“Suamiku Ingin Kawin Lagi”


“Nggak ada angin, nggak ada hujan, suamiku mau kawin lagi”

SMS singkat itu ditunjukkan teman sekantor tadi sore. Bukan bercerita tentang dirinya, tapi SMS kiriman dari seorang sahabatnya di Indramayu. Kepadaku, rekan samping mejaku itu mengaku kaget!. Menurutnya, selama ini ia selalu mendapat SMS bernada hepi, ceria, dan bahagia. Tak sekalipun sahabatnya itu mengeluh atau bercerita tentang permasalahan rumah tangga.

    Usai menunjukkan SMS itu, ia langsung mereply “Oalah, lha wong sek mlarat ae kok suamimu itu sudah mau kawin lagi to?!”, yang ternyata langsung mendapat balasan cepat.

“Nah, itu dia. Perempuan itu ndak ngeliat harta suamiku. Dia mengaku pengin jadi istri kedua karena mengharap ridhoku, duuuuh…..”

Woww!!, speechless. Terus terang, kali ini saya tak dapat berkomentar banyak atas peristiwa yang dialami sahabat temanku. Untuk menuliskannya di sinipun, saya harus berpikir berkali-kali. Tulis, enggak, tulis, enggak, dan….tulis.

Peristiwa ini, mengingatkan saya akan cerita Istana Kedua yang endingnya membuat air mata saya berebut keluar. Hanya, kali ini cerita tersebut adalah kejadian nyata, bukan fiksi, apalagi dongeng rekaan dan khayalan. Di posting sebelumnya, saya pernah menulis sedikit review tentang buku ‘Bahagia dengan Satu Istri’. Meski terus terang tulisan tersebut belum dapat dikatakan sebagai sebuah review sebab saya memang belum membaca buku tersebut. Tulisan itu hanya berdasarkan berita feature di Jawa Pos dan topik yang sering menghiasi infotainment (kala itu).

Saya bukan penentang dan anti poligami. Hanya berharap agar keputusan untuk berpoligami benar-benar didasari atas pertimbangan matang dari berbagai aspek, mulai dari segi agama, ekonomi, psikologi, dan lainnya. Tidak atas dasar alasan ’emosional’ untuk menjalankan sunnah dan keinginan mendapat jalan ke surga. Sebab Yang Maha Agung, Sang Pemberi kasih dan cinta tanpa batas, Allah SWT, bukan Tuhan yang egois dengan mensyaratkan hamba-Nya untuk berpoligami agar menjadi para penghuni surga.

Atas izin-Nya, kaum pria diperbolehkan untuk menikahi dua, tiga, hingga empat wanita. Karena janji-Nya yang akan memberikan surga bagi kaum hawa yang rela untuk dipoligami, membuat para istri pertama berebut mencarikan calon istri kedua untuk sang suami, dan perempuan-perempuan lain menekan ego serta meminta dijadikan pemilik ‘istana kedua’ seperti perempuan yang membuat sahabat temanku memutuskan untuk mengirimkan SMS tersebut.

Saat saya menulis harus memikirkan aspek ekonomi, Anda mungkin akan langsung membantah. “Ah, rezeki sudah diatur oleh Allah. Jika Dia berkehendak, maka aliran rezeki akan terus kita rasakan, min haisu la yahtasib“.

Saya tidak memungkiri, dan tak akan pernah berani menentang ketentuan Allah tentang rezeki. Dia berhaka memberikan limpahan rezeki kepada siapapun, hambaNya yang terpilih. Tapi seperti yang pernah saya tulis (juga) sebelumnya, Kun Fa Yakun milik Allah bukan untuk menciptakan manusia pemalas. Rezeki tak akan datang tiba-tiba, seperti hujan deras yang turun dari langit. Rezeki harus dicari, dengan tetesan keringat, perencanaan, dan perhitungan matang.

Janji surga, tak menutup kemungkinan berubah menjadi neraka, jika hambaNya tak mampu menjalankan amanah sesuai apa yang diinginkanNya. Allah Maha Pengasih dan Penyayang… Relakah Dia, jika ada umatnya yang tak berdosa, manusia-manusia baru, yang terlahir dengan kondisi kekurangan, teraniaya, tak mendapatkan haknya karena sang ayah memutuskan berpoligami.

Akan diamkah Allah, saat melihat hambaNya tertekan secara psikologis, tak dapat mengeksplorasi kemampuan dan keterampilan secara optimal akibat suasana keluarga yang tak kondusif?. Seorang hamba yang dalam perjalanan hidupnya harus terjerumus ke lembah pergaulan bebas sebagai imbas pemberontakan atas realitas keluarga yang tak sesuai harapan?

Ada yang seharusnya kita ingat. Selain janji surga, Allah juga memerintahkan kepada para kepala keluarga untuk selalu menjaga diri dan keluarganya dari siksa api neraka. Nah, jika slogan baiti jannati berubah menjadi rumahku, nerakaku, apakah janji surga tetap akan Dia berikan begitu saja? wallahu a’lam bishawab.

 

43 responses to ““Suamiku Ingin Kawin Lagi”

  1. Assalamu’alaikum
    Mbak Dewi Yuhana yang manizz…

    Perkenalkan, saya Dimazz, saya ingin komentar sedikit ttg topik diatas dari sudut pandang saya, sekali lagi dari “sudut pandang saya” sebagai makhluk Tuhan yang paling seksi, eh salah ‘yang paling bodoh’. Saya tidak akan berkomentar dari sudut agama, karena saya ‘nggak mondok’, jd tdk tahu
    banyak tentang dalil-dalil Poligami dan saya takut salah ngomong.

