15 Menit Jadi Primadona “Jalan Raya”


Seperti biasanya, (22/4/8 ) saya berangkat ke kantor menjelang pukul 15.00 WIB. Tak ada yang istimewa dengan penampilan saya hari ini, blus item, jins, dengan high heels kesayangan dan tas super gede. Eits, jangan sampe ketinggalan dunk, kacamata! Well, too simple kan?! Nggak neko-neko sama sekali loh.

Tapi tahukah Anda? Sepanjang perjalanan menuju kantor yang berjarak sekitar 2 kilometer, saya menjadi perhatian semua orang yang ada di jalan raya, mulai dari Raya Kawi, Arjuno, Basuki Rahmat, sampe di Sriwijaya. Tak sedikit yang menyapa dengan senyum, hingga beberapa orang melambaikan tangan sebagai tanda salut. Wow!, kalo ada yang berucap salam, berarti kita harus menjawab salamnya dengan lengkap, sebagai penghargaan karena sudah mendoakan. Nah, saya pun membalas salam dan sapaan mereka dengan gaya sama. Senyum dengan senyum, dan lambaian tangan dengan senyuman juga (iiih, masak saya mo melambai-lambaikan tangan. Ntar dikira Putri Indonesia -ngareep 😆 ).

Yang paling seru, saat berhenti di traffic light di Jalan Basuki Rahmat. Semua pengendara motor dan mobil yang menunggu si lampu ijo tak lepas memandang saya. Bahkan saat si merah sudah berganti warna sebagai tanda diizinkan jalan, masih ada beberapa pengendara yang menoleh dan tersenyum. Gosh!!….

Sesampai di kantor, ternyata saya mendapat kejutan yang lebih heboh. Baru saja kaki melangkah masuk ke ruangan, langsung disambut tepuk tangan rekan-rekan yang ternyata dikomandoi oleh Mr Boss. “Wah, selamat ya…akhirnya dipake dan sampe kantor dengan selamat ”.

He3, saya tersenyum dan menuju meja, duduk, mengatur napas, lalu minum air mineral yang sengaja saya bawa dari rumah.

“Gimana? Enak jalannya?”

“Ya enak lah…!,” saya menjawab pertanyaan seorang teman.

“Jangan-jangan dinaikin pik up”

“Iiiidih!! Enggak lah, tuh di belakang…”

“Ntar pulang juga dipake?”

“Ya iyalah!, masak berangkat ke kantor naik sepeda trus pulangnya naik motor seh. Gimana to…”

Yupz!! Sodara-sodari, sore ini saya menjadi perhatian karena bersepeda. Aktivitas yang wajar namun tak banyak cewek yang ber-fun bike ke kantor, apalagi dengan kostum dan tas seperti yang saya pakai, sama sekali nggak nyambung bo!. Tapi it doesn’t matter deh, aksi bike to work sore itu ternyata menginspirasi si boss yang lain untuk segera membeli sepeda.

Eh, nggak Cuma itu. Ada pejabat yang sidak Ujian Nasional(UN) mancal sepeda loh. Huehehehe, kalo mo ge-er, pasti dia bersepeda gara-gara ngebaca tulisan Bike to Work yang dimuat di sebuah harian lokal. Di bagian akhir dituliskan (rangkuman she..) dewi yuhana ikut-ikutan beli sepeda dan mencoba menaikinya dari LA Sucipto hingga Kawi. Meski amat sangat semangat saat berangkat, dewi sudah ngos-ngosan, tak kuat lagi mengayuh hingga memutuskan untuk menaikkan sepeda ke atas pik up. Wow!!!!, pengalaman nyata dewi ditulis di koran!!!

Makanya, sore ini jadi pembuktian kalo saya tuh kuat mengayuh sampai kantor. (tapiiii jangan bilang siapa-siapa ya, saya sengaja memilih jalan yang menurun :-D, contohnya jalan memutar antara gedung DPRD dan Balaikota Malang. Lebih jauh, tapi ndak ada tanjakan sama sekali, huehehehe…).

Wkakakakak, Anda membaca sampe akhir? BueNNnnER bangetz!!, saya jadi primadona jalan raya gara-gara keliatan aneh kali ya… 😦 . Dah saltum, ngos2an pula 😛

Aaah, biarin deh, yang pEntiNG kan SEHAT!, BEBAs POPuLis eh POLUSI (tuh kan, gara2 ngos2an sampe salah nulis), dan MENyeLamatkan Bumi dari kehancuran. Yaaa, 22 April kan Hari Bumi.


3 responses to “15 Menit Jadi Primadona “Jalan Raya”

  1. Kepingin juga naik sepeda dari rumah ke kantor, tapi macetnya minta ampun dan yang gak nahan, asap knalpot. Wah, bukannya sehat malah jadi TBC kalee…
    Lagian kalau di Malang kan relatif adem kan? Jadi lumayanlah gak terlalu bau keringat. He he…Tapi jalanan di sana banyak tanjakan ya?
    Selamat bersepeda….

    kalo keringatan, yaaaa mandi lagi dunk di kantoR
    tapi kalo banyak asap kanlpot, waaaaah mending ga pake sepeda deh
    bisa2, muka jadi gosong deh 😦 😆

  2. Jadi teringat jaman dulu. Waktu masih sekolah di Solo, kemana2 naek sepeda. Habis, kotanya datar siy; jadinya gak terlalu ngos2an walow harus keliling sampek lintas kota.

    Tapi, begitu balik ke Malang –tanah airku– kebiasaan bersepeda mesti absen. Jalan di Malng jauh lebih berkontur. Bersepeda jadi sarana untuk ngos2an dengan cepat, hehehe

    Tapi, saya inget juga kalo seorang teman saya yg jg dosen di Unitri, naek sepeda pulang-pergi dari Sukun ke kampusnya. Salut buat orang2 seperti dia…, seperti Anda…

    Ooooh, KERA NGALAm toooo….?
    btw eniwe baswe, sekarang tinggal dimana?

  3. weQs …aku naik sepeda ke kantor ?

    Jalan menanjak terus boooo ….. bisa-bisa nyampe kantor langsung kolaps … terus kestamer ku gimana ?

    pingin sih .. seperti yang Jepang itu

    memasyarakatkan sepeda pancal, membebaskan polusi udara dan menurunkan angka kemacetan dan kebisingan

    peace …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s