.::. Memahami (menyadari) Peran dan Bertanggung Jawab .::.


Ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan),ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).

Amburadul dan membingungkan. Dua kata itu dilontarkan rekan saya kemarin, mengomentari berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini dan menjadi headline berita di media massa dan elektronik. Mulai tertangkapnya Al Amin Nur Nasution, penetapan Ketua DPRD Surabaya dan rekan sebagai tersangka dalam kasus gratifikasi, keseleo lidah ala Presiden Timor Leste Ramos Horta, segel naskah soal Ujian Nasional (UN) yang robek di Indramayu, klaim Munas Luar Biasa (MLB) yang sah antara PKB kubu Muhaimin dan Pro Gus Dur, hingga banyaknya reality show yang menjual mimpi ‘menjadi kaya dan terkenal’ dengan instan.

Sebenarnya masih ada banyak contoh peristiwa yang disebutkan teman saya, namun saya sengaja tidak menuliskan semuanya di sini. Selain menghabiskan jatah kolom yang terbatas, saya yakin Anda pasti mengikuti detil peristiwa dan berita yang terjadi di setiap sudut tanah air tercinta, hingga saya juga yakin Anda akan setuju dengan apa yang dilontarkan karib saya.

Menurutnya, kejadian miris, tragis, dan memalukan yang sebagian besar melibatkan tokoh-tokoh nasional itu seharusnya tidak akan terjadi jika setiap orang menyadari peran, posisi, dan tanggung jawab yang diemban. Dan bila setiap individu, (termasuk saya, teman saya, dan Anda) tak hanya menghapal ajaran Ki Hajar Dewantara, yang hari kelahirannya 2 Mei 1989 diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, tanpa memahami makna dan substansi luhur yang terkandung di dalamnya.

“Diakui atau tidak, itulah potret kita saat ini,” katanya.

Ing ngarsa sungtulada. Orang-orang yang diberi amanah berada di barisan terdepan sebagai pemimpin mulai melupakan –atau pura-pura lupa- jika kepercayaan tersebut tidak diberikan cuma-cuma. Ada konsekuensi logis yang menuntutnya untuk selalu menjaga sikap, menjadi teladan dan panutan masyarakat. Mereka yang berada di tengah dan memiliki kesempatan untuk menciptakan peluang (ing madya mangun karsa), seharusnya membuat peluang positif yang bermanfaat. Bukan sebaliknya, memperkeruh keadaan demi meraup keuntungan pribadi.

Teman saya juga menegaskan posisi belakang bukan berarti posisi yang kurang prestisius dan bergengsi, tempat buangan. Sebab tak sedikit kesuksesan besar terjadi karena peran mereka yang berada di belakang. Pun demikian, posisi belakang juga bukan pembenaran untuk melakukan kecurangan dengan menikam lawan dan menghancurkan pesaing dengan cara tidak hormat.Tut wuri handayani yang diajarkan Ki Hajar Dewantara mengajak kita untuk selalu memberi yang terbaik, memotivasi, meski kita bukan siapa-siapa.

Sayangnya, saat ini banyak orang yang berebut untuk berada di depan. Padahal Allah SWT, pemilik alam semesta menciptakan dunia dengan keseimbangannya. Ada langit, ada bumi, ada depan ada belakang, kanan-kiri, kaya-miskin, pintar-kurang pintar, ada lelaki dan perempuan, guru-murid, semua saling membutuhkan dan melengkapi. Bayangkan bila dunia hanya diisi orang kaya, Anda tentu harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Uang tak lagi bermakna karena tak ada yang mau menjadi pekerja rumah tangga (untuk tidak mengatakan pembantu).

Di momen Hardiknas hari ini, di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat menembus harga tertinggi USD 140 per barel, tak ada salahnya kita melakukan introspeksi diri, untuk mengetahui posisi dan peran yang seharusnya kita mainkan. Jika tak cocok menjadi pemeran utama, ya bersyukur lah masih mendapat peran pembantu, meski bukan berarti putus asa untuk terus berlatih menjadi lebih baik.

Selain introspeksi, rasanya kita juga berkewajiban untuk mengembalikan pendidikan ke khittahnya. Pendidikan bukan tanggung jawab lembaga dan institusi resmi pendidikan saja. Seperti diajarkan dalam psikologi pendidikan, ada tiga elemen pendukung yang seharusnya bersinergi, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Nah, saat ini banyak orang tua yang sudah menyekolahkan anaknya merasa sudah tak memiliki tanggung jawab untuk mendidik.

“Loh, bukannya saya sudah membayar mahal? Wajar, jika saya meminta sekolah memberikan pendidikan terbaik kan?”. Mungkin ini yang dipikirkan oleh sebagian besar dari kita dan melupakan satu perkataan Rasul, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), orang tuanya lah yang akan menjadikannya Yahudi, Majusi, dan Nasrani”.

Potret pendidikan yang menentukan masa depan generasi penerus bangsa, adalah tanggung jawab kita semua.

6 responses to “.::. Memahami (menyadari) Peran dan Bertanggung Jawab .::.

  1. setuju-setuju akan artikel ini. oyah mau tanya anda seorang guru kah??? hanya nebak. dan kalimat pembukanya ngutip dari mana. maklum udah lama tak membaca kalimat seperti itu. hihihihhi. salam

    enjoy, peace and love

    waduh….seneng bangetz kalo sampe ada yg nebak saya guru
    profesi mulia loh…. 🙂

  2. iyap saya sepakat itu, dan itu dimulai dari lingkungan terdekat kita, yaitu keluarga!

    kalo githu..Hayyyyooooo kita kampanyekan peduli pendidikan..
    dan memulai dari keluarga kita dulu 🙂 😉

  3. …. “Loh, bukannya saya sudah membayar mahal? Wajar, jika saya meminta sekolah memberikan pendidikan terbaik kan?”.

    Wajar?

    🙂 🙂

  4. Membaca tulisan bu dewi membuat saya kembali merefleksi apa2 yang telah saya lakukan. Sebagai seorang guru, saya ternyata masih belum berbuat banyak untuk pendidikan anak2 kita.

    waduuuuh, maaf loh pak….
    dewi gak bermaksud menggurui loh 🙂

  5. Pendidikan … inginnya menuntut ilmu setinggi langit, apadaya ekonomi keluargaku serba sulit … orangtuaku memikirkan perut kami yang selalu saja harus melilit … ditambah lagi harga-harga sembako yang semakin melangit …

    Kata Tetanggaku aku bisa sekolah gratis, ah masak iya … gratis spp nya seh tapi kok masih ada tambahan biaya yang lain ? ah mungkin itu untuk pelajaran yang lebih ya …

    ehm … jd klo mau yg gratis dapatnya yg standart … klo mau yg lebih harus bayar …

    😦 sama aja dunk, nasipku jadi orang ‘elit’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s