Hari Perempuan Sedunia


“….Karena Saya Perempuan….” “…فقط لأني إمرأةٌ…”

 

Pagi ini, saya bangun tidur seperti biasanya. Disambut udara dingin Malang yang beberapa hari terakhir terasa menusuk hingga ke bagian terdalam lapisan kulit. Seperti hari-hari kemarin, saya juga masih terbangun dari tempat tidur yang sama, di rumah kos nyaman di dekat stadion Gajayana Malang. Tak ada hal istimewa yang menjadikan pagi ini berbeda dengan hari-hari lain, kecuali jika kata ‘sabtu’ dianggap sakral karena sudah ditasbihkan sebagai hari wakuncar.

Agenda saya hari ini juga tak ada yang terlalu istimewa, hingga sore nanti saat harus menjadi juri fashion show di Matos, saya benar-benar enggan keluar dari kamar. Badan terasa dingin, nggreges, karena beberapa hari terakhir terlalu sering terlelap di penghujung pagi.

Sebenarnya tadi malam sudah berencana untuk menyegerakan tidur, namun telpon seorang sahabat yang masuk sekitar pukul 22.30 WIB dan baru berakhir 70 menit kemudian membuat mata saya kembali enggan berkompromi, padahal rasa kantuk sudah terasa ‘menggigit’ dan badan terus berteriak meminta istirahat. Dari pada bingung, saya putuskan untuk menyelesaikan bacaan ‘Istana Kedua’ nya Asma Nadia, yang tinggal sedikit.

Anda tahu? setengah jam kemudian saya terguguk, menangis tersedu, seakan ikut merasakan sakit hati dan kekecewaan mendalam yang dirasakan Arini, salah satu tokoh fiktif dengan masalah nyata yang mungkin juga dialami oleh sebagian perempuan.

Arini, sosok istri penuh pengabdian dan ibu teladan itu tak kuat menahan tangis dan sakit hati karena suami terkasih, pangeran yang dengannya ia bermimpi untuk terus bersanding hingga maut memisahkan, berbagi cinta dan istana dengan orang lain, ibu tiga anak itu kecewa setelah mendapati dunia indah yang dibangun dengan tetesan keringat dan perjuangan hancur berkeping dalam sekejap. Semoga Allah memberkati para istri yang rela dan ikhlas dipoligami.

Saat menulis di blog ini, saya teringat satu artikel dan cerita yang tak sengaja saya baca ketika berselancar di dunia blog kemarin petang. Terus terang, saya tak memahami semua kata dan kalimat di tulisan tersebut, karena beberapa kata ditulis dengan ‘bahasa prokem’ sehari-hari. Lalu apa yang membuat saya tertarik untuk membaca? Judul tulisan “…hanya karena saya perempuan..”, .”…فقط لأني إمرأةٌ…”

Di blognya, perempuan Arab itu menuliskan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Misalnya, saat ada suami yang menceraikan istri, maka perempuan lah yang disalahkan. Karena tak dapat mengurus suami, tak bisa menjadi istri dan ibu yang baik, serta bla..bla..bla..lainnya. Jika ada dua orang yang bersalah, satu laki-laki dan satu perempuan, maka masyarakat akan memandang rendah si perempuan (lha padahal keduanya sama-sama bersalah).

Lalu apa yang membedakan?

Kenapa di setiap kesempatan dan peristiwa perempuan selalu menjadi yang ‘terdakwa’ dan pendosa? sementara laki-laki dapat melenggang bebas tanpa secuil salah? jawabannya mudah “…فقط لأنها إمرأةٌ…”

Itu sebagian arti dari tulisan yang sedikit saya pahami di blog berbahasa Arab. Tentang masih kurang adilnya masyarakat memandang dan menempatkan perempuan, memang benar adanya. Budaya patriarkhi yang memposisikan kedudukan pria lebih tinggi dan mulia dibanding perempuan dipandang secara kaku dan ditelan mentah-mentah tanpa penjelasan sedikitpun, dan itu terjadi hingga sekarang.

Coba Anda renungi, betapa permisifnya masyarakat kita saat mendapati laki-laki berselingkuh. Hanya komentar ringan yang terlontar

“Ah, biasa. Kodrat laki-laki memang untuk selalu menyukai sesuatu yang indah, memiliki perempuan lebih dari satu”, atau “Wajar dia (laki-laki) selingkuh, lha istrinya ndak bisa menjaga dan memberi servis memuaskan, makanya cari di luar”.

