Kenapa Harus Meminta (diberi) Kesempatan?


Dalam setiap diskusi, seminar, atau acara lain sejenis yang membahas tentang perempuan dan kesetaraan gender, selalu terlontar protes tentang minimnya kesempatan yang diberikan terhadap kaum saya ini. Mereka (baca: kami) terlalu sering menuntut untuk diberi kesempatan, agar dihargai, supaya dihormati dan tidak dilecehkan, hingga dapat bersanding sejajar dengan kaum pria.

Saat melontarkan protes, kami terlihat ‘sangar’ karena berani tampil di depan forum dengan semangat membara. Apalagi saat rekan-rekan lain mendukung dengan aplaus panjang atau teriakan setuju (walau mungkin mereka tak mengerti apa yang sudah disetujui), waah, semakin bangga rasanya.

Kebanggan yang membuncah mengerek keberanian kami, untuk melakukan demonstrasi, long march dari jalan-jalan utama menuju alun-alun, balaikota, ke DPRD, tanpa putus dengan teriakan orasi penggugah motivasi. Ya, bersama di tengah-tengah teman senasib ‘korban’ diskriminasi budaya dan kebijakan yang masih memandang perempuan sebagai warga kelas dua, memang terasa nyaman dan aman. Kami saling bahu membahu, mendukung, dan menguatkan satu sama lain. Untuk satu tujuan, mendapat persamaan hak dan disejajarkan dengan kaum pria.

Kenyamanan seperti itu tidak kami dapatkan saat berada dalam satu scene bersama para pria. Mereka terlalu ingin mendominasi, hanya mau menunjukkan kekuasaan, cuma ingin menang sendiri. Mengabaikan dan tak pernah memberi kami kesempatan untuk tampil. Tahukah Anda, arogansi dan dominasi itu dilakukan oleh para pria beradab dan berpendidikan, dalam semua bidang, mulai pemerintahan, pendidikan, dunia bisnis, hingga di kancah politik. Mereka menutup semua celah, hingga tak tersisa jalan bagi kami untuk menunjukkan karya dan prestasi. Kami terpinggirkan hanya karena kami perempuan.

Ups! terlalu ekstrim?.

Mungkin ya, Bisa juga tidak.

Tanpa bermaksud menyalahkan kaum perempuan (yang berarti saya termasuk di dalamnya), rasanya kami harus melakukan introspeksi diri dengan lebih obyektif. Bertanya “apakah sudah berbuat sesuatu agar memperoleh kesempatan, dapat duduk sejajar dan berdampingan dengan kaum pria?”, sekaligus menjawabnya dengan jujur.

Jawaban jujur itulah yang akan menjadi penuntun, penunjuk jalan yang menyadarkan perempuan, bahwa aksi protes yang dilakukan dengan semangat membara itu ternyata hanya sebuah bungkus untuk menyembunyikan sikap yang (aslinya) pasif.

Kenapa perempuan harus meminta “diberi” kesempatan
padahal dapat memberi bukti lewat karya nyata
Kenapa menuntut dihormati,
untuk tidak dilecehkan?
perempuan terhormat adalah yang mau menghormati dirinya sendiri
Kenapa memilih kata pasif jika ada kata aktif yang lebih enak dibaca dan didengar?

Kesempatan berkarir, berpolitik, atau apapun, tak dapat diperoleh hanya dengan meminta. Sebesar dan sebanyak apapun jumlah perempuan yang ikut aksi tersebut, kesempatan tak akan pernah mendekat apalagi datang menyapa. Karena kesempatan tak dapat dipaksa. Anda harus berjuang, terus, tak kenal lelah, hingga kesempatan memutuskan Anda memang berhak mendapatkannya.

