Berani Mengkritik


“Jika ingin maju dan berkembang, kamu harus berani menerima kritik. Menjadikannya pelajaran untuk tidak mengulagi kesalahan yang sama dan membuatmu termotivasi untuk berbuat dan bersikap lebih baik lagi”.

Nasehat seperti ini dengan kata-kata berbeda, mungkin pernah Anda terima atau dengar dari seseorang. Bagus dan memang seharusnya begitu. Mau menerima kritik dengan lapang dada adalah wujud dari kedewasaan dan kematangan diri. Sedangkan kemampuan menganalisa dan menginterpretasi kritikan dengan tidak menerima mentah-mentah setiap kritik yang terlontar, merupakan bentuk kecerdasan yang tak semua orang memilikinya.

Tulisan tentang bagaimana seharusnya sikap seseorang yang mendapat kritik sudah sering ditulis, diulas, dan kita dengar. Tapi masih sedikit sekali yang membahas dan mengajak orang untuk ‘berani mengkritik’. Berani di sini, maksud saya, adalah sikap seseorang yang memang secara nyata ‘berani’ mengungkapkan pokok pikirannya berlandaskan fakta yang diimbangi dengan sikap bertanggung jawab atas efek yang ditimbulkan. Bukan sekadar berucap ‘kritik’ dengan menghujat, mencela, dan menyalahkan orang lain berdasarkan penilaian subyektif, apalagi mengaitkannya dengan hal yang tak ada hubungan dengan masalah yang ia kritik.

 

Berani mengkritik berarti jujur atas kritikan yang dilontarkan, paham dengan masalah yang diperdebatkan. Lebih fokus lagi, jujur yang saya maksud adalah ‘keberanian’ mengakui bahwa kalimat kritikan yang diucapkan murni tercetus dari hasil pemikiran kita. Tidak mengatas namakan atau membawa si A, si B, C, atau Z. Bahwa kritikan diniati keinginan untuk kemajuan bersama, bukan benci, dendam, dan iri hati.

“Kamu itu, kerjaan kok ndak beres, makanya kerja yang serius, jangan main-main, browsing internet, YM-an, dan lainnya. Tahu nggak, anak-anak mulai protes kok kamu enak-enakan browsing dan chating, padahal mereka nggak boleh buka internet!”.

Esensi dari kritikan di atas semuanya benar. Ada seseorang yang mengingatkan rekannya untuk lebih serius bekerja, hingga hasil yang dicapai optimal. Tapi kritik tersebut juga contoh dari kritikan yang tidak jujur. Pelontar kritikan mencoba mencari aman dengan mengatasknamakan ‘anak-anak’.

 

Pertanyaannya adalah, siapa yang ia maksud ‘anak-anak’, apakah ‘anak-anak’ itu tidak punya mulut, tak dapat berpikir, tak mampu berucap, tidak pro kemajuan hingga membutuhkan juru bicara hanya untuk mengucap sebuah kritikan?.

Seandainya pengkritik memutuskan untuk konsisten dengan titik di kalimat pertama (Kamu itu, kerjaan kok ndak beres, makanya kerja yang serius, jangan main-main, browsing internet, YM-an, dan lainnya), maka ia adalah gentleman dan teman sejati.

 

Kenapa? Kritikan itu wujud dari perhatian terhadap rekan kerja, mau mengingatkan demi kebaikannya. Tidak egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Sayangnya, ada kalimat kedua yang membuka niat asli kenapa kritik itu muncul.

Lebih disayangkan lagi, sikap membawa (mencatut) orang lain untuk dijadikan penguat kritikan sudah menjadi kebiasaan sebagian besar pengkritik di tanah air. Langkah ini dilakukan dengan alasan untuk menjaga hubungan dengan orang yang dikritik (baca: menyelamatkan muka dengan bersembunyi di belakang pantat orang lain).

(pertanyaan lagi) Kenapa? Karena mereka lah sebenar-benarnya pengecut dan pecundang, tidak mau disalahkan dan dikonfrontir ulang atas kritikan yang diucapkan. Tak berani melontarkan ide dan pemikiran sendiri, hanya mencari posisi aman, dan akan selalu menyalahkan orang lain. Jika dikritik? –saya yakin Anda sudah dapat membayangkan sikapnya-.