Pandangan dan komentar ini akan berbeda 180 derajat jika yang didapati berselingkuh itu adalah perempuan (upss!! kalimat ini jangan pernah sekali-kali dipahami bahwa saya membenarkan perempuan yang selingkuh loh…just an example ajah! 😉 ). Anda mungkin secara spontan berkata:

“Dasar perempuan gatel, gak bisa jaga diri dan kehormatan”, atau “Istri materialistis, tak bermoral, tak bisa bersyukur, dan semoga segera mendapat balasan setimpal dari Yang di Atas”. Begitu berbeda.

    Meski demikian, saya tak serta merta setuju dengan apa yang dituliskan oleh si mbak Arab di dalam blognya.

  • Bahwa “karena saya perempuan”, maka saya akan selalu menjadi orang tertindas tak seharusnya menjadi alasan dan pembenaran kondisi menyakitkan yang dialami.
  • Bahwa “karena saya perempuan”, tetaplah mahkluk Allah yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk dan keunggulan kodrati sebagai ibu yang bahkan tak dimiliki oleh seorang lelaki pun di dunia.

  • “karena saya perempuan”, tetap memiliki hak dan kewajiban sama untuk memanfaatkan akal yang hanya dianugerahkan Allah SWT kepada manusia.
  • “karena saya perempuan” seharusnya tak menjadi dan dijadikan penghalang untuk bebas berkreasi dan maju berbakti untuk negeri.

bunda-baru-1.jpg

    Hari ini, seperti yang saya tuliskan di awal, memang sama dengan hari biasanya. Tapi tanggal 8 Maret hari ini menjadi pembeda, sebab sebagian dari kaum saya di dunia merayakannya sebagai hari Perempuan Internasional (Sedunia). Peringatan hari ini untuk mengingatkan kaum hawa akan perjuangan para pendahulunya.

    Yach, jujur sich, saya kurang begitu suka dengan hal-hal berbau seremonial dan peringatan-peringatan, yang terkadang malah menutupi makna dan visi aslinya.

        Memperingati hari perempuan tak sekadar pekik tuntutan, protes, dan harapan untuk mendapatkan kesetaraan dan kesamaan hak. Lebih dari itu adalah penyadaran dan kesadaran diri perempuan bersangkutan untuk memaksimalkan potensi diri, menghargai dan menghormati kodrat alami yang dimiliki, hingga dapat berguna dan memberikan manfaat terhadap sesama.

        Menuntut persamaan hak, tapi tak diimbangi dengan kemampuan adalah omong kosong. Buktinya banyak. Porsi 30 persen perempuan sebagai anggota legislatif yang kuotanya tak jua terpenuhi tak semata-mata karena para politikus pria enggan berbagi kursi empuk dengan rekan (baca: rival) perempuan. Tapi sedikit banyak juga disebabkan oleh perempuan itu sendiri, yang belum sadar untuk terus menambah skill dan wawasan. Eh, saya kok jadi berpihak pada para lelaki ya? Eits, jangan berpikiran demikian.

        Saya hanya berharap agar kaum perempuan (termasuk saya nich…) melakukan protes dengan menunjukkan potensi dan kemampuan, mengambil kesempatan dengan smooth, bukan menyerobot dan menduduki posisi karena memang sudah disediakan untuk porsi perempuan. Jika itu yang terjadi, maka perempuan tetap akan menjadi bahan tertawaan dan dinilai sebagai masyarakat kelas kedua. Hanya parahnya, perempuan bersangkutan tak pernah merasa ia ditertawakan dan dengan bangga memamerkan kursi kedudukannya.

Semoga kita dijauhkan untuk menjadi dan atau dari golongan perempuan seperti ini, amiiin…. 😉

3 responses to “Hari Perempuan Sedunia

  1. perempuan dengan sebuah nama, kau ku puja dengan cinta yang hadir atas kehormatan dan kasih sayang.

    selamat …


    wah, selamat juga kepada perempuan yang dipuja 🙂

  2. SMS minggu pagi (9/3/8) dari rekan tercinta 😉 memprotes judul bahasa Arab yang saya tulis di sini ”…فقط لأني إمرأةٌ…

    “Bahasa Arabmu nggak pas tuh”
    “Faqoth bukan bahasa fushah dan nggak pas ditaruh di awal kalimat”

    Nah, sesuai yang saya tulis di blog, sekaligus menjawab bila ada pertanyaan atau kritikan senada, judul tersebut saya tulis apa adanya sesuai dengan yang ditulis di blog berbahasa Arab yang sempat saya singgahi (alenia keempat tulisan saya). 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s