Hobi Kok Kolektor Sertifikat …


“Saya terlambat mendaftar. Bagaimana kalau tetap membayar normal, 100 persen. Saya tidak perlu diberi makalah dan fasilitas lain, cuma sertifikat saja, bisa kan?”

Penilaian Portofolio dalam Sertifikasi Guru menciptakan hobi baru bagi sebagian pendidik tanah air, kolektor sertifikat! 😦 . Memang tidak semua guru menjadi kolektor, tapi sangat banyak. Sertifikasi guru yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme, sebagai jaminan kualitas pendidikan,. masih dipahami sebagai ajang pengumpulan poin. Semakin banyak angka diraih, kesempatan lolos yang berarti tambahan tunjangan satu kali gaji, semakin besar.

Seminar Peningkatan Profesionalisme Guru

Ada beberapa faktor yang dijadikan parameter penilaian profesionalisme, salah satunya adalah partisipasi guru dalam kegiatan ilmiah seperti seminar, diklat, workshop, semiloka, dan lain sebagainya. Keikutsertaan mereka, harus dibuktikan dengan sertifikat. Karena itulah, setiap akan mengikuti kegiatan pasti muncul pertanyaan “Apa kita akan mendapat sertifikat?”.

Mengusir bosan dan capek....

Tidak ada yang salah dengan pertanyaan tersebut. Sertifikat memang menjadi salah satu bukti bahwa seseorang pernah berpartisipasi aktif dalam sebuah seminar (misalnya), sebagai peserta, moderator, atau pemateri. Menjadi berbeda, saat sertifikat diburu “kolektor” yang memposisikannya sebagai tujuan akhir kegiatan ilmiah. Penambahan wawasan dan keterampilan? Yach, Syukuur kalo memang nambah. Kalaupun belum, ya ndak masalah, asalkan pulang dengan menenteng sertifikat penambah poin. Ironis.

Pertengahan Maret, seorang kepala sekolah izin meninggalkan seminar karena harus memimpin rapat. Mendengarnya, saya tersenyum, dan mengizinkan. Tidak hanya satu atau dua jam, tapi hingga selesai rapat yang menurutnya sangat penting.

“Dari pada capek, setelah rapat tidak perlu balik ke seminar lagi, Ibu langsung bisa istirahat di rumah,” ucap saya tersenyum manis (bangetz 🙂 ).

Si ibu tersenyum bingung menanggapi sikap saya yang (mungkin) di luar perkiraan. Seharusnya, saya melarang dan tak mengizinkannya pergi. Lah ini? malah dikasih izin tanpa batas. Hayo, kurang baik apa dirikyuh? 😀 .

“Oh, terima kasih ya mbak. Kalau begitu, kapan saya dapat mengambil sertifikatnya?”

“Sertifikat apa?”

“Ya….. sertifikat seminar ini..”

“Nah, ibu lupa yaaa, di awal acara tadi saya umumkan sertifikat hanya akan diberikan kepada peserta yang ikut dari awal sampai akhir 🙂 “

Jawaban ramah saya ternyata membuat si ibu marah. Wajahnya berubah 180 derajat, senyumnya hilang, kepalanya tegak, sambil memandang saya tajam, untuk mengintimidasi. Whew! nggak bakal mempan. (pssss…, waktu itu rasanya pengin banget membalas si ibu dengan aksi serupa atau bahkan lebih. Eh, mikir juga sih, masak kita mo main pelotot2an trus jadi tontonan? nggak lucu kan… 😀 😛 ).

Si ibu tetap ngotot, bahkan memanggil bala bantuan yang juga akan izin keluar seminar. Saya tersenyum dan bergeming.

“Gimana sih mbak, saya ini kepala sekolah!!, masak ndak datang di rapat sekolah saya sendiri?”

“Loh, siapa yang melarang ibu?. Kan sudah saya izinkan untuk pergi to?”

Kalau begitu sertifikatnya?”

“Eh, kok balik lagi. Sertifikat ya untuk peserta yang tidak absen. Nah, kalo memang ingin sertifikat, monggo duduk lagi :-)…”

Rupanya ibu tersebut termasuk orang yang tak gampang menyerah (bagus kan?), begitu juga saya!. Menyadari pelototan matanya tak mempan, dia berubah haluan dan mulai mengancam dengan nada tinggi, mengomel, dan mencela “panitia terlalu kaku”, “tak mau memahami kesibukan guru” de el el. Saya dengarkan dan tetap tersenyum.

