Tuhan, jangan Luluskan Kami…


Episode Ujian Masuk

“Ya Allah, Engkau Maha Pengasih dan Penyayang. Jika Engkau menyayangi kami, tolong jangan luluskan kami. Izinkan kami memilih pondok yang lebih baik dari ini”.

Aku dan Lutfiah, saudara sepupuku menunduk dengan khidmat di bangku kayu di depan gedung Kuwait. Kami berpegangan tangan, berdoa, berdizikir dan terus menyebut asma Allah. Memohon kepada-Nya agar kami tidak lulus dalam ujian masuk ke Gontor Putri. Doa yang tentu sangat aneh, karena ratusan calon murid lain berharap-harap cemas mendamba nama mereka masuk dalam santriwati terpilih. Tak hanya calon murid, orang tua  tak kalah khusyuknya berdoa, bermunajat kepada Allah SWT agar buah hati tercinta bisa mengeyam pendidikan di pondok yang terletak di daerah Ngawi Jawa Timur itu.

Pagi itu, kami semua, calon santriwati Gontor Putri memang dikumpulkan di jalan depan Gedung Kuwait. Kami duduk di bangku-bangku kayu panjang di bawah sinar matahari pagi yang hangat,  menunggu nama kami beserta nomor ujian dipanggil oleh panitia melalui pengeras suara. Mereka yang namanya terpanggil, secara otomatis termasuk peserta yang lulus dan berhak menjadi santriwati. Nomor ujian yang terlewati, harus rela dan tabah dengan kenyataan bahwa dirinya gagal masuk Gontor Putri dan jika mau, bisa mencoba peruntungan tahun depan, atau mendaftar  ke pondok cabang.

Satu per satu nomor dan nama peserta dipanggil, nomor 2010, 2050, 3140, 3154, lalu 3162 dan seterusnya. Peserta  yang nama dan nomornya disebut spontan berteriak senang sembari berucap Alhamdulillah.  Mereka duduk tegak dengan wajah bahagia dan berseri-seri. Sinar matahari pagi pun kalah dengan kilauan cahaya di wajah sumringah para santriwati baru ini.  Bak calon pahlawan, mereka langsung tegap berdiri dan berjalan ‘gagah’ menaiki tangga Gedung Kuwait menuju hall tempat para santriwati yang lulus dikumpulkan.

Suasana ini tentu berbeda dengan peserta yang namanya tak disebut. Wajah tegang mereka langsung lesu, layu, bak tanaman tak pernah disiram seribu hari. Isakan tangis tak terbendung. Air mata meleleh bercucuran. Para orang tua langsung mempererat pelukan kepada buah hatinya yang sedang sedih. Mencoba menenangkan dan menghibur, mengucapkan kata dan kalimat penyemangat yang sebenarnya juga ditujukan kepada diri mereka sendiri, sebab hati  orang tua ini pun tak kalah pedihnya. Harapan melihat anak mereka menjadi santriwati harus kandas. Sungguh pemandangan yang mengharu biru bagi yang melihatnya.

Karena itulah, jika mereka mendengar doa kami *aku dan Lutfi* tentu akan murka dan memaki kami. Mengatai kami sebagai anak yang tak tahu rasa bersyukur. Melihat kami sebagai dua orang saudara sinting karena melawan arus. Ah, tapi kami kan memang belum tentu diterima karena nama dan nomor kami belum terdengar dipanggil dari pengeras suara.

Meski demikian, semakin mendekati nomor ujian kami, jantungku berdetak kian kencang, dug, dug, dug, laksana genderang yang ditabuh berkali-kali, seperti bedug yang dipukul dengan semangat sebelum azan dikumandangkan. Lalu, bagaikan suara bom, nomor itupun terdengar memekakkan telinga. Nomor 3172 atas nama Lutifah dan 3173 atas nama Dewi Yuhana.

“Ya Allah, kenapa Engkau luluskan aku?. Kenapa ya Allah?” teriakku dalam hati.

Melihat wajahku yang sedih, Lutfi menenangkan. Dia menggenggam tanganku dan memelukku. Tak seperti santriwati lain yang bergegas naik ke hall, kami masih duduk beberapa lama di bangku yang semakin terasa keras itu. Kaget dengan kenyataan  kami lulus dalam ujian masuk Gontor Putri. Kecewa karena Tuhan ternyata tak mengabulkan doa yang berpuluh dan beratus kali terucap dari mulut dan hati kami.

