hilMi *edisi KeluArGA*


dewi-dan-hilmi-ponakan-tersayang.jpg

Beberapa hari ini sepertinya aku akan banyak menulis profil sodara dan keluargaku dech *jadi kayak tulisan edisi keluarga githu*. Ehm, alasan kenapa menulis mereka, mungkin sebenernya aku bener-bener merindukan keluargaku. Ingin bertemu dan bercengkerama dengan mereka, setiap saat, setiap detik, setiap waktu.

Kali ini, aku ingin memperkenalkan Hilmi. Lebih tepatnya sih, namanya Hilmi Taufikul Muthohar, usianya sekarang lima tahun enam bulan, karena dia dilahirkan 25 April 2002. Merupakan anak pertama dari kakakku Prim Masrokan Muthohar dan Hikmah Eva Trisnantari. Tentu saja, dia adalah cucu pertama kedua orang tuaku HM Hadi Samiran dan Hj Muslimah, dan ponakan ‘perdana’ kami.

Bisa Anda bayangkan, Hilmi pun menjadi idola kami semua. Keberadaannya menceriakan dan membuat suasana rumah menjadi lebih hidup, berwarna, dan penuh kebahagiaan. Sifat polos, jujur, dan spontan ala anak kecil membuat kami begitu mencintai dan menyayanginya. Tak hanya dicintai oleh kami, Hilmi juga menjadi primadona baru bagi anak-anak di lingkungan rumah. Maklum saja, meski Hilmi (dulu) kurang mengerti bahasa Jawa karena terbiasa berbahasa Indonesia saat masih tinggal di Malang menemani kedua orang tuanya yang menyelesaikan S3, dia bisa membaur akrab dengan anak-anak yang baru pertama dia kenal. Hilmi memanggil mereka dengan sebutan ‘teman’.

“Tante Hana, teman itu untuk disayang, nggak boleh dimusuhi” katanya.

Karena itulah, setiap kali ibu mengajak Hilmi belanja ke Bik Ripih *pemilik toko kelontong ala desa*, dia akan dengan royalnya membelikan teman-temannya aneka macam snack dan makanan di sana. Ibuku, tentu mengabulkan. Bahkan senang memiliki cucu yang loman, tak pelit, dan memiliki keinginan untuk berbagi dengan sesama.

Jika ada Hilmi, maka buah atau makanan apapun dalam kulkas, permen, air mineral ukuran gelas, akan dia bagikan kepada teman-temannya. Rumah kami pun menjadi tempat berkumpul dan bermain anak-anak. Bapakku -yang biasanya selalu istirahat tanpa ingin diganggu dengan suara ramai, hanya bisa diam dan manut dengan tingkah polah Hilmi, bahkan senang-. Hilmi, menjadi tuan rumah yang memberikan pelayanan ekstra lux kepada para tamu kecilnya. Padahal, jika Anda tahu, TV di rumah kami bukanlah TV besar keluaran terbaru. TV itu adalah TV 21 inch yang diproduksi tahun 80-an, gambarnya sudah jelek dan terkadang kabur. Seingat saya, TV itu sudah ada ketika saya masih kecil. Jadi bisa dikatakan bener-bener produk baheula!!. Cuma ya itu, bapak saya enggan membeli TV baru. Katanya, “Wong TV ini masih bisa dilihat kok. Kenapa harus beli yang baru?”. Duh, kalo sudah githu, rasanya saya sebeeel banget!!.

Hilmi, di usianya sekarang, dia sudah hapal asmaul husna dan puluhan surat-surat pendek. Bahkan, seminggu sejak dia pindah sekolah (TK) dari Malang ke Tulungagung, dia minta kepada ustadzahnya untuk menjadi imam salat dhuhur.

Kemampuannya bertanya, tak sekali dua kali membuat kami, tante dan om-omnya bingung mencari jawaban benar yang cerdas. Suatu hari, Hilmi menanyakan fungsi tanduk kambing yang tajam. Spontan saya menjawab, tanduk itu dia gunakan sebagai pertahakan diri kalau ada musuh yang menyerang. Nah, saat kami sedang duduk berdua di depan masjid rumah, dia melihat kuku-kuku tangan saya yang panjang dan bertanya, “Tante, kok kukunya panjang dan tajam, kenapa”. Mendengar itu, saya tentu kaget dan terdiam mencari jawaban yang cocok. Tak sabar, Hilmi pun melanjutkan pertanyaannya, “Untuk mempertahankan diri ya?”.

Huwaaaaa, masak tantenya yang cantik ini disamakan dengan kambing sich?!. Aku pun tertawa dan langsung menjawab, “Ya enggak donk Hilmi, lagian tante mempertahankan diri dari siapa. Mmmmm…, ini sih cuma buat hiasan aja”.

Eh, ternyata dia masih belum puas bertanya. “Trus, kok warna kukunya merah. Katanya Ustadzah, nggak boleh salat loh tante”. Walah!! ponakanku tersayang ini, semakin membuatku tersudut.

“Memang Hil, kalo pake kuteks nggak bisa dibuat salat. Tapi yang tante pake ini bukan kuteks, namanya Hena. Jadi nggak menghalangi air wudhu,” jelasku. entah, dia paham apa itu hena ato enggak, yang jelas Hilmi terdiam beberapa saat. Mungkin dia sebenarnya ingin menanyakan perbedaan antara kuteks dan hena, tapi nggak jadi. *untung……..*

 

3 responses to “hilMi *edisi KeluArGA*

  1. Wah… Hilmi… menggemaskan…
    Eh, Luqman dan Syamil punya baju kembar yang begitu….
    Jadi sama dong bertiga

    >>> huehehehe… kapan2 bisa dipertemukan tuh mba… 🙂

  2. Dew, u look so mature, sophisticated, beautiful! times change u..

    >>> huehehehehe…. foto terkadang menipu loh Dek….
    waktu mengubah siapapun… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s