TOPENG


TOPENGToPENG AYU


Membuka femina-online dan membaca salah satu cerita bersambungnya “TOPENG” sore tadi, membuat saya teringat beberapa koleksi topeng yang sudah lama tak pernah saya kenakan. Selain bosan dan malas harus bergonta-ganti topeng untuk setiap momen berbeda, saya tidak lagi merasakan manfaatnya, atau sebenarnya topeng-topeng tak pernah memberi manfaat sejak awal? kecuali menutupi wajah asli saya?.

Yach, whatever lah, yang jelas saya lupa mulai kapan koleksi-koleksi itu tersimpan rapi dan aman dalam kotak, yang didesain khusus untuk menjaga agar tak mudah rusak sekaligus mengantisipasi orang-orang yang penasaran dan ingin melihat topeng-topeng itu. Memaksa untuk membuka kotak dan mengambilnya. Tidak, tidak akan pernah saya izinkan!

Memang, sekali waktu ada saja orang yang mengamati satu atau dua topeng yang saya pakai dengan lebih cermat, lalu mencoba menirunya. Huh, memang bisa? Dari segi bentuk, mungkin ada yang dapat membuat duplikasi semirip aslinya. Tapi mereka, pemakai topeng duplikasi itu tak akan pernah dapat menyamai penghayatan alami yang muncul secara otomatis ketika saya memainkan peran sesuai bentuk topeng dengan sempurna. Bahkan (mungkin) terlalu sempurna hingga banyak yang berkomentar topeng bagaikan kulit kedua saya.

Mendengarnya, saya tidak memprotes, sebaliknya berterima kasih atas penghargaan dan penilaian yang diberikan. Bagaimanapun, penilaian tersebut merupakan bentuk nyata dari sebuah perhatian tulus.

Malam ini, saya membuka kotak dengan kunci khusus. Disebut khusus, sebab satu model kunci hanya diproduksi tunggal, satu item di dunia. Sungguh eksklusif. Bahkan saya tak dapat membuat duplikasi kunci yang sepanjang hidup akan selalu saya bawa. Begitu juga Anda, atau siapapun yang diberi amanah membawa kunci tersebut. Kecuali Dia, sang pencipta kunci itu sendiri, yang berhak mencipta dan membuat kunci-kunci baru dengan master key yang dimiliki.

Sambil melihat topeng-topeng di kotak yang sudah terbuka, saya termenung sesaat, mengenang aneka peristiwa lucu, menyenangkan,  membahagiakan, menyedihkan, menyakitkan, dan memalukan, yang saya alami saat memakainya. Ah, tak terhitung jumlah kenangan itu…

Saya spontan berdiri, berjalan ke arah cermin dan mencoba memakai topeng yang ternyata tidak lagi pas dan cocok dengan bentuk wajah saya sekarang, lebih tirus namun terlihat lebih segar. Agak direkatkan ke wajah, bikin susah bernapas. Dipakai biasa saja, terlalu keliatan ‘ketopengannya’.
Yach, dari awal seharusnya saya tidak membuka kotak dan menghadirkan kembali kenangan saat memakai topeng-topeng itu. Dulu.

Meski harus diakui, keinginan memakai topeng dan mengenang masa lalu  memiliki alasan sendiri. Saya baru saja dikalahkan pemain topeng andal, sang master, yang karena keahliannya, tak seorangpun dapat menebak apakah senyum manis nan tulus itu muncul dari hati dan wajah asli, atau bentuk topeng tersenyum yang menyatu dengan wajahnya. Saya termasuk mereka yang mempercayai semua sikap ramah menyenangkan yang ditunjukkan benar-benar tulus dan datang dari hati, bukan tuntutan peran dari topeng yang ia kenakan.

Dan ternyata? saya benar-benar salah. Kesalahan fatal yang memalukan.

***

Malam ini, terlintas niat untuk mengajaknya beradu peran topeng hingga menyisakan satu pemenang. Walaupun untuk melihat hasil akhir dibutuhkan waktu yang panjang, bertahun-tahun, bahkan mungkin hingga akhir hayat.

Saya dapat mengenakan koleksi lama, meski harus dipermak khusus dan hati-hati agar lebih nyaman dikenakan, tidak membosankan, dan tentu saja sesuai dengan tuntutan zaman.
Namun hati kecil saya bertanya, apa yang akan saya lakukan jika menang.
Atau bila kalah, apakah saya dapat bersikap legowo?
Eitz, muncul satu pertanyaan lagi. Apa yang harus kami lakukan jika nilai imbang ?
Atau, apakah memang sudah seharusnya begitu, hasil akhir imbang, seri, tak ada menang dan kalah.
Ah, saya malas memikirkannya.

Malam semakin larut, mata saya mulai berteriak ingin istirahat. Apalagi punggung, benar-benar memberontak dan meronta karena tak jua mendapat jatah waktu untuk segera direbahkan. Tanpa berpikir panjang lagi, saya tutup kembali kotak khusus itu, meletakkannya ke sudut tersembunyi di dalam kamar sembari berjanji dalam hati, untuk tidak akan pernah lagi membuka dan menengok topeng-topeng itu. Saya tak akan pernah bermain topeng (lagi) dan meladeni tantangan para pemain topeng yang tersisa.

 

 

@ BaRNES NGALam,
dedicated to : Para Pemain dan KolektoR ToPENG
Anda, punya berapa topeng?


7 responses to “TOPENG

  1. Berat nih, komennya. Dibawa ke yang ringan bisa juga sih, “Buka dulu topengmu”, kata Peterpan.

    Berat?
    eh, emang tadi sempet nimbang ya Pak? 😆

  2. Mending jangan pakai topeng lagi mbak 🙂

    🙂 😉
    keknya cucok juga untuk yg kasih komen ini…
    paakkkk…..ga capek tiap hari bertopENG? 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s