Aku dan Tuhanku


        Setiap pagi, Tuhan memberiku kesempatan untuk berdialog dan mengajukan satu permintaan khusus yang akan Dia kabulkan. Memang sich, tidak saat itu juga terealisasi seperti hasil sulap yang “abrakadabra!” lalu wussss….dapat memunculkan sesuatu di depan mata, meski aku tahu jika Dia berkehendak mewujudkan sesuatu, cukup dengan “Kun Fa Yakun!”, maka apapun itu akan muncul dan terjadi dalam sekejap, sebelum mata berkedip, secepat kilat.

Tapi…

Kun Fa Yakun milik Tuhanku tidak untuk menjadikan hamba-Nya malas dan manja,

tidak untuk menciptakan manusia peminta yang tak pernah berusaha,

pun bukan untuk melahirkan individu yang hanya mengandalkan doa,

apalagi sosok cengeng yang gampang putus asa.

        Kun Fa Yakun milik-Nya adalah pelajaran dan proses yang melaluinya aku dituntut untuk dapat merealisasikan semua yang aku inginkan, impikan, dan cita-citakan, dengan usaha dan perjuangan, panjang dan tak kenal lelah.

Tapi aku bukan malaikat,
karena aku tahu arti lelah sekaligus dapat merasakannya.
Memahami kata jenuh sebanyak aku dibingungkan oleh kejenuhan.
Menjadi cengeng dan amat berharap agar Dia berkata “Kun Fa Yakun!”
agar…
perasaan itu tetap ada
atau hilang….

***

Pagi ini, kembali aku mengajukan satu permohonan.
“Tuhan, beri hamba-Mu kemampuan untuk mengontrol perasaan”.

    “Kemarin kau meminta bantuan agar dapat mengontrol emosi. Sekarang, perasaan?”.

    “Iya”

    “Bukannya aku tak bisa dan tak mau. Kamu salah satu hamba tersayangku. Tapi…”

    “Wuiih, terima kasih Tuhan. Makanya dunk, buruan dikabulin ya…iya….ayo duunkkk, GPL!”

    “GPL?!!ngomong sama Tuhan kok pake bahasa singkatan, ndak sopan kamu!”

    “Eh, inggih Tuhanku….nyuwun pangapunten…maaf…tapi permintaan hamba tadi bisa dikabulkan ya..”

    “Begini, ngomong Ya, bagiku gampang sekali. Sebelum itu aku ingin kau tahu kalau aku senang saat melihatmu mampu mengontrol emosi, yang menunjukkan kamu semakin dewasa dan matang. Bahwa kamu tak semata-mata menggantungkan perubahan tersebut kepadaku, sebab kemampuan mengontrol dan memanaje emosi bukan hanya hasil doa, melainkan buah daril usaha dan latihan. Nah, tentang permintaanmu untuk dapat mengontrol perasaan? ehmm…Dewi…….emosi dan perasaan adalah sesuatu yang berbeda. Kali ini aku tak akan menjawab doamu, seberapa sering kau berdoa, dan berapa lama kau bersujud, tak akan mempengaruhi keputusanku”.

    “Waduuuh, perasaan itu hampir sama kayak emosi..udah dech, langsung dikabulin aja, ga pake penjelasan panjang lebar”

    “Wekz, anak nakal!!, dikasih tau kok bandel. Rasa dan perasaan adalah sesuatu yang alami, ia muncul dan lahir dengan sendirinya, tak dapat kau minta sesuai kehendak. Yang harus kau tahu, sifat alami itulah yang sebenarnya membantumu untuk belajar lebih dewasa dalam berpikir dan berperilaku”

    “Ya TUhaaaaan, aku mendengarkan kok!. Permintaanku dikabulkan kan? Jangan mengakatakan ENgkau tak sanggup mewujudkan. Karena ENgkau adalah Sang Maha, Laa Ilaaha Illa Anta, jadi..tak ada kata tidak bisa kan dalam kamus-Mu?”

    “Kalau dapat mengontrol perasaan, berarti kamu bisa dengan mudah men-setting perasaan. Pagi hari dapat memilih rasa senang, siang semangat, malam agak romantis. Jika ada perasaan ‘terlalu sedih’ kamu dapat mengecilkan dan mengurangi volumenya, hingga rasa itu berangsur-angsur hilang atau bahkan dapat kamu hapus dalam sekejap dan menggantinya dengan perasaan bahagia. Begitu pula dengan benci, yang dapat berganti cinta semudah membalikkan telapak tangan. Itukah yang kamu mau?”

    “He-eh. Waaaah, Tuhanku emang tau apa yang kumau! Benner, bener bangetz!”

    “Oke, aku bisa mengabulkannya. Sebelum itu, aku mau bertanya dan harus kamu jawab, ya…meskipun aku yo wis ngerti jawabanmu (lha aku kan Tuhan..he3..). Kenapa kamu ingin punya kemampuan mengontrol perasaan?”

