.::. Menjadi Ibu….*_*.::.


Kelas 1 SDKelas 1 SDKelas 3 SDKelas 3 SD

Foto Atas: Abdul Sahid dan Nur Hidayah Kelas 1 SD.
Bawah: Mizan Ali dan Muslimah, kelas 3 SD)

21 April 2008 menjadi momen bersejarah. Bukan karena Hari Kartini yang membuat sebagian besar perempuan memiliki alasan tepat untuk tampil beda. Bermake up lengkap dengan sanggul plus kebaya. Rela bangun pagi buta untuk antre di salon, dan tentu saja menyiapkan budget lebih besar hanya untuk penampilan sehari. “Ah, setahun sekali ini”, mungkin itu yang ada di pikiran mereka.

Hari ini bersejarah karena saya resmi menjadi Ibu 😉 !! Ibu dari anak-anak yang cantik (secantik saya 😆 ) dan ganteng. Bukan cuma satu atau dua anak, tapi langsung empat! Alhamdulillah…

Kehadiran mereka, meski hanya lewat foto, menjadi obat mujarab yang mengingatkan saya untuk selalu bersyukur kepada-Nya, meski baru saja melewati hari yang lumayan berat. Oia, saat ini mereka kelas satu dan kelas tiga MI Al Hidayah di Batu.

Doakan anak-anak (asuh) saya selalu sehat, dalam lindunganNya, dapat belajar dengan baik, dan dapat berguna bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara 🙂 😉

TOPENG


TOPENGToPENG AYU


Membuka femina-online dan membaca salah satu cerita bersambungnya “TOPENG” sore tadi, membuat saya teringat beberapa koleksi topeng yang sudah lama tak pernah saya kenakan. Selain bosan dan malas harus bergonta-ganti topeng untuk setiap momen berbeda, saya tidak lagi merasakan manfaatnya, atau sebenarnya topeng-topeng tak pernah memberi manfaat sejak awal? kecuali menutupi wajah asli saya?.

Yach, whatever lah, yang jelas saya lupa mulai kapan koleksi-koleksi itu tersimpan rapi dan aman dalam kotak, yang didesain khusus untuk menjaga agar tak mudah rusak sekaligus mengantisipasi orang-orang yang penasaran dan ingin melihat topeng-topeng itu. Memaksa untuk membuka kotak dan mengambilnya. Tidak, tidak akan pernah saya izinkan!

Memang, sekali waktu ada saja orang yang mengamati satu atau dua topeng yang saya pakai dengan lebih cermat, lalu mencoba menirunya. Huh, memang bisa? Dari segi bentuk, mungkin ada yang dapat membuat duplikasi semirip aslinya. Tapi mereka, pemakai topeng duplikasi itu tak akan pernah dapat menyamai penghayatan alami yang muncul secara otomatis ketika saya memainkan peran sesuai bentuk topeng dengan sempurna. Bahkan (mungkin) terlalu sempurna hingga banyak yang berkomentar topeng bagaikan kulit kedua saya.

Mendengarnya, saya tidak memprotes, sebaliknya berterima kasih atas penghargaan dan penilaian yang diberikan. Bagaimanapun, penilaian tersebut merupakan bentuk nyata dari sebuah perhatian tulus.

Malam ini, saya membuka kotak dengan kunci khusus. Disebut khusus, sebab satu model kunci hanya diproduksi tunggal, satu item di dunia. Sungguh eksklusif. Bahkan saya tak dapat membuat duplikasi kunci yang sepanjang hidup akan selalu saya bawa. Begitu juga Anda, atau siapapun yang diberi amanah membawa kunci tersebut. Kecuali Dia, sang pencipta kunci itu sendiri, yang berhak mencipta dan membuat kunci-kunci baru dengan master key yang dimiliki. Baca lebih lanjut

15 Menit Jadi Primadona “Jalan Raya”


Seperti biasanya, (22/4/8 ) saya berangkat ke kantor menjelang pukul 15.00 WIB. Tak ada yang istimewa dengan penampilan saya hari ini, blus item, jins, dengan high heels kesayangan dan tas super gede. Eits, jangan sampe ketinggalan dunk, kacamata! Well, too simple kan?! Nggak neko-neko sama sekali loh.

Tapi tahukah Anda? Sepanjang perjalanan menuju kantor yang berjarak sekitar 2 kilometer, saya menjadi perhatian semua orang yang ada di jalan raya, mulai dari Raya Kawi, Arjuno, Basuki Rahmat, sampe di Sriwijaya. Tak sedikit yang menyapa dengan senyum, hingga beberapa orang melambaikan tangan sebagai tanda salut. Wow!, kalo ada yang berucap salam, berarti kita harus menjawab salamnya dengan lengkap, sebagai penghargaan karena sudah mendoakan. Nah, saya pun membalas salam dan sapaan mereka dengan gaya sama. Senyum dengan senyum, dan lambaian tangan dengan senyuman juga (iiih, masak saya mo melambai-lambaikan tangan. Ntar dikira Putri Indonesia -ngareep 😆 ).

