“Mahasiswa Saling Serang, Rumah Rektor Diserbu”


Mahasiswa Saling Serang, Rumah Rektor Diserbu

Jika anda membaca Jawa Pos hari ini (30/03/08), yupz!! judul tulisan saya adalah judul salah satu berita di halaman depan. Saya bukan pakar Bahasa Indonesia, juga jarang menjadi siswa dan mahasiswa teladan yang memperoleh nilai terbaik di mata pelajaran ini. Tapi saat merasa ‘tertipu’ usai membaca beritanya hingga tuntas, saya mencoba berpikir dan mereview ulang pengetahuan terbatas tentang bahasa Indonesia di memory otak saya yang juga terbatas.

Bahasa koran, memang bukan bahasa baku dan kaku, tapi juga bukan sebuah bentuk tatanan bahasa baru yang kontra dengan apa yang sudah kita pelajari. Saya ingin bertanya, apa yang pertama kali terbayang di benak Anda setelah membaca judul itu?

Anda mungkin membayangkan dua kelompok mahasiswa bentrok dan saling menyerang, lalu menyerbu rumah rektor. Pikiran tersebut tidak salah jika Anda berpatokan pada sebab-akibat, sehingga kalimat pertama (mahasiswa saling serang) dan kalimat kedua (rumah rektor diserbu) memiliki kaitan. Itu pula yang saya pikirkan saat membaca judul berita sambil melihat foto pendukung.

“GIla!, mahasiswa itu kan dedengkot-e, mbah buyut-e siswa, hingga harus ditambahi kata maha di depan siswa. Jadi pasti memiliki bergudang2 ilmu dan wawasan, kok bisa saling bentrok hingga menyerbu rumah rektornya sendiri. Mahasiswa macam apa itu?!,” kata saya dalam hati.

Saya semakin sebel dan mangkel, saat membaca alinea pertama. Di situ tertulis

KENDARI- Kota Kendari masih belum terkendali. Kemarin memasuki hari ketiga kerusuhan di ibu kota Sulawesi Tenggara itu. Bila hari pertama, mahasiswa versus polisi, hari kedua mahasiswa menyerang pemkot, kemarin mahasiswa versus mahasiswa.

wow!!, hati saya semakin panas, “apa-apaan mahasiswa ini?!”.

Saya teruskan membaca berita, dan…… ketika sampai di pertengahan berita emosi marah saya langsung tergantikan dengan rasa kecewa dan sebal.

“Lah, saya tertipu!. Ditipu penulis berita (ato mungkin editornya?) karena pemilihan judul tersebut, dan kalimat di alinea pertama yang seolah-olah menjadikan mahasiswa sebagai pemeran antagonis”.

Mungkin itu juga dirasakan pembaca yang bernasib sama dengan saya, baru memembaca sekilas dan tak sempat mengikuti berita dua hari sebelumnya (banyak pembaca bertipe seperti kami ini loh 🙂 ).

Anggapan bahwa rumah rektor diserbu oleh mahasiswa, ternyata juga tidak benar, sebab penyerbuan dilakukan oleh sekelompok orang tak dikenal. Jadi menurut saya, pemilihan kata ‘saling’ dan kalimat ‘rumah rektor diserbu’ kurang pas didengar. (eh, tolong dibenerin kalo ada yang salah ya… 🙂 )

3 responses to ““Mahasiswa Saling Serang, Rumah Rektor Diserbu”

  1. Ya saya sangat miris sekali melihat – membaca – dan mendengar berita-berita tersebut …
    Tidak bisa kah kita semua bersabar dan berbesar hati …
    Melakukan apapun tujuan kita dengan cara yang Elegan … (ah …)

    Halo Mbak Dewi …
    Apa kabar nih …
    Saya datang lagi …

    Lah, datangnya diem2…
    dewi jadi ga tau dech 🙂

  2. Hmm …
    Yang jelas aku suka ngeri kalo ngeliat tayangan aksi ini di TV …
    Aku tidak jelas siapa yang melakukan … mahasiswakah, intelkah, masyarakatkah, atau siapa ..?? yang jelas aku prihatin …

    Semoga masalah bisa selesai ya Dew …

    Salam saya …
    (wah lama nih saya gak jalan-jalan kesini … ketinggalan banyak postingan nih …)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s