Sudahi Demonstrasi Anarkis….


21.00 WIB, saya baru saja melihat tayangan Kabar Terkini di TV One, tak terasa air mata menetes, menangis. Teringat bapak saya yang sudah tua (Ya Rabb, selalu lindungi kedua orang tua hamba-Mu, amiin). Saya tak dapat membayangkan jika bapak terjatuh dari motor yang dinaikinya seperti yang terjadi pada Iptu Henryco Manurung, polisi yang kebetulan melintas di depan kampus Moestopo.

Bukannya mendapat pertolongan dari generasi muda Indonesia yang selalu memproklamirkan diri sebagai rakyat santun, suka menolong, dan ramah tamah, tapi ia malah dipukul, ditendang, dan dikeroyok. Ia bahkan harus memohon untuk tidak dipukuli lagi.

Tuhan….:-( itukah sikap mahasiswa -siswa yang maha, status tertinggi dari pencari ilmu-, yang dididik dengan biaya mahal hasil jerih payah dan perasan keringat orang tua, yang kepadanya banyak harapan dan impian digantungkan? dan di tangannya nasib Indonesia di masa mendatang ditentukan.

Saya bukan orator ulung, juga tak pernah menjadi koordinator lapangan semua aksi demonstrasi. Namun saya pernah menjadi bagian dari demonstran yang dengan bangga mencoba menyuarakan kebenaran (versi kami) dan tuntutan untuk sebuah keadilan. Mengikuti rapat demi rapat yang seringkali berakhir dini hari, untuk berdiskusi (baca: berdebat dan berbantahan) dalam merencanakan sebuah aksi, skenario hari H agar demonstrasi berjalan lancar, tertib, dan aman. Tak dimasuki penyusup dan provokator yang akan memanfaatkan kesempatan dan menunggangi kami (iiih, berat dunk 😀 ), demi memuluskan rencana dan kepentingan mereka.

Saya juga pernah merasakan sensasi memegang microphone dan berorasi di hadapan demonstran, dilihat dan diliput wartawan, serta disaksikan anggota DPRD. Meski sayang sekali, aksi hebat saya kala itu harus berakhir dengan rasa malu karena tiba-tiba pikiran blank dan tak tau harus ngomong apa. 😦 (malu-maluin….)

Well, walaupun teman-teman sekelas banyak yang memandang saya dengan tatapan aneh dan heran, membaur di tengah demonstran memberikan rasa bangga yang susah untuk diungkapkan. Bangga karena merasa sebagai pelopor sebuah perubahan. Bangga menjadi bagian dari orang-orang yang berjasa dan bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Menjadi bagian dari barisan demonstran secara otomatis juga menyuntikkan keberanian yang tak mungkin saya dapati jika sendiri. Jadi jangan heran, pendemo selalu berani, tak mengenal rasa takut, dan bahkan bersikap di luar kebiasaan dan perilaku sehari-hari.

Seorang pendiam bisa berteriak lantang tanpa beban. Si penakut pun berubah menjadi macan garang yang siap menerkam. Ya, perubahan sikap tersebut wajar terjadi karena saat itu kepribadian yang memimpin adalah kepribadian massa. Pikiran yang bergerak adalah pikiran massa, keberanian massa, semangat massa, perilaku massa….

Tapi Allah Yang Esa sudah menganugerahi hambaNya dengan otak untuk berpikir, menganalisa, dan menilai hal buruk dan baik. Allah melengkapinya dengan karunia hati untuk merasakan, berempati, dan menjadi penyeimbang logika agar tak ngawur dan kebablasan.

Sah-sah saja menyuarakan aspirasi.

Setiap orang memiliki hak, bebas, independen. Namun sebesar apapun kebebasan dan hak seseorang itu, dibatasi oleh kebebasan dan hak orang lain. Berdemo mengatasnamakan rakyat namun menyakiti rakyat lain dengan pemblokiran jalan dan aksi anarkis…

7 responses to “Sudahi Demonstrasi Anarkis….

  1. Sangat banyak orang yang mau bersusah payah mengarungi lautan, menuruni lembah dan melewati jurang hanya sekedar ingin melihat-lihat peninggalan para leluhurnya. Mengapa mereka tidak lebih bersusah payah untuk mengekang jiwanya dan memerangi hawa nafsunya agar bisa sampai ke dalam hatinya. Karena di dalam hati yang bersih, dia akan menemukan peniggalan Robb-nya.

    Matinya sebuah demokrasi yang berubah menjadi DEMOCRAZY karena ulah oknum. Stop Kekerasan.

    yg pernah ngerasain…:-)

  2. Kita sering terlena dengan slogan2 kosong.
    Mahasiswa terkadang seringkali “besar kepala” menganggap dirinya pembawa suara rakyat yang paling sahih. Perasaan ini — sama dengan perasaan ketika seseorang sudah menjadi pejabat — menjadi pembenar untuk melakukan apa yang menurut mereka benar, terlepas orang lain terganggu.
    Btw, udah lama nggak main kemari, nih…

    yupz!!!….
    benner bangets
    sekarang banyak org -gak mahasiswa, politikus, pejabat, de el el- yang ge-er, ngerasa dirinya udah mewakili suara rakyat. Nah, rakyat yg mana?
    kapan mereka kasih mandat?

  3. pelaku nya John .. alumni UNIJA yg juga jadi peserta aksi.

    Kajur Moestopo, Paiman, bohong kalo bilang pelaku nya bukan peserta aksi ..

    lah, kok jadi ngelapor pelakuNa di sini to ….

  4. Saluut !!!! kita sampaikan kepada mahasiswa yang masih memiliki hati nurani
    Terima kasih, kita sampaikan pada mereka yang berjuang untuk rakyat
    Sedih, bila kita melihat kekerasan , pilu melihat anarkisme
    Semoga saja pemerintah masih bisa mendengar jeritan hati rakyat lewat adik2, teman2 kita para mahasiswa dan tidak ada kekerasan dalam aksi mereka.

  5. Benar kata heryazwan di atas, saya dah liat beberapa bukti nyata… “Bekas” teman saya sendiri waktu di kampus dulu…

  6. mbak dewi, numpang ngomong yahh,, mas heryazwan dan pak suhadi yang baik. bener banget mahasiswa sering meneriakkan slogan-slogan kosong. mengandalkan anarkis yang dapat memicu bentrokan da kericuhan. tapi saya sangat menyayangkan mahasiswa yang tidak membuat slogan apapun. mahassiswa generasi playstation

  7. setuju……….!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    kita harus memerangi demonstrasi yang anarkis……
    gunakan hak pilih dengan cara yang benar, jangan keterlaluan…………..

    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s