Mental Pencuri


Ada yang mengidentikkan perempuan dengan bunga. Setiap perempuan pasti menyukai bunga. Saya memang senang melihat bunga-bunga yang cantik, menghirup aromanya yang wangi, dan mengagumi keindahannya. Tapi saya bukan (baca: belum) termasuk golongan perempuan yang senang merawat bunga atau tanaman. Tapi tidak menutup kemungkinan di masa mendatang saya akan menjadi seorang penggila bunga dan ahli merawat aneka tanaman hias, siapa tahu.

Karena memang tidak tertarik dengan aneka bunga, maka pengetahuan saya tentang makhluk Allah yang indah itu cukup sedikit. Saya tak akan mengenali Anthurium Gelombang Cinta atau Jenmanii berharga puluhan hingga ratusan juta dengan mudah, kecuali memang ada tulisan yang menerangkannya.

Nah, rumah kos saya saat ini memiliki halaman lumayan luas yang ditanami aneka ragam bunga dan tanaman hias oleh pemiliknya. Saya katakan lumayan, sebab lokasi rumah tersebut berada di gang yang tak begitu lebar.

Jumat (28/12), sekitar pukul 13.00 WIB, saya yang sedang memilih baju di lemari, dikagetkan oleh pintu gerbang yang terbuka. Tiga orang pria, masuk ke halaman tanpa permisi dan ucapan salam. Mereka nyelonong ke samping rumah dan mencabut salah satu bunga di sana dengan santai, tanpa rasa bersalah. Mungkin karena mengira kami (anak-anak kos) sedang tak ada di rumah.

Terus terang, sebenarnya saya sendiri tidak tahu kalau saat itu mereka sedang mencabut salah satu bunga. Saya mengira para pria itu mengambil bola yang terjatuh ke halaman, yang memang kerap kali terjadi. Teman kos (Evi) di samping kamar saya lah yang memergoki aksi itu, karena jendelanya tepat menghadap ke tanaman yang diincar. Secepat kilat, Evi dan Ari (anak kos lainnya) langsung keluar dan menegur mereka.

“Eh, ngapain mas?”

“Oh, minta tanamannya, buat obat mbak. Sudah ngomong kok.”

“Ngomong sama siapa? Itu kan milik bu Andar (pemilik rumah), ayo dikembalikan!.”

Tanpa membantah, si pria yang membawa bunga kembali ke samping rumah dan keluar tanpa membawa bunga itu lagi. Saya hanya mendengar adegan percakapan tersebut sambil mengintip dari pintu. Maklum, lagi ndak pake jilbab dan sedang bersiap untuk mandi.

Setelah ketiga pria itu pergi, barulah Evi dan Ari bercerita kalau bunga-bunga di rumah sudah banyak dicuri. Karena itu, Bu Tun (ibu tetangga yang membantu kami membersihkan rumah), mencoba mengamankan salah satu bunga dengan menaruhnya di pot dan diletakkan di area jemuran yang berada di dalam rumah.

“Ooooo, itu to alasan kenapa ada bunga di jemuran, gara-gara sering dicuri. Aku pikir, bunga punya siapa. Eemang bunga apa sih?,” tanyaku.

“Nggak tahu, tapi katanya bunga itu lagi mahal. Sebenernya banyak orang yang minta bunga itu ke bu Tun, tapi ndak dikasih,” jawab Evi.

“Eh, ya udah, bunga yang tadi mo diambil dimasukin rumah aja,” jawabku.

Evi pun bergegas ke samping rumah, dan betapa kagetnya dia karena bunga itu tak ada di sana. Padahal jelas-jelas, tiga pria itu pergi tanpa membawa bunga. Karena itu, satu kemungkinan yang pasti, bunga itu dilempar keluar dari pagar tembok samping, saat si pria berlagak mengembalikan ke tempatnya, sebab kami memang tidak mengikutinya dan hanya menunggu di teras.

Peristiwa itulah yang membuat saya panas dan marah. Sudah jelas, mereka diingatkan untuk tidak membawa bunga, eh malah mencoba mengelabui kami. Tanpa menunggu lama, aku menelpon rekan di kantor dan menanyakan nomor hape salah satu wakil ketua DPRD yang kebetulan adalah ketua RW kami.

Aku langsung menelpon dan memintanya agar ‘menginstruksikan’ kepada ketiga pria yang salah satu di antaranya adalah perawat sangkar burung koleksinya itu untuk segera mengembalikan bunga. Sejak ngekos di sana, aku memang jarang berkomunikasi dengan pak RW, kecuali sapaan ringan di jalan. Mungkin, dia juga tak pernah mengindahkan keberadaanku. Baginya, siapa sih aku dan anak-anak kos yang lain. Hanya anak muda, yang levelnya jauh berada di bawahnya.

