Genius Vs Kreatif


You Can If U Think U Can……………

Beberapa waktu lalu saya dan Vivi, mantan temen kos lain fakultas, bergosip ria di telpon. Diawali tanya kabar berat badan 😀 masing-masing, obrolan kita akhirnya mengalir ke berbagai topik, dari yang super duper berat ngebahas “kehebatan dan kreativitas” nyonya besar Ayin mengobrak-abrik Kejaksaan, aksi anarkis mahasiswa yang swear ewer-ewer boom2 bikin kita eneg n’ sebel!!, sampe akhirnya nge-ghibah-in  (ngegosip-in) temen-temen lama.

Mulai gaya si Eneng, temen super seksi yang makin komes* setelah menjadi ibu RT, Miz Rin-rin yang tetap kalem meski berstatus nyonya pria berambut cepak, sampe kabar Hadi cowok culun dari kampung yang bisa bikin cewek segedung histeris karena duitnya segunung!. (huehehehe…..kata terakhir ngarang tuh, soalNa binun nyari kata ber-akhiran UNG 😆 yang cocok).

“Gila nggak tuh, Hadi si pendiem dan pemalu, ber-IPK rendah dengan style rata-rata sekarang jadi keren abis, sukses bo’!!. Kita sekelas kaget ngeliat metamorfosinya saat ketemu pas reuni,” kata Vi.

“Hadi yang mana?”

“Wah, masak lupa. Sering ke kos n’ ngajak ngobrol kamu, biasane pake kaos oblong, sandal jepit butut, rambut keriwil”.

“Masih belum kebayang nich”

“Aduuuuh……klo ga salah liat, dia masuk dalam fren list FS mu deh”

“HAH, yang bener?. Kok aq ga tau ya?. Btw eniwe baswe, gimana ceritanya kok doi bisa sukses?”.

“Ya itu dia, nasib orang gak bisa ditebak. Dia yang biasanya selalu disepelein malah lebih sukses dari sang juara kelas yang sekarang hidupnya pas-pasan. Yaa, memang sih sukses gak selalu diliat dari materi, cuman kisah Hadi bener-bener spektakuler!. Aku kalah loh wi 😦 “

“Ceritane yo opo??!”

“Oia, dia kerja di salah satu perusahaan asing, trus rajin, trus kerjanya bagus karna bikin inovasi sistem komputer yang aku nggak tau namanya tapi berguna untuk perusahaan, trus disekolahin ke LN, trus jd manager, trus kariernya naiiik terus, sering bolak-balik Indo-LN. Trus…”

“STOP!!!. Dari tadi kok teras-terus, teras-terus….masuk jurang baru tau rasa!!!” 😛

****

Nah, Anda sudah baca sampe baris ini?,

eehmmmm saya mo nanya nich, apakah Anda punya temen sukses padahal dia dulu selalu berada di urutan terbawah dari jajaran siswa berprestasi?. Kalo ya, jangan terburu-buru menyimpulkan “Yaaa…memang jalannya sudah begitu. Dia bernasib baik, ditakdirkan untuk sukses”, sebab Sang Maha Pengasih berkata, Dia tak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum tersebut berusaha untuk berubah.

Hadi dan orang-orang sukses lain tidak diam di tempat, menunggu datangnya perubahan. Mereka mau belajar, berusaha, dan terus mencipta ide, kreasi, dan karya. Hadi, tak akan sesukses sekarang jika ia hanya mengikuti alur yang sudah ada dan puas dengan kondisi kerja yang itu-itu saja. Dia akan tetap menjadi si anak kolot kampungan bila tak pernah memikirkan sebuah kreasi dan inovasi sistem komputer di perusahaan tempatnya bekerja. Hadi,  pasti tidak menjadi bahan obrolan kami (saya dan Vivi) di telpon kalo ia sama saja dengan rekan-rekan kerjanya yang lain. ngapain githu loh……

Ups, ini bukan tulisan boong loh….HAdi adalah sosok nyata yang semoga dia berbaik hati mentraktir saya setelah tau dia menjadi tokoh utama postingan ini 😉 .

Saya, Anda, masyarakat, hingga saat ini memang masih terbelenggu dengan konsep dan sistem pendidikan lama yang mementingkan logika, matematika, dan semua hal yang berkaitan dengan otak kiri. Hingga memunculkan prediksi asal bunyi, siapapun yang berotak cemerlang dengan IQ (Intelligence Quotient) super tinggi pasti akan sukses di kemudian hari. Akibatnya, otak kanan dengan segala yang “disukainya”, yang berkaitan dengan seni dan kreativitas dipandang sebelah mata.

Seiring dengan berjalannya waktu (cieee…..) Emotional Quetiont (EQ) mulai diakui memiliki pengaruh penting dalam kesuksesan  masa dewasa seseorang. Bahkan pemerintah dan lembaga pendidikan mulai gembar-gembor menawarkan penambahan materi soft skills yang akan menjadi keunggulan output dibanding alumnus lain (yaaa iyyalah!!, masak ya iya donk?! mana ada kecap nomor dua? 😀 ).

