“Membiasakan” Kewajiban, Menghilangkan Beban


“Sesungguhnya salatku…hanya untukMu”

Berbuat kebajikan, melakukan hal positif dan menjalankan “sesuatu yang benar” menjadi pekerjaan mudah. Yupz!,mudah bangets. Tapi…..(loh, kok pake tapi…?) bagi mereka yang memiliki sikap bijak dan perilaku baik, yang tak pernah terbebani dan merasa berat saat melakukannya. Berbuat baik dan melakukan yang benar layaknya aktivitas minum dan makan, namun bagi sebagian lainnya…..ehmm….bagaikan paksaan untuk minum obat! beraaaat……. 😀 (termasuk saya nih, agak berat berbuat baik. Huehehehe…kalo Anda baca tulisan sebelum revisi ini, bukan bermaksud sombong, tapi tadi menulis pas ngantuks githu 😉 ).

Jika saya (pasti) merasa haus dan lapar saat melewatkan jam makan dan kurang minum, maka si orang baik akan merasa bersalah dan berdosa bila melewatkan kesempatan untuk berbuat kebaikan. Saya pernah bertanya kepada salah satu “spiritual teacher” saya, yang doyan banget membaca. “Apa nggak pernah merasa bosen, tiap waktu kok baca buku?”

“Bosan? Nggak. Malah aneh dan muncul rasa bersalah kalau sehari saja tidak menambah halaman buku untuk dibaca?”

“Sama sekali ndak bosen?, lha dewi aja yang doyan ngemil kadang juga bosen loh…(maksudNa, karna kecapean ngemil terus….:D 😆 )”

“Ehmmm….Bosan kalau harus dipaksa baca buku, padahal saat itu sedang tidak minat dengan topiknya”

Ya, membaca adalah aktivitas positif yang tak semua orang dapat melakukannya dengan mudah. Sama dengan jilbab dan menutup aurat, menjadi kewajiban berat bagi perempuan yang baru pertama kali mengenakannya. Seperti pengalaman saya di tahun 1992, saat masuk Gontor Putri dan mulai memakai jilbab untuk pertama kali.

Panas, ribet, dan terlihat aneh. Itulah perasaan yang muncul ketika berjilbab dalam waktu lama (seharian). Tak heran jika saya masih nekad melepas jilbab saat liburan pertengahan tahun, atau enam bulan semenjak saat diterima sebagai santriwati. “Sayang, kalo rambut indah ini harus tertutupi kain”, pikir saya kala itu.

Liburan usai, yang berarti kembali pada kewajiban berjilbab dan “kewajiban2 lainnya” di pondok. Berbeda dengan enam bulan pertama, semester kedua di kelas satu itu relative saya jalani tanpa banyak keluhan gerah dan panas gara-gara berjilbab. Saya juga mulai cekatan mengenakan jilbab, bahkan saat tanpa ciput sekalipun.

Kewajiban berjilbab di pondok membuat saya terbiasa. Terbiasa memakainya dan terpenting mampu menghilangkan beban dan perasaan terkungkung yang dulu sempat muncul saat pertama kali menutup aurat.

Waduh, lha kok tanpa terasa saya sudah menulis beberapa alinea tentang jilbab?. Padahal inspirasi ngeblog tadi, setelah saya menerima SMS dari Pimred MP Husnun N Djuraid, pagi ini. SMS yang sangat singkat karena hanya terdiri dari dua kata “Monggo Duha”.

Saya tersenyum saat membacanya, dan otomatis muncul niat untuk mengucap terima kasih kepada si bapak karena mengingatkan, agar tidak menyia-nyiakan kesempatan berhadapan langsung dengan sang pencipta di waktu dhuha. Rasanya, SMS tersebut bukan sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban, jadi reflek saya letakkan HP di tempat semula dan meneruskan aktivitas yang saya lakukan sebelumnya. Maklum seh…SMS tersebut menginterupsi saya saat menulis artikel diklat di Bestari UMM sambil mendengarkan lagu-lagu yang diputar di acara Dahsyat-nya RCTI.

Belum sempat meneruskan tulisan, otak saya memerintahkan tubuh untuk segera berdiri dan bergegas mengambil air wudhu. Whew?!!! memang sih, rasanya kok sayang sudah diingatkan untuk dhuha tapi diabaikan begitu saja. Meskipun jika tidak salat dhuha, Pak Husnun tetap akan menerima ucapan terima kasih tanpa tahu saya sudah membuatnya menyia-nyiakan Rp 350,- untuk SMS yang dia kirim dan hanya saya baca sekilas.
Loh!! Saya salat untuk siapa?

Untuk orang lain agar dinilai khusyuk?. Menarik hati pimpinan supaya dianggap sebagai karyawan teladan dan taat agama, atau salat untuk menaklukkan hati dan menarik simpati calon mertua?

Tentu bukan. “Sesungguhnya salatku…hanya untukMu”, bukan karena dia atau mereka.

Jadiiii…..

Dewi ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya untuk Pak Nun. Semoga pengingat dhuhanya bisa terus berlanjut, setiap hari, sampai nanti.

Setelah berterima kasih kepada bapak Pimred, rasanya berdosa banget kalo melupakan seseorang yang dengan sabar menjadi weker mahal di setiap subuh 🙂 😦 [it was 😉 ]

2 responses to ““Membiasakan” Kewajiban, Menghilangkan Beban

  1. Memang terkadang kita berbuat suatu hal positif aja jarang banget tapi untuk ngelakuin hal yang tak berguna sering bahkan dapat bertahan lama.Cuma ngerjain sholat yang paling gak 5 menit rasanya susah banget tapi nonton tv berjam2 sambil chatting bisa belama2.Memang kehidupan dunia seperti selamanya padahal cuma sementara,mari kita seimbangkan dengan kehidupan akherat ok!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s