duh, kalo sudah githu, rasanya saya sebeeel banget!!.

Hilmi, di usianya sekarang, dia sudah hapal asmaul husna dan puluhan surat-surat pendek. Bahkan, seminggu sejak dia pindah sekolah (TK) dari Malang ke Tulungagung, dia minta kepada ustadzahnya untuk menjadi imam salat dhuhur.

Kemampuannya bertanya, tak sekali dua kali membuat kami, tante dan om-omnya bingung mencari jawaban benar yang cerdas. Suatu hari, Hilmi menanyakan fungsi tanduk kambing yang tajam. Spontan saya menjawab, tanduk itu dia gunakan sebagai pertahakan diri kalau ada musuh yang menyerang. Nah, saat kami sedang duduk berdua di depan masjid rumah, dia melihat kuku-kuku tangan saya yang panjang dan bertanya, “Tante, kok kukunya panjang dan tajam, kenapa”. Mendengar itu, saya tentu kaget dan terdiam mencari jawaban yang cocok. Tak sabar, Hilmi pun melanjutkan pertanyaannya, “Untuk mempertahankan diri ya?”.

Huwaaaaa, masak tantenya yang cantik ini disamakan dengan kambing sich?!. Aku pun tertawa dan langsung menjawab, “Ya enggak donk Hilmi, lagian tante mempertahankan diri dari siapa. Mmmmm…, ini sih cuma buat hiasan aja”.

Eh, ternyata dia masih belum puas bertanya. “Trus, kok warna kukunya merah. Katanya Ustadzah, nggak boleh salat loh tante”. Walah!! ponakanku tersayang ini, semakin membuatku tersudut.

“Memang Hil, kalo pake kuteks nggak bisa dibuat salat. Tapi yang tante pake ini bukan kuteks, namanya Hena. Jadi nggak menghalangi air wudhu,” jelasku. entah, dia paham apa itu hena ato enggak, yang jelas Hilmi terdiam beberapa saat. Mungkin dia sebenarnya ingin menanyakan perbedaan antara kuteks dan hena, tapi nggak jadi. *untung……..*

 

mY Lit Bro


Namanya Abdul Aziz, saat ini dia sedang menempuh kuliah semester akhir di Manajemen UIN Malang. Di mata keluarga, Aziz adalah sosok pendiam, patuh, nrimo-an, dan of corz, berbakti kepada orang tua.

Dia adalah adekku yang pertama, atau anak ketiga dari kami yang empat bersaudara. Dibandingkan dua saudara cowokku yang lain (Prim Masrokan Muthohar, kakakku, dan Muhammad Hasan Basri, adek bungsuku), kulit Aziz paling putih. Dia juga paling langsing (duuluu banget waktu masih mondok di Jombang, hehehe3….soalNa, sekarang berat badannya melonjak dan dia bergabung dengan kita *include me* dalam keluarga gerombolan si berat).

Saking pendiamnya, Aziz tak pernah sekalipun meminta kepada bapak dan ibu untuk dibelikan baju atau sepatu baru. Padahal jelas-jelas, koleksi baju dan sepatunya sudah butut banget. Bahkan, untuk kebutuhan bulanannya selama kuliah di Malang, dia juga hanya meminta nominal yang memang sebenarnya dia butuhkan, nggak lebih, nggak kurang. Nominal yang sama sepeti yang aku minta ketika aku kuliah di UMM lima hingga enam tahun lalu. Uh, as u’ve know, inflasi membuat semua harga barang naik. Jadi, aku nggak bisa ngebayangin dengan uang segitu, bagaimana gaya hidup adekku yang satu itu. Padahal, dulu pun, aku sudah memark up kebutuhan kuliahku dengan menambah pos-pos pendanaan, ex. dana untuk nonton, dana untuk beli baju, dana untuk jalan-jalan. (Tapi jangan pernah mengira kucuran dana yang aku terima lumayan besar loh. Dengan penghasilan bapak di sebuah desa kecil di Tulungagung, tentu dia tak bisa memenuhi semua permintaan anak-anaknya)

Tapi, Aziz memang Aziz, dia tak pernah bisa berbohong atau meminta uang lebih kepada bapak kami -sosok bapak yang dikenal cukup membuat hati menciut, padahal sebenernya bapak tuh orangnya baek banget loh…-. Aziz, yang tak pernah bisa berkata kasar kepada bapak dan ibu, yang tak pernah membantah, dan selalu menjadi anak manis mereka.