Karena itu, sambungan telpon itu adalah percakapan resmi pertama kali. Sebenarnya, aku pengin banget menggunakan nada ketus dan intimidasi (ceile, kek aku bisa mengintimidasi githu! 😉 ), tapi untung saja akal sehat masih mendominasi. Bagaimanapun, mereka warga asli di sana, kami hanya penumpang, dan tak ada pria di rumah kos.

“Kalau memang ingin minta bunga, silakan ngomong langsung ke pemilik rumah. Bagaimanapun, kami anak kos, dan diberi tanggung jawab untuk menjaga rumah ini,” tegasku.

Tak berapa lama, bunga tersebut dikembalikan. Sayang, aku sudah berangkat ke kantor. Padahal aku benar-benar ingin melihat tampang para pencuri itu.

Sekadar informasi, sampai aku menulis di sini, aku belum tahu jenis bunga yang dicuri. Setelah aku foto, dan aku tunjukkan rekan di kantor, ada yang mengatakan kalo bunga kami termasuk jenis Aglaonema. Tapi setelah melihat beberapa foto Philodendron, kayaknya kok juga mirip. Wah, aku bener-bener bingung.

****

Sebenarnya, yang membuat aku marah sampai menelpon pak RW, dan bahkan berencana melaporkan ke polisi hingga menuliskan berita itu dalam halaman kriminal di koran (yang pasti akan aku lakukan, jika dia tidak bertindak), bukan karena mendengar harga bunga itu mahal. Tapi lebih kepada sikap dan mental pencuri tiga pria itu. Wong sudah ketahuan, kok masih saja diembat!.

Jika mereka meminta kepada kami dengan baik-baik (bukan ke ibu pembantu yang memang tak punya wewenang), mungkin akan kami izinkan. Lagi pula, ada banyak bunga di sana, dan ibu pemilik rumah pasti juga akan memberikan bila ada yang meminta. Tapi ya itulah, saat ini banyak orang yang bermental pencuri. Mereka lebih memilih mengambil barang tanpa sepengetahuan si pemilik, dari pada harus izin. Dan orang-orang seperti ini harus diberi pelajaran!!.

****

Sayangnya, pagi ini aku baru tahu kalo bunga sejenis dengan usia lebih tua setinggi lebih dari satu meter raib dicuri seminggu lalu. Ibu Tun baru melapor hari ini…duh……

Masa Lalu, Sekarang, dan Masa Depan


Jangan pernah melupakan, atau bahkan sengaja menghilangkan momen yang pernah terjadi dalam perjalanan hidup. Karena setiap peristiwa, yang kecil atau yang besar, yang menyenangkan atau menyedihkan adalah pelajaran.

Peristiwa menyakitkan dikenang bukan untuk dijadikan hantu-hantu malam, tapi menjadi pengingat agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama. Begitu juga dengan kejadian menyenangkan, selalu diingat bukan untuk dijadikan pemuas ego dan kesombongan, tapi motivasi untuk lebih maju dan menjadi insan yang lebih baik lagi.

Masa lalu, saat ini, dan masa depan, memiliki mata rantai yang tak akan terputus. Ibarat puzle, kita tak dapat menyembunyikan atau menghilangkan satu keping pun, karena akan membuatnya tak sempurna. Bahkan, mencoba mengganti kepingan kusam dengan satu keping sejenis yang baru, tetap akan terlihat dengan jelas. 

Begitu juga dalam hidup, kita tak dapat berbohong dan mencoba menciptakan sejarah baru, hanya untuk membuat perjalanan hidup terlihat indah. Sekeras apapun kita menyangkal secuil peristiwa menyedihkan, menyakitkan, atau memalukan, ia akan tetap datang dan menampakkan diri di depan mata. Sekarang, tinggal bagaimana kita menyikapi dan melihat peristiwa tersebut, lalu belajar darinya. 

Efek dari Nama Dewi Yuhana


Nama Dewi Yuhana diberikan oleh kedua orang tuaku bukan tanpa alasan, asal nyomot, ato ikut-ikutan saja. Ada sejarah panjangnya. Bahkan, klo nggak salah sempet juga melalui konsultasi ke salah satu kyai (duh, sebegitunya yakz?!…).

Sekilas, penyebutan dewi yuhana terdengar menjadi yohana. Akhirnya, banyak orang yang beranggapan kalo aku adalah muallaf. Bahkan ketika di ma’had dulu, ustdz Siti Aisyah (ustdzh cantik yg mengajar bahasa Inggris) dengan terus terang menanyakan apakah aku dulu non muslim. Weleh deleh!! ya jelas saja I said NO!!

