Menulis Itu Mudah


Sambil menunggu upload file imel kemarin malam (Kamis/24/1/08), saya sempat ngobrol sebentar dengan Rama, yang mengaku bekerja di salah satu PTN di Malang (Rama, ndak apa2 to,namamu tak tulis di sini). Karena ini terkait dengan pertanyaanmu “Mbak gimana caranya nyari ide untuk menulis?”.

 

Pertanyaan seperti ini seringkali dilontarkan oleh para peserta diklat, pelajar SMA, mahasiswa, para tamu yang berkunjung ke kantor, sampai teman-teman terdekat saya. Nah, menjawab pertanyaan Rama, spontan saya menjawab “Loh, banyak idenya. Tergantung kamu mau nulis apa, berat atau ringan. Misalnya, tulisan tentang kamu yang sedang jatuh cinta, penerapan SPP Proporsional di Unibraw, Pilkada Kota Malang, musibah yang terus terjadi di Malang dan daerah-daerah lain di Indonesia, dan masih banyak lagi”.

 

Setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita dapat dijadikan ide menjadi sebuah tulisan. Beberapa hari lalu, saat berbincang dengan Mas Jamal, secara tiba-tiba saya mendapat ide untuk menulis setelah mendengar dia terus berucap “Syukurlah”.

 

Kembali kepada tema tulisan, ketika saya menyodorkan alternatif topik tersebut, Rama menjawab “Ah, otak dan pemikiran saya ndak sampe ke sana”. Jawaban yang saya yakin hanya bohong semata, maklum lah, kita tidak ngobrol langsung dan bertatap muka, tapi via YM. Dan seperti yang sudah kita ketahui, segala sesuatu dapat terjadi di dunia maya, setiap orang bisa berubah peran, berkata sesukanya, dan membalikkan keadaan. (mungkin) begitu juga dengan Rama, dia bercanda dan pura-pura ndak ngeh dengan topik tersebut.

 

Kenapa saya usulkan tema tentang jatuh cinta, ya karena setiap orang mengalaminya. Meski mungkin tulisan tersebut tidak untuk dipublikasikan, hanya sebagai pembelajaran saja, kecuali jika memang Rama atau Anda ingin berbagai indahnya kisah cinta yang pernah atau sedang dialami dengan masyarakat dunia maya. SPP Proporsional di Unibraw yang memberlakukan nominal SPP berbeda antara mahasiswa dari keluarga kaya dan kurang mampu, cukup layak diangkat menjadi sebuah tulisan, sebab rencana pemberlakukan konsep tersebut sempat mendapat penolakan dari mahasiswa.

 

Selain itu, meski SPP Proporsional berangkat dari prinsip keadilan, proses untuk menentukan mahasiswa X termasuk golongan kaya atau kurang mampu juga tidak mudah dilakukan. Nah, Rama yang bergelut di dunia pendidikan, tentu lebih memahami dan mungkin memiliki masukan serta solusi praktis dan cerdas agar SPP Proporsional dapat diterapkan dan sukses.

 

Begitu juga dengan Pilkada. Setelah Batu, Kota Malang sebentar lagi akan segera menghelat proses demokrasi tersebut dalam beberapa bulan ke depan. Sebagai warga Malang, Rama mungkin memiliki harapan sosok pemimpin ideal yang seharusnya dipilih masyarakat. Atau, mempunyai koreksi terhadap pembangunan dan kebijakan yang sudah diterapkan di kota ini,sehingga para calon wali kota dapat membenahinya ketika mereka terpilih nanti.

 

Tentang musibah, sebagaimana Anda ketahui, beberapa daerah di Indonesia dilanda musibah yang sama, banjir. Rama, atau siapapun bisa mengusung tema banjir untuk dijadikan tulisan. Mungkin tidak melulu sebagai sebuah tulisan yang menghujat dan menghakimi pemerintah karena penanganan pasca bencana yang kurang optimal atau pencegahan yang seharusnya dapat dilakukan tapi tak pernah dilaksanakan. Tapi tulisan yang mengajak masyarakat untuk sadar menjaga lingkungan, mengedukasi masyarakat agar berani meminta, ‘berteriak’ dan melakukan control kepada pemerintah agar benar-benar melaksanakan program yang terkait dengan lingkungan dan pembangunan infrastruktur sehingga dapat mencegah atau meminimalisir musibah seperti banjir.