Orang tua murid dan peserta lain memandang kami yang tetap duduk dengan heran. Mungkin mereka mengira kami sebegitu senangnya sampai terkaget-kaget dengan kenyataan kelulusan itu. Dari pancaran mata mereka tersirat ucapan selamat, bahkan tak sedikit yang kemudian mendekat, menyalami dan memberikan ucapan secara langsung.

“Selamat ya, sudah lulus dan diterima jadi santriwati.”

“Terima kasih,” jawab kami lemah.

Ah, mereka kan tak tau yang sebenarnya. Mereka tak bisa membaca kepedihan di hatiku dan kesedihan yang dirasakan Lutfi. Kami duduk kaget bukan karena gembira telah lulus. Sebaliknya, kami duduk lesu karena menyesali kelulusan itu dan menyalahkan Tuhan  yang telah memberi jalan kelulusan. Ah, Ya Robb, maafkan hamba yang kurang bersyukur ini.

Setelah beberapa menit duduk, akhirnya Lutfi dan aku pun beranjak menaiki tangga dan ikut berkumpul dengan santriwati lain yang sudah dipanggil sebelumnya. Di sana, wajah kami masih saja berbalut kesedihan dan rasa tidak percaya bahwa sebentar lagi kami harus terikat dengan pondok itu. Harus mengikuti semua peraturannya yang ketat, tidur beralas kasur tanpa dipan, antre dengan puluhan santriwati lain saat makan dan mandi. Dan tentu saja, tak bisa berlama-lama memanjakan diri di dalam kamar mandi seperti kebiasaan saat di rumah dulu.

****

Sehari sebelum pengumuman kelulusan, Lutfi menceritakan hal yang membuatku kaget. “Dewi, di Pondok X di Ponorogo, suasana di sana lebih enak dari di sini. Makanannya juga lezat-lezat, lauknya seringkali daging, ikan, dan ayam. Nggak kayak di sini, tempe, tahu, kerupuk, dan cuma sekali atau dua kali kita makan lauk ayam,” katanya.

Glekk!!!. “Waduh, kalo githu, kita salah mendaftar donk. Kita salah pilih pondok!!, kenapa kita dulu ndak milih masuk ke sana saja. Eh, tapi kamu tau dari mana kalo suasana di sana lebih enak?,” tanyaku.

“Dari temen MTsku, dia sekarang kan mondok di sana. Aku lupa, sebelum kita berangkat ke sini, dia cerita tentang pondoknya. Wis, poko’e enaaak tenan! beda banget sama di sini”

“Ya udah, kalo githu, kita doa aja. Semoga besok kita ndak lulus, trus habis itu kita langsung pergi ke Ponorogo untuk mendaftar di sana.”

Keinginan kami untuk tidak lulus memang disebabkan oleh hal sepele, namun penting bagi calon santriwati baru. Sejak datang dan menginap di Gontor Putri menjelang ujian masuk, kami memang disuguhi dengan menu masakan yang hambar. Sayuran yang dimasak terasa kurang sedap karena diperuntukkan bagi ribuan santriwati. Jenis lauknya juga bisa dihitung dengan lima jari. Tempe, tahu, kerupuk, sesekali ikan, sesekali daging yang diiris tipis, dan tentu saja sambal.

Kami memang tak berasal dari keluarga berada. Kami juga tak selalu makan dengan menu lezat setiap saat. Tapi paling tidak, masakan ibu-ibu kami masih bisa dirasakan dengan nikmat, lezat.  Karena itulah, informasi dari teman Lutfi benar-benar membuat rencana kami untuk masuk ke Gontor Putri berubah.

****

Kenyataannya, kami berdua lulus dan terdaftar sebagai santriwati baru. Kenyataannya, kami tak bisa melaksanakan plan B, pergi ke Ponorogo dan mendaftar ke pondok yang disebut teman sepupuku itu. Alasan itulah yang membuat kami lunglai dan lemas. Kami tak bisa membayangkan akan terus makan dengan lauk seadanya dan cita rasa hambar  selama enam tahun (untukku) dan empat tahun untuk saudaraku.

