mY Lit Bro


Namanya Abdul Aziz, saat ini dia sedang menempuh kuliah semester akhir di Manajemen UIN Malang. Di mata keluarga, Aziz adalah sosok pendiam, patuh, nrimo-an, dan of corz, berbakti kepada orang tua.

Dia adalah adekku yang pertama, atau anak ketiga dari kami yang empat bersaudara. Dibandingkan dua saudara cowokku yang lain (Prim Masrokan Muthohar, kakakku, dan Muhammad Hasan Basri, adek bungsuku), kulit Aziz paling putih. Dia juga paling langsing (duuluu banget waktu masih mondok di Jombang, hehehe3….soalNa, sekarang berat badannya melonjak dan dia bergabung dengan kita *include me* dalam keluarga gerombolan si berat).

Saking pendiamnya, Aziz tak pernah sekalipun meminta kepada bapak dan ibu untuk dibelikan baju atau sepatu baru. Padahal jelas-jelas, koleksi baju dan sepatunya sudah butut banget. Bahkan, untuk kebutuhan bulanannya selama kuliah di Malang, dia juga hanya meminta nominal yang memang sebenarnya dia butuhkan, nggak lebih, nggak kurang. Nominal yang sama sepeti yang aku minta ketika aku kuliah di UMM lima hingga enam tahun lalu. Uh, as u’ve know, inflasi membuat semua harga barang naik. Jadi, aku nggak bisa ngebayangin dengan uang segitu, bagaimana gaya hidup adekku yang satu itu. Padahal, dulu pun, aku sudah memark up kebutuhan kuliahku dengan menambah pos-pos pendanaan, ex. dana untuk nonton, dana untuk beli baju, dana untuk jalan-jalan. (Tapi jangan pernah mengira kucuran dana yang aku terima lumayan besar loh. Dengan penghasilan bapak di sebuah desa kecil di Tulungagung, tentu dia tak bisa memenuhi semua permintaan anak-anaknya)

Tapi, Aziz memang Aziz, dia tak pernah bisa berbohong atau meminta uang lebih kepada bapak kami -sosok bapak yang dikenal cukup membuat hati menciut, padahal sebenernya bapak tuh orangnya baek banget loh…-. Aziz, yang tak pernah bisa berkata kasar kepada bapak dan ibu, yang tak pernah membantah, dan selalu menjadi anak manis mereka.

Meski terkadang, pendiamnya itu membuat aku kesal, karena kita semua nggak pernah tahu keinginan dia yang sebenarnya. (Ziz, If u read thiz, kesalku karena aku terlalu sayang padamu).

Bagaimana tidak sayang. Aziz lah, yang selalu berada di samping ibu, saat beliau sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Aziz, yang selalu siap sedia pulang ke Tulungagung saat ada telpon atau SMS mendadak. Bukan karena apa, aku dengan batasan pekerjaan, terkadang tak bisa leluasa untuk izin lama dan menunggu ibu di rumah sakit. Sedangkan Aziz, dengan statusnya sebagai mahasiswa, masih bisa mbolos dan merawat ibu dengan begitu telatennya.

Tadi malem (18/11), aku menelpon Aziz dan mengajaknya untuk menemaniku makan malem. Aku sebenernya minta dia untuk ketemuan di Matos. Tapi mendengar suaranya yang berat, tahulah aku kalo adekku sedang ndak punya duit. Ya sudah deh, aku jemput dia dan memintanya menungguku di gang deket kosnya. Tuh kan, kalo nggak punya duit, seharusnya dia bisa telpon aku sebelumnya to? bukannya diem dan malah pinjem duit ke temennya. Ehm….. adekku….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s