***

Saya menulis tema ini, malam ini, bukan tanpa alasan. Karena hari ini saya melakukan sebuah kesalahan cukup fatal. Akibat kekurang telitian (saya) dalam membaca kembali hasil kerja. Bila ingin ber-apologi, saya akan menyalahkan server dan teknologi yang sempat ‘membuat’ file saya hilang, hingga harus melakukan kerja dari awal dan membuat mood dan emosi tutun-naik.

 

Atau, jika ingin bertindak kanak-kanak, saya tentu menyalahkan orang yang bekerja sesudah saya, yang hanya bergerak seperti robot. Melakukan rutinitas dan tahapan kerja secara otomatis, tanpa melihat dan melakukan analisa.

 

(Aih, bukan kah tulisan ini sebenarnya bentuk dari kritikan saya kepada mereka?!. Waaaah, kok jadi bingung, apakah saya termasuk pengkritik yang kurang jujur?……). Tak ada kecap nomor dua!. Karena itu saya pasti akan berkata ‘TIDAK’ untuk menjawab pertanyaan saya sendiri di atas. Lha wong saya loh legowo menerima kritikan itu, menyadari kesalahan, dan berusaha memperbaiki diri.

 

Yang kemudian membuat hati jengkel adalah sikap rekan pengkritik yang memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan kritikan tambahan atas aktivitas saya yang senang browsing dan ber-YM-ria dengan membawa-bawa orang lain.

 

Ah, seandainya ia memang ‘berniat dan berani’ mengkritik karena memang berharap atas kebaikan saya dan kemajuan kinerja, saya tentu akan sangat bahagia, lebih menghargai dan menghormatinya.

Senyuman = Sihir


Senyuman adalah sihir yang diperbolehkan
senyuman merupakan tanda persaudaraan
ekspresi kejernihan
misi kasih sayang…
dan wujud dari cinta

تبسمك في وجه اخيك صدقةٌ

Senyuman dapat meluluhkan kedengkian
menghilangkan gumpalan permusuhan
memudarkan dendam, mencuci kotoran kebencian
dan mengusap luka pengucilan..
taken from “Demi Masa”…..

Manajemen Cinta


Allah SWT tak hanya memberikan anugerah akal kepada manusia, tapi juga ragam emosi dan rasa yang menjadi penyeimbang logika. Ada cinta, benci, marah, takut, berani, khawatir, senang, dan sedih, yang dimiliki individu dengan kadar berbeda-beda. Maklum, Tuhan sengaja menyiapkan ramuan dan racikan yang tak sama, karena perjalanan hidup masing-masing hamba-Nya berbeda. Satu hal yang pasti,“Racikan” itu tentulah yang terbaik menurut kacamata Tuhan, tinggal bagaimana cara kita memanfaatkan, mengontrol, dan memanaje agar tidak melenceng dan menyalahi aturan.

Nah, yang terakhir ini tak mudah dilakukan, bahkan tak jarang seseorang berlaku tak adil dengan terlalu ‘mengumbar dan royal’ pada satu jenis rasa dan emosi. Saat merasa senang dan bahagia, ia begitu menikmatinya sehingga lupa dengan segala hal. Tak ingat bahwa di suatu masa ia pernah merasa sangat sedih hingga tak ingin membuka mata dan melihat dunia.

Begitupun ketika merasakan cinta, ia akan memberikan dan melimpahkan sejuta cinta seluas samudera, tanpa batas. Namun tatkala benci datang mengambil alih, muncul rasa dendam yang membutakan mata hati. Sesuatu yang benar, akan selalu tampak salah di matanya.

Memanaje rasa dan emosi memang tak gampang dilakukan karena terkait erat dengan subyektifitas dan persepsi yang dipunyai tiap individu. Ya, maunya sih bersikap seimbang, tapi seimbang menurut siapa?

Dulu, saya pernah merasa kurang simpati dengan KH Hasyim Muzadi. Padahal saya tidak mengenal beliau, belum pernah bertemu, apalagi berbincang langsung. Rasa kurang suka itu tentu tidak muncul begitu saja, tapi karena kelemahan saya dalam menyaring setiap informasi yang muncul dan keteledoran dalam memilah mana yang benar, mendekati benar, sedikit benar, tidak benar, hingga info yang sarat akan kebohongan dan fitnah.

Kesalahan itu diperparah dengan sikap saya yang memberlakukan dan menilai seseorang dengan standar ‘ala saya’. Anda yang sudah mengenal atau paling tidak mengikuti ceramahnya, pasti tahu gayanya yang kalem. Gaya yang menurut saya (waktu itu) kurang tepat dimiliki seorang pemimpin yang seharusnya tampil penuh semangat, berbicara tegas, lantang, dan berapi-api.

