Siap Menang Vs Siap Kalah, Mana Yang Paling Susah?


“Apapun hasil akhirnya, saya siap. Menang Alhamdulillah, kalah ya tidak apa-apa, belum rezeki”

Kita sering mendengar ungkapan di atas terlontar dari peserta kompetisi. Mulai dari kompetisi nyanyi tingkat RT, kelurahan, hingga yang masuk tipi, pemilihan putri kampus, duta wisata kota, sampai putri Indonesia, calon bupati dan walikota dalam pilkada, calon presiden di pemilu langsung, atau para calon wakil rakyat saat berkampanye di daerah pemilihan.

Terdengar menyejukkan dan menenangkan bukan? apalagi jika kalimat itu diucapkan sambil tersenyum didukung sorot mata ramah sebagai ajakan agar siapapun percaya bahwa pernyataan itu benar adanya. Senyum dan sorot mata ramah, adalah gerakan non verbal yang sebenarnya dibutuhkan oleh si pelontar pernyataan, karena besar kemungkinan ia sendiri belum percaya akan dapat menerima sebuah perubahan secara drastis.

Mungkin ada yang beranggapan ‘perubahan secara drastis’ yang saya maksud adalah kekalahan. Siapapun setuju, kalah dalam sebuah persaingan tentu menyakitkan, memalukan, dan terkadang menempatkan seseorang pada posisi terhina, sebab ia tak dapat mengungguli pesaing yang awalnya diremehkan. Lebih menyedihkan lagi, kekalahan berarti menutup kesempatan seseorang menjadi populer, terkenal, kaya, terhormat, berkuasa, dan sebagainya.

Tapi bukan itu yang saya maksud. Perubahan drastis yang tak siap diterima oleh peserta kompetisi adalah kekalahan sekaligus kemenangan. Banyak yang tidak siap kalah dan tidak menyiapkan mental untuk menang.

What?!!, saya salah tulis?

NO! saya tidak salah menulis dan YES, ada banyak pemenang yang tak bermental sebagai pemenang. Karena itu di alinea terdahulu, sebenarnya saya ingin menulis “karena besar kemungkinan ia belum percaya dirinya akan dapat menerima sebuah kemenangan”.

Tapi urung saya tulis, sebab secara tiba-tiba muncul bayangan reaksi Anda setelah membacanya. Anda kaget dan spontan berkomentar “Loh, gimana sih? Dewi pasti Salah tulis!! harusnya bukan kemenangan tapi kekalahan. Waaaah, nulisnya sambil ngantuk, laper, ato lagi marah banget nih”.

Apakah prediksi saya benar? jika ya, kasih hadiah dunk….(iiih, maunya….:-) )

He3, jangan tambah manyun dan cemberut..apalagi sampai menyumpahi saya, enggan meneruskan membaca dan langsung menutup blog ini. Yaaach, jika ada yang memilih terakhir, semoga Allah memberkati (he3…), dan orang tersebut mendapat pencerahan di kemudian hari. 😀 😛 😀

Saya memang menganggap, menyiapkan mental untuk menang lebih sulit dibandingkan persiapan mental dalam menerima kekalahan. Efek dari keduanya juga berbeda jauh. Akibat negatif tak siap menang lebih besar dari pengaruh kekalahan. Jika Anda kalah, paling yang sedih ya..hanya Anda dan keluarga, serta mungkin sedikit dari penggemar atau seseorang yang mencintai dan mengagumi Anda. Sebaliknya, saat Anda menang namun belum siap mental sebagai pemenang, akan ada masyarakat luas yang terkena imbas di samping keluarga dan penggemar.

Saya kenal seorang remaja sopan, baik, ramah, dan (amat sangat) biasa hingga tak terbiasa dengan kamera, apalagi adegan peluk-cium dengan lawan jenis. Hingga kemudian ia terpilih sebagai salah satu finalis kompetisi di sebuah televisi. Bisa dibayangkan, ia dan keluarganya yang sederhana langsung gembira dan mulai memimpikan kesuksesan dan ketenaran (baca: uang) yang sebentar lagi diraih, serta apa yang akan mereka lakukan dengan itu semua. Sebulan kemudian saya terkaget-kaget dengan pose ‘berani’ si anak alim ini di sebuah tabloid. Dia memang tetap ramah dan tersenyum kepada siapapun yang menyapanya, namun kepolosan dan ketulusan yang ia miliki sebelumnya hilang tak berbekas. Keluarganya? secara materi tidak ada peningkatan signifikan.