 

Yang jelas, banyak tema yang layak dan menarik untuk ditulis. Kita hanya dituntut untuk lebih ‘melihat, mendengar, dan merasakan’, sehinga dapat berempatik dengan setiap kejadian. Bukan hanya cuek dan mementingkan urusan pribadi.

****

 

Jika boleh bercerita, saya (dulu) bukan termasuk orang yang suka menulis. Menulis diary pun (aktivitas yang banyak dilakukan kaum remaja, khususnya perempuan) juga jarang saya lakukan. Menulis materi dan tugas mata kuliah, saya malas melakukannya (yang ini jangan dicontoh ya?!). Yang jelas, saya tidak suka dan tak bisa menulis. Menulis dalam arti harfiah melakukan aktivitas penulisan dengan pensil dan pena, atau menulis yang berarti sebagai ungkapan pemikiran, ide, dan opini tentang sesuatu.

 

Tapi jangan ditanya kalau disuruh untuk ngomong, berbicara, berpidato, dan apapun istilah lain untuk kegiatan verbal, saya tidak akan pernah menolak. Saya paling suka menjadi moderator diskusi di kelas, sampai dijuluki ratu diskusi. Rekan-rekan juga lebih senang saya jadi moderator, sebab saat menjadi audiens saya pasti menjadi penanya aktif (eits, saya tak bermaksud mengajak Anda untuk menilai bahwa saya orang yang analitis. Alasan saya aktif bertanya hanya untuk mengumpulkan poin penilaian dosen saja kok, he3).

 

Saya juga sering menjadi corong alias pembicara di kelompok, sebagai barter saya tidak ikut mengerjakan atau menulis tugas. Pernah, saya terlambat masuk kelas padahal kelompok saya sudah diminta melakukan presentasi di depan. Saya masuk dan langsung duduk di kursi di depan kelas, mempresentasikan tugas yang belum saya baca. Alhamdulillah sukses.

 

Contoh di atas bukan bertujuan untuk menonjolkan diri. Karena kemampuan saya sebenarnya memang tak se-wah apa yang saya tulis. Saya berani berbicara karena saya termasuk tipikal orang yang cuek, nekad, dan mungkin ngeyel-an (he3). Nah, sayangnya tipe orang seperti saya ini cukup banyak di Indonesia. Pintar ngomong, tapi tidak bisa (baca: tidak mau) menuliskan apa yang dibicarakannya secara sistematis. Padahal tulisan adalah bukti dan dokumentasi otentik sepanjang masa (duileee), dan dapat dijadikan bahan referensi oleh orang lain. Bagaimanapun, otak yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia memiliki keterbatasan. Manusia tak selamanya dapat mengingat ilmu, teori, dan pengetahuan yang dimiliki. Nah, lewat tulisan lah dia bisa berbagi dan mengabadikan ilmunya.

Menyadari tidak bisa menuliskan ide dan pemikiran, diam-diam saya berusaha untuk belajar menulis. Mulai dari mencoba menuliskan setiap detil peristiwa yang saya alami sehari-hari dan berusaha membuat konsep tulisan serius seperti yang biasa dimuat di media massa. Ini saya lakukan saat saya duduk di semester lima atau enam (saya lupa). Sayangnya, saya bukan orang yang telaten dan langsung putus asa, begitu saya tak menghasilkan karya satu pun. Bagi saya, menulis merupakan pekerjaan berat dan tak mungkin saya lakukan.

 

Sampai kemudian saya ngiri dengan prestasi rekan-rekan di HMI yang tulisannya dimuat media massa. Saat saya membaca artikel mereka, saya merasa tema yang diangkat biasa-biasa saja, alias saya merasa saya dapat menuliskannya. Atau, terkadang tema tersebut sebenarnya juga pernah terlintas dalam pikiran, namun tak kunjung saya realisasikan dalam sebuah tulisan. Anda tahu bagaimana reaksi saya kala itu?