Rasa kurang suka, bila dipupuk akan memunculkan antipati, bahkan sebelum seseorang tersebut berbuat sesuatu, kita sudah melakukan justifikasi. Begitu pula yang terjadi saat saya mendatangi silaturahim alumni Gontor di Pesantren Al Hikam (saya lupa tahunnya, yang jelas saya masih mahasiswa ‘imut’, hehe3…). Hadir pada waktu itu Din Syamsuddin, Hidayat Nur Wahid, dan alumnus lain. Mereka yang notabene pemimpin partai dan ormas, menyapa kami (untuk tidak mengatakan ceramah/pidato), dan saat itulah saya tahu penilaian terhadap Pak Hasyim sebelumnya salah kaprah.

Menguasai forum, tak selamanya harus dilakukan ala orator, tampil lembut tapi tepat, ternyata juga efektif untuk mengarahkan, mengendalikan dan menarik perhatian massa.

Yach, ini hanya satu contoh dari banyak lainnya. Yang paling gampang adalah kelemahan dalam memanaje rasa benci dan cinta terhadap orang yang pernah atau sedang singgah di hati. Coba Anda hitung berapa banyak pasangan artis yang saat ini saling caci, hujat menghujat, hingga membuka aib mantan pasangan setelah berpisah. Padahal sebelumnya, mereka mengumbar kemesraan dan rasa cinta seakan tak pernah habis apalagi berkurang.

Karena itulah saya percaya ‘cinta itu buta’ sebesar keyakinan saya bahwa ‘benci itu juga buta’.

Anda mungkin pernah menemui (atau merasakan sendiri), seseorang akan membenarkan apa saja perkataan orang yang dicintainya, meskipun terkadang itu sesuatu yang salah. Ia juga ‘mendadak’ menyukai segala macam hal yang disenangi orang terkasih. Yang tidak suka sepak bola, secara drastis berubah menjadi ahli dalam persebak bolaan dan komentator ulung. Yang buta IT, rela pusing mempelajari teori dan kalimat memusingkan demi menyenangkan orang terkasih. Ada saatnya, hati nurani mencoba mengingatkan, tapi tetap kalah dengan rasa dan emosi cinta yang meruah.

Benar juga hadits yang menyatakan, “Kecintaanmu pada sesuatu itu membuat buta dan tuli”. حبك للشئ يعمي و يصم

Sebaliknya, ketika marah dan benci menjadi penguasa emosidan mengalahkan akal serta logika, akan membuat segala hal yang baik dan bagus sebagai cela. Kejujuran terlihat sebagai tipu daya, keikhlasan pun tampak seperti rasa pamrih, hingga rasa cinta dianggap sebagai wujud benci dan penghinaan.

وعين الرضا عن كل عيبٍ كليلةٌ

كما انّ عين السخط تبدي المساويا

“Pandangan mata orang yang meridhai menjadi tak berdaya terhadap setiap aib

Sebagaimana pandangan orang yang marah akan memunculkan berbagai keburukan”

Adil memang milik Tuhan, tapi berusaha untuk berlaku adil hak semua insan. Meskipun memerlukan proses dan latihan panjang tak kenal lelah, kita tetap harus terus mencoba bersikap adil dalam hal cinta, benci, marah, senang, bahagia, dengan memanaje dan melakukan kontrol emosi dan tidak mengikuti ajakan hawa nafsu.

Cinta (selain) Cinta


Bicara cinta sama susahnya seperti bicara tentang Tuhan,
sebab cinta memang bukan untuk jadi bahan pembicaraan,
tapi dirasakan, dinikmati manisnya
diresapi pahitnya…

Begitu juga dengan Tuhan,
tak pernah meminta umat-Nya
untuk selalu berkata ‘aku mengingat-MU’
Aku Mencintai-Mu…
dengan suara lantang
tapi melalui pembuktian sikap dan perilaku


****

Aku menulis ini di blog FS, menjelang subuh diiringi lagu “Menjaga Hati-nya” Yovie-Nuno. Bukan karena sebelumnya mendengarkan lagu ini bersama cinta, bukan!. Lagu ini sudah masuk playlist-ku sejak diluncurkan dan populer.