(mungkin) karena terpesona dengan senyuman saya, kepala sekolah tersebut langsung diam, berbalik menuju pintu, dan pergi. Saya ikut berbalik dan berjalan ke podium, tersenyum getir. “Ah, lagi-lagi demi sertifikat.”

Baru berjalan lima langkah, Pak Udi memanggil dan memberikan ponsel CDMA saya yang terus berbunyi, tanda ada panggilan masuk. “Terima kasih Pak…”.

Eh, berkali-kali memencet tombol OK, hape tetap berbunyi, hang! karena overload SMS dan banyaknya panggilan, susul menyusul, silih berganti.

Ingin tahu sebagian besar SMS?

“Saya terlambat mendaftar. Bagaimana kalau tetap membayar normal, 100 persen. Saya tidak perlu diberi makalah dan fasilitas lain, cuma sertifikat saja, bisa kan?”.

Atau, “Saya daftar menyusul ya?…kalau ruangan sudah penuh mendengarkan dari luar juga nggak apa2..”.


dan…..,

saya tak membalas semua SMS, satupun.


9 responses to “Hobi Kok Kolektor Sertifikat …

  1. ya, begitulah potret sosok seorang pendidik kita (black n white). Garis dermakasi-pun dilanggarnya demi jabatan (sangat manusia: guru juga manusia). Terkadang Point interest dalam sebuah seminar/semiloka pun dianggap remeh (apa jadinya) karena seorang pendidik nantinya tidak akan berhubungan dengan software atau hadware tetapi langsung berhubungan dengan brainware peserta didik. Ataukah semua ini harus ada yang bertanggungjawab?

    tanya yg bertanggung jawab?
    kita semua dunk….
    para orang tua (eh, kalo saya sih calon dech 🙂 ),
    pemerintah, sekolah, dan…..pemilik modal

  2. Memprihatinkan sekali membaca kisah ini. Sampai segitukah kualitas pahlawan tanpa tanda jasa kita? Seperti biasa, mudah2an itu hanya segelintir “oknum”.

    mudah-2 an… 🙂

  3. hahaha… mahasiswa juga banyak kok yang hobi koleksi sertifikat, katanya buat nglamar kerja biar gampang! huakakakakaka…..

    pengalaman pribadi yaaa… 😀 😆

  4. Ah … saya mengernyitkan dahi …
    Kolektor sertifikat … ??

    Hmmm … ini menggambarkan bahwa kadangkala bagi mereka (sang kolektor itu ) … sebundel sertifikat(masih) bisa meningkatkan “nilai jual” mereka mungkin …
    (bisa benar … bisa juga tidak …)

    Makasih ya Mbak ..

  5. Good article..
    Penting sekali qta tanya terlebih dahulu kebijakan pemerintah yang memicu para “pahlawan tanpa tanda jasa” ini untuk melakukan hal2 di atas. Untuk lebih fair, kita hrs lebih strick lagi terhadap hasil dari kegiatan tersebut.

    Kadang ketika dulu kuliah saya juga sering heran dengan mudahnya sertifikat dikeluarkan, dan jadi nilai tambah yang “tambahnya” cukup besar..akhirnya..lihatlah CV mhs skr, rentetan seminar yang berbaris teratur..jujur saya sempat ikut2an (tp ga lama heheh)..anyway, proses sedang berlangsung..dan “dunia” ternyata cukup fair untuk menilai itu semua..So, cayo guru2 Indonesia

  6. Dewi wrote:

    “Saya terlambat mendaftar. Bagaimana kalau tetap membayar normal, 100 persen. Saya tidak perlu diberi makalah dan fasilitas lain, cuma sertifikat saja, bisa kan?”.

    Atau, “Saya daftar menyusul ya?…kalau ruangan sudah penuh mendengarkan dari luar juga nggak apa2..”.

    dan…..,

    saya tak membalas semua SMS, satupun.

    makasih Bu Dewi untuk tak membalas semua SMS, satupun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s