 

Saya hanya berkata “Ah, kalau begini saya juga bisa. Dia aja lebih dulu ngirim ke Koran”. He3, kalimat ini adalah pernyataan yang sering dilontarkan mereka yang gampang merasa iri dengan prestasi atau kesuksesan orang lain, namun tak pernah berusaha untuk mencapai dan menggapai prestasi tersebut. Rasa iri tak selamanya negatif, jika kita mencoba mengalihkannya menjadi motivasi untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, iri akan berubah menjadi racun mematikan yang dapat merusak diri di kala kita terus menyimpan dan bahkan menyiramnya hingga tumbuh subur.

 

Dalam perjalanan aktivitas di HMI, saya kemudian terpilih menjadi pejabat Ketua HMI Komisariat Psikologi. Ego sebagai ketua sempat menggelitik dan menantang saya untuk dapat menghasilkan tulisan atau artikel yang dimuat di Koran. Sekali lagi sangat disayangkan, lagi-lagi saya tidak berhasil menyelesaikan setiap artikel yang saya tulis. Hingga suatu hari, saat kami sedang promo HMI kepada mahasiswa baru di samping pintu gerbang masuk UMM, Jamil –anggota yang notabene adik tingkat- menunjukkan artikelnya yang dimuat di harian pagi Malang Post. Temanya amat sangat sederhana, bahaya merokok.

 

Bukannya saya memuji dan membuatnya bangga, saya kembali berkomentar “Ah, aku juga bisa nulis yang begini ini”. Saya kembali melakukan mekanisme pertahanan diri (meski salah). Hanya, peristiwa kali ini lebih membekas dibandingkan saat saya melihat artikel teman-teman se-angkatan. Membekas, karena saat itu saya sudah mau lengser dari ketua dan sedang bingung memikirkan aktivitas apa yang akan saya jalani setelah itu. Wah, wah…gejala post power syndrome neh.

 

Karena itulah, tanpa sepengetahuan teman-teman komisariat, saya ikut diklat jurnalistik yang digelar oleh harian pagi Malang Post. Saya belajar teori jurnalisitik dari nol, mengikuti program magang yang ditetapkan, dan tentu saja ‘dengan terpaksa harus menulis’.Diklat tersebut ternyata tidak sia-sia, paling tidak saat ini saya bisa mengungkapkan ide dan pemikiran melalui tulisan.

Mendadak Suka Sepak Bola


Dari dulu, aku bukan penggemar bola. Nggak pernah dengan sengaja nonton pertandingan sepak bola, baik di tipi ato permainan langsung di stadion. Aku juga nggak pernah hapal dengan para pemain sepak bola, mo dia cakep, kerrren, ato predikat  lainnya, kecuali si Beckham n’ Ronaldo (teuteuepp, he3). Padahal, banyak banget pemain sepak bola Arema, Persema, dan klub lain yang mampir ke kantor. Mo sendirian, berduaan, sampe se-klub. Tapi ya itu, namanya aja nggak suka ama sepak bola, kedatangan mereka pun tak pernah aku lirik sama sekali.

Tapi saat aku sakit dan membaca berita tentang anulir gol Arema oleh wasit di Kediri, menyusul kerusuhan yang terjadi setelah itu, aku mulai melirik berita-berita olahraga, khususnya yang berkaitan dengan Arema. Secara, berita Arema dan Aremania selalu menempati headline di Malang Post dan halaman Olahraga Jawa Pos dalam beberapa hari terakhir. Aku, menyempatkan diri membaca berita-berita itu sesaat sebelum tidur. Eh, meski ndak ikut ngeliat pertandingan di Kediri, aku ternyata bisa memahami kekesalan Aremania.

Lha wong aku yang notabene bukan gibol, jadi sebel setelah ngebaca berita dan track record Djajat dalam beberapa pertandingan ‘rusuh’, gimana mereka, para supporter yang jelas-jelas amat sangat mencintai dan mendukung klub sepakbolanya. Ya pasti sebel, se-sebel-sebelnya. Marah, semarah-marahnya, sampe nekat nimpuk wasit ato ngebakar fasilitas stadion (aksi ini sebenarnya sangat aku sayangkan, lha sebelumnya Aremania kan mendapat predikat supporter terbaik?). Tapi ya itulah, kumpulan massa yang merasa kecewa secara psikologis memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang tak berani dilakukan saat sendirian (merusak, melempar, de el el).  