“Biarkan aku menjaga perasaan ini,
menjaga segenap cinta yang tlah kau beri
Engkau pergi, aku tak kan pergi
Kau menjauh, aku takkan jauh..
Sebenarnya diriku masih mengharapkanmu

Andai akhirnya kau tak juga kembali
aku tetap sendiri menjaga hati… “

Lagu ini enak didengar, makanya jadi hits, top request, dan banyak dipilih sebagai nada sambung pribadi,terlepas dari program kuis radio di Malang yang mewajibkan peserta untuk mengaktifkan lagu ciptaan Yovie ini sebagai NSP, agar dapat memenangkan tiket lunch bareng mereka. Aku termasuk penyuka “Menjaga Hati”, yang mungkin dengan serius berkata dan meyakini “Wah, ini lagu gue banget!”.

Gue banget, karena ditinggal dan kehilangan cinta. Walau mungkin kata-kata “ditinggal dan kehilangan” kurang pas untuk menggambarkan situasi sebenarnya. Karena cinta tidak pernah tinggal, bagaimana ia bisa pergi dan meninggalkan? bahkan tak pernah ada cinta, lalu bagaimana dapat kehilangan?
Membingungkan dan rumit.

Cinta, datang dan pergi tanpa diminta. Ia memiliki independensi tanpa batas, tak dapat dikekang, diperintah, apalagi diintervensi.

Cinta mempunyai kekuatan luar biasa. Menjadikan seseorang sebagai sosok dan karakter lain (positif atau negatif), jauh dari bayangan, nalar, dan logika.

Sampai saat ini aku meyakini cinta sejati selalu membawa kebaikan dan perubahan positif (seperti di tulisan sebelum ini, anugerah yang sebenarnya adalah cinta yang dapat membawa cinta lebih besar kepada-Nya).

Saat cinta berkata “Sudah terlambat, too latE!! kenapa tidak dari dulu-dulu?”, itu berarti tak ada kesempatan untuk mencinta.

Haruskah dipaksa? tentu tidak. Sebab cinta bukan pemaksaan, cinta adalah kerelaan, keikhlasan. Rela mencintai, maka harus ikhlas untuk tak dicintai.

Cinta membebaskan individu untuk mendapatkan cinta lain yang mungkin lebih besar, indah, dan, memang diciptakan bagi dua pecinta agar saling berbagi kebahagiaan, kesedihan, dan setiap peristiwa yang terjadi dalam jutaan detik perjalanan kehidupan.

Cinta bukan hukuman bagi para pecinta untuk terus “menjaga hati”, sendiri, selamanya seperti sepenggal lirik lagu di atas.

Seperti janji Tuhan Yang Esa, ‘fadzkuruuni adzkurkum’, maka ucapan “Aku mencintaimu” selalu akan dijawab “Aku lebih mencintaimu”. Itulah cinta sebenarnya…
****

Tulisanku penuh dengan kata cinta, karena baru saja berbincang dengan cinta.
Namun bukan karena menyukai lagu Menjaga Hati, maka aku, kamu, atau dia, harus terus mempertahankan cinta yang terhenti setelah ucapan “Aku mencintaimu” tanpa jawaban, tanpa harapan.
di luar sana, ada banyak cinta yang terus menebar harapan, menunggu jawaban…

Nah, berarti aku kurang mencinta?
Tentu Tidak. Jangan pernah meragukan dan menganggap cintaku sebagai cinta mainan, apalagi bohongan. Cinta, bukan permainan.
Hanya, sebuah kesadaran menyeruak, jika berkeras mempertahankan cinta, maka aku tak akan menjadi diriku sendiri. Berubah menjadi sosok pemaksa, egois dan menyebalkan, menjadi pribadi lain yang akan aku benci, hingga melahirkan kebencian kepada cinta.

Cinta…
Sebelum kebencian datang,
bantu aku untuk mendapatkan cinta…(lain)….

***newest:
cinta kembali datang menyapa…
sayang…
ia bukan lagi cinta yang kupuja
yang kepadanya aku menaruh asa
 
“Jangan pernah (lagi) ada asa
maaf…”
 

 
 
 
 

 

Sekali Lagi, Terima Kasih


hana.jpg

Ya Rabb…

Pagi tadi, aku berterima kasih untuk kesempatan hidup yang Engkau berikan

Malam ini, sekali lagi aku bersyukur kepada-Mu… Untuk tetap menjaga, mengawasi, dan melimpahiku dengan tambahan  detik untuk jantungku berdetak

memberi rasa sakit dan tangis agar aku dapat merasakan, menikmati, dan mensyukuri kebahagiaan serta kesenangan yang Engkau hadirkan…

@ opish, 09.00 PM

Jangan Bermain Api


Nasehat Untukku 

“Jangan bermain api, nanti terbakar”
“Jangan bermain air, nanti basah!”