Saat itu, aku benar-benar kembali bertanya kepada sang pemberi nyawa, kenapa Dia tetap meluluskanku dan Lutfi, padahal kami sudah memohon dan berdoa dengan sepenuh hati. Aku bahkan bertanya “Ya Allah, tak sayang kah Engkau kepada hamba-Mu ini?”, berkali-kali, berhari-hari, berbulan-bulan.

***

Allah memang paling tahu apapun yang terbaik untuk hambaNya. Saat aku dan Lutfi kecewa dengan kelulusan di Gontor Putri, Dia sebenarnya sedang membuat skenario terbaik untuk perjalanan hidup kami ke depan. Dan kenyataannya, aku bisa menjalani enam tahun kehidupan di dalam pondok. Ternyata, aku juga cukup bisa beradaptasi dengan segala peraturan ketat dan ritme aktivitas yang tiada henti itu. Dan ya, ternyata aku sangat menikmatinya.

Bahkan enam tahun sejak kelulusan itu diumumkan, akhirnya aku mengetahui jawaban dari rencana Allah yang kala itu memutuskan untuk meluluskan kami berdua. Kenapa Dia menempatkan kami di Gontor Putri dan bukan di pondok X. Dalam sebuah kunjungan studi, yang salah satunya ke pondok X, aku melalui pandangan mataku sendiri, melihat kondisi nyata dari pondok yang dulu diagung-agungkan oleh teman sepupuku.

Seandainya kami tidak lulus dan melaksanakan Plan B, maka bisa dipastikan, kami akan langsung menyesal karena mendapati kenyataan yang berbeda dari cerita teman Lutfi.  Pondok yang dibanggakan itu ternyata sangat kotor, jorok, dengan kondisi jauh berbeda dari gedung-gedung yang ada di Gontor Putri. Ya, gedung di Gontor Putri memang bukan gedung megah, tapi bersih dan terawat. Kami diwajibkan untuk selalu membersihkan kamar setiap hari, menyapu halaman setiap pagi, mengepel dan menguras kamar mandi setiap minggu.

Ah, manusia memang terkadang kurang bersyukur dengan apa yang sudah diperolehnya. Terlalu berburuk sangka atas rencana-rencana Allah, padahal pasti ada hikmah yang indah di setiap peristiwa yang sudah digariskan-Nya.
Sampai hari ini, saat menulis di sini dan sampai nanti, aku tak akan pernah berhenti mensyukuri nikmat kelulusan yang dianugerahkan Dia Yang Esa, saat itu. Alhamdulillah.


19 responses to “Tuhan, jangan Luluskan Kami…

  1. Jadi kamu itu santri tho? Wah…wah…
    btw, itu cerita kapan, baru mau apa dulu?
    ditunggu deh lanjutannya! 😀

    ini cerita dulu…
    bertahun lalu….
    saat masih imut dan pemalu… 😉

  2. wah…santri Unix nih, jd ga tahan mau baca episode berikutnya. Kaya’nya suerrru tenan. gmn klo di Filmkan aja?dapat rating tinggi nih kaya’nya…

    huehehehe…jdi malu…
    secara dirikyu narsis abis dan obsesi pemain pilem githu….

  3. hikss..hikss.. jadi cediiiih… wi, kok bisa sih mengingatnya sedetail itu? salut..salut…

    aku bisa mengingat detil karena aku terlalu keras berusaha untuk mengubur, melupakan, dan menghilangkan memory itu.
    Semakin lama aku berusaha,
    semakin dia datang tanpa diundang,
    semakin merasuki pikiran dan mimpi,
    hingga tak mampu lagi membendung semua kenangan itu…
    whew!! kok jd sok mellow gini seh…. 😀

  4. Ckckckckc… ga nyangka gw lu jadi pujangga getooooooooooo!!! huahahahaha…..

    gw aja ga nyangka, palagi lu, huehehehe…
    FYI, gw nulis ini jam 10-an malem, msh di kantor….
    merindukan seseorang,
    upz…maksudnya, merindukan ma’had…. 😉

