Uji Kekuatan (?)


Aku tidak akan mengatakan aku bego -karena emang enggak. Mungkin yang lebih cocok sih lugu ato polos (hallah!!) 😀 . Ya, kepolosanku tak mampu mendeteksi niat jail Mas Indra, manager red ,dua hari lalu. “Han*, ini untuk uji kekuatan. Kalo kamu bisa memutuskan tali ini dengan sekali sentakan berarti kamu kuat,” katanya sembari memberikan bundelan benang putih sepanjang kira-kira 20 cm dengan kertas merah di tengahnya bertuliskan pull.

Aku tarik dan ternyata benangnya patah.

“Waah, bukan githu. Harus patah di bagian tengahnya. Kamu pegang kedua sisinya, trus tarik bersamaan. Ya, bener kayak githu pegangnya,” kata Mas Indra setelah memberikan tali untuk kedua kalinya.

Aku masih belum bisa membayangkan, menarik sekumpulan benang kok bisa menjadi uji kekuatan. Tapi whatever lah, wong ya cuman narik aja, paling juga gampang putus. Dan….aku tarik benang itu, putus…
dan secara bersamaan keluar percik api di depan wajahku!! lalu diteruskan dengan bunyi dwuarrrrrrrrr!!!!!!!!! yang amat sangat mengagetkan. Sepersekian detik, ruhku seperti keluar dari tubuh, otakku tumpul dan tak mampu mencerna peristiwa yang baru saja terjadi. Whew!…

“HUwaaaaaaaaa…….MAS INDRA!!!!! kurang asem, dasar laut dasar sungai….hiks, hiks….aku dikerjain!!!!,” teriakku nyaring diiringi suara tawa rekan-rekan red di ruangan.

Waduh, panca indraku dan indra keenamku (emang punya githu?!) benar-benar tak menangkap sedikitpun rencana jail itu. Bahkan, teman-teman yang lain mampu bersikap tenang saat melihat Mas Indra memintaku untuk menarik benang itu (padahal mereka tau aku sedang dikerjai!!!!!). 😦 😦

Petasan. Aku paling benci bunyi petasan yang mengagetkan, sejak kecil, saat anak-anak seusiaku sangat hobi bermain petasan. Apalagi ada trauma masa kecil terkait dengan petasan dan kembang api, dua permainan yang seringkali muncul saat Ramadan dan Lebaran.
Waktu itu, aku yang masih usia SD bermain kembang api bersama kedua adikku Aziz dan Hasan, dan anak-anak masjid lainnya. Nah, tak taunya ada anak yang membuang bekas kembang api sembarangan dan tak sengaja terinjak oleh kaki mungilku! waaaaaah……bisa dibayangkan sakit dan perihnya…..


*Han atau Hana adalah panggilan populerku di Malang. Di rumah, kedua orang tuaku memanggil dewi, kedua adekku memanggil Hana, masku terkadang memanggil dewi, kadang Hana. Teman-teman MI, biasa dengan Hana, sebagian sepupu dari bapakku ada yang memilih dewi ada yang hana, sepupu dari ibuk semua kompak dengan Hana, sedangkan teman-teman dari ma’had semua memanggil Dewi.
Aku, suka dipanggil dengan keduanya. Dewi, terkesan feminin meski memancarkan sebuah kekuatan dari si pemilik nama. Hana, sebaliknya, terdengar kuat, tanpa meninggalkan sisi feminin, karena hana berarti bunga 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s