…Rumahku, Istanaku *_^….


🙂

Di beberapa posting sebelumnya, saya berbagi ‘susah, capek, letih, kecewa, de el el’ saat hunting rumah kepada Anda semua, tamu blog saya terhormat. Anda -baik yang kenal secara pribadi maupun numpang lewat di rumah kecil saya ini-, Alhamdulillah memberikan banyak support, melalui comment di blog, message di YM, SMS, email, telpon, menemani hunting rumah, transaksi, de el el. Karna itu rasanya amat sangat tidak adil kalo saya hanya berbagi ‘kesusahan’ dan menyembunyikan kebahagiaan 😉

Well, akhirnya Allah ‘menjodohkan’ saya dengan rumah di Jalan Locari Malang (setelah bertanya kepada Om Google, saya akhirnya tahu Locari adalah nama lain dari bunga cempaka (Michelia Champaka). Ehmmm…entah ada kaitan atau tidak, kok Sang Maha memilihkan saya tempat tinggal di daerah bunga-bungaan itu, sesuai dengan arti my other nickname HANA yang artinya juga bunga. (FYI, nama jalan di Malang dikelompokkan menjadi satu, misalnya saja ada jalan nama-nama kota besar ex Jalan Jakarta, Bogor, Bandung etc, atau jalan gunung2 seperti Jalan Semeru, Kelud, Arjuna, dll, trus nama bunga ex. Jalan Mawar, Bakung, Wijayakusuma, Locari 😀 , dan lainnya). (super mekso yakz?!…..biarin)

Termaktub.
Karena sudah tertulis dalam catatan kecilNya, proses mendapatkan rumah di Locari, masya Allah, amat sangat cepat sekali. Pagi hari, 12 Agustus 2008, saya melihat dua rumah di Jalan Mawar dan Locari. Keduanya oke, dengan segala keunggulan dan kekurangannya. Sore hari, saya kembali lagi ke rumah Jalan Locari bersama seorang rekan di kantor, menunjukkan kepadanya lokasi rumah, sekaligus berharap ia dapat menjadi wakil saya dalam bertransaksi. Maklum, rekan saya ini baru saja membeli rumah dan berhasil memperoleh harga 35 persen dari nominal awal yang ditawarkan!! gila ga tuh?! (asumsinya, kalo penawaran 100 juta berarti dia hanya membayar 35 juta!).

Di hari yang sama ba’da maghrib, saya mendapatkan nomor telpon si empunya rumah yang berdomisili di Sulawesi Tengah, dari anaknya yang menempati rumah itu. Swear ewer2 boom, saya pengiin banget nelpon tapi ‘agak’ takut, bingung mo nawar berapa. Yach maklum aja, ‘kegagalan’ proses tawar menawar rumah di Jalan Candi Mendut, rumah pertama yang saya incar sedikit menyisakan trauma. Selain membutuhkan waktu lama, lebih dari dua minggu, proses tawar menawar kala itu tak hanya menguras energi tapi juga emosi, fisik dan psikis.

Sejak si empunya membuka harga dan saya membuka tawaran pertama, lalu dia menurunkan, saya menaikkan harga, saya bertahan-dia juga bertahan, saya naikkan-dia menurunkan sedikit, hingga kemudian saya sepakat dengan nominal yang menurut perantara bakal disetujui. Saya tenang, eeh, ternyata keesokan harinya ada kabar rumah itu terjual!. Yang menyebalkan, si pemilik melepas rumah dengan nominal harga seperti yang sudah saya ajukan!!. Whew!! marah, sebel, kecewa, menjadi satu. Marah, sebab pemilik rumah ‘melanggar’ etika jual beli, sebel karena membayangkan harus kembali memutari Malang untuk hunting rumah baru, dan kecewa kok ya si pemilik yang sudah akrab dengan saya dan para teman yang selalu saya ajak ke sana ‘berkhianat’ dengan memberikan rumah itu ke orang lain dan tidak memberitahu saya secara langsung.

“Dewi…Insya Allah nanti dapat rumah yang lebih baik”
“Kalo memang nggak jadi beli rumah di Mendut, berarti itu bukan yang terbaik untuk kamu”
“Yang sabar, memang belum jodohnya”
….dan komentar lain, yang dilontarkan untuk menghibur saya.

