Berani Mengkritik


“Jika ingin maju dan berkembang, kamu harus berani menerima kritik. Menjadikannya pelajaran untuk tidak mengulagi kesalahan yang sama dan membuatmu termotivasi untuk berbuat dan bersikap lebih baik lagi”.

Nasehat seperti ini dengan kata-kata berbeda, mungkin pernah Anda terima atau dengar dari seseorang. Bagus dan memang seharusnya begitu. Mau menerima kritik dengan lapang dada adalah wujud dari kedewasaan dan kematangan diri. Sedangkan kemampuan menganalisa dan menginterpretasi kritikan dengan tidak menerima mentah-mentah setiap kritik yang terlontar, merupakan bentuk kecerdasan yang tak semua orang memilikinya.

Tulisan tentang bagaimana seharusnya sikap seseorang yang mendapat kritik sudah sering ditulis, diulas, dan kita dengar. Tapi masih sedikit sekali yang membahas dan mengajak orang untuk ‘berani mengkritik’. Berani di sini, maksud saya, adalah sikap seseorang yang memang secara nyata ‘berani’ mengungkapkan pokok pikirannya berlandaskan fakta yang diimbangi dengan sikap bertanggung jawab atas efek yang ditimbulkan. Bukan sekadar berucap ‘kritik’ dengan menghujat, mencela, dan menyalahkan orang lain berdasarkan penilaian subyektif, apalagi mengaitkannya dengan hal yang tak ada hubungan dengan masalah yang ia kritik.

 

Berani mengkritik berarti jujur atas kritikan yang dilontarkan, paham dengan masalah yang diperdebatkan. Lebih fokus lagi, jujur yang saya maksud adalah ‘keberanian’ mengakui bahwa kalimat kritikan yang diucapkan murni tercetus dari hasil pemikiran kita. Tidak mengatas namakan atau membawa si A, si B, C, atau Z. Bahwa kritikan diniati keinginan untuk kemajuan bersama, bukan benci, dendam, dan iri hati.

“Kamu itu, kerjaan kok ndak beres, makanya kerja yang serius, jangan main-main, browsing internet, YM-an, dan lainnya. Tahu nggak, anak-anak mulai protes kok kamu enak-enakan browsing dan chating, padahal mereka nggak boleh buka internet!”.

Esensi dari kritikan di atas semuanya benar. Ada seseorang yang mengingatkan rekannya untuk lebih serius bekerja, hingga hasil yang dicapai optimal. Tapi kritik tersebut juga contoh dari kritikan yang tidak jujur. Pelontar kritikan mencoba mencari aman dengan mengatasknamakan ‘anak-anak’.

 

Pertanyaannya adalah, siapa yang ia maksud ‘anak-anak’, apakah ‘anak-anak’ itu tidak punya mulut, tak dapat berpikir, tak mampu berucap, tidak pro kemajuan hingga membutuhkan juru bicara hanya untuk mengucap sebuah kritikan?.

Seandainya pengkritik memutuskan untuk konsisten dengan titik di kalimat pertama (Kamu itu, kerjaan kok ndak beres, makanya kerja yang serius, jangan main-main, browsing internet, YM-an, dan lainnya), maka ia adalah gentleman dan teman sejati.

 

Kenapa? Kritikan itu wujud dari perhatian terhadap rekan kerja, mau mengingatkan demi kebaikannya. Tidak egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Sayangnya, ada kalimat kedua yang membuka niat asli kenapa kritik itu muncul.

Lebih disayangkan lagi, sikap membawa (mencatut) orang lain untuk dijadikan penguat kritikan sudah menjadi kebiasaan sebagian besar pengkritik di tanah air. Langkah ini dilakukan dengan alasan untuk menjaga hubungan dengan orang yang dikritik (baca: menyelamatkan muka dengan bersembunyi di belakang pantat orang lain).

(pertanyaan lagi) Kenapa? Karena mereka lah sebenar-benarnya pengecut dan pecundang, tidak mau disalahkan dan dikonfrontir ulang atas kritikan yang diucapkan. Tak berani melontarkan ide dan pemikiran sendiri, hanya mencari posisi aman, dan akan selalu menyalahkan orang lain. Jika dikritik? –saya yakin Anda sudah dapat membayangkan sikapnya-.

***

Saya menulis tema ini, malam ini, bukan tanpa alasan. Karena hari ini saya melakukan sebuah kesalahan cukup fatal. Akibat kekurang telitian (saya) dalam membaca kembali hasil kerja. Bila ingin ber-apologi, saya akan menyalahkan server dan teknologi yang sempat ‘membuat’ file saya hilang, hingga harus melakukan kerja dari awal dan membuat mood dan emosi tutun-naik.

 

Atau, jika ingin bertindak kanak-kanak, saya tentu menyalahkan orang yang bekerja sesudah saya, yang hanya bergerak seperti robot. Melakukan rutinitas dan tahapan kerja secara otomatis, tanpa melihat dan melakukan analisa.

 

(Aih, bukan kah tulisan ini sebenarnya bentuk dari kritikan saya kepada mereka?!. Waaaah, kok jadi bingung, apakah saya termasuk pengkritik yang kurang jujur?……). Tak ada kecap nomor dua!. Karena itu saya pasti akan berkata ‘TIDAK’ untuk menjawab pertanyaan saya sendiri di atas. Lha wong saya loh legowo menerima kritikan itu, menyadari kesalahan, dan berusaha memperbaiki diri.

 

Yang kemudian membuat hati jengkel adalah sikap rekan pengkritik yang memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan kritikan tambahan atas aktivitas saya yang senang browsing dan ber-YM-ria dengan membawa-bawa orang lain.

 

Ah, seandainya ia memang ‘berniat dan berani’ mengkritik karena memang berharap atas kebaikan saya dan kemajuan kinerja, saya tentu akan sangat bahagia, lebih menghargai dan menghormatinya.

3 responses to “Berani Mengkritik

  1. Mendapat kritikan itu terkadang sangat menyakitkan. Padahal jika kita membuka diri kita, sebuah kritikan justru vitamin yang baik untuk perkembangan diri kita.
    Kalo berani mengkritik orang lain, tapi dari belakang itu namanya tidak jantan. sok kritis namanya. Ada banyak orang dengan gaya seperti itu di lingkungan terdekat kita. Ngakunya kritis, tapi takut.
    Menghadap rektor belum ada nyali, taku di drop out, ditendang dari kampusnya. hehehe…
    ada-ada saja…
    Ok! tetap mengkritik dan mari kita siap-siap dikritik, karena kritik itu sehat.

    Salam
    antown.blogspot.com

  2. Nyatanya mengkritik memang lebih berat dari dikritik. Betul sekali, banyak orang yang siap dikritik tap tak siap mengkritik…
    Saya insya Allah siap dua-duanya, asalkan ada pembicaraan sebelumnya dengan seseorang bahwa kita siap saling dikritik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s