Lelaki (boleh) Menangis


Saat ini, seharusnya saya sudah keluar rumah menuju lokasi pertama planning hari ini. Cuman ada telpon masuk yang setelah salam langsung bilang “Im feeling blue”

“LOh, kenapa lagi seh? lagian feeling blue, always kan? 😀 “

“Gara2 kmaren. Aku kan…(en so on…ndak perlu ditulis di sini deh ya…)”

Kenapa saya ingin langsung menuliskannya di blog, karena dalam curhatnya, sobat saya sempat ngomong gini “Pas pulang dia gak pamit. Kayaknya dia nangis deh pas perjalanan ke rumah”

“HAH?! Nangis? cowok itu nangis?

“IYa…”

“Whew! how cute…duh Jeng, dalem tuh perasaannya. Tapppiii, dia bisa juga nangis yach…”

“Ya bisa lah”

****

Well, nangis emang hak semua orang, sama seperti dengan marah dan senang. MEski heran juga kenapa kok sejak kecil, kita (saya seh perempuan tulen…) diberi pemahaman “Lelaki harus kuat, tegar, nggak boleh menangis! kayak perempuan!”. Loh, memangnya menangis itu menjadi tanda bahwa seseorang ndak kuat? dia nggak tegar? menangis hanya milik perempuan?

NO!! LElaki boleh menangis. Dia punya hak untuk menumpahkan emosi dalam anugerah air mata yang dikaruniakanNya. Menangis, bukan tanda kelemahan. Menangis, memang bukan menjadi solusi sebuah permasalahan, tapi paling tidak dapat meringankan sedikit beban yang ada.

Kembali kepada pria yang menangis, menurut saya sich ndak cuman cute (seperti yang saya tulis di atas), tapi juga menjadi ekspresi kejujuran tertinggi atas perasaannya. Tapi yaa…jangan kemudian dikit2 nangis..(ini sich warning juga buat perempuan. Dikit2 nangis mah gak cuman bikin capek, cengeng, bikan wajah ndak fresh, dan ngebuat orang lain sebel. Lha kerjaan kok nangis mlulu…).

Mau menangis? sok….ndak usah ditahan 😉

3 responses to “Lelaki (boleh) Menangis

  1. Nangis…? saya kira suatu kewajaran dalam keadaan paling menyedihkan.. aku juga pernah menangis,,,,
    waktu itu aku gak tau kenapa, sebenarnya dalam kehidupan keseharianku aku bisa makan dengan lauk yang lengkap.
    akan tetapi,,, saat itu aku benar-benar dalam keadaan kepepet ketika aku terakhir kali melihat ke tepian piring lalapan yang tersisa adalah cabe, dari pada mubadzir n jadi temennya syaithan ya udah aku kunyah aja. tahu sendirikan kelanjutan ceritanya? lebih jelasnya coba aja sendiri ngunyah cabe rawit yang warnanya merah menyala…. :))

    ngunyah cabe???
    itu sich kurang kerjaan, ogah ah…

  2. hehehehe..laki2 emang boleh nangis kok 🙂 ..asal jangan nangsi terus ntar kering AM nya 😀

    yaach, sesuatu itu emang gak boleh dilakukan berlebihan. Sama dg menangis… 🙂
    btw, gimana honeymoonnya? 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s