Nasehat di atas sering kita dengar saat kecil, yang memang harus ditegaskan agar kita yang masih belum mengerti bahaya api tidak bertindak ceroboh. Supaya tak terlalu asik bermain dengan air hingga sakit.

Tapi, namanya anak kecil, meski sudah sering ditegur, dinasehati, dan diberi larangan dengan keras, tetap saja ada yang mencoba melanggarnya. Dua kalimat tersebut didengar, bahkan hapal di luar kepala namun diabaikan. Sekali lagi, sebagai anak kecil, melakukan kesalahan, melanggar aturan, dan tak mematuhi nasehat masih dianggap wajar. Anak kEciiil……   

Saat beranjak dewasa ternyata nasehat tersebut masih sering diberikan kepada kita, dengan kata dan penekanan yang sama. Meski bukan berarti keduanya dilontarkan karena kita tetap tidak paham bahaya api dan air, namun lebih kepada anjuran agar tidak mencoba-coba bermain dengan hal-hal yang dapat menyebabkan masalah. Supaya kita tahu, sekali terjerat  masalah, sulit untuk terlepas darinya.

Nah, sebelum itu terjadi, ya musti menjaga diri, karena penyebab masalah terkadang adalah sesuatu yang sangat menarik hati dan minat. Yang sayang untuk dilewatkan, rugi jika tidak dicoba, atau terlalu indah  untuk tidak dilakukan.

Kali ini, banyak di antara kita yang berperilaku seperti anak kecil. Sudah diberitahu  atau bahkan ‘sudah tahu’ efeknya, tapi tetap nekad mencoba karena menyenangkan dan menggembirakan.  Bila anak kecil baru akan mengerti dan memahami  bahaya api dan air setelah terbakar atau terkena flu usai hujan-hujanan,  maka kita baru akan menyesal  setelah  mendapat masalah.

dedicatEd to mE, my sELf! 😉

Cinta kepadamu, Cintaku kepada Allah


Seperti hari minggu sebelumnya, lantunan ayat suci Alquran yang terdengar kencang dari sound di samping rumah membangunkanku. Saat menulis ini pun, pujian-pujian kepada Yang Rahman, pemilik alam semesta masih terus dilantunkan, menjadi backsound merdu menenangkan. Ya, setiap minggu pagi memang digelar pengajian rutin di sana, membahas bab-bab dari beberapa kitab kuning. Lumayan, menjadi pengingat pelajaran yang pernah saya peroleh sekaligus menambah wawasan baru, meskipun terkadang saya mendengarkan sembari tidur (lagi) sesudah subuh.

Hari ini, saya sengaja membuka laptop untuk meneruskan pekerjaan yang seharusnya sudah terselesaikan sejak beberapa waktu lalu. Baru saja membuka file, bahasan Pak Dahlan Tamrin kali ini langsung menarik minat saya untuk mendengarkan dengan sedikit serius. Tema yang diusung ‘cinta kepada Allah’, bagaikan tamparan keras yang sengaja dikirim oleh-Nya, untuk mengingatkan, menegur, mengembalikan, dan mendewasakan saya. Hanya sayang, penjelasan Pak Tamrin dominan menggunakan bahasa Jawa halus, yang sebagian besar diantaranya tak saya mengerti. Kecuali jika beliau membaca hadits atau kalimat Arab lain sebelum memberikan penjelasan, saya sedikit dapat menangkap apa yang dimaksud.

***

Ya Allah berikanlah hamba-Mu rezeki cinta kepada-Mu

Dan cinta dari orang lain yang membawa cinta kepada-Mu

Dan cinta pada sesuatu yang bisa membawa cinta kepada-Mu

Dan jadikanlah cinta kepada-Mu lebih aku sukai dibandingkan dengan cinta yang lain dan air segar…

Kalimat yang diucapkan Pak Tamrin di atas lah yang membuat saya menutup file pekerjaan (saya tidak tahu, apakah termasuk hadits atau pujian dan pepatah Arab, dan siapa yang mengatakannya. Dari Rabiyah Al Adawiyah yang dikenal dengan cintanya yang besar kepada Allah, sahabat Rasul lainnya, atau siapa (?). Lha wong sebelumnya saya hanya mendengarkan pengajian itu sekilas dan sambil lalu).