    1) Mengapa perempuan seperti ‘kebakaran jenggot’ ketika berbicara tentang poligami, apalagi yang akan berpoligami adalah suaminya sendiri. Dengan berbagai teori dan dalih, kita mencari-cari jalan untuk “menggagalkan”, atau setidaknya “menentang”, atau setidaknya “tidak merestui” atau setidaknya “tidak setuju”, atau setidaknya “tidak meng-iya-kan, walau tidak menentang” poligami.

    Mengapa kita tidak yakin dengan sesuatu yang ALLAH telah tetapkan?

    2) Poligami, menurut saya adalah “the way-out”. Masing-masing pasangan mempunyai “their own problem”. Kita tidak bisa menilainya dari luar, hanya dengan melihat mereka seakan-akan selama ini tidak ada masalah, atau aman2 aja, harmonis, tidak ada angin tidak ada hujan, tapi mereka punya masalah yang “mungkin tidak bisa” atau “tidak mungkin bisa” diceritakan kepada siapapun.

    Jadi, maksud saya, suami punya alasan tersendiri untuk “mengambil haknya” atau “tidak”.

    Dalam kenyataannya…. berapa persen sih dari suami-suami itu yang berpoligami, meskipun mereka tergolong ‘mampu’?
    Di kampung kita aja, berapa orang sih yang punya istri 2?

    3) Saya paling geli mendengar komentar orang yang hanya ‘latah’ seperti dalam tulisan Dewi diatas, “Oalah, lha wong sek mlarat ae kok suamimu itu sudah mau kawin lagi to?!”
    Bagaimana kalau komentar itu dibalikkan? Berarti, “Oo.. lha wong sudah kaya ya ndak pa-pa nikah lagi, apalagi satu, dua atau tiga lagi juga boleh koq” hehehe…

    Apakah memang ada dalilnya bahwa seorang yang sudah kaya boleh berpoligami? Atau sebelum kaya tidak boleh berpoligami?

    4) Alasan rasio perbandingan laki-laki dan perempuan memang tidak bisa jadi patokan orang untuk ‘melegalkan’ poligami, karena banyaknya perempuan dibanding laki-laki ternyata ada di usia non-produktif, sementara pada usia ‘siap nikah’ jumlah laki-laki dibanding perempuan hampir berimbang.

    Tapi jangan lupa…..
    “SEMUA PEREMPUAN layak untuk menjadi ISTRI, sementara TIDAK SEMUA LAKI-LAKI mampu menjadi SUAMI”.

    — to be continued —

    Waalaikumsalam Wr Wb
    Mas Dimazz yang mengaku co manizz…

    makasih yaa.. untuk commentNa, apalagi mo dibuat bersambung. Asal jangan kek sinetron2 Indo, terlalu panjang, mbulet, muter-muter.
    kalo soal dalil poligami, saya juga nggak ngeh loh mas…
    He3, syukur deh kalo ada kalimat di tulisan ini yang bikin mas Dimazz geli, jadi ada manfaatnya. Biasanya, orang kalo geli akan tersenyum ato tertawa. Jadi nggak cemberuuut aja waktu ngebaca tulisan ini dari awal sampe akhir 🙂 😉
    Oia, komen nomer (3) itu juga selalu bikin saya tersenyum. Paling gampang saat kasih komen adalah dengan analogi membalikkan kalimat, gampangggg banget…

    Nah, kenapa juga saya harus berpikir berkali-kali untuk menulis tentang ini, sebab saya memprediksi bakal ada banyak komentar tak setuju, menghujat, menyumpahi (saya). Meski banyak juga yang mendukung (walopun saya sedang tidak mencari dukungan), lha tulisan ini bukan kampanye kok. Tapi spontanitas saya sebagai bentuk ungkapan empati terhadap apa yang dirasakan teman rekan kerja saya itu.
    (jangan2 to be continued-nya mo komen balik atas komen ini?…. up to u dech)

  2. Salam.
    salam kenal buat mba dewi. kenalkan saya ahmad dari Bandung.
    “suami ingin kawin lagi” merupakan phenomena yang sering terjadi. poligami awardpun merupakan simbol bahwa praktek poligami ternyata banyak para pendukungnya. saya tidak tahu persis apakah para laki-laki atau perempuan yang mendukungnya?
    saya pikir, wanita adalah manusia juga sama seperti laki-laki. sebagai laki-laki, saya cemburu jika istri saya menduakan cintanya dengan laki-laki lain. dan saya pikir perasaan itu pula yang dialami sang istri jika suaminya membagi cintanya dengan perempuan lain. jadi disini, rasa kemanusiaan yang terjadi.
    agama dalam hal ini agama islam adalah agama kemanusiaan. setidaknya itu yang ada dalam benak dan frame pikiran saya. islam mengajarkan sikap egaliter, pun islam mengajarkan tentang keadilan.

    konsep keadilan dalam berpoligami menjadi isu sentral dalam islam. untuk bersikap adil terhadap para istri memang agak sulit. adil dalam segala hal.
    dan praktek poligami pun dalam islam dalam pemahaman saya berfungsi untuk menyelematkan janda-janda tua yang suaminya meninggal.
    tapi nyatanya, suami ingin nikah sama yang lebih muda dan lebih cantik. tentu saja istri pertama cemburu sekali dan merasa dirinya tak berguna lagi. dan itu sangat manusiawi sekali untuk mereka cemburu. jika suami tetap ingin menikah lagi dan mengorbankan perasaan istri….bagaimana biduk keluarga akan tercapai dengan baik jika ada hati yang terlukai?
    saya pikir itu saja…
    ahmad. tki saudi

