Sukses Wawancara


2003 saya pernah mendapat tugas untuk mendatangi salah satu kantor bank sentral dan bertemu dengan pemimpinnya, menanyakan kebijakan  perlindungan nasabah yang baru disahkan. Usai mengucap salam dan dijawab dengan kerutan di kening, saya tak jua dipersilakan masuk, meski sudah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangan saya kala itu.

Si bapak -sebut saja Pak DJ- sudah jelas enggan menerima saya 😦 . Tak patah semangat, saya tetap ngotot bertanya yang lagi-lagi dijawab dengan gelengan. “Saya tidak berwenang, itu kebijakan pusat. Tanyakan ke sana, kirim fax, telpon atau apalah”.

“Kebijakan pusat berarti kan satu kata tuh pak, sudah jelas maksudnya. Bapak tinggal ngejelasin aja :-)”

“Nggak mau”

Whew!!, percakapan yang jauh dari akrab itu kami lakukan berhadapan. Pak DJ duduk di kursi empuknya yang gede, dan saya (masih) berdiri di pintu menunggu kata “silakan masuk” yang tak jua terlontar. Melihat gelagat yang kurang menguntungkan, saya berinisiatif melangkah ke dalam ruangan, berdiri di hadapan Pak DJ dan meminta izin “Maaf pak, saya boleh duduk di sini nggak? Saya capek berdiri di depan pintu, lagian nggak enak dilihatin orang” (he3…izin yang memaksa 8) ). Jadi, mau nggak mau Pak DJ pun menganggukkan kepala. 

“Sebelumnya, maaf lagi nich. ehmmm…Bapak punya pengalaman tak mengenakkan dengan salah satu rekan seprofesi saya? Maaf lho kalo lancang. Habisnya, belum apa-apa saya kok sudah dipelototin 😀 “

Seingat saya, Pak DJ lumayan kaget mendengar pertanyaan yang to the point itu. Setelah diam beberapa detik, dia mengiyakan. “Ketika dinas di Palembang, mereka agak kurang ajar. Keluar masuk ruangan tanpa permisi, langsung minum minuman di atas meja dan memakan kue tanpa izin. Sebenarnya, masuk ruangan boleh-boleh saja, makan kue ya ndak masalah. Lha memang disediakan untuk dimakan. Tapi sopan santunnya itu lho nggak ada”

“Oh…, saya mohon maaf kalau begitu. Tapi saya juga mohon bapak tidak men-generalisir ke semua orang. Sama seperti di kantor tempat bapak bekerja, ada karyawan yang baik ada yang kurang, ada yang giat ada yang setengah giat bekerja. Kalo boleh tau, berapa lama di Palembang?”

“Lumayan lama. 10 tahun-an”

“Wah…., saya tuh paling suka tempoyak, trus dimakan dengan ikan. Waaah…..nyam..nyam…yummy banget deh pak 😀 ”

“Loh, kok tau tempoyak? pernah di sana?”

“Enggak, cuman dulu ada ibu temen sekolah saya yang sering kirim tempoyak. Awalnya aneh pas dikasih tau bahan tempoyak, masak durian dijadiin sambal? mending dimakan aja pas fresh, enak, he3…”

“Iya, saya dulu juga enah mendengarnya. Tapi setelah lama di Palembang dan sering makan tempoyak, jadi ketagihan 🙂 “

“Oia pak, saya juga suka banget tuh ama tekwan”

“Tau tekwan juga? biasanya orang Jawa cuman tau pempek Palembang, tempoyak dan tekwan kurang populer. Kamu tau cara bikin tempoyak?”

“Hah?! enggak tuh pak 😦 , cuman makannya aja 😆 emang gimana?”

“Bikinnya gampang banget. IStri saya dulu sering buat sendiri. Daging durian dicampur garam, bisa juga dikasih cabe, trus ditaruh di wadah kedap udara atau di toples, simpan lima hari-an, udah jadi. Gampang kan?”

“He-eh, gampang banget. Waaaah, habis ini saya musti praktik bikin tempoyak…he3..”.