Sore ini, saat melihat temen2 kantor bersemangat menonton pertandingan lanjutan antara Arema dan Persiwa di anTV (tanpa penonton di stadion), aku ikut merasakan gairah mereka. Kekesalan saat gol tidak masuk, dan sensasi lainnya. Wah, keknya aku kok jadi mulai suka ama sepak bola nich.

Menguras Energi


Penyembuhan tipus memang bisa dilakukan dengan cepat dan cukup gampang. Asalkan panas tubuh turun, rasa pusing hilang, berarti kita sudah sehat kembali. Hanya saja, sehat disini bukan berarti kondisi badan sudah fit seperti sediakala, saat sebelum saya dinyatakan terkena tipus.

Buktinya sore ini, saat duduk manis di depan komputer, ada puluhan anak dari salah satu MAN Lamongan yang berkunjung ke kantor, mendatangi saya dan menanyakan berbagai macam pertanyaan seputar kinerja karyawan. Saya, yang memang tipikal orang yang bersemangat menjawab pertanyaan, secara spontan menjawab pertanyaan tersebut. Dari satu pertanyaan muncul pertanyaan lain. Dari 10-an orang siswa yang mengelilingi meja saya bertambah menjadi lebih dari 20. Mereka semakin bersemangat bertanya, dan saya tetap mencoba bersemangat menjawab.

Bagaimanapun, kita tak boleh mematikan rasa ingin tahu seseorang dengan menjawab asal-asalan. Saya mencoba menghargai mereka sebagai tamu perusahaan sekaligus generasi muda yang layak mendapat sedikit ilmu (ceilee) yang saya punya, karena itu saya tak mau setengah-setengah menjawab. Saya jawab dengan memberikan beberapa contoh, joke, dan juga berusaha sedikit memberi motivasi agar mereka ke depan bisa bersikap dan berperilaku sebagai generasi yang berguna bagi bangsa dan negara. Secara, biasanya saya juga yang menerima tamu dan berperan sebagai corong perusahaan. Menjelaskan cara kerja dan bla, bla, bla, lainnya.

Tapi sejak sakit sampai masuk beberapa hari ini, belum sekalipun saya menerima tamu, dan malez juga. Maklum lah, kondisi saya memang belum sepenuhnya fit. Bahkan, menjawab beberapa pertanyaan anak-anak SMA hanya selama 15 menit itu ternyata begitu menguras energi. Keringat dingin langsung keluar, dan rasa hangat muncul dari badan saya. Duuuh, kok sebegitunya seh? Ya Allah, hanya kepada-Mu hamba memohon untuk selalu diberi kesehatan lahir, dan batin.

Sesaat sebelum tamu datang, saya sempat makan di kantin kantor dan berbincang sebentar dengan direktur yang mengatakan proses pemulihan tubuh setelah sakit tipus membutuhkan waktu lama. “Paling enggak kamu butuh waktu sebulan lebih lah, baru bisa fit lagi,” kata si bapak sambil menceritakan pengalamannya saat merawat istri tercinta.

Duh, seandainya temen-temen lain di ruangan juga menyadari…..

Talking bout Love


Akhir tahun lalu, aku berkenalan dengan seseorang, dan terjadilah sebuah obrolan singkat. Meski hanya sebentar, obrolan itu memberi kesan mendalam bagiku. Yach, paling tidak aku ingin berbagi dengan Anda semua yang kebetulan mampir di sini tentang pola pikir teman baruku yang awal Januari lalu melangsungkan pernikahan.

Tema obrolan kita kala itu sebenarnya amat sangat banyak. Mulai dari kondisi bangsa (duh, seriuuus nech), agama, menyinggung sebentar soal Gontor (karena kebetulan, dia alumnus dari pondok yang berlokasi di Ponorogo itu). nah, sesuatu yang ingin aku share di sini adalah prinsipnya tentang cinta. Waktu itu, dia bercerita akan menikah awal Januari, dengan seorang wanita yang baru ditemui setelah lebaran atau sekitar Oktober.

