Rasa


Rasanya melilit, menusuk, sakit. Membangunkanku dari tidur dan mimpi indahku. Tanpa sadar aku berteriak “Ya Tuhan, kenapa sih ini?” lalu spontan mulutku komat-kamit membaca salawat, menyebut asma Allah, dan bacaan-bacaan lainnya, berharap kalimat suci itu menyembuhkan rasa sakit di perutku. Sembuh. Ah, manjur. Jangan-jangan rasa sakit itu ‘pemberian’ penunggu rumahku, pikir otakku setengah tidur, sebelum kemudian pulas ke alam mimpi, meneruskan kisah indah yang terpotong.

Azan subuh berkumandang dan rasa sakit itu datang lagi, semakin sering, semakin melilit. Duh Tuhan, kenapa sakit itu datang bersamaan dengan azan?
Loh, berarti sakitku bukan karena aksi nakal jin-jin penunggu rumah?. Spontan, tanganku memegang perut, menekan, terus menekan, sampai terasa sakit sambil berharap bisa mengalahkan rasa sakit sebelumnya. Tapi sakit itu tetap ada, bertahan, bahkan ketika  aku harus pergi keluar rumah, demi mencari tambahan rupiah.

“Emang selalu sakit githu ya kalo dapet? 😦 ,” katanya sore tadi.
Lah, gimana to, wong hari ini hari terakhir menstruasiku kok, ya ndak mungkinlah. Lagian, sakit mens-ku biasanya selalu datang sejak seminggu sebelum hari H dan selama tiga hari pertama. Kalo dari gejala-gejalanya, sakit perutku kali ini bukan sakit mens (maklum, karena sering merasa sakit menjelang haid, aku menjadi (terlalu) hapal bagaimana rasanya).

Sekarang, aku tak lagi merasakan sakit sesering dulu. Bahkan, terkadang tamu agung itu datang begitu saja, tanpa rasa sakit, hanya perasaan kurang nyaman karena keluarnya darah kotor. Beberapa tahun lalu, aku sempat dibuat kelimpungan bin deg-deg-an binti was-was wa khawatir. Gara-garanya, setiap jengkal tubuhku terasa sakit. Punggung linu, tangan gampang capek, dan yang paling menakutkan (maaf) payudaraku terasa berat dan amat sangat sakit. Semakin terasa sakit kala aku bergerak, berjalan,  memakai bra, apalagi naik motor dan melewati polisi tidur (HAH? gila ya?! aku nabrak polisi lagi tidur???? untung aja gak masuk penjara!!). Goncangan  keras kian membuat anugerah Tuhan paling indah itu bertambah nyeri, sakiit sekali.

Tak sekali dua kali aku mengaca dan mempraktikkan cara mendeteksi adanya kelainan di payudara. Rasanya oke-oke aja, tapi kenapa tetap sakit?.
Rasa takut berlebihan membuatku nekat mendatang Klinik Bromo, melakukan general check up, terkhusus untuk memeriksakan salah satu asetku itu 😀 . Hasil general check up datang beberapa hari kemudian, bertepatan dengan hilangnya rasa sakit berlebih di payudaraku. Eitz, rasa sakit itu hilang bukan karena konsumsi obat dari dokter klinik, tapi karena hari itu si tamu bulananku datang. Fiuh….!!!!

“Nah, ndak denger omonganku seh, sakitnya gara-gara mo mens,” kata Mbak Ira kala itu.
Yach, mene ketehe. Wong biasanya kalo mo mens gak pake sakit di bagian itu kok, cuman sakit peyut ajah. Tapi lumayan lah, gara2 itu jadi ngerasain gimana general check up, ditelanjangi dan disuruh tidur di atas meja super duper dingin. Ups! jangan mikir yang enggak-enggak, petugasnya PEREMPUAN!!

Ups, perutku melilit lagi….. 😦 😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s