    Makasi mas Ahmad…

    untuk mengakui “Sebagai laki-laki, saya cemburu jika istri saya menduakan cintanya dengan laki-laki lain. dan saya pikir perasaan itu pula yang dialami sang istri jika suaminya membagi cintanya dengan perempuan lain”

  3. Ada saran juga neh pada istri-istri yang suaminya akan menikah lagi karena saya percaya bahwa istri yang akan dipoligami akan merasakan berat hati yang sangat-sangat:
    Sampaikan pada suaminya kata-kata ancaman dengan nada-nada serius diiringi dengan sedikit becanda :
    ” apakah mas sudah siap berbuat adil”
    “apakah siap masuk neraka apabila tidak bisa berbuat adil”
    “sejauh manakah kesiapan mas untuk berpoligami dan telah merasa siap untuk berbuat adil”

    pada inti permasalahannya sih tanyakan seputar keadilan terhadap suami yang akan berpoligami dimana kata adil ini yang sempurna hanya milik Alloh

  4. suatu senja yang begitu indah

    saya berbisik sama istri tercinta saya. “mah, boleh nggak seseorang nemenin mamah bila abah lagi pergi ke luar kota?”

    “maksudnya nyari pembantu bah?” jawab istri saya dengan kalem.

    lalu sambil saya pegang tangannya yang lembut, dan dekapan penuh kasih, aku kecup keningnya.

    “mah, kalo pembantu mah kasian si ade, dan lagian nggak bisa diajak curhat” jawab saya lagi.

    “terus? apa ada saudara yang mau ikut keluarga kita, asal cocok aja gpp, dan emang kadang mamah kesepian juga kalo abah lagi ke luar kota”

    “saudara abah kan udah pada berkeluarga dan udah punya rumah masing-masing, cuman ada seorang perempuan yang solehah, dan sudah lama ingin berumah tangga namun selalu gagal terus, padahal keluarganya sudah ingin sekali menimang cucu. keluarga itu kebetulan tempat abah dulu waktu masih jadi pengangguran dan sering ditolong sama beliau. insya allah akhlaqnya baik, dan kayaknya cocok ama mamah untuk jadi temen hidup”

    “maksud abah?” mamah rada tegang, dan ia mulai membalikan badannya, lalu saya pegang lagi tangannya dengan erat.

    to be continue …

  5. Ass.
    Ikut Nimbrung nih

    saya hanya ingin beri sedikit komentar, walaupun belum pernah merasakan bagaimana membina rumah tangga yang harmonis.

    saya hanya memandang dari sisi lain secara umum tentang masalah ini.
    1. Laa tuharrimu maa ahallallahu lakum
    poligami itu boleh tapi ada aturannya,

    2. “wa laisa lil insani illa maa saa-a”

    ketika seseorang menentukan pilihannya dalam hal apapun itu(termasuk poligami). Dia harus siap untuk menerima segala konsekuesi yang timbul setelahnya.
    hal ini berlaku bagi laki2 yang berpoligami dan istri yang dipoligami

    dan kebodohan bagi orang yang melakukan sesuatu , khususnya ibadah(poligami) tanpa ilmu, karena ada akibat yang akan ditanggung tidak hanya di dunia.

    3. Manusia tempat salah dan lupa,tempatnya segala kealpaan dan keterbatasan.
    Manusia yang paling baik di dunia adalah para nabi, dan pada istri-istri nabi juga tidak terlepas dari rasa cemburu, atas yang lain(karena mereka juga manusia) Kita tinggal contoh apa yang dilakukan nabi semampu kita.(kelihatannya gampang ya!, tidak juga sih la wong sholat aja yang sudah ada contohnya belum tentu benar, terus berusaha dan menambah ilmu)

    4. Dan Tidaklah Allah membebani hambanya dengan sesuatu yang dia tidak sanggup.
    Sejauh mana usaha yang dilakukan seseorang untuk menuju kebaikan juga dihargai oleh Allah.
    Ketika seseorang sudah berusaha adil dan masih ada kekurangan hal itu sudah kodrati.

    5. Terakhir yang mungkin banyak ditakutkan adalah kekhawatiran kaum hawa (mungkin juga kaum adam) akan keadaan istri2 yang dipoligami, entah itu kesejahteraan duniawinya ataupun batinnya, dapatlah dibuatkan aturan (dalam hal ini pemerintah) yang tidak bertentangan dengan aturan Islam itu sendiri untuk melindungi hak-hak mereka.

    tentang komentar teman mbak dewi tadi, seharusnya tidak mengejek seperti itu, paling tidak memberi saran yang baik, santun dan logis, insya Allah pasti ada jalan keluarnya. laki-laki yang baik masih banyak di dunia ini.

    sekedar ikut berpendapat, boleh dibantah, dikritik sebagai wawasan ilmu.

  6. walah kok pada panjang2 ya ceritanya? saya mau komen dikit aja: jangan haramkan apa yang dihalalkan, dan jangan halalkan apa yang diharamkan!!!

    ehmmm….
    oke dech ka2’…

  7. kenalkan saya daeng limpo dari pekanbaru
    sebaiknya temannya dewi itu konsultasinya ke klinik saya saja….
    namanya klinik penyembuhan bagi korban nyaris poligami

    ehmm….daeng…
    kira2…langsung sembuh,
    ato malah parah, he3…

  8. koment, ngga’,koment, ngga’, ya…. udahlah koment aja. menanggapi istilah “Oalah, lha wong sek mlarat ae kok suamimu itu sudah mau kawin lagi to?!” (oalah, masih miskin aja kok suamimu sudah mau kawin lagi), aku teringat/meminjam istilah istriku,”MAU POLIGAMI KOK NUNGGU KAYA”. Istilah itu dilontarkan ketika aku dan istriku berdiskusi/debat tentang POLIGAMI dan Istilah itu sebagai senjata pamungkas dia kediriku. Kalaupun poligami memimpa diriku, aku selalu berpikir,”Siapa yang menyediakan kopi pagi-sore, siapa yang membangunkan sholat subuh diriku?, istri 1 ato ke 2, dan siapa yang mengajari buah hatiku mengaji diwaktu sore hari, istri pertama, kedua, kedua2nya, ato tidak sama sekali. Subhanallah.
    Dari adiknya poligami, POLIGAMA. salam kenal buat bapak2.

    ehmm… “poligami kok nunggu kaya”,
    whew! udah Diskusi ama si mbak?

