PMS


Pra Menstruasi Syndrom

Sebagian kaum adam, khususnya yang belum menikah, mungkin belum begitu memahami tentang kondisi pra menstruasi syndrom (PMS) yang seringkali dialami oleh kaum hawa. Perubahan hormon yang kemudian mempengaruhi kondisi emosi terkadang dianggap remeh. Karena itulah, tak jarang muncul pertengkaran ‘yang seharusnya’  tidak perlu terjadi hanya karena si pria tidak dapat memahami kondisi emosi rekan wanitanya.

Sebagai perempuan, terkadang saya menyangkal perubahan emosi sebelum menstruasi. Ah, masak sih, saya jadi gampang marah menjelang atau selama haid? (wong gak mens aja sering marah kok, huehehehe…just kidding…).  Wajar kalau saya dan juga perempuan lain berapologi terhadap kondisi emosi yang sedikit labil menjelang atau selama haid. Yach, siapa sich yang mau dicap sebagai orang yang gampang emosional. Eits, emosional di sini tak melulu berarti marah loh. Sebab emosi juga berarti senang dan sedih. Hanya kita seringkali mengartikan emosional sebagai bentuk kemarahan.

Nah, kembali ke PMS. Ternyata saya memang mengalami perubahan emosi yang cukup cepat pada hari-hari menjelang tamu bulanan itu datang. Saraf sensitif saya langsung ON! (upzz, jangan berpikir yang enggak-enggak). Yang saya maksud adalah saya menjadi terlalu sensitif terhadap perilaku dan perkataan orang. Bila dalam kondisi normal, saya tidak akan marah karena seseorang berkata menyakitkan atau berperilaku menjengkelkan, maka saat PMS ‘menyerang’, saya bisa langsung mencak-mencak. Atau, bila saya tidak gampang bersedih dan menangis ketika menghadapi sebuah kejadian, maka saya akan berubah menjadi sangat cengeng saat PMS, hanya karena hal-hal kecil.  

Dulu, ketika masih di pondok, ada aturan tidak tertulis bagi setiap santriwati yang sedang haid untuk tidak nongkrong di depan gedung Kuwait. Karena di sana banyak ustadz-ustadz yang stand by menerima kedatangan santriwati yang hendak bertanya soal pelajaran, dll.

Kata kakak-kakak kelas, perempuan yang sedang haid tak hanya mengalami perubahan emosi tapi juga psikis. Beberapa bagian tubuh *gak perlu disebut di sini* memang sedikit berubah. Karena itulah, membicarakan atau mengaku bahwa kita sedang tidak salat karena haid di depan ustadz  menjadi hal yang tabu.

Ehm, malam ini, aku menulis soal PMS bukannya tanpa sebab sich. SoalNa, masih banyak para pria yang nggak percaya dan meremehkan perubahan emosi menjelang tamu rutin itu datang. So, buat kamu-kamu, yang masih bujang dan kebetulan memiliki pasangan yang sangat sensi menjelang menstruasi, jangan langsung ditanggapi dengan kemarahan juga. Bisa berabe tuh.

 

 

One response to “PMS

  1. Nah, bagi gadis2 yang akan menikah, sebaiknya juga memahamkan hal ini kepada suaminya kelak, supaya tidak ada salah paham 😉

    >>>>hehehehe… yupzz….betul banget tuh mbak…. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s