Eits! terlalu bersemangat bercerita sampe kepanjangan deh. Back to hari Selasa (12/08/08), hingga malam hari sebelum tidur, saya hanya memencet nomor telpon tanpa berani membuat sambungan langsung 😦 . Keesokan harinya (13/8/8), sembari menikmati sajian makan pagi di ruang keluarga bersama Ila, saya putuskan menelpon dan menanyakan harga rumah (padahal sudah tau tuh.. 😉 ), mencoba membuka harga (serendah mungkin), dan ‘tentu saja’ nggak disetujui 😀 .

Saya meneruskan makan sambi baca koran, dan 10 menit kemudian menelpon lagi untuk menaikkan harga.
“Waduh, kemarin saja sudah ada yang menawar di atas harga si mbak nggak saya kasihkan,” katanya.
“Memang ditawar berapa pak?”
“Ditawar ‘sekian, sekian’…”
“Oke deh pak, saya diskusikan dulu dengan keluarga yach….”.

Well, saya meneruskan makan yang tertunda, ngobrol dengan Ila, nonton tipi, dan menyelesaikan berita di koran yang saya baca sebelumnya. Selesai makan (yang membutuhkan waktu amat sangat panjaaanggg…he3..), saya menelpon untuk ketiga kalinya.

“Hiks, terus terang nich pak, dananya meffet bangets!. Saya dikasih pinjaman spesial dari pemberi beasiswa sekolah dan kuliah (hallah! kok muter2 seh, maksudNa bapak-ibu githu) “segini” nich pak. Gimana dunk? Kalopun bisa naikin harga, maksimal ya sama dengan nominal yang dilontarkan penawar sebelumnya. Boleh ya pak…”
“Lho, memangnya nanti mau ditempati sama sapa?”
“Saya dan adik, insya Allah. Bareng temen juga sih, kalo dia mau”
“Ehmmmm….sebentar, saya harus diskusikan dulu dengan ibunya anak-anak. Nomor telpon kamu berapa?”

YES!, saat bapaknya menanyakan nomor telpon, rasanya saya sudah dapat menghirup ‘aroma keberhasilan’. Cuma saya ndak mau takabur dan mendahului kehendakNya. Hiks, untuk tersenyum dan berbagi cerita saja masih takut. Ya, takut peristiwa ‘Mendut’ terulang. Saya berharap banyak, eh ndak taunya nggak jadi.

Setengah jam kemudian, ketika ada panggilan masuk dari nomor luar Jawa, jantung saya berdetak sedikit lebih kencang, adrenalin terpacu, namun saya hanya bisa bernapas perlahan, menghirup udara pelan, sambil menjawab telpon dengan (berusaha) tenang.
“Ya, Assalamualaikum…”
“Mbak Hana, setelah saya diskusikan dengan istri, kami sepakat dengan harga yang mbak tawarkan”
“Alhamdulillah……. ;-)”

Tertulis.
Siang harinya, saya (diantarkan ‘bapak’ dan Ila) bertemu dengan kemenakan pemilik rumah di Notaris.
Tuh kan? prosesnya amat sangat cepat dan simpel.

***

dan saya sekarang benar-benar sedang bingung memilih kombinasi warna cat yang cocok untuk rumah saya (cieeee……rasanya gimmanaa githu loh ngucapin kata ‘rumah’). Krem-coklat tua, ijo-putih, merah bata-(?), abu-abu-(?), hitam (whew!! keknya No…lah even I love black! 😉 )

huwaaaa…….help me!!


2 responses to “…Rumahku, Istanaku *_^….

  1. Hai Wiek, Masai neeh
    kmbinasinya yang harmonis atau kontras?
    klo yang harmonis brarti pilih warna yang sama, tapi beda gelap terangnya. kalo warna kontras pilih yang warna “musuhan” kayak hitam-putih, biru-orange, dll. tapi ati2 kalo milih warna kontras. bisa-bisa kayak orang-orangan sawah. 🙂

    aq blm sempt bikin blog.. salam buat kiki.. n adikq Nadia hehe..

    Waaaah….Mas Ai……..gimana kabar??!
    (tau kabar cuman pas bapak nelpon aja tuh, eh kapan hari Ila jg telpon ya?!)
    huehehehe2…..salamNa pasti disampein dwech!
    lha wong ini ntar ya ketemu Nadia n Kiki
    sukses ya mas…
    ntar kalo pulang JGN lupa bawa oleh2 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s