    (skaligus utk mas dimaz), saat tman sy brkmentar “msh miskin kok mau kawin lg”, bkn kmudian jd pembnaran kalo kaya boleh poligami.
    Tapi…
    Belum kaya aja udah suka lirik2 perempuan lain, gimana klo dah bergelimang uang?
    Bisa2, istri pertama yg diajak ‘sengsara’ & berjuang dari nol dilupakan.
    Istri pertama yg slalu support saat dlm ksulitan ditinggalkan…githu…
    (tuh kan, komenNa panjang2 smua. Mkanx smpet biNun nulis pa enggak..)

  9. Itulah bentuk ketidak adilan dalam diri manusia. Mengatasnamakan agama demi kepentingan pribadi.

    saya tidak memahami agama, dan tidak ingin membahas sesuatu dalam sudut pandang agama. 😉

    1. kenapa laki2 dikatakan berhak berpoligami (berbagai dalih, you know lah) sedangkan wanita tidak boleh berpoliandri ?

    2. Wanita harus rela di poligami 😕 kata siapa ? Jika ada aturan yang menyebutkan bahwa para pria harus rela di poliandri gimana, apakah mereka siap menerimanya 😉

    3. Memiliki dua wanita atau lebih ? Mana kesetiaan mu pada pasanganmu? Sedangkan para the “Poligamist” justru menuntut wanita untuk berutunduk pada mereka

    4. Adil ? Adil apanya ? Mana ada manusia bisa adil ? Mesin aja supaya bisa “adil” perlu dibalans, apakah manusia bisa di balans ?

    Saya Anti Poligami ! Silahkan mampir ke blog saia !

    he3…
    NO commEnt dech 🙂

  10. 5) Jeritan Hati ‘Perawan Tua’
    Berawal dari keprihatinan saya terhadap teman-teman di lingkungan kerja (di sebuah kawasan industri yang mayoritas karyawannya adalah perempuan), tahun 2006 lalu saya dibantu beberapa teman perempuan mendirikan ‘biro jodoh’ tidak resmi. Hasil promosi dari mukut ke mulut di sekitar dormitory itu menghasilkan sesuatu yang ‘luar biasa’. Antusias para ‘calon istri’ ini begitu tinggi untuk segera mewujudkan cita-cita mulianya menjadi seorang istri dan seorang ibu.

    Ketika mendaftar, — ada yang langsung, ada yang diwakilkan kepada temannya — yang seyogyanya hanya mengisi formulir dan menyerahkan foto itu, ternyata berubah menjadi ‘ajang curhat’ untuk mengungkapkan jeritan hati mereka, jeritan hati ‘perawan tua’ . (Wah, aku mendadak dadi psikolog rek… “Pskilog dari Hongkong?” Hehehe…)
    *** (mohon maaf, jika istilah ‘perawan tua’ ini kurang berkenan di hati para perempuan).

    Usia mereka bervariasi antara : 23 ~ 30 tahun. Rata-rata curhat mereka, begini (intinya saja ya) : “Saya siap nikah, saya nggak mau pacaran, maunya ya langsung dilamar, saya sudah rindu untuk menjadi istri dari seorang suami dan ibu dari anak-anak. Saya pasrahkan semuanya kepada Allah. Jika ada yang mau menikahi saya, walaupun duda atau diplogami, saya sudah siap lahir bathin”

    Kesulitan saya adalah untuk mencarikan ‘jagoannya’, ternyata dari 30an pendaftar perempuan yang terjaring lewat ‘operasi rahasia’ ini, hanya 3 orang laki-laki saja yang siap menjadi suami. Itupun rata-rata cuma ‘wait and see’ dengan berseloroh “yah, kalo ada yang cocok..”
    Pihak laki-laki rata-rata menginginkan calon istrinya berusia sekitar 5 ~ 10 lebih muda darinya.

    Belum juga dapat membantu mereka meemukan jodohnya, ee.. malah sebagian mereka pada naksir saya, hehe.. (Halo May di Malang, Lia di Jogja, Ebta di Bangka, apa kabar 🙂

    Tapi saya bahagia akhirnya bisa membantu 3 orang diantara mereka mewujudkan cita-citanya. Ketiga-tiganya mendapatkan laki-laki yang tidak mendaftar di ‘biro jodoh’ ini, melainkan hasil ‘buruan’ tim buru jodoh di luar komunitas mereka, dan semuanya masih lajang. Pada saat itu tim kami sepakat untuk tidak mencarikan jodoh poligami, walau banyak diantara perempuan itu yang memintanya, karena tim kami belum siap dengan segala resikonya.

    Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana nasib mereka yang belum kebagian?

    ** Adakah para istri-istri yang solihah mendengar jeritan mereka? Jeritan perawan tua yang notabene kaumnya sendiri?

    ** Bagaimana kalau salah satu diantara mereka adalah adik kita, kakak kita, saudara kita, atau anak kita? Tidakkah kita merasakan apa yang mereka rasakan?