Meski terkadang, pendiamnya itu membuat aku kesal, karena kita semua nggak pernah tahu keinginan dia yang sebenarnya. (Ziz, If u read thiz, kesalku karena aku terlalu sayang padamu).

Bagaimana tidak sayang. Aziz lah, yang selalu berada di samping ibu, saat beliau sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Aziz, yang selalu siap sedia pulang ke Tulungagung saat ada telpon atau SMS mendadak. Bukan karena apa, aku dengan batasan pekerjaan, terkadang tak bisa leluasa untuk izin lama dan menunggu ibu di rumah sakit. Sedangkan Aziz, dengan statusnya sebagai mahasiswa, masih bisa mbolos dan merawat ibu dengan begitu telatennya.

Tadi malem (18/11), aku menelpon Aziz dan mengajaknya untuk menemaniku makan malem. Aku sebenernya minta dia untuk ketemuan di Matos. Tapi mendengar suaranya yang berat, tahulah aku kalo adekku sedang ndak punya duit. Ya sudah deh, aku jemput dia dan memintanya menungguku di gang deket kosnya. Tuh kan, kalo nggak punya duit, seharusnya dia bisa telpon aku sebelumnya to? bukannya diem dan malah pinjem duit ke temennya. Ehm….. adekku….

PeluPA


pELLuuupa bEERRRAT

Aku adalah orang yang sangat pelupa!. Dulu, jam tanganku selalu ilang ato tertinggal di kamar mandi. Antingku, juga beberapa kali raib karena lupa naruh. Kunci motor, kunci kamar, ato kunci lemari, bisa lenyap tak berbekas karena aku tak ingat menyimpan di mana. Kalo sudah githu, bundaku cuma bisa komentar singkat, “Yang gak bakal kamu hilangin itu ya idung ama telinga, soalnya udah nyantol di sana. Coba kalo bongkar pasang, bisa-bisa salah ambil hidung orang!”.

Huehehehe, sebegitunya ya bunda?!. Emang kok, aku juga ngerasa taraf pelupaku tuh udah sangat parah. Padahal jelas-jelas aku bukan penggemar berutu *xixixixe…kata orang, klo suka makan berutu bikin orang jadi pelupa!*. Sekitar dua tahun lalu, aku ke kantor Telkom di Jalan A Yani Malang. Ngobrol dengan orang Telkom cukup lama, sekitar satu jam-an githu. Saat pulang dan ke tempat parkir, aku kaget!! ternyata kunciku masih ‘tergantung’ manis di motorku. (Ya Allah, terima kasih untuk menjaga motorku tetap di tempatnya).

Pernah juga, saat di kantor, aku harus balik ke kos karena ‘mengira’ catatan pentingku tertinggal. Sesampainya di kos, eh ternyata aku nggak bawa kunci kamar. ya sudah, aku balik ke kantor lagi, ambil kunci, dan kembali pulang. Setelah bisa masuk kamar, mengobrak abrik setiap sudut kamar, ke lemari, ke laci meja, ke tas-tasku, ke kolong tempat tidur, -wis poko’e semua ruang terbuka dan tertutup di kamarku tak luput dari inceran mataku, sampai bentuk kamar bener-2 kayak kapal pecah-, dan aku tak jua menemukan catatan pentingku itu. Setelah putus asa, akhirnya aku kembali ke kantor dan mengikhlaskan catatan penting itu hilang. Aku mencoba mengandalkan daya ingatku tentang isi di catatan tersebut. Setelah agak tenang di depan komputer, aku buka tas mo ambil sesuatu *aku lupa apa*, dan tahukah kamu? Ya Allah……, catatan penting yang aku cari sampai harus bolak balik dari kantor-kos-kantor-kos lagi-trus ke kantor, itu ternyata tersimpan manis di tasku!!! *gila nggak tuh?!*.