Cuman sayang beribu sayang, ternyata dalam praktik nyata masih sedikit sekali lembaga pendidikan, metode dan konsep pendidikan yang mengedepankan pengembangan EQ. Sama dengan kurangnya perhatian pendidik untuk menyeimbangkan optimalisasi otak kiri dan kanan dalam proses belajar mengajar. Pelajaran matematika selalu dianggap lebih penting dari pelajaran kesenian dan musik. Coba Anda ingat lagi, bener nggak tuh? 🙂

Sebuah Penelitian menunjukkan 85 persen prestasi luar biasa seseorang ternyata disumbang oleh EQ dan bukan IQ!. Jika Anda melihat tayangan Kick Andy beberapa waktu lalu, tentang Yang Muda Yang Mendunia, ada ungkapan salah satu pembimbing bahwa kemenangan Zefrizal Nanda Mardani (kalo gak salah yang ini sih, anyone knows?!) karena kesabaran, dan ketelitiannya dalam menjawab  soal.  Dia menuliskan jawaban setelah memikirkan secara matang sehingga tak ada coretan dan pengulangan jawaban. Berbeda dengan rekannya yang lain, meski saat bimbingan sebelum olimpiade menjadi jago tim karena kemahirannya, namun ketika beradu langsung dalam lomba, mereka tak mampu menjawab dengan tepat karena tak mampu menguasai diri, terlalu grogi, kurang konsentrasi.

“Berbeda dengan Zefrizal, dia menjawab dengan penuh perhitungan, tidak gegabah. Dia tetap tenang dan tak emosional, sehingga jawabannya benar dan sistematis”.

****

Anda pecinta dunia fashion, pasti mengenal sosok Oscar Lawalata. Kalopun ndak pernah ngikutin tren mode, paling enggak sempat melihat sosoknya yang melintas di acara infotainment. Ya, Oscar, desainer muda sukses yang memiliki beberapa label busana, Oscar Couture, Oscar Lawalata  dan OscarOscar (untuk baju ready to wear), ini patut dikagumi. Di usianya yang masih muda dia sudah disejajarkan -bahkan lebih- dengan desainer senior.

Kakak Mario Lawalata ini tak pernah menyelesaikan pendidikannya di Esmod, sekolah mode di Jakarta yang berkiblat ke Perancis. Tapi lihat, dia sukses berkat perjuangannya yang tak kenal lelah dan kreativitasnya dalam menciptakan sebuah karya.

Martha Tilaar dan Mooryati Sudibyo, dua perempuan tangguh pendiri perusahaan jamu dan kosmetik. Bisnis besar mereka diawali dari usaha kecil  rumahan, dibangun dengan iringan cemoohan dan cibiran, bertahan serta membesarkannya di tengah persaingan ketat, dan berhasil. Terlepas dari campur tangan Tuhan, sosok perempuan yang tetap berkarya di usia yang tak lagi muda itu mampu menyajikan sebuah produk yang sebenarnya sudah dikenal dan familiar di masyarakat dalam wadah dan kemasan berbeda.

So, kalo Anda termasuk baqiyatus sholihat 😀 golongan menengah di antara bumi dan langit kayak saya, wkakakakakak….. jangan pesimis dan merasa rendah diri dengan si genius. Anda mampu berjalan sejajar beriringan, bahkan berlari mendahului dengan karya dan kreasi ciptaan Anda. ndak percaya? coba buktikan dengan memulainya dari sekarang.

…You Can if You think You can!! tetep semangat ya…… 😉


* komes is bahasa walikan, bahasa khas Malang. jadi klo mo tau artinya tinggal dibalik aja ngebacanya. Nah, udah tau artinya kan?

PR untuk ANDA. yang bisa ngejawab dan benar dapet hadiah istimewa. ehmmm…apa artinya hamur, nakam, ojir, rudit, idrek? (kuis hanya untuk blogger non Malang. Blogger peranakan Malang 😀 yang tinggal di Malang ato yang memiliki hubungan spesial pake telor dengan orang Malang (pacar, suami, istri) NGGAK BOLEH IKUT!!)

tubi kontinyu 😀 (terlalu kreatif….)

3 responses to “Genius Vs Kreatif

  1. Seorang anak dari bangku paling belakang langsung berteriak,”IQ, EQ memang berperan dalam membentuk seseorang, tapi kalo ninggalin SQ (Spiritual Quotient) keknya ngga’ afdol, begitu Bu Guru”.

    Ketika IQ, EQ dan SQ saling berdialog dalam diri kita, hasil wow…. Subhanallah.

    Blogger Bogor Boleh ikutan?, Tapi hadiahnya kok cuma ISTIMEWA aja sih, HP + pulsa donk. 🙂

    makanya tubi kontinyu Om…..

    hadiah ISTIMEWA dibilang cuman? waaaaah….
    Lagian, belon ngejawab kok udah nodong hadiah.
    buktiin dulu…jawabannya bener pa enggak 🙂

  2. Ping-balik: Recent Links Tagged With "optimalisasi" - JabberTags

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s