Ada lagi seorang teman yang mendadak terpilih sebagai wakil rakyat, langsung kaya, bisa menjadi rekan (sementara) para pengusaha dan kaum sosialita yang selama ini hanya dapat ia lihat, tanpa mampu mendekat. Membeli pakaian branded, mobil mewah, rumah berkelas dan mulai bersikap seakan-akan ia sudah ‘kaya’ sejak lahir. fyuh…

Anda penyuka Dangdut Mania di TPI? (karena saya belum pernah menonton). Berita feature Kompas hari ini mengupas tentang finalis dan ikon ajang tersebut, Muhammad alias Ian Kasolo (39) yang setahun lalu selalu tampil sebagai selebriti glamor seiap minggu, saat ini bekerja serabutan sebagai pengantar makanan katering. Pemuda lajang asal Solo ini rela melepas pekerjaan sebagai kurir bank swasta bergaji sekitar Rp 1 juta per bulan untuk meraih mimpi tenar dan mengubah nasib. Perlakuan bak artis ‘beneran’, seperti tinggal di vila, makan di resto manapun yang diminta, penampilan yang dipermak funky dan dielu-elukan penggemar, membuat Ian melayang. Maklum, ia sebelumnya harus tinggal di rumah 3×4 meter bersama ibu, kakak, dan ponakan. Ketidak siapan mental sebagai pemenang membuatnya gelap mata dan nekad berutang hingga Rp 30 an juta untuk mendanai pengiriman SMS.

Contoh lain, kali ini bukan tentang si pemenang langsung (yang kebetulan terpilih sebagai kepala daerah) tapi tentang istrinya yang berperan bak seorang ratu dengan menjadikan beberapa staf sebagai ‘pelayan’ pribadi. Ada yang menjadi penata rambut, tukang meni-pedi, staf khusus facial, hingga yang dipilih khusus untuk menangani make upnya. Yang dirugikan? tak hanya negara tapi juga rakyat. Karena dia hanya siap menang namun tak bermental seorang pemenang.

Siap menang dan siap kalah, mudah untuk dilakukan..
Banyak orang yang kalah tapi bermental pemenang,
tak sedikit pemenang namun bermental pecundang
Bermental pemenang berarti tahu batasan dan porsi yang menjadi haknya
serta menggunakannya dengan bijak,
seorang pemenang tak akan menganggap dirinya sang juara,
merasa tak terkalahkan, lalu menjadi jumawa
pemenang sejati adalah mereka yang ikhlas berbagi….

 

4 responses to “Siap Menang Vs Siap Kalah, Mana Yang Paling Susah?

  1. Kenapa harus siap kalah. Bukankah lebih baik berpikir habis-habisan. seperti seorang panglima yang membakar habis kapalnya agar pasukannya tak lagi bisa mundur. intinya menang atau hancur (mati sekalian kalau perlu)
    Kalau pun nanti kalah. itu urusan lain. urusan tawakal itu. Dan kalau kalau bangkit lagi mungkin dulu cara kita salah, atau timing kita belum pas.
    Tak ada mental siap kalah. dan tak seharusnya ada orang yang mempersiapkan diri untuk kalah.
    Tapi… sebelum sampai pada menang atau kalau ukur dulu apakah suatu tujuan layak untuk dikejar atau tidak.
    [ id ]

    Nah, bener tuh…
    kenapa harus siap kalah?
    padahal ga ada mental siap kalah,
    kalo githu selalu ada mental siap menang? belum tentu juga…
    trus gimana dunk?

  2. saya ingin selalu menjadi pemenang dalam setiap jalan perjuangan
    tapi andai pun Tuhan tkdirkan lain
    kesabaran dan keikhlasan adalah keharusan
    sambil segera bermuhasabah
    apakah ada yang salah

    ehmmm….

  3. permisi…
    mau mampir nih.
    Mau daftar lomba dangdut di sini ya tempatnya (eh salah masuk).
    🙂

    Ooooo, mas Antown ini penyanyi dangdut to….
    *baru tau nich… 😀 😛 😀 *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s