Kalo soal lupa bawa dompet di rumah makan, itu nggak sekali dua kali. Amat sangat sering terjadi. Untungnya, saat lupa bawa duit, aku sudah kenal pemilik rumah makannya (dulu waktu kuliah, aku sering kelupaan bawa duit pas makan di RM Padang deket terminal Landungsari). Jadi aku terus terang aja, “Om, aku lupa bawa dompet. Mo dikasih apa nich, cincin apa jam tangan sebagai jaminan?”.  Mendengar itu, si om pemilik rumah makan cuma tersenyum, “NGgak usah lah, ntar aja balik ke sini”.

Aku juga (pernah) lupa nggak bawa dompet saat akan membayar sepatu dan tas -waktu itu aku sedang belanja di salah satu toko di Plaza Dieng Malang-. Wuih, bayangin aja, gimana malunya aku di depan mbak kasir. Akhirnya, aku berterus terang kalo dompetku ketinggalan. Dia sih diem aja, tapi menurutku, si mbak gak begitu percaya omonganku. DAlam hati, mungkin dia berkata “Alah, bilang aja nggak punya duit, nggak kuat beli. Makanya jangan sok mo belanja!!”, hehehe….

Insiden lupa-ku yang terakhir adalah saat aku beli makan di Mie Gang Jangkrik Jalan Kawi Malang (Rabu/14/11). Aku pesen Mie udang tempura dan pangsit mie goreng. Sambil menunggu pesanan, aku SMS-an ama seorang temen. Nggak sengaja, aku membuka tas dan mendapati tak ada dompet di dalamnya!! (wah, aku lupa memasukkannya ke tas. Biasa nich, kalo ganti tas, emang suka lupa mindahin barang-barang). Memanfaatkan kondisi resto yang rame, aku menyelinap keluar, ambil motor dan langsung tancap gas ke kos, ambil dompet, dan balik lagi ke sana. Whuaaaah, untung aku pesen buat dibawa pulang, lha kalo makan di tempat, mukaku bisa kayak udang rebus saking malunya!.

 

rEZEKI


Do u believe in ‘rezeki itu datang min haisu la yahtasib?’. I do beleive it!. Seminggu lalu, ada telpon yang mengundangku untuk sebuah acara di Bali. Tanpa banyak pertimbangan aku langsung mengiyakan. Duh, sapa sih yang nggak mau ke Bali, gretong, dapat ilmu, sekaligus bisa refreshing?

Sebenernya, saat menerima undangan itu aku sempet bertanya kok bukan temenku aja yang diundang. Karena bagaimanapun, ‘seharusnya’ dialah yang berhak untuk berangkat ke sana. Tapi suara di ujung telpon memastikan bahwa undangan itu memang sengaja diberikan untuk aku, atas pertimbangan dan permintaan khusus. Ya sudah, mo bilang apa donk?  *sebuah kerhormatan untuk aku kan?*

Tapi, as karyawan, aku nggak bisa memutuskan semauku. Ato meminta, “eh, aku besok pergi ke Bali ya. Ini loh, ada undangan khusus”. Perusahaan nenek aku?!!. Jadi aku pun menghadap my bos to ask his permit, yang dijawab dengan ngambang. “Masak, harus kamu yang pergi sih?”

Wow, kaget juga aku ngedengernya. My Bos yang selama ini masih membuat aku respek menjawab seperti itu. Bukannya kenapa sih, dulu sekali, saat ada undangan ke Bandung, ke Jakarta, ke Padang, ke Bali (juga) dan aku meminta salah satunya, dia tidak memperbolehkan. Do u know the reason? “Untuk Bandung undangannya bukan atas nama kamu!! jadi ya nggak bisa berangkat!!”. Loh, loh, what the different between the first case ama undangan yang terakhir?. Dulu, dia ngomong begitu, sekarang waktu undangannya bener-bener diatas namakan aku, kok ngomong laen lagi?.

Ya sudah, akhirnya seminggu ini aku diemin aja. Aku juga belom ngomong ke temenku ‘yang seharusnya berhak pergi ke sana’, karena memang belom pasti apakah aku akan berangkat ato enggak. *xixixie…, rencananya sih aku mo cerita ke dia pas sudah mau berangkat, yang ternyata nggak jadi berangkat -duh, kesiannya aku ya?-*. 