  5. What?? Ampe jam sgitu?? buteeeeeeeeeeeett!!! yang bener aja, masa waktu lembur dikorup buat bikin blog?? trus lu nginep geto di kantor?? kalo pulang jam segitu mending nginep aja wol, daripada gada yang berani nyulik! weeeeeekkss…. lagi kejar tayang ye jenk? sinetron kaleee…. wakakakak…

    huehehehehe…. korup waktu kerja wat bikin blog? emmmmaaaang….
    ya Illahi Dek, gila apa gw nginep di kantor, satpam kaleee….
    soalNa, gw masuk kerja tuh jam 3, n’ biasa pulang jam 8-an githu…
    klo ampe malem, biasanya sich lg bete ajah!!
    emmmm, soal culik menculik, sapa yach yg brani…..
    *NGebayaNgin Mode ON*…
    😀 😛 😀 😉 huahahahaha, kejar tayang??? emmbeeerrrr……..

  6. wuah merindiiiiiiing rasanya..!

    membaca tulisan ini. tau kenapa,,?? karena apa yg di rasakan dewi itu sama denganku..( maaf buka sok ikut-ikutan ), tapi ketika pertama kali kenal ma yg namanya dunia pesantren itu taon 1993 ( walau tidak sebesar pondok gontor ).
    dan satu keinginan aku, betapa bosannya aku ada di dunia ma’hadiayah maka ga heran waktu lulus taon 1999,
    seluruh atribut yg berbau kepondokan hampir saja ku buang total tanpa sisa. :d

    tapi skg hampir 9 taonan baru terasa kalo yg nama nya pondok itu ternyata ” hal terindah yg pernah singgah di hidup ini bwt ku “.

    dan tau ga belakangan ini do’a ku setiap abis sholat ” ya ALLAH, ijin aku berkumpul lagi di tempat yang engkau hadirkan hamba , ketika begitu banyak waktu untuk mengenal-Mu, dan tiada hari hamba hadirkan hati, jiwa dan raga ini tuk selalu ada didekat-Mu “.

    krn jujur menurut hati ini, sejak kluar dr Ma’had betapa diri ini begitu hampa akan Dia ( ILLAHI ) , dengan segudang kesibukan dunia yg tak pernah ada puasnya.
    Klao saja dunia ini bs di putar, ingin rasanya balik lagi menjadi santri…!

    maaf nya numpang curhat kehampaan di wordpress nya ..! :d:d:d

    tapi skg hampir 9 taonan baru terasa kalo yg nama nya pondok itu ternyata ” hal terindah yg pernah singgah di hidup ini bwt ku “.

    he3….. sama loh…. 🙂

  7. wuah merindiiiiiiing rasanya..!

    membaca tulisan ini. tau kenapa,,?? karena apa yg di rasakan dewi itu sama denganku..( maaf buka sok ikut-ikutan ), tapi ketika pertama kali kenal ma yg namanya dunia pesantren itu taon 1993 ( walau tidak sebesar pondok gontor ).
    dan satu keinginan aku, betapa bosannya aku ada di dunia ma’hadiayah maka ga heran waktu lulus taon 1999,
    seluruh atribut yg berbau kepondokan hampir saja ku buang total tanpa sisa. :d
    bahkan kuliah pun tak pernah ada yg berhubungan dengan dunia pesantren

    tapi skg hampir 9 taonan baru terasa kalo yg nama nya pondok itu ternyata ” hal terindah yg pernah singgah di hidup ini bwt ku “.

    dan tau ga belakangan ini do’a ku setiap abis sholat ” ya ALLAH, ijin aku berkumpul lagi di tempat yang engkau hadirkan hamba , ketika begitu banyak waktu untuk mengenal-Mu, dan tiada hari hamba hadirkan hati, jiwa dan raga ini tuk selalu ada didekat-Mu “.

    krn jujur menurut hati ini, sejak kluar dr Ma’had betapa diri ini begitu hampa akan Dia ( ILLAHI ) , dengan segudang kesibukan dunia yg tak pernah ada puasnya.
    Klao saja dunia ini bs di putar, ingin rasanya balik lagi menjadi santri…!

    maaf nya numpang curhat kehampaan di wordpress nya ..! :d:d:d
    ( soale hati ini ude penat sekali…! hingga ga sengaja browsing …)

    syukrn..

    dila

  8. saluuut… saluut… kk masih bisa mengingat detail peristiwa bertahun2 yg lalu. good… 🙂
    btw samaaaaaaaa awalnya jg aku gak mau masuk pesantren. nyenengin ortu aja. eh,,, lha kok masuk. hihihi,,,,
    tapi kita sadar dg hikmah yg terkandung dr sebuah peristiwa setelah kita menjalani.