    “Lha ya apa to TUhan, katanya dah tau jawabanku, kok masih maksa aku ngejawab. Tapi ga apa2 dech, yang penting permohonanku dikabulkan. Uh, gini loh… aku udah capek, sebel, keseeeeel. Masak pas lagi seneng, eehhh tiba-tiba pengin nangis gara2 hal sepele. Saat ingin mencintai karena sudah menemukan seseorang yang aku anggap the right one, lha kok rasa cinta itu ndak muncul2 juga, sampe the right one pun ilang. Eeeeeh, pas lagi ndak ingin mencinta, lha kok malah dateng nggak diundang, muncul pada saat ga tepat. Kan bikin puyeng to, githu loh Tuhanku….Jadi plizz kabulkan permohonanku kali ini..ya….”

“Dew, Aku menciptakan manusia fi ahsani taqwiim, dengan kelebihan akal yang tak dimiliki oleh mahluk lain. Burung bisa terbang, tapi dia tak berakal. Manusia tak punya sayap, dengan akalnya ia menciptakan pesawat dan bisa melewati angkasa dan melihat awan. Manusia bukan Tuhan, tapi dengan akal, ia bisa berkreasi, bahkan menciptakan barang berbentuk manusia, yang bisa berjalan, tertawa, bahkan menangis. Tangis dan tawanya tentu tak alami, semua dikendalikan dan dikontrol dengan amat mudahnya, oleh siapapun dan kapanpun. Robot, tak sedikitpun dapat melawan apalagi berkata tidak. Kalau kamu bisa mengontrol perasaan dan memainkannya seperti itu, lalu apa bedanya dengan robot?”

    Glodak, gedubraakk#@$!!?@>#!!. “Aaaaah….TUhan…kok ngomong githu seh…hikz…hikz…hikz…aku jadi nangis nich…”.

 

Tangisku berlanjut, 

Tuhan melihatku, diam lalu tersenyum.
Senyuman yang semakin menjadikan tangisku menghebat, terus tersedu, tak mampu berhenti.
Di tengah isakan tangis, mata sembab yang menjadi sipit, kehadiran-Nya di sisiku terasa dekat

diam-Nya ternyata penghiburan terbesar yang menguatkanku…., bukti bahwa DIA ada, dan akan selalu ada untuk hamba-Nya…

Tanpa sadar aku tersenyum dan tertawa bahagia…
senyum dan tawa yang tak pernah terbayangkan dapat kulakukan di tengah perasaan sedihku…
senyum dan tawa yang muncul alami karena rasa bahagia

mengetahui Tuhanku yang selalu menepati janji-Nya

“Ya Rabbi, aku mengerti, memahami, dan menikmati semuanya. Semua anugerah yang ENgkau berikan…”.

 

My Lit Room, 11.17 AM

7 responses to “Aku dan Tuhanku

  1. ass…wah !! dialognya menarik tuh, kapan2 diajak dong dialog ma Tuhan menarik tuh, memang kadang2 kt tdk bisa mendengar jawaban2 tuhan atas do’a kita . jawaban yang ada pada alquran dan hadits rasul, ataupun ayat2 kauniah, serta ilham dalam hati. pandai2 lah kita memperdalam kedua sumber tersebut , mnkn dngn dmkan kita akan lebih dekat dengan -Nya dan dapat terkabul apa yg kt mnta, “fastajiibuulii walyu’minubii” begitulah kira2 ……..wasss.

    wassalamualaikum..
    he3…
    waaah, mau ikutan ngobrol ma Tuhan?
    bisa berjamaah tuh, ngobrolnya bisa lebih panjang
    pahalanya juga lebih banyak 🙂

  2. hmm..paginya itu kapan ya? disaat subuh atau di 2/3 malam atau disaat duha? hehehe..maklum ga jelas euy 😀

    eniwey..teruslah berdo’a kepada ALLAH walopun permintaanmu masih ada yg belum dikabulkan 😉

    salam

    waaah Mas Febra, soal kapan tepatnya ‘pagi’ yang saya maksud yaaaa….rahasia dunk! 😉
    Yupz..tak akan pernah lelah untuk berdoa dan memohon kepada-Nya…

  3. teori statistik: untuk bisa dikontrol, maka harus bisa diukur

    nah… apakah perasaan termasuk sesuatu yang bisa diukur?

    ehm…ada ya teori statistik kek githu?…
    au ah gelap, nilai statistikku dulu aja maksimal C 😀 😛

  4. permohona atau doa yang kita minta kepada Alloh akan dibalas sesuai dengan keingina Alloh tapi yang paling penting dalam berdoa adalah Alloh akan berkehendak sesuai dengan prasangka hambanya, jadi kesimpulnnya dalam berdoa tetap saja kita baru menyerahkan sepenuhnya kepada Alloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s