Seribu = Banyak Sekali


Seorang perempuan tua, berbaju lusuh, dengan topi kumal bergumam lirih, “Masya Allah, kok banyak sekali…semoga Allah membalasnya” saat menerima lembaran uang Rp 1000.

Meski mewakili kuantitas, namun “banyak sekali” sangat kualitatif. Banyak sekali menurut si perempuan tua, bisa jadi tak berarti sama sekali bagi orang lain (termasuk saya atau Anda). Ya, Rp 1000 saat ini memang bisa dikatakan tak bernilai, ups! maksud saya (hampir) tak memiliki nilai, karena kata “tak bernilai” bisa berarti sangat berharga.

Uang seribu, jelas tak bisa diipakai untuk naik angkot, meski Anda sudah menyunggingkan senyum semanis mungkin dengan deretan gigi putih menyembul cantik, pak sopir tentu tetap bergeming!. “Aku nyopir bondo BBM, makane yo bayaren pake duit! Ngguya-ngguyu ae, koyok wong senewen!”

Duit seribu, juga tak dapat digunakan untuk membeli makanan yang mampu mengganjal perut. Apalagi dipake untuk memenuhi ‘tuntutan’ gaya hidup, waaaah…jauuuh!!.

***

“Lalu, masihkah kamu membutuhkan alasan untuk terus bersyukur, berterima kasih kepadaNya?,” tanya seorang teman, setelah mendengar cerita tentang si perempuan tua.

“Tidak, tapi…”

“Kenapa ada TAPI?”

“Bukan githu. MaksudNa, aku tetap bersyukur kepada Allah, cuman gini lho…Allah kok masih…”

“STOP!! TAPI dan CUMAN memang beda kata, artinya sih sama aja!. Tak perlu mencari ALASAN TEPAT untuk bersyukur! sama seperti jangan hanya mengingat DIA saat kamu merana. Ingatlah setiap saat, bersyukurlah setiap waktu”

***

2 responses to “Seribu = Banyak Sekali

  1. alhamdulillah…
    subhanallah…
    laa haula walaa quwwata illabillah..

    pakabar dew?

    lama gak mampir ke sini 🙂

    Alhamdulillah, kabar baek…
    (moga2 dirimu jga baek2 ja..)
    makasih, dah mampir lagi…:-)

  2. Ngobrol tentang rasa syukur, mas koq jadi tertarik…
    meskipun manusia tidak punya apa2, minimal ada tiga hal yang harus disyukuri;
    1. waktu dan kesempatan, 2. keadaan sehat jasmani dan rohani, 3. ni’mat Allah yang tak pernah berhenti, meskipun kita kadang lupa memintanya… ya ga Dewi? (harus ada lisensinya ni komen, he3)… 🙂

    Yupz!
    bersyukur atas waktu dan kesempatan untuk hidup dan belajar. Belajar dari semua hal, yang baik, yang buruk, yang indah, yang kurang indah.
    kita tak pernah meminta, tapi terus diberi, itulah cinta yang hakiki.
    Dari Sang Khalik kepada kita yang hamba.
    gudlak 4 everything ya… 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s