Hanya Mendengar Atau Mendengarkan?


Mendengar dan mendengarkan. Berasal dari satu kata yang sama, namun memiliki arti berbeda. Mendengar menjadi kata kerja yang mewakili fungsi dan tugas salah satu panca indera karunia Allah SWT, telinga. Tanpa harus menjadi ilmuwan dan profesor, saya dapat memastikan semua makhluk Tuhan yang mempunyai dua telinga normal (termasuk saya dan Anda) dapat mendengar.

Mendengar indahnya kicauan burung, teriakan para pendemo yang memprotes rencana kenaikan harga BBM, hingga mendengar keluhan rakyat kecil tentang betapa susahnya hidup, serta suara-suara lain yang dapat tertangkap radar telinga. Ya, mendengar adalah anugerah Sang Pemilik Ruh yang melekat pada diri kita sejak ditakdirkan menjadi bagian dari jutaan penghuni dunia. Mendengar merupakan gerak reflek yang bahkan, sebagian besar individu tak menyadari sedang melakukannya. Sangat alami, sealami ketika kita bernapas dan menghirup udara.

Jika mendengar secara otomatis dimiliki umat Tuhan yang normal, tidak demikian halnya dengan mendengarkan. Anda mungkin pernah menjumpai seorang tuna rungu, tapi mempunyai kemampuan mendengarkan, yang bahkan mungkin tak dimiliki mereka yang normal. Sebab mendengarkan terkait erat dengan kekuatan hati nurani dalam menentukan hal yang baik, positif, dan bermanfaat untuk sesama. Mendengarkan berarti kita berupaya untuk berempati dengan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Meski tidak mengikuti sejak awal, kemarin malam saya dibuat tercengang oleh tayangan unik Today’s Dialog di TV swasta, yang disiarkan khusus untuk memperingati 10 tahun perjalanan reformasi di Indonesia. Saya katakan unik karena para tokoh besar tanah air, Amien Rais, Wapres RI Jusuf Kalla, mantan Presiden RI BJ Habibie, dan para tokoh tanah air yang menjadi undangan, saling berebut untuk berbicara, beradu argumen, mempertahankannya sekuat mungkin, hingga terlihat jelas jika mereka ingin didengarkan, oleh lawan debat, audiens di studio dan jutaan pemirsa di rumah.

Ya, mereka ingin didengarkan sebagai representatif yang mewakili, dan atas nama rakyat. Jika boleh bertanya, rakyat yang mana?. Atau apakah memang ada amanah dan mandat khusus dari rakyat yang diberikan kepada mereka?. Jika ada, kapan dan dimana?

Seperti yang diprediksikan atau mungkin memang disetting demikian oleh produser dan sutradara, rencana kenaikan BBM menjadi “bola api” yang membuat dialog benar-benar panas, menjadi tontonan menarik, menaikkan rating, dan membuat saya tercengang. “Kok bisa ya, tokoh sekaliber mereka beradu argumen seperti itu?”.

Melihat aksi para tokoh “panutan dan harapan” rakyat itu, saya teringat percakapan dengan sopir dan kondektur bus antar provinsi beberapa hari lalu. Kala itu, saya menanyakan penyebab keterlambatan bus dari Bandung ke Malang, yang berkisar antara empat hingga lima jam. Maklum, arus lalu lintas di Jalur Selatan berjalan lancar, tidak terlalu macet, hingga membuat bus terlambat (macet seringkali dijadikan alasan sopir saat mendapat pertanyaan ‘kenapa terlambat?’).

“Oh, karena jatah BBM kita dikurangi. Dari kebutuhan normal 600 liter menjadi 500 liter. Makanya kita ndak ngebut, meski konsekuensinya telat. Mengurangi jumlah BBM menjadi solusi paling masuk akal saat ini. Agar perusahaan tetap jalan dan kita para sopir masih bisa menyubsisi kebutuhan keluarga,” kata Pak Sopir lugas.

Perusahaan transportasi besar dapat memanipulasi kenaikan harga BBM dengan cara tersebut. Perusahaan kecil, mungkin harus mengurangi tenaga kerja, atau bahkan gulung tikar. Lalu, imbas bagi rakyat dan keluarga dari kelas menengah ke bawah?. Tingginya harga BBM tak hanya mencekik, tapi juga menyakiti mereka. Tak heran jika kebijakan konversi minyak tanah ke gas yang diikuti dengan pemberian kompor dan tabung gas gratis, tak jua disambut positif.

Mungkin Anda sudah tahu, banyak yang menjual kompor dan tabung gas yang diterima. Seperti ucapan saya ke sopir, bisa jadi Anda berkomentar begini, “Diberi gratis kok nggak tahu berterima kasih, malah dijual. Padahal harga minyak tanah akan semakin mahal”.

Jika ya, jangan kaget bila Anda mendapat jawaban balasan sederhana namun cukup tajam. “Saat ini gas 3 kg berkisar Rp 13 ribu sampai Rp 15 ribu. Bagi yang punya uang, nominal itu sedikit. Bagi rakyat kecil, mengeluarkan uang sebesar itu terasa berat. Apalagi hanya untuk membeli gas. Alhamdulillah, saya masih bisa membelinya, tapi keluarga yang lain? Jangan salahkan jika ada yang nekad menjual kompor dan tabungnya”.

Beban berat dan keluhan seperti yang dilontarkan sopir bus dan awaknya, mungkin sudah sering kita dengar. Juga (semoga) sering didengar oleh pejabat. Tapi jika pejabat penentu kebijakan hanya mau mendengar tanpa mendengarkan, maka rakyat akan selalu tersakiti.(*)

3 responses to “Hanya Mendengar Atau Mendengarkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s