Ada satu perbedaan mencolok antara percakapan sesi pertama kami dan sesi kedua ini. Alih-alih cemberut dan mengerutkan kening kayak ikan cucut (hi3…), Pak DJ amat bersemangat bercerita tentang tempoyak, pempek dan pengalamannya saat dinas di Palembang. Dia, yang sebelumnya antipati dengan saya -karena pengalaman mengesalkan di masa lalu- sudah mulai menerima kehadiran saya, (bahkan) mengapreasiasi *gara-gara tempoyak dan tekwan*.

Tak menyia-nyiakan perubahan positif tersebut, saya pun kembali menanyakan tentang kebijakan dari kantor pusatnya. “Lho, kamu kok ya masih ingat pertanyaan itu. Wes, cari topik lain saja,” katanya (kali ini dengan senyum tanpa ada kerutan di kening, Horeeee……sukses nich 😉 )

“Kalo ndak dapet saya nanti dimarahin bos loh pak. Masak ndak kasihan dewi yang cantik ayu alami indah mempesona sepanjang hari ini dibentak-bentak (wkakakakak, kalimat terakhir cuman tambahan loh…:-P )”

“Ya sudah, mau tanya apa”. 😀 😆 😉

*****

WAWANCARA. Mewawancarai seseorang atau narasumber bukan merupakan aktivitas interogasi layaknya polisi sedang memaksa tersangka untuk mengakui perbuatannya. Wawancara juga tak sebatas pertanyaan apakah yang dijawab ya dan tidak, atau pertanyaan “bagaimana” yang dijawab dengan penjelasan. Wawancara merupakan dialog, aktivitas tukar pikiran, sharing informasi dua arah, yang membutuhkan analisa dan kecepatan si pewawancara untuk membuat pertanyaan baru berdasarkan jawaban yang diberikan. Sebaliknya, pewawancara pun harus siap menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Sebagai bukti, ia menguasai topik yang sedang ditanyakan. Ndak asal njeplak dan nyeplos.

Namun tak semua orang gampang diwawancarai. Ada tipe pendiam dan hemat kata sehingga pewawancara harus aktif bertanya. Ada orang yang talk too much, muter-muter dan keluar dari jalur pertanyaan, hingga harus ‘ditarik dan dipaksa’ untuk kembali ke tema. Dan tak sedikit tipe orang seperti Pak DJ, yang enggan diwawancarai, padahal belum tahu pertanyaan yang akan dilontarkan.

Banyak cara dapat dilakukan untuk membuat narasumber rileks, nyaman, dan mau menjawab semua pertanyaan. Salah satunya, pancing dengan pertanyaan yang berkaitan dengan hobi dan kesenangannya. Contohnya adalah pengalaman saya dengan Pak DJ. Informasi bahwa dia pernah dinas di Palembang saya manfaatkan untuk ‘memberitahu’ beliau jika saya juga dekat dengan kota tersebut (melalui tempoyak dan tekwan), meski belum pernah ke sana.

Jika tak ada informasi verbal, Anda bisa mengetahui hobi seseorang dari lay out ruangan kerjanya, hiasan dinding dan foto yang dipajang (aktivitas apa yang ada dalam foto, ex olahraga, liburan, pengajian, de el el).

Itu saja?

Anda juga dapat ‘menebak’ melalui gaya berpakaiannya. Fashionable, yang berarti dapat diajak ngomong ngoming tentang tren mode terbaru, dan lainnya. So, Dont give up kalo nemu narasumber yang agak rewel. Tetap Semangat 🙂 !

 

4 responses to “Sukses Wawancara

  1. D, aku mo belajar cara mengatasi orang yg suka muter2 jika diinterview. Biar ngga’ ngeles terus.
    Trus, Kalo nanya HP-nya DY eh DJ ngga’ pake wawancara khan? 🙂

    wawancra apaan dulu..
    klo wawancara kerja, trus yg diwwancarai muter2 mlulu yaaa…. CUT!!
    tipe nggak jelas tuh
    cuman, Mas Gama pake kata ‘Ngeles’, ehmm….. berarti bukan wawancara kerja ya? 🙂

  2. Gooooood, gooooooood it’s very useful ,
    tulisan ini yang saya suka (yang lainnya juga bagus)
    bukan hanya teori, tapi disertai aplikasi (pengalaman)
    perlu disimpan dalam arsip
    thank’s Ms. Dewi have a nice day.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s