“Yupz, aku ketemu pas lebaran. Ngerasa cocok, dan setelah itu langsung dech aq minta dia untuk mendampingiku, menjadi ibu dari anak-anakku,” katanya.

“Wuih, cepet banget yakz?,” kataku.

“Cepet gimana?”.

“Prosesnya, dari ketemuan sampe proses keputusan untuk merit”.

“Sebenernya nggak juga sich. Karena menurutku, proses mengenal lebih jauh akan terjadi usai pernikahan. Cintailah orang yang kau Nikahi bukan “Nikahilah org yg kau Cintai”, itu prinsip aku”.

kEna TIPUS? kok BISA…..


“Maaf, aku nggak bisa dateng ke acaranya. Lagi sakit nich,” jawabku saat ditelpon seorang temen.

“Sakit apa? pantes, suaranya lemah”.

“Kena tipus nich”.

“Loh, kok bisa?”.

“Ya, buktinya bisa. Nggak usah kaget githu, wong aku sendiri juga kaget. Kok bisa sakit ‘semi serius’ hehehe”.

****

Pertanyaan ‘Loh, kok bisa?’, selalu dilontarkan secara spontan oleh temen-temen yang tau aku sakit. Yach, maklum juga sich klo mereka kaget saat mendapati aku sakit, dan bener-bener sakit. Bukan cuma flu, batuk, ato demam biasa. Tapi kena tipus!.

Aku, yang biasanya selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan, harus rela terkapar tak berdaya, doing nothing, istirahat total tal, tal, tal!. Meringkuk rapat di kamar kos yang tak luas, di atas kasur yang keras, dan hanya ditemani my luv bro, Aziz. Duh, kessiiiaaaannya!!.

Sebenernya, pengin banget pulang ke Tulungagung. Cuma ya itu, ngebayangin perjalanan ke rumah, rasanya kepala udah puyeng, perut mual, dan the answer is NO!, I’ve to stay di Malang. Lagian, kalo aku pulang pasti ngerepotin my mom, dan semakin membuat dia capek. meskipun, klo boleh jujur, I miz her so much. Biasalah, anak kos klo lagi sakit pasti inget ama keluarga di rumah, yang terbiasa merawat dan memanjakan kita. hikz, hikz, hikz…

Ada temen yang nyaranin untuk opname. Tapi aku sendiri gak suka ‘bau’ rumah sakit, dan membayangkan suntikan infus. Duh, EnggAKK!!!. 

Selain itu, meskipun kasur di kosku udah keras dan gak layak pake, paling enggak ukurannya jumbo, lha klo di RS? pake single bed githu, pasti aku gak bakal bisa muter-muter pas tidur. (xixixixi….panas tubuh yang tinggi emang ngebuat aku tidur dalam berbagai gaya dan pose 😉 ).

Yang menyedihkan, penyakit yang menyerang usus halus dan disebabkan bakteri Salmonella Thypi ini bisa kambuh (lagi) dua minggu setelah pemberian antibiotik. So, penderitanya memang diwajibkan untuk mentaati setiap perintah dan larangan dokter. Misalnya aja, harus makan makanan yang halus, tidak boleh pedas, mengurangi makanan berserat, dan tentu saja harus menjaga stamina dan menghindari rasa lelah berlebih.

Yang terpenting juga, KEBERSIHAN makanan musti dijaga. Maklum dech, penyebab bakteri itu bisa masuk dan menyerang usus halus, salah satunya emang dari makanan yang kurang higienis. (duuuuh, berarti gw nggak ngejaga kebersihan?!) eits No!. Siapa sich yang mau makan makanan gak higienis? Pasti ga ada yang mau dunk!!. Hanya saja, aku yang emang langganan makanan ‘warung n’ kantin’, emang kudu hati-hati memilih makanan dan higienitasnya. Selain tentu saja, stamina dan imun tubuh yang harus diperhatikan. Sebenarnya, klo badan dalam kondisi fit, pasti dech penyakit itu gak bakal dateng. Dan kalo diinget2 lagi, dua minggu sebelum terkapar sakit, aktivitasku emang meningkat tajam!.

