Belajar Optimis, Percaya SkenarioNya


M Lucky Adnan. Nama yang bagus bukan? Sebagus sang pemilik nama yang dikarunia Allah SWT paras tampan, budi pekerti halus, kekuatan, ketabahan, kesabaran, dan kemampuan memahami makna firmanNya. Tak sekadar tahu arti sebuah ayat, dia pun meyakini dan mempercayai kebenarannya dengan total, tanpa keraguan, pertanyaan, apalagi kecurigaan. Sikap yang semakin menyempurnakan ketampanan fisiknya.

 

Saya tak mengenal Lucky Adnan dan baru melihatnya pagi ini, itu pun tak lebih dari 15 menit. Pertemuan (jika dapat dikatakan sebagai pertemuan) singkat yang sarat makna, hingga menohok perasaan saya dengan sangat telak. Ibarat pemain tinju, saya tak hanya kalah angka tapi jatuh terkapar karena pukulan lawan.

 

Senyum dan semangat Lucky terlihat nyata meski hanya saya lihat di layar TV. Senyum yang datang dari hati, bukan senyum palsu yang terpaksa diberikan hanya untuk menyenangkan orang lain. Senyum manis untuk menyembunyikan kenyataan pahit. Ia jujur dengan senyumnya, perkataannya, dan imannya kepada sang Pencipta. 

 

Semangat, optimisme, dan kejujuran yang tampak dari sikap Lucky menyadarkan bahwa saya harus belajar darinya.

Belajar menghargai hidup dan anugerah yang diberikanNya,

belajar untuk tidak pernah putus asa,

belajar tegar dan tidak cengeng,

dan terbesar, belajar ber-positive thinking kepada Tuhan dan skenario rencanaNya 

Ya, saya benar-benar harus belajar kepada Lucky, anak 10 tahun yang tetap semangat dan bahagia meski harus berjuang melawan kanker getah bening. Penyakit yang menuntutnya untuk (terlalu) sering menginap di rumah sakit, yang memintanya untuk memendam hasrat melakukan berbagai aktivitas, sementara ratusan, ribuan, dan jutaan anak lain seusianya sedang bermain dan bergembira bersama dalam kondisi sehat, lepas, dan bebas.

 

Pagi ini, Lucky telah memberi saya banyak pelajaran…

tentang kesabaran dan sikap pasrah mutlak kepadaNya

kemampuan memahami dan menerima setiap ujian yang diberikanNya

serta tentang pelajaran penting untuk tidak menghujat dan menyalahkan dia dan DIA Yang ESA

 

“Saat tahu dan divonis terkena kanker, awalnya saya kaget. Tapi setelah dididik dan diberi pemahaman orang tua, saya bisa menerima karena saya tahu Allah akan selalu berada di samping saya, tidak akan pernah meninggalkan saya sedetikpun.”

 

Kalimat itu diucapkan dengan lancar, tegas, penuh semangat sembari terus tersenyum. Seakan penyakit berat menakutkan itu bukan sebuah beban. Lucky menatap masa depan dengan optimisme tinggi, setinggi kepercayaannya akan kuasa Yang Esa, sebesar pengharapannya terhadap janji bahwa Dia tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya.

 

“Lucky yakin bisa melewati semua ini dan akan sembuh. Lucky harus sabar, terus berikhtiar, seperti yang dikatakan orang tua Lucky, Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya. Karena itu Lucky yakin, kalo Lucky mampu dan kuat menghadapi ujian dari Allah”.

 

Ya Rabb….

Bagaimana saya tidak tertegun,

spontan menangis dan tak mampu berucap, mendengar pernyataan yang diucapkan anak sekecil itu?

melihat kekuatan besar di balik tubuh lemah dengan infus menancap di lengan.

Bagaimana saya masih merasa merana dengan ujian yang seujung kuku pun tak dapat disandingkan dengan ujian yang Engkau “anugerahkan” kepadanya

pada anak yang memiliki kemampuan jauh di atas batas kemampuan saya dalam menanggung beban ringan

😦 😦 😦 

 

saya masih menangis saat jari jemari secara otomatis menekan huruf-huruf di notebook.

dan air mata itu tak jua berhenti mengalir sesudahnya, berjam-jam kemudian.

ah, saya harus kembali berterima kasih juga pada Lucky karena memberi alasan tepat untuk meneteskan air mata,

mengurasnya tanpa tau kapan akan berhenti. 😦 😉

 

 

 

 

  

 

 

My Lit Room, @ BaRNES Ngalam

07.00 WIB, 17 April 2008

4 responses to “Belajar Optimis, Percaya SkenarioNya

  1. Ketika membaca cerita ini aku jadi inget……
    alhamdulillah. Aku bersyukur diberi nikmat sehat, dan aku sangat berterima kasih kepada-Nya karena peringatan-Nya.
    Teman waktu kuliah berpulang ke pangkuan-Nya. Dan hari ini dia dimakamkan di Jombang. Wajahnya sampai detik ini masih dihadapanku. semoga amal kebaikan dan perbuatan selama hidup di terima di sisi-Nya. ALLAHU AKBAR. Yang membuat hidup dan mati.

    Sesungguhnya, QT milikNya
    dan kepadaNya lah QT akan kembali
    turut berduka cita ya…
    semoga diberi tempat layak di sisiNya
    keluarga, sahabat, dan rekan yang ditingalkan diberi ketabahan dan kesabaran

  2. waw… bener – bener kisah yang perlu banyka orang tau..
    anak sekecil itu sudah punya pemikiran yang lebih dewasa dari pada 0rang Dewasa. Sungguh anak yang pintar.. lagi sholeh…

    moga suatu saat nanti bisa mendapatkan anak yang se-sholeh itu.. Amiieeennn…

    amiin…
    sungguh bahagia jika punya anak yg sholeh… 🙂

  3. subhanaAllah…. skenario Allah sungguh indah,
    smoga kelak kita semua mendapatkan anak yang soleh+soleha…amin 🙂

    mm maut tidak pernah jauh dari sendal jepit yang kita pake’, so siap2 yuks 🙂

    iya neng…
    maut memang sangat dekat dan bisa datang kapan saja…. 🙂
    smoga qt termasuk yg selalu siap menyambutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s