Yang bikin sebel, ternyata my bos, my another bos, trus seorang rekan sudah membicarakan soal undangan itu dan sapa yang berangkat di belakangku (tanpa sepengetahuanku, si pengundang mengirimkan fax ke kantor). Dan mereka pura-pura tak pernah membicarakan itu di depanku!!! waduuh, sodara2, waktu aku tahu kenyaataan itu malam ini, semakin panas aja hatiku!!!!. Eit, kalo boleh jujur, gak begitu panas banget sich. Udah bisa nerima kok.

Mungkin juga, kesialanku ini karena sebenarnya aku mengambil hak orang lain, hak yang memang bukan untukku. Seharusnya, undangan itu diberikan kepada temenku. Cuma ya itu, sayangnya si bos memutuskan orang lain untuk berangkat (bukan temenku yang seharusnya punya hak, red). weleh2…apa sih pertimbanganmu bos?!!..

Sedikit flash back kemarin sore, saat aku tahu kalo keputusan yang berangkat ke Bali ternyata orang lain, aku langsung telpon my pop, told him what I feel, trus nggak sengaja nangis (duh, childish banget ya?!). “Ndak usah nangis, kalo memang kamu nggak jadi berangkat ke Bali, berarti keberangkatan itu memang nggak bermanfaat buat kamu. Semua pasti ada hikmahnya, santai saja,” katanya.

“Iya pak, tapi sebel aja. Kok jadi kayak gini sih,” kataku.

Itu kejadian kemarin sore. Pagi ini (Jumat/16/11), aku sudah bisa tersenyum lega dan mengetahui rencana Allah yang ternyata jauh lebih indah. Pagi ini, ada SMS yang memintaku untuk menghubungi seseorang. Yaaa, ada proyek kecil-kecilan githu dech. Ehm…., kalo aku jadi pergi ke Bali, melayang lah proyek itu.

Benar kan? rezeki itu memang akan datang dari berbagai sumber yang tak kita duga sebelumnya.. *_^

Salah TangkEp


Ngebaca judul blog ini, pasti ente semua ngebayangin klo aku baru aja salah nangkep mangga, nangkep apel, ato….nangkEp durian (weleh2, bisa anCur tanganku klo sampe maksain diri nangkep buah lezat yg satu itu). yang jelas, salah tangkep yang aku maksud ga ada kaitannya ama buah-buahan, apalagi ama cowox (xixixixie…).

It’s all about kesalahpahamanku terhadap seorang penelpon yang baruuuu aja menutup telponnya lima tiga menit lalu.
****

16:06:47 WIB, telponku berdering dari nomor 0341-575xxx, dan langsung aku angkat.
“Halo, ini mbak Hana ya…,” kata suara cowok di ujung telpon.

“YupZ, ini sapa ya,” jawabku.

“Saya dari Money Ves , mau menanyakan tentang proposal yang saya kirim kemarin, gimana mbak,” ucapnya lagi.

Aku menulis Money Ves di sini, karena aku mengira proposal yang dia kirim itu berkaitan dengan tawaran investasi di saham dan valas yang aku terima beberapa waktu lalu. Jadi tanpa ba bi bu lagi, aku langsung ngejawab “Waduh, sori ya mas, aku nggak tertarik tuh”.

“Nggak tertarik gimana mbak?,” ucapnya dengan nada bingung.

“Ya enggak tertarik untuk investasi di sana,” tegasku.

“Loh, kok investasi. Itu proposal soal kunjungan dari anak-anak LPM Manifest (tulisan ini yang bener) Unibraw ke kantor mbak. Gimana, mau nerima kunjungan kami nggak?,” jelasnya.

Olalala….., aku langsung ketawa ngakak. Bujubuneng!!!, aku bener-bener salah nangkep omongannya, xixixixixie…kirain dari marketing valas, nggak taunya mahasiswa to.

“Oooo, sori dori mori stroberi. Sambungan telponnya agak putus-putus nich, jadi nggak jelas denger omonganmu. Kalo soal kunjungan, bisa kok, kapan?,” tambahku, masih dengan menahan tawa. Wah, soal sambungan putus2, I’ve to say sorry to Flexi yang sudah aku kambing’putih’kan.

Mendengar aku yang terima telpon sambil menahan tawa sambil menyebut Manifest, seorang teman langsung menyerahkan proposal itu. Walah!!, coba dari tadi dikasih ke aku, kan nggak sampe salah nangkep maksudnya.