Berbicara tentang memaksa kesempatan, membuat saya teringat menjamurnya reality show di semua TV swasta yang menjanjikan ketenaran instan dan mimpi manis menjadi kaya dalam waktu singkat. Akibatnya, banyak peserta berlomba menciptakan kesempatan untuk menjadi yang terbaik dengan mengirimkan dukungan kepada dirinya sendiri. Ada yang tereliminasi, ada yang bertahan hingga posisi puncak tanpa menyadari jika sejatinya mereka sama-sama “kalah”. Ya, kalah karena selera masyarakat tak dapat dibohongi, tak mau dibeli. Sah, bila mereka menobatkan diri sebagai yang terbaik, tapi sampai kapan akan bertahan?

Sama dengan kesempatan yang seringkali dituntut dan diminta oleh kaum perempuan (dan) saya. Kesempatan yang diperoleh karena pemberian, tanpa diimbangi kemampuan, akan menjadi bumerang bagi kaum perempuan. Seakan-akan berada di puncak, berjaya, sebagai yang terhormat, padahal menjadi bahan tertawaan.

Loh, saya tak berpihak pada kaum saya sendiri?

Justru karena sangat berpihak membuat saya menulis tentang fenomena ini, di hari Kartini, yang sayangnya selalu diperingati dengan simbolis. Berpakaian kebaya, mengulang sejarah Kartini, dan memahami perjuangannya hanya dari satu sisi, emansipasi. Padahal ada banyak pemikiran Kartini yang bila dicermati menjadi bahan evaluasi paling kritis terhadap apa yang sudah dilakukan “kartini-kartini” saat ini. Kartini tidak asal protes dan menuntut, apalagi mempermalukan diri karena bersikap bak pahlawan kesiangan.

@OPISH, 21.00 WIB , 20  APRIL 2008


3 responses to “Kenapa Harus Meminta (diberi) Kesempatan?

  1. Baca tulisan yang satu ini kayak spot jantung.
    Titip pesen aja dari Kartini :
    Sebuah bangsa yang diharapkan Kartini adalah bangsa yang besar, gemah ripah loh jinawi. Bangsa yang sejahtera, rakyat hidup sentosa. Penguasanya adil dan tidak diskriminatif. Tak ada lagi yang tidak mengenyam pendidikan. Kartini mengimpikan bangsa yang dewasa, tidak berpikir picik dan gegabah. Dewasa artinya tidak egois dan selalu mengedepankan kepentingan rakyat. Dewasa juga berarti tak mudah terpikat dengan iming-iming sementara; tidak suka berebut kuasa sampai harus menghalalkan segala cara. Bangsa yang dewasa itu juga berani mengalah demi kebaikan bersama, wani ngalah luhur wekasane.

    • Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903

    spot jantung?
    waah, enak tuh pak…
    ga perlu mancal sepeda kek dewi dunk 😆

  2. bukankah kesempatan itu sama untuk setiap orang, siapa yang mau memanfaatkan kesempatan itu dengan baik silakan saja…

    perempuan mau tampil, silakan…
    tapi jangan nunggu diperintah atau dipersilakan…

    katanya emansipasi?!

    Loh, maka dari itu dewi berharap dewi dan semua perempuan dapat memanfaatkan kesempatan yang ada sebaik mungkin
    bukan asal koar-koar menuntut persamaan hak, tapi ternyata enggan berbenah

  3. Menurut saya, kita patut bersyukur di Indonesia relatif tidak ada lagi pembatasan bagi perempuan untuk memperoleh hak-haknya. Kita pernah punya presiden perempuan (walaupun terpaksa oleh keadaan), sekarang punya tiga menteri perempuan yang perkasa (sri mulyani, fadilah supari dan mari pangestu). kalau ibu meutia hatta gak usah dianggaplah. gak mungkin kan menteri upw laki-laki.

    di dpr kita punya banyak anggota perempuan.
    bahkan kalau saya di kantor bosnya perempuan (halah…anak yang punya sih…).
    supir busway udah ada yang perempuan (meski di sini bukanlah emansipasi yang tepat).

    perempuan indonesia pasti lebih bebas dibanding perempuan arab saudi yang tidak boleh menyetir sendirian.

    rebutlah kesempatan, tapi jangan kebablasan….
    selamat hari kartini.

    Yupz…yupz…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s