Kata cinta sudah sangat akrab di telinga, dan mungkin juga dengan gampang kita mengucapkan cinta kepada orang lain. Upz, sepertinya tidak adil jika saya menggunakan kata ‘kita’, karena akan menjustifikasi Anda yang kebetulan masuk ke blog ini berbuat seperti yang sudah saya katakan tadi, padahal Anda tidak seperti itu. Lebih amannya, saya ganti ‘mungkin saya dan sebagian dari Anda gampang mengucapkan cinta’. Padahal sejatinya, cinta pertama dan utama yang kita miliki seharusnya diberikan, dicurahkan kepada Allah.

Begitupun bila saya dan Anda mencintai orang lain, mulai dari anggota keluarga, teman, kekasih, pasangan hidup, sepatutnya menjadi cinta yang membawa kita untuk lebih mencinta sang pencipta. Bukan malah menjauhkan dari-Nya. Sama halnya dengan kecintaan kita pada sesuatu (perhiasan, HP, sepeda, mobil, rumah, dll) selayaknya menjadikan kita lebih dekat dengan Sang Maha Kuasa dan bersyukur atas karunia-Nya.

***

Untuk mendapatkan dan merasakan cinta kepada Allah tidaklah mudah. Kita harus memiliki rasa malu kepada-Nya dan malu karena melakukan sesuatu yang tidak pantas. Berkaitan dengan rasa malu, diriwayatkan bahwa Rasul berkata : “Semua dari kalian senang dimasukkan dalam surga (kebahagiaan)”. Untuk menjadi bahagia dunia akhirat dan masuk surga, seseorang hendaknya tidak mempunyai angan-angan yang muluk dan terlalu tinggi, hingga membuatnya sering melamun, berkhayal, yang dapat mengakibatkan stress. Selain itu juga harus menetapkan bahwa kematian sudah di depan mata, sehingga selalu ingat surga dan berbuat kebaikan. Rasul juga meminta kepada para sahabat untuk malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.

Mendengar itu, para sahabat pun berkata: “Ya Rasulullah, setiap dari kita malu kepada Allah”.

Rasul: Tidak seperti itu! Malu kepada Allah bukan Cuma perkataan.Malu kepada Allah adalah, menurut Rasul adalah, hendaknya kita tidak melupakan kuburan dan kerusakan, dan menjaga semua makanan yang akan disantap, tidak sekadar makan tapi untuk keperluan ibadah. Tidak boleh melupakan kepala dan apa yang berisi di dalamnya, yang berarti seseorang harus mkenggunakan pikirannya untuk dapat berkembang hingga memiliki rasa malu.

* Many Thx to Mr Dahlan TamRin untuk tEm@nya hari ini (karena apa yang saya tulis berdasarkan ceramah beliau)
***

Terlepas dari topik di atas, ada satu film kartun (Hamtaro) yang menurut saya juga mengajak penonton untuk bersikap positif. Di setiap akhir film, pemeran utama yang juga majikan Hamtaro selalu menulis di diary-nya. Ssecara singkat mungkin begini artinya “Hari ini begitu indah dan menyenangkan. Semoga, besok lebih baik lagi”.

Jadi tidak salah jika pagi ini saya kembali mengucap syukur kepada Yang Kuasa atas nikmat dan kasih sayang-Nya yang maha luas dan tanpa batas. Terima kasih telah mengirimkan teman-teman yang selalu memberi perhatian, kapan pun dan di manapun, hingga pagi ini terasa lebih indah dengan obrolan ramE mereka.

Makasih Evi, Vina, untuk obrolan-obrolan santai di rumah. Nadia, the bEst fren I eveR had, yG selalu ada dan siap mendengar keluh kesahku. QQ, untuk perhatian dan celetukan spontannya. Mas Irfan yang secara singkat jadi tutor onlEn,  makasssssiiih beRRr@@t to Um Galih alias SLeR3t2 yang nElpOn nayamul lama dari Pasar Pagi (smoGa jadi Bapak tEladan n’ Suami SIAG@).

Semoga cintaku kepada kalian semua dapat membawa cinta yang lebih bEsar kepada Allah yang Esa.

My Lit Room @ BarnEs Ngalam, 06.00 AM