.:: Pengetahuan, Investasi Termahal ::.


Tren ekonomi global (global economy) sepertinya sedang berada dalam transisi perubahan menuju Knowledge Economy (KE), yang membuat pengetahuan, keahlian, dan keterampilan, menjadi lebih berharga dibandingkan investasi tanah, produk atau sumber daya alam.

Tak salah jika ada yang mengatakan ilmu dan pengetahuan itu mahal. Orang berilmu, berpengetahuan, dan berwawasan memiliki investasi besar yang tak akan punah karena imbas krisis moneter. Krismon dapat mengurangi nilai investasi saham, atau bahkan menghilangkan nilainya dalam sekejap, namun tidak demikian halnya dengan investasi pengetahuan. Sama seperti pepatah Arab yang menganalogikan orang berilmu seperti pohon yang berbuah dan akan terus berbuah tanpa akhir bila si pemilik memanfaatkan dan membagi ilmunya.

Meski I have to say sorry pada rendahnya kesadaran perusahaan yang seringkali masih berpikir ribuan kali untuk mengeluarkan dana demi me-mintarkan SDMnya. Padahal tren ekonomi global (global economy) sepertinya sedang berada dalam transisi perubahan menuju Knowledge Economy (KE), yang membuat pengetahuan, keahlian, dan keterampilan, menjadi lebih berharga dibandingkan investasi tanah, produk atau sumber daya alam, seperti yang saya sebutkan sebelumnya.

Ehmmm….kayaknya perubahan ini tak terbendung, perlahan namun pasti mutlak terjadi, meski masih ada orang yang sangsi. Sama seperti tren perubahan ke masyarakat informasi saat ini, yang beberapa tahun lalu dicemooh sebagian besar masyarakat Indonesia (termasuk saya, huehehehehe..). Saya masih ingat kelahiran Metro TV yang menawarkan konsep acara berita sebagai produk andalannya. “HAH? Nggak salah tuh, bikin tipi diisi berita?. Iya kalo di LN, di Indonesia mana ada orang yang bakal ngeliat, seharian kok dicekokin berita, bosen!!”. Dan saya salah besar, Metro secara perlahan namun pasti dapat mencuri perhatian publik,bahkan jadi rujukan informasi terkini.

Satu contoh saat musibah tsunami, masyarakat mengandalkan info dari stasiusn tipi ini untuk mengetahui perkembangan terbaru, terlepas dari gayanya yang suka mengulang berita berkali-kali –dan kadang bikin eneg-. Bahkan saya, yang dulu enggan memencet channel yang terkadang dimanfaatkan untuk kampanye Surya Paloh (ya iyaaalah!!, lha wong tipi-tipi dia ini!), menjadi channel utama tipi di kamar. Sebelum tidur, liat berita, bangun pun sarapan berita terlebih dulu (wkakakakakak, in case kalo lagi nggak ngantuk banget). Ya, informasi menjadi sedemikian penting. Menjadi bahan untuk memulai hari.

Back to Knowledge Economy, konsep ini mempercayai bahwa pengetahuan memiliki nilai ekonomis. Pengetahuan merupakan ‘alat’ yang dapat digunakan untuk memproduksi atau menciptakan produk yang berharga jual tinggi, menggantikan prinsip ekonomi sebelumnya yang menyatakan produksi dipengaruhi dua factor, tenaga kerja dan modal.

Satu contoh, pengetahuan tentang desain busana dan menjahit membuat siswa SMKN 1 Batu Malang beberapa waktu lalu menciptakan busana pesta cantik dari bahan murah meriah, serut kayu dan batok kelapa, yang bagi sebagian besar orang dianggap sampah dan harus disingkirkan. Ya, c..? karena ‘pengetahuan’, limbah bisa disulap menjadi produk bernilai ekonomis tinggi.

Era Knowledge Economy menuntut setiap orang untuk terus berkreasi dan menciptakan karya. Maklum deh, saat ia mempublikasikan kreasi dan produknya ke publik, wussss….dalam waktu singkat akan muncul produk serupa. Mau marah dan mematenkan karyanya? Capeee deh!. Coba Anda liat kreasi kebaya modern Anne Avantie. Ia menciptakan model kerah unik atau kebaya “berekor” tanpa meninggalkan pakem kebaya tradisional. Konsep desainer langganan Putri Indonesia ini langsung dicontek desainer lainnya.