    🙂

  9. adik saya mau masuk gontor putri. saya sudah tanya langsung ke gontor. tapi karena yang menerima santri yang masih kecil, penjelasannya kurang. tolong dong saya diberi tahu seluk beluk pendaftaran di gontor putri

    waduh, maap bangetz…kok aq ngeresponnya lammma sekalleee yach….
    btw, tanya langsungnya itu via phone apa langsung ke sana?
    mestinya sich, selalu ada ustadzah yang bisa ditanyain loh…..

  10. gilaaaaaaaaaaaaa…………..!!!!!!!!!!!!!!
    btw alumni taon berapa cih?
    dulu ane juga ngerasa kayak geto seh tapi g’ separah itu kali ………. tapi sumpah billahi ane bener2 baru ngerasain yang namanya hidup disitu, bayangin z wat makan z kudu ngantri dulu berjam-jam…begitu dapet jatah makan serasa jadi pemenang ………
    cz dah bertahan selama beberapa menit 🙂
    oia satu lagi……… name marhalahnye ape yee…..?

    huehehehe…….
    baca ’bout me’ aja, lebih lengkap ya non….

  11. Hai,,, cukup miris yawww. Dulu aku pengen ke pondok,tapi nggak jadi, takut nyesel. Padahal di pondok itu pengetahuan kita ttg agama lebih banyak. Tapi aku bersyukur kok, sekarang aku sekolah di SMP TERPADU.hehe.

    sekarang, sampai nanti….
    aku akan tetap mensyukuri kesempatan untuk di pondok…

  12. bersyukurlah atas semua yang kalian dapat. entah itu pahit atw manis.sungguh sangat beruntung bisa mondok di gontor.
    aku rasa anak pondok itu manja soal makanan. aku pernah bekerja di gontor sebagai juru masak. banyak sekali makanan yang mereka buang. harusnya sebelum makan dikira-kira ngambilnya.
    kepada seluruh santri gontor “aku tau kalian kaya tapi lihat…. di luar sana banyak yang kelaparan, jangan menyepelekan makanan. apalagi nasi. lihatlah capeknya pak tani yang merawat padi dari bibit sampe jadi padi dan akhirnya nasi yang kalian makan tiap hari”.
    ( maaf ya, coz kesel lihat santri buang-buang nasi)
    kalo kegontor 3 kediri jangan lupa mampir kerumahku. sebelah lapangan………………

    yupz….
    sedih klo ngeliat makanan dibuang sembarangan….
    rasa2nya nasehat mbak/bu Salu Aini tak hanya ditujukan utk santriwati Gontor deh…utk semuanya…siapapun

  13. uztazah dewi,,,,,
    Jejak langkah yang telah berlalu,
    Manis ataopun pahit,
    Smogalah bisa menjadi cermin bagi mata bathin kita,
    Untuk melangkah, menapaki kehidupan dengan penuh syukur dan makna bagi sesama…..

    Smoga pengalaman anda menjadikan kita bisa mensyukuri nikmat dari Nya…. amin..

    amiin….
    makasih sudah mampir ya..
    *wekz, dipanggil ustadzah rek, tenkyu… 🙂 *

  14. wah,salut saya mendengarnya.seperti saya juga merasakannya dulu masa2 duduk di kelas3 yang penuh cobaan dan pengen pulang,tapi setelah di coba lagi akhirnya sampai juga ke kelas yang lebih tinggi

    hi Zelista…
    makasih dah mampir 🙂
    eh, dari pondok mana? Gontor Putri jg kah?

  15. iya saya sampai skrg masih di gontor putri

    ow, dah jd ustadzah kah?
    ato masih tholibah nich?
    btw, maret 09 ke GP 1 tuh, tp cuman sehari 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s