    ** Apakah anda (para istri) sudah merasa bahwa suami anda adalah milik anda mutlak? Apakah tidak ingat bahwa harta, anak, suami adalah titipan yang sewaktu-waktu Allah bisa ambil?

    ** Mengapa anda tidak bisa ‘berkorban’ untuk berbagi bahagia dengan kaummu yang lain?

    — to be continued —

  11. -speechless-
    tp sy pernah bicarain ini dgn my FH…
    meskipun besarnya pahala surga menanti disana..
    terus terang hati ga sanggup tuk berbagi… 😦

    eh, githu ya mbak… 😦 ?
    speechless dech…

  12. Saya bingung kalo udah kek gini tulisannya .. hehehehe …. gimana ya .. udah ujan, becek, gak ada ojek pula ………. *ngacir …..

    UPs!!
    masak mo lari?
    becek kan?
    awas jatuh loh….

  13. wew, pinter nih bikin bahan obrolan.
    emang ini kayakna lagi ngetren dalam beberapa tahun terakhir. selamat dan sukses buat mbak dewi.
    semoga tetep menjadi perempuan yang bermanfaat bagi bangsa ini.

    aih, ini bukan bahan obrolan ajah….
    tapi emang kejadian nyata…

  14. Sebagai lelaki, rasanya gak tega melakukan poligami, kasihan perempuan yang dipoligami.
    Tapi, perlu diingat, hanya seorang mukmin yang betul2 ikhlas yang bisa menerima poligami. dan Tuhan yang Mahatahu tentang segala ciptaanNya.

    salam kenal

    setiap orang punya opini dan hak bersuara…
    makazih dah mampir di sini yach…
    salam kenal juga

    eh, JANGAN kapok wat balik lagi loh…. 🙂

  15. kalo ini opini saya :
    perbandingan jumlah cewek dan cowok semasa sekolah dulu dari SD sampai SMA, biasanya 2:1. Lihat perbandingan itu, kasihan dong cewek2 yang ga dapet pasangan :p *pemikiran sempit namun perlu dipikirkan juga* nikah itu menggenapkan separuh agama kan ^^

    mudah2an yang berpoligami itu nanti sang suami bisa adil, istri bisa ikhlas… no comment about that..*takut diprotes kaum hawa kayak di infotainment2*

    harapannya memang begitu mas,
    para suami yang memutuskan poligami harus dapat bersikap adil
    paling engga, berusaha untuk adil

    begitu juga keputusan untuk berpoligami,
    bukan spontanitas berlandaskan nafsu,
    tapi melalui pemikiran dan tentu saja
    sudah melewati diskusi dan persetujuan istri 🙂

  16. Kalau bunyi smsnya : “Suamiku selingkuh”, gimana responnya ya ….

    Menarik memang topik ini, dan sebagai pemerhati, saya mencoba banyak belajar terhadap kontroversi:

    1. Bisakah laki-laki adil ? insya Allah bisa, lihat
    2. Benarkah yang dinikahi RasuluLlah SAW semuanya janda-janda tua? lihat data
    3. Apakah Rasul minta izin istri ? apakah istrinya tidak cemburu ? lihat puber kedua

    Hidup ini pilihan, menapaki jalan takwa yang penuh ujian atau jalan fujur yang melenakan.

    Memang jalan takwa tidak hanya poligami, tapi bagi yang mau mengambil jalan ini, mengapa tidak,…
    Mohon mba Dewi koreksi ya….

    Salamualaikum
    Makasih untuk komen dan link referensinya ya mas..
    Seperti yang Mas Kakanda (pemborosan kata nich, udah mas, kakanda lagi :-D) katakan “Jalan takwa tidak hanya poligami, tapi bagi yang mau mengambil jalan ini, mengapa tidak?
    Ya, mengapa tidak? sah-sah saja kok, tulisan ini tidak mengajak perempuan dan lelaki untuk menghindari atau membenci poligami. Hanya mengimbau para suami supaya tidak grusa-grusu saat memutuskan akan menikah lagi.

    Dari komen Mas-nya, ada link ke tulisan tentang Rasulullah. Saya belum membuka linknya, jadi tentu juga belum membacanya. Menurut saya, Rasulullah memang harus selalu dijadikan panutan dan teladan kita dalam bersikap, tapi bukan kemudian menjadi pembanding, karena tak akan sebanding, tak mungkin seimbang, atau bahkan mungkin mendekati pribadinya. Rasul, pernah membuat istri-istri lainnya cemburu karena perhatiannya yang demikian besar kepada Aisyah.

    Peristiwa cemburu para istri kala itu, (mungkin memang sengaja digariskan Allah sebagai bahan pelajaran umat manusia di kehidupan selanjutnya), untuk menunjukkan bahwa Nabi terpilih pun ternyata bukan sang maha adil. Apalagi kita, umatnya?

    Loh, lalu ndak boleh poligami? Eits, bukan itu yang ingin saya kemukakan. Jika Rasul dengan segala kelebihannya tetap manusia yang kurang sempurna, maka kita umatnya yang ‘biasa-biasa’ saja harus berusaha lebih keras, untuk setidaknya mendekati perilaku dan pribadi ala Nabi dan Rasul. Begitu juga para suami yang hendak menikah lagi, musti berjuang dan berusaha lebih kuat, lebih keras, lebih banyak, untuk paling tidak dapat mendekati sikap adil ala Rasulullah.

    nyuwun sewu, ini cuma coret-coret saya, ndak ada dalil dan referensi, kecuali dari apa yang pernah saya lihat dan dengar. itu saja….

    🙂 😉 🙂

  17. Wah rame banget di sini ya…Bicara poligami, jadi ingat Aa Gym. Katanya lagi menyendiri di Jakarta ya? (eitt, baca dari jauh di sebuah tabloid yang dijajakan di perempatan)….