Dalam sehari, aku pernah pergi-pulang dari Malang-Semarang-Tulungagung! (sebenarnya, pengalaman di perjalanan itu mo aku tulis juga di sini, tapi belom sempet). Selain itu, pulang ke Tulungagung malem hari dan balik ke Malang keesokan harinya untuk kemudian langsung bekerja, juga aku lakukan beberapa kali. Belum lagi, pola makanku yang emang berantakan. ya sudah, emang gak salah kalo si tipus itu dateng!. Mungkin itu juga cara Allah mengingatkan aku untuk memperhatikan tubuh pemberian-Nya, menyayangi dan merawatnya sebaik mungkin. Mungkin juga, Dia mencoba ‘menggelitik’ aku untuk melakukan perenungan, yang tak akan bisa aku lakukan saat sehat. Dan, masih banyak kemungkinan lainnya. Yang jelas, ada banyak pelajaran dan hikmah yang seharusnya aku peroleh dari nikmat sakit yang sudah dianugerahkan oleh Sang Maha Kuasa.

****

Datangnya tipus, benar-benar tak bisa aku prediksi sebelumnya. Sebab hari dimana aku sakit, aku tidak merasakan clue ataupun gejala-gejala yang menunjukkan aku akan sakit. Hari itu (Jumat, 4 Januari 2008), aku berangkat ke kantor seperti biasa. Pukul 15.30 WIB, saat mulai rapat redaksi, aku merasa sedikit demam.

“Opo’o Han?,” tanya mas Indra saat melihatku memeluk tubuhku dengan kedua tanganku.

“Nggak tau nih, nggreges,” jawabku.

“Wah, ati-ati, pancaroba. Mau flu tuh,” celetuk rekan yang lain.

Setelah rapat, aku semakin merasa kedinginan dan mematikan salah satu AC. Anita, rekan di samping mejaku berkomentar. “Ah, ente sakit kali. Wong aku lho nggak ngerasa kedinginan, biasa aja hawanya!”.

Aku mengiyakan dalam diam. KArena setelah itu, bukan cuma dingin menggigit yang aku rasakan, tapi juga rasa pusing luarrrr biasa. Bahkan, saat wudhu salat maghrib aku semakin gemetar dan menggigil kedinginan. Begitu juga ketika ruku dan sujud, kepala rasanya seperti dipalu dan dipukul berulang-ulang. Setelah itu, aku bekerja seperti robot. Tak bisa merasa, dan hanya melakukan editing super cepat.

Saking pusingnya, aku pulang kantor lebih sore dan tak ikut rapat malam. Itupun aku minta diantar salah satu rekan kantor. Sampai di rumah, aku langsung tidur dan berharap kondisiku bisa fresh keesokan harinya.

Ternyata, saat bangun untuk salat Subuh, rasa pening dan panas yang aku rasakan semakin menggila. Saat berjalan ke kamar mandi, aku harus berjuang mati-matian, berpegangan ke dinding agar tak terjatuh. Upz!!, bulu kudukku langsung berdiri saat air dingin membasahi tangan dan wajahku. Rasa pening pun semakin bertambah. Heran juga, pagi itu aku bisa kembali ke kamar dengan selamat dan masih sempat  membawa ember (huehehehe, tau kan manfaat ember? yupz!!, untuk menampung semua yang kukeluarkan dari perutku 😉 ).

****

Untung, adekku hari itu ada di Malang. Dia lah yang akhirnya merawatku, membawa ke dokter, dan meladeni celotehanku yang tanpa makna (saking panasnya tubuh, aku ngoceh terus menerus).

“Iya mbak, habis ngomong A langsung pindah ke Z. Coba waktu itu, aku rekam, pasti dech sampen tertawa mendengarnya. Lucu bangetz!!,” katanya.

>>>untung, dia lupa nggak ngerekam. Waaaah, bisa menurunkan pamor dan derajatku tuh…. yach, anyway busway, many thx untuk Aziz, yang dengan telaten menungguiku, menyiapkan segala makanan, dan obat yang aku perlukan. Eits, trus sekarang mengantar dan menjemputku di kantor…