Yang paling seru, saat berhenti di traffic light di Jalan Basuki Rahmat. Semua pengendara motor dan mobil yang menunggu si lampu ijo tak lepas memandang saya. Bahkan saat si merah sudah berganti warna sebagai tanda diizinkan jalan, masih ada beberapa pengendara yang menoleh dan tersenyum. Gosh!!….

Sesampai di kantor, ternyata saya mendapat kejutan yang lebih heboh. Baru saja kaki melangkah masuk ke ruangan, langsung disambut tepuk tangan rekan-rekan yang ternyata dikomandoi oleh Mr Boss. “Wah, selamat ya…akhirnya dipake dan sampe kantor dengan selamat ”. Baca lebih lanjut

Kenapa Harus Meminta (diberi) Kesempatan?


Dalam setiap diskusi, seminar, atau acara lain sejenis yang membahas tentang perempuan dan kesetaraan gender, selalu terlontar protes tentang minimnya kesempatan yang diberikan terhadap kaum saya ini. Mereka (baca: kami) terlalu sering menuntut untuk diberi kesempatan, agar dihargai, supaya dihormati dan tidak dilecehkan, hingga dapat bersanding sejajar dengan kaum pria.

Saat melontarkan protes, kami terlihat ‘sangar’ karena berani tampil di depan forum dengan semangat membara. Apalagi saat rekan-rekan lain mendukung dengan aplaus panjang atau teriakan setuju (walau mungkin mereka tak mengerti apa yang sudah disetujui), waah, semakin bangga rasanya. Baca lebih lanjut

Belajar Optimis, Percaya SkenarioNya


M Lucky Adnan. Nama yang bagus bukan? Sebagus sang pemilik nama yang dikarunia Allah SWT paras tampan, budi pekerti halus, kekuatan, ketabahan, kesabaran, dan kemampuan memahami makna firmanNya. Tak sekadar tahu arti sebuah ayat, dia pun meyakini dan mempercayai kebenarannya dengan total, tanpa keraguan, pertanyaan, apalagi kecurigaan. Sikap yang semakin menyempurnakan ketampanan fisiknya.

 

Saya tak mengenal Lucky Adnan dan baru melihatnya pagi ini, itu pun tak lebih dari 15 menit. Pertemuan (jika dapat dikatakan sebagai pertemuan) singkat yang sarat makna, hingga menohok perasaan saya dengan sangat telak. Ibarat pemain tinju, saya tak hanya kalah angka tapi jatuh terkapar karena pukulan lawan. Baca lebih lanjut

Permohonan dan Doa


(jika) Anda CEO, Direktur Utama, atau General Manager sebuah perusahaan. Kira-kira, apa yang Anda rasakan saat mendapati anak buah Anda menghadap dan mengajukan beberapa permohonan seperti di bawah ini.

“Tuan, saya mohon Engkau menaikkan gaji kami,  karena harga-harga bahan pokok meningkat, semakin mahal, sedangkan kebutuhan tetap sama. Jauhkan kami dari kesengsaraan karena tak mampu membeli makan, bantu keluarga kami dengan kekuasaan yang  Engkau miliki. Bantu kami Ya Tuanku”.

Bila Anda termasuk pribadi yang dermawan, ramah, dan suka menolong, pasti akan menanggapi permohonan itu dengan tenang sembari berempati dengan apa yang mereka rasakan. Mungkin Anda tidak langsung menaikkan gaji karena kondisi internal dan eksternal tidak memungkinkan untuk membuat kebijakan tersebut. Tapi paling tidak, Anda akan mengulurkan bantuan kepada anak buah yang sangat membutuhkan bantuan itu. Baca lebih lanjut

Cinta dan Air Mata


“Cinta tanpa air mata belum mencapai level tertinggi. Lagian kalo Aya nangis jadi keliatan seksi banget!,” kata Azam yang langsung disambut tawa tiga bersahabat itu

Masih inget sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Nah, jika Anda termasuk penggemar karya Deddy Mizwar ini, pasti Anda belum melupakan sosok Aya dan Azam, dua anak muda yang *sebenarnya* saling mencinta tapi selalu bertengkar dan berbeda pendapat. Mereka harus melewati berbagai rintangan emosi sebelum menjalin sebuah hubungan. Baca lebih lanjut