    Saya malah belon baca tuh mas… 🙂
    pas ada tabloid n’ koran yg ada beritanya, eh kok ya males ngebacanya..

  18. Dewi,

    menurut saya, siapapun dewi, dalam hal ini Dewi-lah yang HEBAT !
    ini terbukti dengan kepiawaian Dewi menuliskan sms yang hanya sekelebatan, bahkan bukan sms untuk Dewi loh, menjadi diskusi yang sangat panjang dan menarik. Sehingga saya juga telah ikut menikmatinya.

    poligami… memang membuat laki2 (baca “saya”) menarik nafas panjang. Kadang (atau malah sering ya ?), pengin juga sih lirak-lirik kiri-kanan, siapa tahu ada cewek cantik yang mau. Apa lagi kalau kadang istri juga bikin BT. Tapi entah kenapa kok sampai saat ini alhamdulillah, sepertinya doa istri kali ya yang selalu menjaga saya untuk tidak neko-neko.

    selamat berkarya,

    salam,

    ini

    Mas/Pak Ini, siapapun Anda, terima kasih sudah berkenan berkunjung ke blog saya dan ikut meramaikan sharing dengan tema yang sudah ada sejak dulu dan akan tetap ramai dibicarakan hingga di masa mendatang.

    Aduuuuh, kata Mas/Pak Ini kalo Dewi yang hebat, semoga tidak menjadikan saya ge-er. Salah-salah, saya ke-gedean kepala, trus langsung terbang ke angkasa dech 😀 😛
    Untungnya, pas ngebaca comment Anda, saya sedang berada di ruangan kantor, dengan 10 rekan kerja yang siap menarik dan menahan tubuh saya, jika saya memang spontan terbang melayang karena senang :-).
    Eh, untungnya lagi, ruangan kantor saya kok ya Alhamdulillah masih memiliki atap yang akan menjadi penahan saya untuk terbang.

    Loh, loh…kok jadi ngelantur dan mbuulet yach?…
    pasti gara2 ke-geeran 🙂
    Salam dan hormat saya untuk istri Anda, semoga selalu dalam lindungan dan rahmat Allah SWT, amin

  19. kenapa yah, kalau jadi mukmin kok harus ikhlas buat poligami ? saya islam, tapi kepingin menolak poligami.

    maunya sih huahahahha 🙂

    MauNya nOLak,
    apa mau POLIgami?
    eH, saya tak meNOLak PoLigami Loh…tapi berhaRap agar siapapun yg melakukannya benar-benar sudah memikirkan dengan serius dan matang
    siap diri lahir dan batin
    begitu juga dengan sang istri

  20. teh Dewi, ijin dimuat ulang ya tulisannya. hanya sebagai renungan buat saya dan calon istri saya 😀

    makasih banyak sebelumnya.

    oiya, dimuat di fikarijal.wordpress.com

    maksudNa, tulisan ini mo dimuat di sana?
    monggo….
    ada royaltinya nggak? 😀 😛
    (becanda kok….)

  21. Ping-balik: Tentang Poligami (sebuah catatan) « Fika Rijal

  22. kalau saya inginnya tegas tegas menolak, dew.
    karena pada kenyataannya, poligami diawali dgn selingkuh suami pada wanita lain. –> you need two for a tango.

    jadi memang gayung bersambut dulu, baru jadi deh tuh poligami.

    aa gym saja ketika kawin siri [yg menikahkan ketua mui jabar lho], doai gak pakai minta ijin ke teh ninih. masak yg seperti ini bisa disebut cara cara jujur dan bermartabat sih ?

    tanya tanya ? 🙂

    plok, plok, plok…..
    semoga istikomah ya…
    🙂 🙂 🙂

  23. @ papabonbon :
    kalau saya inginnya tegas tegas menolak, dew.

    *** setuju atau menolak itu hak setiap orang Pak… tidak ada yang maksa. Wong yang bertanggungjawab di akhirat nanti kita masing2 koq.

    @ papabonbon :
    karena pada kenyataannya, poligami diawali dgn selingkuh suami pada wanita lain. –> you need two for a tango.
    jadi memang gayung bersambut dulu, baru jadi deh tuh poligami.

    *** Itu kan poligami menurut cara anda… Kalo menurut Islam, prosedur dari ta’aruf sampai pernikahan kan sudah jelas!

    @ papabonbon :
    aa gym saja ketika kawin siri [yg menikahkan ketua mui jabar lho], doai gak pakai minta ijin ke teh ninih. masak yg seperti ini bisa disebut cara cara jujur dan bermartabat sih ?
    tanya tanya ? 🙂

    *** Kenapa jadi membicarakan AA Gym? Komentar yang ‘dewasa’ seharusnya tidak ‘menyerang’ orang lain diluar forum ini. Oya.. Emangnya Bapak hadir ya waktu pernikahan beliau itu, sehingga Bapak seakan lebih tahu ketimbang keluarga mereka?

    @ dewiyuhana :
    plok, plok, plok…..
    semoga istikomah ya…
    🙂 🙂 🙂

    *** Wah, tepuk tangan??? Maksud mbak Dewi apa ya?

    *

  24. Yah silahkan berpoligami
    tapi harus sesuai syarat-syarat berikut.
    1. Janda dengan anak dan kurang mampu.
    2. Perempuan yatim/piatu, perawan atau janda.

    jangan asal comot aja, dibaca lagi ayatnya mulai dari tanda waqof sampai waqof berikutnya, jangan asal potong.

    he-eh…kalo asal comot…..
    kayak nyomot pisang goreng aja…. 🙂

  25. Selalu ikutilah norma2 manusia umum yang memang telah terbukti dari sejak dahulu kala sampai nanti kelak.

    Polygami adalah suatu hal lebih banyak merugikannya dari pada keuntungannya.