Atau kelahiran Jilbab Munajah Cinta atau Jilbab Khumairo (karena tokoh sinetron di tipi bernama Khumairo), menjadikan penciptanya menjadi jutawan dalam waktu singkat. Kata temen saya yang nonton di TVRI, pencetus kreasi Jilbab Munajah Cinta mengawali usahanya dengan modal Rp 5 juta dan saat ini sudah mencapai omzet Rp 300 juta!!. Whew!, baru berapa bulan sinetron yang dibintangi Baim Wong, Rianti, dan Sazkia itu ditayangkan?.

Saya termasuk orang yang berburu jilbab cantik itu. Selain untuk dipake sendiri, yaaa dijual lagi (maklum nich, ane juga pedagang). Dari blog yang dibuat oleh pencipta Jilbab Munajah Cinta, bukan saya saja yang kepincut dengan karyanya. Banyak muslimah dari Malaysia yang order jilbab ini. Dan tahukah Anda? jilbab berukuran besar tapi tetap terlihat chic itu memang gampang ditemui, tapi jangan salah, banyak jilbab yang beredar ternyata kreasi orang lain yang mengembangkan desain kreator asli. Kesuksesan pencipta jilbab ini semakin memotivasi saya untuk mengembangkan NyiruSavira boutiqe, ikut kursus ngejahit dan mulai ngeluarin desain sendiri he3…

Beberapa waktu lalu, saat menjelaskan konsep Nyiru Savira Consulting & Training kepada salah satu rekan, seorang dirut PJTKI –maksudNa sponsor githu-, dia menceritakan kesuksesan temannya yang meraup miliaran rupiah dari bisnis batik. Wah, juragan batik dunk? Eits, jangan salah sangka dulu.

Si teman temannya saya itu sama sekali ndak punya pabrik batik, bahkan ndak bisa membuat batik, tapi dia menguasai bahasa Inggris (yang ternyata dipelajari otodidak setelah sering surfing di internet) untuk berkomunikasi dengan konsumen dari berbagai negara, dia tahu internet marketing dan memahami kebutuhan pasar terhadap produk tradisional. And then, si kreatif ini menjadi ‘makelar’ batik yang mengambil produk dari berbagai daerah lalu menjualnya ke konsumen di LN.

Whew!!, zero capital tapi menghasilkan omzet miliaran rupiah. Betapa pengetahuan memiliki nilai tak terbatas. Itu juga salah satu pesan dari ayat pertama Alquran “Iqra”, bacalah, carilah ilmu, tambahlah wawasan dan pengetahuan!. 🙂

6 responses to “.:: Pengetahuan, Investasi Termahal ::.

  1. Punya kemampuan jadi Futurologist juga mbak ya 🙂
    tapi bukan kayak mama lorenz khan? :mrgreen:

    waduuh, klo ini mah ga perlu kemampuan melihat masa depan
    trennya kan udah di depan mata tuh…
    tinggal kita aware saat melihat tren itu apa enggak 🙂

  2. Menabur benih buat anak-cucu. Biar cucunya cucu masih bisa ngrasain ilmu pengetahuan dan amal kita selama hidup.

    D, aku demen banget ama kreasi “nyampah” nya, kek baju itu-tu ‘n pic-nya donk. Kalo pic yg ditampilin sekarang mah sering ngliat. Seeeerrriiiiiiiiiiiing….. buanget. 🙂

    nah loh, aq bingung dech
    ndak ngeh….
    maksudNa?

  3. mas “namakuananda”……
    klo yg dimaksud foto2 busana kreasi dari serut kayu ama batok kelapa, ada sih….malah yg ambil picnya dirikyu 🙂

    cuman, pas upload WP-nya lg error…dismissssss mlulu 😦
    makanya dewi nampang lagi, he3…

  4. Sayangnya banyak orang kita yang tidak pernah menghargai ilmu….yah jadinya kayak sekarang deh, pengangguran makin banyak karena abis di PHK ngga tau musti ngapain, eh yang masih jadi pejabat malah nggak jelasnya….. yang lebih ngga jelas udah tau saudara kita salah (klo punya kenalan duduk di PNS), kita tahu ilmunya eehhh dibiarin ajah tambah ngga jelas kan nih negara….

    yukz..
    kita hargai ilmu…
    klo ada yg salah,saling mengingatkan…
    gimana? dimulai dr diri sendiri, ke lingkungan sekitar…sounds great kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s