Wong sejak di dalam kandungan, selalu diperdengarkan ayat suci Alquran, diadzani saat lahir dan melihat dunia untuk pertama kalinya, hingga dididik dalam lingkungan agamis Islami, ya tentu saja aq sudah muslim sejak dulu. Tapi lagi-lagi, karena nama banyak yang salah paham. Bahkan, beberapa relasi yang sering berhubungan dengan aku tapi belum pernah bertemu langsung, tak hanya mengira aku non muslim, tapi sudah yakin bener.

So, di penghujung tahun seperti ini, beberapa kali aku mendapat ucapan selamat hari raya milik salah satu agama. Bahkan, ada juga yang sempat mengirim kartu ucapan ke kantor!!

Tadi siang, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan salah satu PR dari sebuah perusahaan asuransi terbesar di Indonesia at Santika Hotel. Ketika aku menyebutkan nama, dia langsung terkejut, speechless, dan melihatku dari atas sampai bawah. Aku pun paham dengan keterkejutannya.

“Ya ampun mbak, maaf selama ini saya mengira mbaknya… ya tau sendiri lah…hehehe3.. jadi malu.”

Padahal aneh juga, tiap dia telpon I always say Assalamualaikum. Pas dia tanya kabar, selalu kujawab Alhamdulillah, kabar baek. lha kok masiiih aja diragukan… 😉

Jualan Puls@


Setiap peristiwa selalu memiliki hikmah. Gusti yang Maha Agung tak akan pernah membiarkan hamba terkasih merana. Paling enggak, aku merasa begiitu disayangi dan dirahmati oleh Sang Pencipta Alam Semesta dari setiap hal yang aku rasakan dan aku alami.

Beberapa waktu lalu, hapeku (GSM) terjatuh dan terlindas mobil, langsung ringsek. Keesokan harinya aku memutuskan untuk membeli penggantinya. Saat pemilik counter mengantarkan hape ke kantor, iseng aku menanyakan apakah dia bisa menyelematkan memory telpon, SMS, dan pic yang tersimpan di hapeku yang sedang sekarat. Karena setelah insiden hape terlindas mobil itu aku baru sadar, ternyata semua nomor telpon teman dan relasi aku simpan di memory hape, bukan simcard.

Mendengar permintaanku, dia tidak bisa menjanjikan, tapi tetap membawa hapeku yg sudah penyok. Keesokan harinya, aku mendapat kabar klo semua memory bisa diselamatkan. bahkan, hapeku bisa difungsikan lagi dengan mengganti komponen (yang aku nggak ngerti dan ndak mau tau apa itu). Alhamdulillah, hape itu bisa selamat. Duh, senengnyaaa. Maklum, hape itu pemberian dari seorang relasi setahun lalu, saat dia merasa kasihan melihatku sangat ‘nelongso’ setelah kecopetan hape.

Sebagai sebuah pemberian, hape itu tentu sangat memiliki makna. Jadi sejelek apapun keadaannya, aku bakal berusaha untuk tetap ‘menghidupkannya’. Untuk mengingatkanku, bahwa di suatu masa, masih ada seorang yang respek dan percaya kepadaku.

Setelah selesai perbaikan, ternyata hapeku memang bener2 bisa hidup. Oh, Allah bener2 begitu menyayangiku. Sekali lagi, Alhamdulillah…..

****

Nah, jumat malam, Ervin, salah satu temen ngajakin makan di Pulosari. Dari perbincangan iseng saat aku menanyakan bisnis counternya, aku memutuskan untuk mendayagunakan hapeku untuk jualan pulsa, wkekekekek… jadi pedagang nich… 😉 😉 😛

 

Sehari bersama Hilmi


hilmi-tante

sbenernya seh ada foto pas renang tuh, cuman lupa simpen *_^

gud mom, wanna be..huehehehe. yach, paling enggak sabtu (15/12/07) lalu aq dah jadi tante yang baik untuk Hilmi. Ehm, pastinya dech, dia makin sayang n’ bangga sama tantenya yang cantik ini (upz!! keluar dech narsisnya…)

Jam 10.00 WIB, aku membawa ponakanku ke Play Ground deket Matos. Kita langsung menuju kolam renang dan dengan dengan semangat, Hilmi mengganti baju dan nyebur ‘plung’ ke kolam yang cetek itu.

Melihat wajahnya yang polos, menjadi sebuah hiburan tersendiri saat aku begitu memikirkan bapak dan ibu di rumah. Aku semakin terpana dan tersenyum sendiri melihat ponakanku itu langsung mendapat banyak teman dan akrab dengan mereka. Bahkan, tanpa dikomando, segerombolan bocah itu membuat lomba seluncur.