    Saya sendiri datang dari keluarga yang seperti itu dan saya yakin bahwa hal itu lebih banyak mendatangkan kesusahan dari pada sebaliknya. Terutama untuk kaum ibu dan anak2.

    Merasa di anak tirikan, di nomer dua kan, tidak di perdulikan adalah perasaan yang menekan para kaum ibu dan anak, yang pada akhirnya melahirkan suatu kharakter2 yang extreem untuk sang anak.

    saya juga yakin untuk kamu pria, polygami lebih banyak di latar belakangi egoisme diri yang cenderung cabul dari pada latar belakang untuk menolong sesama.

    Saya kadang bisa garuk2 kepala sendiri dengan segala alasan para pria untuk minta di sahkan untuk menikah lagi.

    Apakah cinta bisa di bagi?
    Apakah cinta bisa dengan tega melihat orang yang di cintainya hancur hati karena suaminya menikahi wanita lain?
    Jika jawabannya BISA maka anda, para pria berpolygami, adalah orang yang paling tidak berperasaan, dingin dan kejam.

  26. Ini pada ngomongin apaan seh !!!
    Oowh… Poligami to.., poligami itu bukan “anjuran” tetapi “kebolehan”..
    Boleh kita ndak suka poligami,, tetapi jng mengharamkan poligami…

  27. Ya itulah, mau sih, berdasarkan pengalaman pribadi, poligami itu di haramkan saja karena jelas dan nyata menyakitkan banyak orang, tapi saya sebagai umat ya harus menjalani dan menerima. Mudah2an saya tidak di madu seperti Ibu saya.

  28. perbincangan poligami ini menarik……Saya jadi ingin mengeluarkan unek2 yang ku g tahu harus diungkapin dimana. Apa yang terjadi sama temennya dewi sama juga terjadi padaku. Rumah tanggaku hampir tidak pernah menghadapi masalah yang besar, aq punya suami yang menurutku baik sholeh rajin sholat dan memperlakukanku dan anak sangat baik. semua kebutuhan kami dipenuhi..

    usia pernikahanku baru 2 tahun dan jujur aku juga masih belum tahu suamiku seutuhnya karena kami menikah tanpa pacaran dan insyaallah tujuanku saat itu niat menikah muda untu menghindari pacaran, zina meskipun usiaku muda 21 tahun. Padahal insyaallah aku sebagai istri selalu memberikn hak dn kewjiban sesuai dengan apa yang diperintahkan agama.

    aku tidak pernah nuntut lebih dari apa yang suami punya, aq yang selalu berusaha memberikan sesuatu yang romantis, menekan egoku agar tidak menyakti. Tak pernah ku mengeluh dan mengeluarkan kata keras pada suami. Jujur sebagai wanita aku belum siap dan tidak setuju dipoligami. karena ada alasan yang ku pegang beljr dari sejarah rasulullah saat menikah dengan khadijah tak pernah menikah dengan perempuan lain, padahal di jaman itu sebelum mengenal islam banyak praktek lelaki nikah lebih dari 1. tapi tak pernah sedikitpun terpikir untuk nikah lagi padahal usia mereka beda jauh, Rasulullah lebih muda. dan keputusan Rasulullah menikah lebih dari satupun bukan karena keinginan beliau sendiri tapi tidak luput dari petunjuk Allah.

    Jika semua beranggapan menikah lebih dari satu sudah mendapat petunjuk Allah seperti rasulullah perlukah jujur pada diri sendiri melihat pada segala gerak-gerik hati kita apakah sudah bersih dari penyakit hati dan benar2 apa yang kita lakukan didunia ini semata-mata karena Allah?

    sudahkah kita menjadi makhluk yang bersih dan terhindar dari pengaruh setan sehingga yakin petunjuk itu dari Allah? maaf kalo argumentasiku agak keras karena masalah ini juga kualami.

    Aku sekarang hanya berpikir bagaimana tanggungjawabku pada Allah tentang anak kami jika aku meminta cerai pada suami kasihan mereka kalau harus dipisahkan dari ayahnya. Sedang kalau dipoligami aku belum siap. Aku saat ini berada dilema mengambil keputuasan.

    dan kalaupun Allah memantapkan hatiku untuk bersedia dipoligami bukan karena ingin mendapat surga. Aku hanya ingin beribadah pada Allah dan menjaga anak ku yang merupakan pertanggungjawabanku kepada Allah. Surga neraka itu haknya Allah. Allah yang menentukan kita mendapat surga atau neraka. Kalau dalam hati kita masih ada sedikit rasa iri, sakit hati, sombong, riya dll masih pantaskah untuk mengharap surga. Yang kita bisa hanya beribadah semata-mata karena Allah dan berusaha menjaga hati.

    Jadi untuk temannya mbak dewi sabar ya…………Allah tidak pernah menguji hambanya lebih dari kemampuan kita. Jangan meminta dipermudah masalah tapi mintalah pundak yang kuat untuk menghadapi masalah kita karena dibalik masalah ada pelajaran hidup yang diberikan allah karena kecintaanNya.

    Untuk para lelaki baik yang msih calon suami maupun yang sudah menjadi suami coba tanyakan secara jujur pada diri sendiri benarkah niat poligami semata-mata beribadah kepada Allah? Tidak pernahkah terpikirkan bagaimana istri di rumah berjuang mendidik anak sebaik mungkin, memberikan cinta kasihnya yang tulus yang tak terbagi oleh siapapun.

    waduuuh, mbak hamba Allah dimanapun berada…bener sekali, Allah SWT tidak akan memberikan cobaan dan menguji hambaNya di atas kemampuan mereka. Dewi yakin Mbak bisa menghadapi cobaan yang saat ini terjadi.
    Apapun hasil akhirnya, semoga itu memang yang terbaik menurutNya, Tuhan Yang Esa.
    Tetep SEMANGAT ya…!