Yach, anak kecil memang selalu polos, jujur, dan mampu mempercayai temannya 100 persen. Tak ada perasaan curiga, apalagi intrik. Kita, orang dewasa sekali waktu memang harus meluangkan waktu untuk belajar tentang kepolosan dan rasa percaya yang dimiliki anak kecil.
Mereka akan mengatakan apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan, tanpa beban. Itu juga yang mengilhami dan memberiku keberanian untuk mengakui perasaan yang pernah dan masih aku rasakan kepada seseorang, di malam harinya.

miz U Pak…


Sabtu (15/12), mas Prim telpon. Tumben nih, pikirku.

“Dewi, hari ini ada agenda enggak,” tanyanya.

“Ehm, belom tau sich, kenapa mas?,” kataku. (sebenarnya ada diskusi soal penggusuran PKL Trunojoyo di kantor, tapi aku diem aja).

“Gini, aku sama mbak Eva harus ikut seminar di UM. Bisa titip Hilmi nggak. Lagian Hilmi pengin berenang ma tantenya. Dari rumah dia udah nyiapin baju renang tuh”.

“Huwaaa, ya mau dunk!! jam brapa?!”. Aku bersemangat menjawab karna emang kangeeeen berat ama ponakan satu itu (emang masih satu, huehehehe..).

“Jam 8 ato 8.30 aku ke kosmu”.

“Yup, Im waiting”.

Aku pikir mas Prim berangkat dari Tulungagung, jadi sehabis terima telpon, aq balik lagi ke peraduan. SoalNa, beberapa minggu terakhir, tidurku selalu di atas jam 1. Nggak tau kenapa, tiap mejamin mata, jadi keinget banyak hal. Ah, biarin, yang penting bentar lagi ketemu sama Hilmi, setelah pertemuan sebentar dua hari sebelum lebaran Idul Fitri lalu.

Jam 8.15, nggak taunya Hilmi datang. Waaah, dia udah tambah tinggi, dan tentu aja tetep ndut!!!. Setelah berbincang sebentar, masku langsung cabut ke UM. Saat itulah Hilmi cerita kalo Abah *bapaknya mbak Eva, mbak iparku* sakit. “Tante, abah dirawat di rumah sakit. Mama ikut menjaga Abah,” katanya.

“Oh, sakit apa Hilmi?.”

“Nggak tau aku. Oia tante, papanya papa juga sakit loh,” kata Hilmi lagi dengan nada sedikit cuek. Mendengar itu, sepintas aku cuek, lalu terkaget-kaget. Halah dalah!!, papanya papa Hilmi, itu kan bapakku. Masak bapak sakit? lha wong hampir tiap dua hari sekali dalam seminggu terakhir bapak telpon aku terus.

“Eh, maksud Hilmi, papanya papa itu mbah haji (baca: mbah kaji. panggilan Hilmi ke bapakku)?,” tanyaku serius.

“Iya, mbah haji. Perutnya sakit, kecapekan sama klo *** (sensor),” cerita Hilmi dengan detil.

Waduh, kok bapak sama ibu gak cerita sich. Ya udah, akhirnya aq langsung telpon dan diterima oleh bundaku, yang langsung aku berondong dengan pertanyaan tentang sakitnya bapak. Ibu mengiyakan dan mengatakan klo bapak mang meminta dia untuk tidak memberitahukan kepadaku. Duuuh, jadi sedih plus pengin pulang banget…

Dari ibu aku juga tau klo Hilmi mungkin mendengarkan sakitnya bapak dari perbincangan beliau dengan mas Prim. Tapi dari situlah akhirnya aku semakin mengerti dan mengetahui kalo memory anak kecil memang sangat kuat sekali.

 

gEngSi


“Udah, jangan gengsi githu donk!, ntar nyesel loh…!”

Rasanya, kalimat itu menjadi ‘nasehat’ yang sering banget dilontarkan orang kepadaku dalam beberapa minggu terakhir. Dari Anita, temen kantor, dan terakhir dari Mba A’yun, yg berpetuah kepadaku via telpon di pagi hari.

waduh, sebenernya pengin banget berbagi cerita soal gengsi ini kepada Anda semua, yang kebetulan mampir dan singgah di rumah mungilku ini. Tapi ya itu, rasanya detik ini aku sedang dikuasai oleh rasa gengsi, sehingga tak mungkin aku berbagi kelemahanku kepada Anda. 😉

>>bukannya tulisan dua alinea ini pun sebenarnya sudah berbagi? ah, whatever lah…xixixixi…