  29. Assalamu’alaikum semuanya,, khususnya ukhti yang punya blog ini…

    sempat terlintas suatu keprihatinan saya terhadap kasus yang satu -poligami- ini. saat dulu ada tokoh yang difigurkan oleh umat punya keinginan untuk nikah lagi. sebenarnya menurut saya secara pribadi sah-sah saja, siapapun yang melakukan itu, asal sesuai dengan syari’ahnya, adil, dan bijaksana, karena inilah syarat utama yang tidak bisa ditawar-tawar.
    pernah ada seorang teman ngobrol panjang lebar tentang hal ini sama saya, dan saya merasa mendapatkan suatu wacana baru tentang orang yang membina kahidupan rumah tangga dengan istri lebih dari satu. sebenarnya ada semacam hikmah yang mungkin belum bisa dicerna dengan baik oleh banyak kalangan, diantaranya adalah:
    1. Orang yang beristri lebih dari satu biasanya punya keinginan kuat untuk meraih semua yang menjadi cita-citanya, udah banyak contohnya…
    2. Para istri sebenarnya malah diuntungkan karena mereka tidak menanggung beban multi fungsi kehidupan berrumah tangga sendirian…
    3. Kehidupan rumah tangga dalam berbagai seginya bisa semakin kuat karena antara kepala rumah tangga dan para istri punya tugas yang sama dalam hal ubudiyah, pendidikan anak-anak, ekonomi keluarga, dan lain sebagainya…
    demikianlah, sebab bagaimanapun apa yang telah termuat dalam ayat al-Qur an adalah sesuatu yang haq dan tak bisa dibantah oleh sebanyak apapun manusia yang tidak setuju dengan hal ini.
    akan tetapi jika menikah lebih dari satu dengan tendensi dan tujuan yang jauh dari apa ajaran yang telah digariskan maka apa yang dikhawatirkan pasti akan terjadi.

    nah, untuk lebih selamatnya memang sebaiknya kita beristri satu saja, gak banya kontroversinya. beristri satu yang bisa berperan sebagai seribu, ya kayak ukhti dewi-lah misalnya…(afwan just kidding)…

    Wassalam…

  30. Aduh mbak Hamba Allah … mbak sangat bijaksana … terima kasih buat tulisannya.
    Memang kita harus juga memikirkan tanggung jawab kita masing2 secara pribadi kepada Allah.
    Saya merasa sangat lega …. sekali lagi terima kasih.

    Jika memang poligami itu merupakan petunjuk dari Allah haruslah itu merupakan sesuatu yang baik buat semuanya termasuk istri yang di madu dan anak2 nya.

    Tapi sebaliknya, jika poligami itu merupakan ungkapan egoisme cabul seorang lelaki … maka itulah awal dari kehidupan yang menyakitkan dan menyengsarakan.
    Dosa besar karena selain cabul juga menyengsarakan banyak orang.

    Coba tanyakan secara jujur pada diri sendiri benarkah niat poligami semata-mata beribadah kepada Allah?

  31. mengapa wanita dipolygami dan hatinya ikhlas dijamin masuk SurgaNya.., Karena wanita seperti ini bukan sembarang wanita loh bos.. Berhati ikhlas artinya lapang dada, menerima sepenuh hati, dan yang pasti SANGGUP MEMBUNUH RASA CEMBURU DI HATINYA ,Karena rasa Cemburu, adalah buah dari iri dan dengki. Adakah wanita seperti ini? Andakah wanita yg pantas masuk surga Bos?

  32. Saya kira satu hal yang dilupakan para istri itu adalah pada saat dia telah bersuami dia tidak pernah introspeksi diri akan sikap dan egonya setelah menikah dengan suami. Ibu saya pernah mengatakan bahwa banyak suami yang ingin menikah lagi bukan karena hawa nafsu atau bosan dengan istri pertamanya tetapi dia tidak tahan dengan sikap istri pertamanya yang tidak dapat menghargai (apalagi melayani) suaminya dengan baik. Sering sekali sang istri menggerutu akan sikap suami hingga ketakutan akan kehilangan suami atau suaminya menikah lagi tetapi tidak pernah sama sekali melakukan evaluasi terhadap bagaimana dia memperlakukan suaminya,

    Setuju dengan dikatakan oleh Mas Dimazz dimana masing-masing pasangan memiliki permasalahannya masing-masing tetapi hak, halal dan haram adalah ketentuan Allah SWT. Oleh karena itu pada saat seorang suami menikah lagi kita harus tidak selalu menyalahkan sang suami karena besar kemungkinan ada sesuatu sebab pada sang istri.

    Saya pernah punya kenalan seorang suami yang menikah lagi dengan istri kedua tanpa meminta izin dari istri pertama dimana setelah ditilik, beliau dijodohkan oleh orangtuanya dan selama menikah merasa tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari istri pertamanya, padahal istri pertamanya (katanya) sangat mencintai dia, tetapi si suami merasa diperlakukan tidak baik oleh istri pertamanya.

    Oleh karena itu baik si istri, suami, maupun masyarakat layaknya bijak untuk melihat hal ini tidak saja selalu dari sisi negatif atau saling menyalahkan tetapi dilihat dari sisi objektifitas sebab bila kita berada pada posisi orang yang kita salahkan belum tentu kita akan menunjukkan hal yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s